
Wawan memang harus tegas untuk masalah ini. Kecewa pasti dengan putrinya. Namun tetap saja dia akan lebih malu lagi, jika keluarga Ardian tau apa yang terjadi. Karena pasti dalam perbuatan itu ke-2nya salah dan apa lagi melakukannya sama-sama suka dan tanpa paksaan.
Wawan sebagai ayah mungkin sama berpikirnya dengan Marsel yang ingin memberi pelajaran Ardian dan juga keluarganya harus tau perbuatan anaknya selama ini. Tetapi kembali lagi. Jika Allah sudah menutup aib itu maka tertutup lah.
Namun terlihat Marsel yang tidak terima dengan keputusan papanya, " papa akan membedakan dia?" tunjuk Marsel pada Ardian.
" Marsel tidak ada yang membebaskan. Tetapi cukup semuanya, Ardian sudah menikah dengan adik kamu. Dan semuanya sudah terjadi. Biar mereka ber-2 belajar untuk apa yang mereka lakukan," tegas Wawan.
" Baiklah, terserah papa. Tetapi hukuman akan terus mereka dapatkan," sahut Marsel.
Melody melihat kearah kakaknya dengan wajah resahnya. Apa lagi yang ingin di lakukan kakaknya itu, " hukuman apa yang kakak inginkan?" tanya Melody.
" Ardian harus di penjara," sahut Marsel membuat semua orang kaget.
" Marsel!" lirih Dania dengan suara rendahnya, " papa kamu sudah mengatakan jangan membesarkan masalah. Jika Ardian di penjara itu sama saja. Orang-orang juga akan tau semuanya," sahut Dania.
" Kak Marsel, Melody adalah istrinya dan yang kakak lakukan itu keterlaluan," sahut Melody yang pasti tidak setuju.
" Aku tidak mengatakan dia di penjara dan kamu masih menjadi istrinya," sahut Marsel.
" Apa maksud kakak?" tanya Melody merasa ada yang tidak beres.
" Berpisah darinya!" sahut Marsel.
Orang-orang yang ada di ruangan itu begitu kagetnya mendengar pernyataan Marsel. Melody dan Ardian lebih kagetnya.
" Kak!" lirih Melody yang tidak sanggup bicara lagi dengan keinginan kakaknya yang semakin menjadi-jadi.
" Marsel apa yang kamu ucapkan!" sentak Wawan.
__ADS_1
" Pria itu harus tetap di hukum atas perbuatannya," sahut Marsel menegaskan dengan sorot matanya yang tajam.
" Mas tapi bukan begini caranya," sahut Gadis dengan mengusap lengan suaminya.
Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan, " Jika ingin aku di penjara, aku akan melakukannya. Tetapi aku tidak akan pernah berpisah dari Melody," sahut Ardian yang pasrah akan dirinya.
Melody melihat serius pada suaminya itu," tidak, kak Marsel tidak ada hak untuk membuat Ardian di penjara. Ardian tidak melakukan kesalahan apa-apa. Perlu Melody tegaskan sekali lagi. Aku dan Ardian melakukan itu tanpa paksaan," tegas Melody yang tidak akan membiarkan suaminya di penjara.
" Marsel kamu jangan mengada-ada dengan hal ini. Sudah cukup! papa sudah mengatakan jangan lagi membahas masalah ini. Masalah hukuman, biarkan mereka ber-2 yang menjalankannya. Karena mereka sama-sama bersalah. Jadi jangan melebarkan masalah ini," tegas Wawan lagi.
" Mas sudahlah, kamu jangan seperti ini. Melody itu adik kamu. Aku tau kamu marah, kecewa kepadanya. Tetapi mereka ber-2 hanya mis komunikasi selama ini dan mereka juga sudah sama-sama belajar. Jadi jangan membuat suatu hal yang justru memisahkan mereka," ucap Gadis memberi masukan pada Melody.
" Enak sekali kamu Ardian, sudah menghancurkan adikku, pergi begitu saja dan sekarang keluarga ini justru membelamu," sahut Marsel yang menatap tajam Ardian. Belum ada ke Ikhlasan di dalam dirinya untuk membiarkan Ardian bebas hukuman dan terlebih lagi keluarganya justru tidak berpihak pada pendapatnya.
" Aku minta maaf kak. Tapi aku tidak akan berpisah dari Melody. Kami akan belajar sama-sama dan menyelesaikan masalah ini sama-sama," sahut Ardian dengan kepala menunduk yang memang menyesali semuanya.
Marsel melangkah mendekati Ardian dan berbisik di telinga Ardian.
Suara bisikan itu terdengar di telinga Wawan dan Dania yang tidak jauh dari Ardian, sementara Melody heran apa yang di bisikkan kakaknya. Marsel mundur dari depan Ardian dan melihat ke-2 orangtuanya.
" Aku rasa mama dan papa setuju dengan hal itu," sahut Marsel yang langsung pergi meninggalkan ruangan Melody. Namun Ardian masih saja shock dengan debaran jantungnya yang begitu kencang saat akan tau anaknya tidak akan di berikan kepadanya.
" Marsel tunggu!" panggil Wawan yang menyusul Marsel. Ardian ikut menyusul yang ingin memohon pada Marsel untuk melakukan hal itu.
Melody semakin heran apa lagi yang terjadi, " ada apa ma?" tanya Melody.
Dania mendekati putrinya yang terlihat begitu gelisah, " tidak apa-apa nak," sahut Dania.
" Lalu kenapa papa dan Ardian menyusul kak Marsel, apa yang di katakan kak Marsel lagi?" tanya Melody yang perasaannya semakin tidak enak.
__ADS_1
" Tidak ada yang di katakan kakak kamu. Kamu jangan khawatir," jawab Dania harus berbohong pada Melody untuk menjaga kondisi Melody.
Ya meski Melody pingsan dan traumanya muncul karena perkataan Ardian masalah anak dan melahirkan. Hal itu akan langsung lupa dari ingatan Melody ketika dia bangun. Hal itu memang sering di alaminya.
*********
" Marsel tunggu!" Wawan menarik tangan putranya itu.
" Ada apa?" tanya Marsel yang sudah berhadapan dengan Wawan dan juga Ardian.
" Apa yang kamu bicarakan tadi?" tanya Wawan.
" Semuanya sudah jelas. Dia yang sudah menyusahkan keluarga kita, merusak anak perempuan di rumah kita. Sampai gila dan pergi seenaknya dan sekarang sok-sokan menyesal, mencari tau apa yang terjadi. Apa itu artinya juga setelah dia mengetahui segalanya ingin bersama Chaca. Tidak Ardian hidupmu tidak seenak itu!" tegas Marsel.
" Kak Marsel aku tau kesalahanku. Tapi izinkan aku untuk menebusnya dengan merawat Chaca sampai tumbuh dewasa," sahut Ardian.
" Kamu pikir semudah itu dengan semua yang kamu lakukan," sahut Marsel.
" Marsel dia anak Melody dan kita sudah tau itu darah daging Ardian. Jadi jangan egois. Setalah semuanya terjadi biarkan Ardian dan Melody melanjutkan untuk membesarkan Chaca," ucap Wawan.
" Aku egois papa bilang, siapa yang egois pa. Dia dan juga papa. Semua kehancuran di lakukannya dan sekarang mau enaknya dan papa membelanya tanpa memikirkan perasaanku dan juga istriku," sahut Marsel.
" Papa tau kan, bagaimana istriku merawat Chaca dengan sepenuh hatinya saat Chaca baru lahir. Karena Melody masih sakit istriku yang berperan menjadi ibunya. Aku dan Gadis juga sudah menikah 5 tahun. Tapi belum di berikan anak dan papa juga tidak lupa. Jika Gadis menunda kehamilannya hanya karena Chaca lahir saat itu. Supaya dia bisa merawat Chaca yang masih bayi. Dan dari keputusannya Gadis menunda kehamilannya kami sampai detik ini juga tidak di berikan keturunan dan dia mau seenaknya mengambil Chaca setelah banyak pengorbanan yang di lakukan istriku," ucap Marsel dengan mengeluarkan isi hatinya.
Perkataan Marsel membuat Wawan terdiam dan Ardian juga diam.
" Jadi silahkan jika papa dan mama juga setuju untuk memberikannya pada Ardian atau Melody, sana beritahu Melody siapa Chaca. Mungkin semuanya akan selesai dan jangan pikirkan perasaan istriku," sahut Marsel yang langsung pergi dari hadapan ke-2 orangtuanya itu.
" Marsel!" panggil Wawan dengan suara rendahnya.
__ADS_1
Bersambung