
Melody dan Ardian akhirnya keluar dari kamar setelah beres-beres bersama. Mereka menghampiri ruang keluarga. Yang pasti di sana ada Eyang, Widia, Mila, Sandra, Novi Raisa dan keluarga Melody Dania Wawan dan juga Marsel.
Mereka memang menginap di rumah itu. Hanya istri Marsel yang pulang kemarin. Karena memang harus mengurus anaknya Chaca yang masih kecil.
Tidak lama akhirnya Melody pun datang bersama Ardian. Melody sudah terlihat baikan dahinya sudah di perban dan pipinya juga tidak terlalu merah.
" Ayo Melody Ardian, mari duduk!" sahut Ratih mempersilahkan anak dan menantunya itu. Ardian pun duduk di sofa yang kosong dan duduk bersebelahan dengan Melody.
" Kamu sudah tidak apa-apa Melody?" tanya Eyang besar masih cemas dengan Melody.
" Aku sudah tidak apa-apa?" jawab Melody dengan datar.
" Jangan basa-basi. Kamu cepat minta maaf pada anak saya," sahut Dania dengan ketus melihat pada Raisa.
" Raisa ayo cepat minta maaf pada Melody. Kamu jelas bersalah dan yang bersalah harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Termasuk kamu yang harus meminta maaf," sahut Ratih yang mendesak Raisa.
Raisa terlihat kesal. Dengan tatapan tajam pada Melody yang mana Melody santai. Namun wajah Melody terlihat mengejek Raisa.
" Raisa jangan diam saja. Kamu cepat minta maaf!" desak Shandra lagi.
" Sialan, wanita ini benar-benar berhasil membuatku rendah di hadapannya," batin Raisa dengan mengepal tangannya.
" Raisa, cepat kamu harus dengarkan kata Tante," ucap Novi dengan pelan yang mendesak Raisa.
" Aku akan minta maaf. Tapi kakak Melody juga harus minta maaf pada Ardian. Karena sudah memukul Ardian," sahut Raisa.
" Apa maksudmu," sambar Marsel yang langsung darah tinggi.
" Itu tidak perlu ini kesalahan ku yang tidak bisa menjaga Melody. Jadi kak Marsel tidak perlu minta maaf," sahut Ardian.
" Kau dengar sendiri. Jadi kau jangan menambahi masalah cepat minta maaf kepada adikku," sahut Marsel yang melihat tajam Raisa.
Raisa sudah kalah malu yang niat sok-sokan menjadi pahlawan di depan Ardian. Eh dia malah kenak sembur.
" Cepat minta maaf jangan membuang waktu," sahut Dania lagi.
" Aku minta maaf," sahut Raisa yang tidak ikhlas.
" Begitu cara kamu meminta maaf," sahut Dania.
__ADS_1
" Sudahlah maha, jangan memaksakan orang lain untuk tulus. Mungkin caranya begitu. Jadi biarkan saja," sahut Melody dengan santai.
" Sialan kamu Melody. Kamu berani bicara banyak. Karena ada orang tuamu. Lihat saja aku akan menghancurkanmu," batin Raisa yang penuh dendam.
" Aku sudah mengatakan Raisa. Kamu itu bukan level ku," batin Melody tersenyum tipis.
" Fotografer nya sudah sampai," sahut Evan tiba-tiba yang datang bersama Rasti.
" Fotografer untuk apa?" tanya Melody heran.
" Kalian ber-2 belum foto prewedding. Jadi Evan sudah mencarikan fotografi yang terbaik untuk prewedding kalian berdua," sahut Eyang besar.
Melody terlihat gelisah dan seperti tidak menyukai hal itu. Wajahnya bahkan terlihat resah. Sementara Ardian hanya menanggapi datar dan lebih mengikuti saja.
" Apa itu perlu?" tanya Melody.
" Melody itu sangat perlu. Sudah kamu mending sekarang ikut kakak. Kita ganti baju. Lalu kita ke lokasi untuk sesi foto," sahut Mila.
" Tapi..." sahut Melody ragu.
" Sudah Melody sana, kami datang kemari untuk ikut menyiapkan resepsi kamu. Jadi sana lah," sahut Wawan. Melody terus terlihat ragu. Mila pun langsung berdiri dan membawa Melody.
" Sialan, kenapa resepsi mereka semakin menjadi-jadi," batin Raisa.
" Aku harus melakukan sesuatu. Resepsi ini tidak boleh terjadi. Posisi Raisa akan semakin tidak jelas," batin Novi.
" Ardian ayo kamu ikut aku!" sahut Evan. Ardian hanya mengangguk saja dan pergi bersama Evan.
************
Lokasi untuk sesi prewedding Ardian dan Melody tidak terlalu jauh dari rumah. Tempat yang mereka ambil tempat yang estetik dan terlihat begitu romantis.
Para kru dan yang lainnya sudah berada di sana dan sudah mempersiapkan segalanya. Febby adik Melody juga datang bersama Gadis dan keponakannya yang tadi menyusul. Meraka semua ikut menyaksikan Ardian dan Melody fotografer.
Tidak lama pengantin Ardian dan Melody pun sudah siap mereka melakukan sesi foto menggunakan pakaian adat dari daerah masing-masing.
Ke-2nya terlihat sangat kaku. Mungkin karena hati belum menyatu makanya ke-2nya begitu kaku.
" Lebih dekat lagi!" ucap sang Fotografer yang memberikan arahan. Fotografer harus sabar-sabar menghadapi Melody dan Ardian yang memang sangat sudah di atur untuk romantis sedikit pun.
__ADS_1
Cukup lama mereka melakukan sesi foto dengan pakaian adat dan pakaian formal lainnya.
" Oke untuk terakhir. Ganti baju!" sahut fotografer memberi arahan.
" Apa ini belum cukup?" sahut Melody.
" 1 lagi," sahut Fotografer. Wajah Melody menjadi lesu yang merasa kesal dengan foto-foto yang tidak jelas baginya.
Mila pun membawa Melody lagi untuk mengganti pakaian yang di bantu Feby dan juga Aliya. Tidak lama akhirnya Melody yang berada di ruangan ganti sudah mengganti pakaiannya yang katanya untuk yang terakhir.
Setelah tadi dia sudah memakai pakaian adat, pakaian formal dan ada 4 Jenes pakaian dan sekarang yang di pakainya adalah gaun putih tanpa lengan dengan panjang yang menyapu lantai.
Di mana Melody terlihat begitu cantik dan sangat elegan. Dengan rambutnya yang di sanggul cepol yang memperlihatkan bagian leher jenjangnya dan juga bahunya yang putih mulus yang sangat bagus.
" Kak Melody sangat cantik!" puji Aliya.
" Namanya kakaknya aku," sahut Febby.
" Sudah-sudah, sekarang ayo bawa Melody kedepan yang lain sudah menunggu!" titah Mila. Febby dan Aliya mengangguk dan membawa Melody keluar dari kamar makeup untuk melakukan sesi foto bersama Ardian.
Di tempat sesi foto Ardian juga terlihat sudah rapi dengan jas putih dengan dasi kupu-kupu hitam. Yang menunggu istrinya. Sementara yang lain menunggu duduk berlindung di berbagai tenda payung. Tidak terlihat Raisa ataupun Novi di sana.
Tidak lama akhirnya Melody pun datang bersama Aliya dan Febby dan juga Mila. Mata tertuju pada cantiknya Melody dengan gaun itu. Ardian juga harus mengakui istrinya itu memang sangat cantik dan cantiknya tidak bisa di pungkiri lagi.
" Ardian Ngedip!" goda Evan yang berdiri di sampingnya yang membuat Ardian tersentak kaget dan sampai malu dengan wajahnya yang memerah.
" Melody cantik ya Ardian. Beruntung banget punya istri cantik," sahut Rasti yang ikut-ikutan menggoda Ardian.
" Ya mau gimana lagi memang cantiknya ketulungan," sahut Evan.
" Kalian bisa diam tidak!" sahut Ardian yang kelihatan kesal.
" Istrinya di bilang cantik langsung ngamuk, gimana sih," sahut Evan yang menggoda lagi.
" Eh Ardian, sudahlah kamu itu tau sifat Melody dari dulu bagaimana. Jadi mending baik-baik Melody deh. Wanita itu sekeras apapun kalau sudah dilembutin dan di dayang-dayang bakalan luluh kok. Percaya sama aku," sahut Rasti memberi saran.
" Terserah," sahut Ardian yang terlihat biasa menanggapi kata-kata Rasti dan matanya masih fokus pada Melody yang semakin lama semakin dekat dengannya.
Bersambung
__ADS_1