
Mentari pagi kembali tiba. Ardian dan Melody sama-sama keluar dari kamar dan langsung menuruni anak tangga untuk sarapan seperti biasanya yang mana di bawah sana sudah banyak yang menunggu.
" Melody, Ardian, kalian baru turun. Ayo sarapan bersama!" ajak Widia.
" Iya ma," sahut Ardian yang menarik kursi untuk Melody dan mempersilahkan Melody untuk duduk. Hal manis itu jelas mengundang kemarahan Raisa yang pagi-pagi sudah kepanasan.
" Ya ampun, adem banget ya lihatnya. Kayak pengantin baru aja," sahut Lea yang membuat Lea semakin panas. Melody hanya tersenyum dan mengambilkan nasi goreng ke piring Ardian.
" Cukup?" tanya Melody.
" Hmmm, cukup," jawab Ardian.
" Dia pasti sengaja romantis-romantisan dengan Ardian di depanku," batin Raisa Raisa yang mungkin makanan itu sudah rasa tawar.
" Hmmm, Oh iya kak Mila, biasanya anak-anak sekolah, yang nganter siapa?" tanya Melody tiba-tiba.
" Biasanya pergi sama Mas Bayu, kalau tidak sama Arya. Tetapi kalau pulang kakak yang jemput," jawab Mila.
" Hmmmm, begitu rupanya. Bukannya pekerjaan kakak banyak, masa iya kakak kerjain semuanya," sahut Melody.
" Ya mau bagaimana lagi Melody, sudah tugas," sahut Mila.
" Hmmm, Tante Novi!" tegur Melody tiba-tiba.
" Ada apa?" tanya Novi.
" Hmmm, begini kan Tante di rumah tidak ada pekerjaan, di luar juga tidak. Jadi jangan semua di bebankan pada kak Mila. Alangkah baiknya. Tante sedikit saja berguna, ya untuk rutin mengantar dan juga menjemput anak-anak sekolah," ucap Melody membuat Novi kaget mendengarnya.
" Apa maksud kamu Melody. Kamu pikir Tante Novi itu supir apa," sahut Raisa yang langsung menyambar.
" Jadi kamu menganggap kak Mila supir," sahut Melody. Evan dan Lea sudah menahan tawa.
" Dan kamu ingin aku mengantar dan menjemput anak-anak sekolah," sahut Novi.
" Iya benar, jadi sebaiknya Tante menggantikan pekerjaan kak Mila. Dia banyak pekerjaan," sahut Melody dengan tenang bicara.
__ADS_1
" Aliya dan Dani, itu punya orang tua, kenapa harus aku yang mengurus mereka. Dan Yogi dia juga punya orang tuanya sibuk. Lalu kenapa aku yang repot mengurus sekolahnya," ucap Novi dengan marah-marah.
" Tante, mas Bayu itu bekerja dan tidak sempat mengantar Dani, Aliya atau Yogi sekolah dan kak Mila juga pekerjaannya banyak dan untuk mas Arya dan kak Vivi juga bekerja. Jadi ya apa salahnya Tante yang tidak punya pekerjaan di luar maupun di rumah ini. Sedikit mengeluarkan tenaga untuk menjemput dan mengantar anak-anak pulang sekolah. Tidak rugikan," sahut Melody menegaskan.
" Tante Novi. Anggap saja Tante itu tidak hidup gratis yang menumpang tanpa melakukan apa-apa," ucap Melody menyindir membuat Novi naik darah.
" Tutup mulut kamu Melody!" bentak Novi dengan suara menggelegar yang tidak terima kata-kata Melody.
" Maaf Eyang, jika Melody membuat sarapan sedikit ricuh. Melody hanya ingin kak Mila sebagai menantu tidak terlalu berat dalam bekerja dan pekerjaannya di kurangi sedikit demi sedikit. Karena di rumah ini juga Tante Novi tidak ngapain-ngapain. Jadi apa salahnya dia melakukan suatu tugas yang tidak akan merugikannya," ucap Melody dengan santai.
" Aku rasa Eyang akan setuju dengan apa yang aku usulkan," lanjut Melody.
" Eyang, itu bukan urusan saya," sahut Novi.
" Tetapi apa yang di katakan Melody tidak ada salahnya," sahut Eyang membuat Melody tersenyum mendengarnya. Raisa dan Novi kaget mendengarnya.
" Tapi Eyang itu bukan pekerjaanku," sahut Novi.
" Bukannya kita adalah keluarga. Dan keluarga harusnya saling membantu. Apa yang di katakan Melody sangat benar. Jadi saling membantulah di rumah ini," ucap Eyang menegaskan.
" Tapi Eyang...."
" Sial, berani sekali Melody melakukan ini," batin Novi yang tidak bisa melakukan apa-apa. Karena jika Eyang yang bicara maka semuanya tidak akan dapat di bantah.
Ardian hanya diam dan menikmati saja apa-apa yang di buat istrinya. Ya dia tidak akan ikut campur masalah hal itu.
" Saran kamu memang bagus Melody. Lalu apa kamu juga punya saran untuk Raisa. Dia juga tidak ada pekerjaan selain membuat ulah," sahut Lea tiba-tiba membuat Raisa kaget.
" Jaga sikap kamu Lea," sahut Raisa.
" Aku hanya mengingatkan Melody saja. Tapi kalau aku lihat-lihat, Melody belum mendapatkan saran. Nanti aku bantu Melody untuk mencari-cari," sahut Lea dengan santai. Melody menganggukkan kepalanya.
" Jika aku kalah kemarin dan tidak berhasil membuatmu di hempas dari rumah ini. Maka aku akan kembali membuat di rumah ini seperti neraka dan kalian akan pergi sendiri," batin Melody tersenyum penuh kemenangan melihat Raisa dan juga Novi.
" Anak, anak siapa. Tetapi aku yang mengurusnya. Melody benar-benar sudah melewati batasnya," batin Novi yang tetap tidak terima. Tetapi tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
" Oh, iya Melody kamu sudah mengabari keluarga kamu?" tanya Widia tiba-tiba.
" Sudah mah, pagi ini aku sama kak Ardian juga akan kerumah sakit untuk menjenguk Chaca," sahut Melody. Ardian langsung melihat ke arah Melody dengan serius. Saat mendengar satu kata yang keluar dari mulut melody membuatnya langsung berhenti makan.
" Semoga Chaca baik-baik aja. Mama titip salam aja sama keluarga kamu," ucap Widia.
" Iya ma makasih ma," sahut Melody.
" Aku juga akan mengurus semua masalah kalian ber-2 kekantor Polisi. Agar masalah ini Clear," sahut Bayu.
" Makasih mas Bayu, mas Arya sudah membantu kami. Sekali lagi kamu mohon maaf atas kejadian ini," ucap Melody.
" Kita jadikan pembelajaran dan kita ambil hikmahnya," sahut Arya.
" Apa aku tidak salah dengar, jika Melody memanggilku dengan panggilan kakak," batin Ardian yang merasa tidak percaya.
" Ya sudah kalau begitu, sekarang ayo kita sarapan lagi," sahut Eyang. Yang lainnya mengangguk dan mereka sarapan kembali.
************
Setelah selesai sarapan Melody dan Ardian langsung menuju mobil yang mana mereka memang akan langsung pergi kerumah sakit untuk menemui Chaca yang masih sakit parah.
" Ya ampun kak, aku lupa sesuatu," ucap Melody tiba-tiba.
" Ada apa?" tanya Ardian.
" Handphone aku ketinggalan, aku ambil sebentar ya," ucap Melody. Ardian menganggukkan kepalanya.
" Dia memang sudah memaafkanku bahkan dia memang memanggilku dengan panggilan kakak," batin Ardian yang merasa begitu bahagia.
Saat menaiki anak tangga Melody berpapasan dengan Raisa.
" Kau semakin lancang Melody!" ucap Raisa.
" Ya dan itu akan terus aku lakukan. Kenapa takut, atau apa. Jika menyukai setiap tindakanku. Maka lawan aku. Raisa aku tidak kalah kemarin. Tetapi apa yang terjadi kemarin justru bonus untukku. Di mana aku bisa membuatmu tinggal di tempat neraka sebelum kamu ke neraka. Jadi jangan pikir aku selemah itu," ucap Melody menyunggingkan senyumnya dan langsung pergi.
__ADS_1
" Sial," desis Raisa yang hanya bisa mengumpat.
Bersambung