
Mobil Evan berhenti di parkiran Apartemen. Evan langsung buru-buru keluar dari mobilnya yang tidak di ketahui apa yang di lakukannya. Evan berlari-lari memasuki gedung apartemen tersebut. Menekan tombol lift dengan buru-buru dengan wajahnya yang terlihat begitu panik.
" Ayo cepat! kenapa lama sekali terbukanya," ucap Evan dengan kepanikannya yang memang begitu buru-buru nya. Sampai akhirnya pintu lift itu terbuka dan Evan langsung memasuki lift tersebut.
Di dalam lift dia juga terlihat begitu gelisah, dengan wajahnya yang terlihat tidak tenang yang sepertinya ada sesuatu yang ingin di kejar nya. Sampai akhirnya lantai tujuan Evan sudah sampai dan Evan buru-buru keluar dari dalam lift.
Evan berhenti di salah satu Apartemen dan Evan terlihat memencet kata sandi Apartemen tersebut yang sepertinya dia memang mengenali apartemen tersebut. Setelah terbuka Evan langsung masuk dan ternyata itu adalah Apartemen Rasti dan Rasti yang ada di ruang tamu begitu terkejut dengan kedatangan Evan yang secara tiba-tiba.
" Evan apa yang kamu lakukan? ngapain kamu di sini?" tanya Rasti dengan wajah terkejutnya yang berdiri dari duduknya.
" Apa yang terjadi denganmu?" tanya Evan berdiri di depan Rasti yang memegang ke-2 bahu Rasti.
" Apa maksudmu?" tanya Rasti yang berpura-pura tidak tau.
" Sudah katakan saja. Apa yang terjadi denganmu. Jangan membohongi ku Rasti," ucap Evan dengan wajahnya yang serius menatap Rasti dalam-dalam.
Rasti melepas tangan Evan dari kedua bahunya, " apa maksudmu, aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan?" Rasti kembali bertanya.
" Aku mengatakan jangan berbohong Rasti. Kau menyembunyikan sesuatu dari ku," bentak Evan dengan suaranya yang meninggi.
" Cukup Evan!" bentak Rasti, " aku tidak ada urusan lagi denganmu. Hubungan kita sudah berakhir. Apapun yang terjadi kepadaku. Itu bukan urusanmu dan iya kau sebaiknya jangan pernah menemuiku lagi. Karena aku tidak mau di salahkan Tante Shandra lagu. Jadi sebaiknya kau pergi dari sini!" sahut Rasti menegaskan yang mengusir Evan.
" Aku tidak akan pergi. Sebelum kau mengatakan apa yang terjadi padamu sebenarnya. Rasti tidak mungkin kau memutuskan hubungan kita begitu saja. Aku mengenalmu dan aku tau bagaimana kau. Jadi katakan pada ku ada apa sebenarnya?" teriak Evan.
Rasti mendengus kasar mendengar teriakan Evan. " Evan aku tau kau sangat mencintaiku dan tidak mudah untuk move on dariku. Tapi Evan aku sudah tidak mencintai mu lagi. Dan aku menolakmu karena aku sudah bosan denganmu. Kau tidak pernah berubah dan aku tidak bisa menikah dengan orang seperti mu," tegas Rasti dengan ketus.
" Sandiwara," desis Evan.
" Apa yang kau katakan. Aku tidak perlu bersandiwara. Terimalah Evan jika aku sudah tidak mencintaimu lagi," tegas Rasti, " sekarang kau keluar dari sini!" usir Rasti.
Evan hanya menatapnyanya yang berusahalah untuk mencari tahu apa yang terjadi dari matanya.
" Aku bilang keluar!" teriak Rasti. Evan tidak mendengarkannya dan terus melihat Rasti.
" Keluar!" teriak Rasti lagi. Evan tidak peduli dan Rasti menarik tangan Evan dengan berusaha mengusirnya paksa, Rasti juga mendorong Evan yang mana tubuh Evan tertahan.
" Pergilah! aku sudah tidak mencintaimu. Jadi pergi dari sini! sebelum aku panggil satpam!" teriak Rasti.
" Kau mengusirku dari tempatku," sahut Evan dengan suara rendahnya membuat Rasti perlahan melepas tangannya dari Evan.
__ADS_1
Rasti tersenyum mendengar kata-kata Evan. Yang seharusnya Rasti sadar dan paham dengan perkataan Evan.
" Aku lupa. Bukan kau yang pergi. Tetapi aku. Ya aku memang harus pergi dari tempat ini. Karena ini milikmu," ucap Rasti tersenyum penuh dengan ketenangan dan langsung pergi dari hadapan Evan yang mungkin menuju kamarnya untuk beres-beres. Apartemen itu memang milik Evan dan selama ini Rasti yang menempatinya untuk tempat tinggal yang nyaman untuk Rasti.
Setelah kepergian Rasti. Evan menyusulnya dengan jalan yang begitu cepat. Evan memasuki kamar Rasti dan membuat Rasti terkejut.
" Apa lagi yang kau lakukan?" tanya Rasti menekan suaranya. Evan hanya melihat di sekitar kamar Rasti dan melihat di atas nakas obat-obatan dan langsung menghampiri nakas. Hal itu membuat Rasti panik dan langsung menghampiri Evan yang sudah memegang salah satu obatnya.
" Obat apa ini?" tanya Evan.
" Bukan urusanmu kembalikan," jawab Rasti menarik dari tangan Evan. Namun Evan menahannya dan melihat lagi obat-obatan yang lainnya.
" Evan hentikan apa yang kau lakukan, kau jangan kurang ajar menggeledah kamar ku!" ucap Rasti marah-marah di saat Evan malah membongkar kamar Rasti, Evan membuka laci yang mengacak-acaknya dan mencari-cari sesuatu.
" Evan hentikan!" Rasti berusaha mencegah Evan dengan menarik Evan. Namun tangan Evan terus menggeledah laci mencari apa yang ingin di temukannya. Sampai akhirnya Evan menemukan beberapa kertas dan membuat Rasti panik.
" Kembalikan itu!" pinta Rasti dengan tegas berusaha mengambil dari tangan Evan. Namun Evan menjauhkannya yang berusaha membaca isi dari kertas itu. Namun Rasti masih semampunya menarik dari tangan Evan dan sampai akhirnya Rasti menarik ujung kertas dan Evan juga menariknya dan akhirnya sobek.
" Rasti!" gertak Evan menekan suaranya.
" Kenapa kau mencampuri urusanku. Apa pun yang terjadi kau tidak perlu tau!" ucap Rasti dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Terserah apa yang mau kau katakan!" sahut Rasti berteriak.
" Katakan kepadaku Rasti apa yang sebenarnya terjadi. Katakan Rasti!" teriak Evan.
" Aku menderita kanker rahim dan harus operasi pengangkatan rahim. Aku tidak bisa Evan memiliki anak. Makanya aku mengakhiri hubungan kita," jawab Rasti dengan berteriak. Akhirnya Rasti memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Evan mendengarnya begitu terkejut dengan matanya yang terus melihat Rasti.
" Apa kau puas sekarang. Aku bukan perempuan sempurna yang akan bisa menikah denganmu, memiliki anak seperti yang kau inginkan. Aku tidak bisa Evan melakukan semua itu. Karena rahimku akan di angkat!" tegas Rasti dengan suara rendahnya yang mana Rasti sudah mengais.
Air mata Evan juga keluar saat mendengar apa yang terjadi dari mulut Rasti. Rasti menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya sembari mengusapnya dengan air matanya yang terisak.
" Jadi sudah jelas Evan, kau sudah mengetahui semuanya. Jadi sekarang jangan menggangguku lagi. Karena aku tidak bisa mewujudkan impianmu, kau mencari wanita yang bisa menikah denganmu dan bukan aku. Maafkan aku Evan," ucap Rasti. Rasti menarik napasnya panjang dan beralih dari hadapan Evan.
Evan yang sejak tadi diam dengan wajah shocknya mengusap air matanya dan langsung mengejar Rasti, saat tangan Rasti ingin membuka pintu kamar Evan menarik tangannya dan mendorong pelan pada dingding dan Evan memegang tengkuk Rasti dengan ke-2 tangannya yang langsung mencium bibir Rasti.
Awalnya ada pemberontakan dari Rasti. Tetapi karena Evan memaksa masuk akhirnya dengan perlahan Rasti memejamkan matanya yang menerima ciuman itu.
__ADS_1
Air mata keduanya sama-sama keluar dengan ciuman yang semakin dalam di antara ke-2nya tidak Rasti dan juga Evan yang sebenarnya sama-sama saling merindukan. Namun harus tersiksa dengan keadaan Rasti yang Tidka memungkinkan untuk menikah dengan Evan. Karena hal itu sangat mustahil. Karena adanya kekurangan Rasti yang pasti akan menjadi penghalang mereka berdua.
Rasti dan Evan masih sama-sama berciuman. Di mana mereka berciuman dengan sama-sama romantis yang saling membalas dengan kepala mereka yang terkadang kekiri terkadang kekanan dengan tangan Rasti yang mengusap-usap punggung Evan dan ke-2 tangan Evan yang memegang tengkuk Rasti agar memperdalam ciuman itu.
Akhirnya ciuman pasangan itu sama-sama berhenti dengan sama-sama melepas tautan bibir masing-masing dengan mata yang terbuka perlahan dan saling bertemu, saling menatap dalam-dalam dengan deru napas yang naik turun. Air mata yang semakin mengalir yang menjelaskan perasaan 2 orang itu sampai akhirnya Evan memeluk Rasti dengan erat.
Tangis Rasti pecah di pelukan Evan. Sebenarnya dia sangat membutuhkan pelukan Evan untuk memberinya semangat. Dia tidak punya siapa-siapa dan hanya Evan yang di milikinya di dunia ini. Hanya Evan dan Evan saja.
" Aku tidak pantas untukmu. Carilah wanita lain yang bisa mewujudkan impianmu dan bukan aku wanita itu," ucap Rasti dengan terisak. Evan mendengar kata-kata itu semakin merasa hancur dan semakin memeluk erat Rasti.
************
Rasti sekarang duduk di pinggir ranjang dengan Evan yang duduk di sampingnya. Rasti sudah tidak menangis lagi. Namun air matanya terkadang masih keluar.
" Kenapa tidak mengatakan semua ini kepadaku?" tanya Evan dengan lembut.
" Tidak gunanya mengatakannya, karena tidak akan mengubah apapun," jawab Rasti.
" Lalu sejak kapan semua ini?" tanya Evan.
" 1 bulan belakangan ini. Aku baru mengetahuinya dan Dokter langsung memutuskan untuk mengambil tindakan itu," jawab Rasti.
" Apa itu waktu di mana kamu bilang kamu mau kerumah sakit?" tanya Evan.
Rasti menganggukkan kepalanya, " aku juga tidak tau kenapa bisa seperti itu. Aku mengalami gejalanya hanya beberapa bulan terakhir saja. Namun saat hasil lab nya keluar aku juga terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di katakan Dokter. Dari situ aku terus periksa dan konsultasi untuk pengobatan serius. Dan pilihannya hanya itu. Aku operasi pengangkatan rahim," jelas Rasti yang kembali menangis saat jujur degan apa yang sebenarnya terjadi.
Evan memegang tangan Rasti untuk menguatkannya membuat Rasti menoleh kearah Evan.
" Evan, kamu sudah tau apa yabg terjadi padaku. Jadi sebaiknya kamu tinggalkan aku. Karena tidak ada yang kamu harapkan dari ku," ucap Rasti yang memang ikhlas untuk berpisah dari Evan. Dia sudah siapa untuk semua itu.
" Aku tidak akan melakukannya," jawab Evan. Rasti terkejut mendengarnya.
" Evan!" lirih Rasti dengan suara seraknya.
" Tidak Rasti, aku tidak akan melakukannya sama sekali. Kita akan berjuang sama-sama. Kamu akan sembuh tanpa melakukan hal itu. Kita akan mencari Dokter yang terbaik. Aku akan berusaha untukmu," tegas Evan yang tidak akan pernah meninggalkan kondisi Rasti yang seperti itu.
Rasti benar-benar terkejut yang tidak percaya mendengar keputusan Evan.
Bersambung
__ADS_1