
Melody dan Raisa saling tatap-tapan dengan sinis.
" Baiklah, kalau memang Melody sudah datang ya alangkah baiknya memang Melody yang menjaganya," sahut Widia yang setuju.
" Aku juga akan menjaga Ardian," sahut Raisa yang tidak mau kalah. " Aku yang mengerti Ardian dan aku juga adalah pacarnya dan aku paling tau apa yang di butuhkannya nanti dan aku akan menjaganya. Terserah kamu juga mau di sini atau tidak. Tapi aku akan tetap di sini," tegas Raisa.
" Bagaimana mungkin kamu mengatakan hal seperti itu," sahut Dania yang menolak hal itu.
" Tidak ada yang salah, jika yang menjaga Ardian 1 atau 2 orang. Bukannya kita juga akan kembali," sahut Novi yang mendukung penuh Raisa.
" Tapi Melody istrinya dan seharusnya Melody bersama suaminya," sahut Wawan.
" Jika dia memang istri yang baik. Dia tidak akan membuat Ardian seperti ini dan dia juga tidak akan pergi walau hanya sebentar saja. Tapi apa yang di lakukannya dia pergi dan kembali di saat aku ingin menjaganya. Aku yakin dia pasti ingin punya jahat pada Ardian," ucap Raisa yang menyalahkan Melody dengan suka-suka.
" Jangan bicara sembarangan kamu," sahut Dania yang membantah hal itu.
" Pokoknya aku tetap berada di sini untuk menjaga Ardian. Aku tidak peduli dia ada di sini atau tidak," sahut Raisa yang menegaskan yang sepertinya tidak ada tanda-tanda untuk mengalah.
" Tidak apa-apa mah, pah. Jika dia juga mau di sini ya sudah tidak apa-apa," sahut Melody yang tampak tenang.
" Melody apa yang kamu bicarakan," sahut Dania yang tidak setuju dengan Melody.
" Mah sudahlah. Aku tidak mau ribut dan lagian ngapain aku ribut. Jika ada yang menjaganya itu bukannya jauh lebih baik. Tapi Raisa aku harus mengingatkan suatu hal kepada kamu. Aku dan Ardian menikah saat aku koma dan saat itu kita terus ribut dan tidak ada waktu sama sekali untuk berdua dan pada akhirnya kita sudah menyelesaikan resepsi yang mana itu artinya malam ini seharusnya malam ini menjadi malam pengantin kami. Ya terserah kalau kamu juga mau disini atau tidak yang jelas bagiku ini malam pengantin kami yang juga aku dan Ardian tidak mungkin menunda itu," ucap Melody dengan tenang bicara.
Justru orang-orang tua yang ada di sana menjadi salah tingkah mendengarnya pembahasan Melody yang terlalu inti. Yang mana Eyang, dan Widia saling melihat dengan tersenyum seakan mereka yang malu dengan maksud Melody yang mereka pahami.
__ADS_1
Ardian mendengarnya mengkerutkan dahinya yang mendengarkan kata-kata Melody yang membuatnya malu. Apa lagi mendapat senyuman menggoda dari Evan yang seolah mengejeknya.
" Jadi terserah kamu Raisa mau di sini atau tidak. Aku jelas tidak akan mengubah apapun dengan Ardian. Kondisinya tidak mempermasalahkan hal itu untuk di lakukan. Mau kamu ada di sini atau tidak aku akan melakukan tugasku sebagai istri," lanjut Melody yang tersenyum miring pada Raisa.
Raisa yang mendengar hal itu ingin rasanya menerkam Melody. Dengan tangannya yang mengepal kuat. Dadanya yang terasa begitu sesak mendengar kata-kata Melody yang mudahnya membahas masalah malam pertama.
Namun Ardian tetap hanya menyimak saja kata-kata Melody yang seakan benar-benar ingin melakukan itu. Dia hanya mengikuti sampai mana Melody akan tahan dengan kata-kata itu.
" Syukurin lo, emang enak kenal mental," batin Rasti yang paling terlihat begitu bahagia dengan perkataan Melody.
" Jadi ya tetap terserah kamu. Aku tidak akan melarang kamu di sini atau tidak dan mau melihat pun tidak masalah mungkin, kalau kamu benar-benar tidak tau diri," lanjut Melody yang memang terlihat santai. Beda kelas untuk menghadapi Raisa.
" Ehmmm, saya tidak ikut-ikutan masalah itu. Melody jaga suami kamu. Papa dan mama pulang dulu. Kak Marsel, Kak Gadis, Feby dan Chaca sudah menunggu. Tetap lah di sini dan jaga suami kamu," ucap Wawan.
" Iya pah, makasih sudah mengantarkan Melody Kerumah sakit kembali. Salam untuk yang lainnya," sahut Melody.
" Kami permisi! assalamualaikum," sahut Dania pamitan.
" Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak. Dania dan Wawan pun akhirnya pergi yang merasa anak mereka akan aman-aman saja tanpa ada masalah.
Raisa tetap geram dengan Melody yang terus melihat Melody dengan sinis. Namun Melody hanya membalas dengan senyuman tipis untuk Raisa.
" Hmmmm, ya sudah bermesraan lah dengan suamimu sesuai yang kamu inginkan kami tidak bisa mengganggunya. Kami juga harus kembali," sahut Eyang besar.
" Ardian kami pulang dulu ya," sahut Widia.
__ADS_1
" Iya mah," jawab Ardian. Shandra, Widia, dan Eyang besar pun akhirnya keluar dari ruangan itu.
" Raisa ayo kita pulang!" ajak Novi yang memaksa Raisa. Raisa terlihat menolak. Namun Novi tetap memaksanya. Melody itu ada gila-gilnya dan mungkin benar-benar dia akan melakukan hal itu jika Raisa masih ada di kamar itu. Yang akhirnya Raisa juga yang kalah yang pulang di paksa oleh Novi.
" Ehemmm," Evan tiba-tiba berdehem. " Ayo Rasti kita pulang jangan jadi penonton di sini," sahut Evan.
" Iya ayo, kita pulang," sahut Rasti yang senyum-senyum pada Melody dan barulah Melody sekarang malu dengan kata-katanya.
" Jangan lupa pintunya di tutup dari dalam," ucap Evan mengingatkan dengan cara mengejek yang membuat Melody mengkerutkan dahinya.
" Apaan sih mereka. Nggak penting benget," batin Melody kesal. Melody pun melihat ke arah Ardian. Yang mana Ardian terus melihatnya dengan mengintimidasi.
" Apa," sahut Melody dengan ketus.
" Kita akan mulai dari mana," sahut Ardian dengan santai.
" Apa maksud mu," sahut Melody yang mendadak panik. Ardian mendengus kasar dengan mengeluarkan senyumnya.
" Bukannya tadi mengatakannya dengan jelas dan kamu tidak akan lupa kata-kata kamu itu kan," sahut Ardian. Wajah Melody memerah mendengarnya dengan geram mendengar kata-kata Ardian.
" Jadi mulai dari mana?" tanya Ardian lagi dengan alisnya yang naik satu.
" Pikiran mu jangan kotor. Aku tidak akan melakukan itu," sahut Melody menegaskan yang langsung pergi dari hadapan Ardian dan Melody menuju sofa yang langsung membaringkan tubuhnya di sofa sementara Ardian masih saja melihat Melody dengan salah tingkanya Melody yang sama sekali tidak bisa di sembunyikannya.
Melody melihat ke arah Ardian dan masih sama Ardian masih melihat Melody yang membuat Melody bertambah kesal dan membelakangi Ardian.
__ADS_1
" Apa yang di pikirkannya. Lagian kamu sih Melody bisa-bisanya bicara sepanjang itu kan kejadiannya jadi seperti ini," batin Melody yang baru menyesal sudah bicara yang mengarah ke arah sana.
Bersambung