Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 235 Saran Dokter.


__ADS_3

" Benar Dokter Axel apakah ada perubahan dari Raisa?" tanya Widia.


Axel menghela napasnya perlahan kedepan dan melihat satu persatu orang yang duduk di ruang tamu yang menunggu jawaban dari Axel.


" Untuk perkembangannya sendiri hanya naik beberapa persen saja. Raisa mengalami ketakutan dalam kesalahan yang saya juga tidak tau bagaimana rincinya apa yang di lakukannya di masa lalu. Dia hanya mengatakan. Apa masih ada orang yang akan memaafkannya dan sering kali. Dia meminta ampunan pada yang namanya Melody. Semua yang di temuinya akan di minta maaf olehnya dan menyebutkan nama itu!" jelas Dokter Axel.


Ardian melihat ke arah Melody. Yang terlihat murung.


" Jadi jika di tanya bagaimana perkembangannya. Ya hanya seperti itu saja," lanjut Axel.


" Lalu bagaimana jika aku menemuinya dan bicara padanya apa yang akan terjadi?" tanya Melody.


Ardian langsung panik dan Axel sendiri heran dengan Melody yang mengajukan dirinya.


" Axel Melody ini adalah yang di maksud Raisa. Raisa dan Melody punya masalah sebelumnya. Banyak yang di lakukan Rais kepada Melody selama bertahun-tahun dan berakhir dengan Raisa berada di rumah sakit jiwa," jelas Shandra yang akhirnya rasa penasaran Axel terjawab.


Setiap Raisa mengatakan nama Melody. Dia juga bingung siapa orang itu dan apa yang terjadi dan ternyata wanita yang bernama Melody itu wanita yang baru berkenalan dengannya.


" Melody aku sudah mengatakan jangan coba-coba untuk menemui Raisa," tegas Ardian yang mengingatkan kembali Melody.


" Dokter Axel apa sangat berpengaruh untuk kesembuhan Raisa dengan datangnya aku dan bicara padanya?" tanya Melody yang benar-benar serius.


" Melody!" tegur Ardian menekan suaranya.


" Ardian, aku cuma tidak ingin gara-gara aku Raisa menderita. Kamu lihat dia berada di sana dengan penuh penderitaan. Aku tidak mau Ardian jika dia terus menerus berada di rumah sakit jiwa," ucap Melody yang memang niat untuk membuat Rais sembuh.


" Tapi bukan dengan cara itu!" tegas Ardian.


" Melody, mungkin apa yang di katakan suami kamu benar. Pemerannya juga tidak berpengaruh untuk kesembuhan seseorang yang sakit jiwa. Sama dengan apa yang terjadi saat ini," sahut Dokter Axel.


" Maksud Dokter apa?" tanya Mila.


" Mungkin iya Melody yang di maksud Raisa adalah Melody yang di depan saya. Tetapi percuma juga jika Melody menemuinya dan bicara padanya dia juga tidak akan menyadari hal itu. Dan mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Karena kondisinya belum stabil untuk bertemu orang-orang," jelas Dokter.

__ADS_1


" Lalu tindakan apa yang harus di lakukan. Agar perkembangan Raisa semakin baik. Karena bagaimanapun. Kami di sini keluarganya dan menginginkan yang terbaik untuknya," sahut Oma.


" Itu juga tujuan saya datang kemari. Saya ingin meminta izin untuk keluarga ini untuk mengeluarkan Raisa dari rumah sakit jiwa," ucap Axel.


Orang-orang yang ada di ruang tamu terkejut mendengarnya.


" Maksud kamu apa?" tanya Shandra.


" Begini menurut saya. Situasi di rumah sakit tidak membuat Raisa akan berkembang. Saya ingin menempatkan Raisa di tempat khusus. Yang mana seperti biasa pasien-pasien yang saya tangani akan saya rawat dengan tangan sendiri dan akan sembuh perlahan!" jelas Dokter Axel.


" Tempat khusus di mana itu?" tanya Melody.


" Masih berbaur dengan pengobatan. Masih di Jakarta, ada suster dan ada saya sebagai Dokter yang menanganinya. Jadi dengan begitu Rais tidak berbaur dengan orang-orang yang sakit sepertinya. Dan Raisa akan sembuh dengan perlahan!" jelas Dokter.


" Apa itu tidak berbahaya?" tanya Eyang.


" Saya Dokter gangguan jiwa. Saya sudah sering mengatasi masalah ini dan bahkan banyak yang lebih parah dari pada Raisa dan insyallah tidak akan terjadi apa-apa," jawab Axel meyakinkan keluarga itu.


" Aku rasa tidak ada salahnya mah kita mencoba metode itu," ucap Widia yang setuju dengan Dokter Axel.


" Baiklah!" sahut Eyang dengan menghela napasnya, " kami titip Raisa pada Dokter. Kami percayakan semuanya pada Dokter. Lakukan yang terbaik apapun untuk Raisa. Kami berharap banyak dari Dokter," ucap Eyang yang menyetujui saran Dokter.


" Iya Nyonya saya paham dan saya akan melakukan yang terbaik untuk Raisa," ucap Axel meyakinkan.


Mereka mengangguk-angguk yang mempercayakan semua pada Axel. Dengan harapan Raisa akan baik-baik saja dan cepat untuk pulih.


*********


Besok adalah keberangkatan Melody dan Ardian ke Jepang menemani pasangan pengantin baru untuk bulan madu. Sekarang Melody sedang paciking-packing barang untuk keberangkatan Melody.


Melody memasukkan pakaian ke dalam koper yang berada di atas tempat tidur dan Ardian yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang yang hanya menonton istirnya dalam melakukan packing.


" Sayang menurut kamu apa ide Dokter batunya Raisa pas?" tanya Ardian.

__ADS_1


" Dia seorang Dokter dan pasti dia lebih tau apa yang terbaik untuk Raisa. Ya kita doakan saja semoga Raisa baik-baik saja," sahut Melody sembari menyusun pakaian ke dalam koper.


" Iya sih. Ya semoga sajalah," sahut Ardian.


" Oh iya sayang. Kamu sudah bilang belum sama Chaca kalau kita mau ke Luar Negri?" tanya Melody.


" Belum sih. Dia biasa ngambek ya, kalau kita kasih taunya kalau sudah di sana. Ya sudah sini kita Vidio Call sama Chaca," ucap Ardian mengajak istrinya untuk berada di sampingnya.


Melody mengangguk dan menghentikan pekerjaannya sementara. Lalu menghampiri suaminya dengan memeluk pinggang Ardian dan mereka mulai melakukan Vidio Call bersama putri mereka Chaca yang memang Chaca tidak boleh ikut. Karena ini urusan orang dewasa.


***********


Melody dan Ardian masih pamitan pada Putri mereka lain dengan Alvin dan Lea yang tidak henti-hentinya bermain di atas ranjang yang sekarang Alvin yang sudah bercucuran keringat langsung menjatuhkan diri di samping Rais dengan napas yang naik turun.. Begitupun Lea yang juga kelelahan dengan cucuran keringat.


Lea dan Alvin saling melihat dengan napas yang terasa sesak. Lalu Alvin menarik selimut, menutupi tubuh polos istrinya dan langsung membawa Lea kedalam pelukannya.


" Apa kamu lelah?" tanya Alvin dengan suara seraknya.


" Iya aku lelah. Kita tidak pernah keluar kamar satu harian. Apa orang-oranga dirumah ini akan menganggap kita pasangan yang prik," ucap Lea.


" Namanya juga pengantin baru. Mereka akan mengerti," ucap Alvin santai.


" Iya sih," sahut Lea.


" Ya sudah kita istirahat. Besok kita akan pergi berbulan madu dan di sana akan tempur lagi," ucap Alvin. Lea mengkerutkan dahinya dan melihat ke arah Alvin.


" Itu sih maunya kamu. Kamu itu tidak ada lelahnya," ucap Lea kesal.


" Sekarang kamu tau kan. Kalau suami kamu ini sangat perkasa," ucap Alvin menyombongkan dirinya.


" Terserah!" sahut Lea yang mengeratkan pelukannya pada suaminya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2