
Akhirnya Novi dan Raisa pagi ini pergi dari rumah menuju Kalimantan untuk melaksanakan hukuman yang telah di berikan Eyang kepada mereka.
Sebelum pergi mereka berpamitan terlebih dahulu pada Eyang, Widia dan juga yang lainnya yang memang mengantarkan mereka sampai depan pintu.
" Semoga kalian bisa belajar apa yang kalian lakukan," ucap Eyang dengan nada dingin. Raisa dan Novi diam saja yang tidak bisa menanggapi apa-apa.
" Tante kecewa sama kamu Raisa dengan apa yang kamu lakukan. Tante berharap ketika kamu kembali. Kamu sudah berubah dan tidak seperti ini lagi," ucap Widia.
" Memangnya kalian pikir hukuman yang kalian berikan akan membuatku menyerah. Tidak akan. Aku tidak akan pernah kalah dari Melody. Lihat saja ketika aku kembali aku akan membuat perhitungan lebih besar lagi," batin Raisa dengan penuh rencana yang berpura-pura menyesal di depan semua orang.
" Raisa, Novi. Jangan marah dengan hak ini. Ini hanya hukuman untuk adil di rumah ini. Jika yang lain melakukannya, maka akan sama akan mendapat hukuman juga. Jadi jangan salah paham," sahut Shandra.
" Tidak apa-apa Tante, aku sudah merenungi semuanya dan memang ini kesalahanku. Aku khilaf dan hanya buta dengan cinta. Jika kalian berharap aku bisa menjadi orang lebih baik. Maka aku akan berusaha aku minta dia kalian semua," sahut Raisa seolah-olah begitu merasa bersalah dan menyesal dengan perbuatannya.
" Pasti Raisa kami akan mendoakan kamu menjadi yang lebih baik lagi," sahut Mila.
" Makasih kak Mila. Aku dan Tante Novi dengan lapang dada akan menerima hukuman ini untuk menjadi yang lebih baik lagi," sahut Raisa dengan tersenyum tipis.
" Ini mah hukumannya terlalu gampang," celetuk Lea dengan menggigit-gigit ujung kukunya.
" Lea sudahlah," tegur Mila.
" Sudah-sudah sebaiknya kalian pergi. Nanti ketinggalan pesawat," sahut Eyang.
" Hmmmm, ya sudah Eyang kalau begitu kami pergi dulu. Assalamualaikum," sahut Raisa.
" Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak. Raisa dan Novi pun langsung pergi. Saat mau memasuki mobil. Raisa melihat ke arah kamar Melody yang mana Melody berdiri di teras kamarnya dengan tangannya yang di lipat di dadanya yang tersenyum pada Raisa.
Melody juga melambaikan tangannya yang seakan mengatakan selamat tinggal pada Raisa. Ejekan dari Melody membuat Raisa emosi dan ingin rasanya naik keatas dan mencabik-cabik Melody.
" Ayo Raisa," ajak Novi yang juga melihat Melody. Novi langsung menarik paksa Raisa sebelum terpancing emosi karena Melody yang di atas sana.
__ADS_1
" Sialan kamu Melody. Kamu lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan kepadamu," batin Raisa yang menatap penuh kebencian.
" Pergilah. Dan jangan harap kembali lagi. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin aja pergi dasar hanya menyusahkan saja. Bikin pusing," batin Melody yang tersenyum penuh kemenangan dia atas sana yang menonton kepergian Raisa dan juga Novi.
" Akhirnya mereka pergi juga," batin Lea yang pasti begitu senang karena melihat kepergian orang-orang itu yang menurutnya yang selalu membuat onar dan keheboan di mana-mana.
***********
Terasa aman dan damai 1 hari tanpa ada Raisa di rumah itu yang membuat Melody lebih bebas untuk melakukan apa-apa dan tanpa ana nenek sihir yang datang tiba-tiba dan membuat moodnya menjadi buruk. Sekarang jauh lebih dengan santai.
Seperti sekarang ini setelah selesai mandi dan rapi-rapi. Rania juga sudah menyiapkan pakaian Ardian yang akan di pakai untuk kekantor dan Rania ikut membantu Mila menyiapkan sarapan di dapur. Jika seperti ini terus Melody bisa betah di rumah itu.
" Melody!" panggil Widia.
" Iya mah," sahut Melody.
" Kamu sama Ardian hari ini kerumah mama kamu ya," ucap Widia.
" Untuk apa?" tanya Melody heran.
" Hmmmm, begitu rupanya. Ya sudah mah," sahut Melody yang tidak menolak.
" Ya sudah kamu siapa-siapa sana. Biar Mila juga menyiapkan apa yang harus kamu bawa," sahut Widia.
" Baiklah mah, Melody kekamar dulu," sahut Melody. Widia mengangguk dan Melody langsung pergi.
" Mila pastikan semuanya benar ya. Jangan sampai ada yang salah," ucap Widia memberi ingat.
" Iya ma, aman. Mama tenang aja biar ini menjadi urusan Mila," sahut Mila. Widia tersenyum dan langsung pergi.
Melody berjalan menaiki anak tangga dengan langkah yang lumayan cepat.
__ADS_1
" Jika di suruh mama untuk pulang kerumah ya jelas aku tidak menolak. Lagian sudah kangen banget sama mama apa lagi sama Chaca," ucap Melody yang begitu semangatnya yang berlari menuju kamarnya dan tiba-tiba di depan kamarnya Melody langsung membuka pintu kamar dengan cepat yang ternyata Ardian sedang memakai celana.
" Aaaaaaaa!" teriak Melody dengan suara menggelegar. Ardian sampai tersentak kaget dan bisingnya dengan suara Melody.
" Melody, kamu itu bikin orang jantungan," ucap Ardian yang buru-buru memakai celana melihat Melody yang menutup matanya dengan ke-2 tangannya. Karena melihat hal yang tidak seharusnya di lihatnya.
" Melody ada apa ini," tiba-tiba Eyang, Shandra, Widia, Mila dan Bayu, Lea, Vivi dan Arya langsung berdatangan karena suara Melody yang kuat dan membuat mereka panik.
" Melody kamu kenapa?" tanya Widia panik.
" Itu mah, dia," sahut Melody menunjuk Ardian. Orang-orang di depan pintu melihat kedalam dan melihat Ardian biasa saja. Namun wajahnya yang kesal.
" Ada apa dengan Ardian?" tanya Bayu.
" Dia tidak mengkunci pintu kamar saat memakai celana dan Melody harus melihat semuanya. Benar-benar sial," ucap Melody yang begitu kesalnya dan marah-marah.
" Jadi hanya karena itu," sahut Mila yang di pikirnya entah apa.
" Dia memang sering seperti itu, sembarang," ucap Melody menyalahkan Ardian. Yang lain geleng-geleng dan malah tersenyum melihat Melody yang marahnya minta ampun.
" Jadi salahnya di mana Melody," sahut Eyang.
" Ya salah lah Eyang, dia seharusnya seperti itu," sahut Melody.
" Kalian kan sudah menikah bukannya tubuh masing-masing sudah saling melihat, lalu kenapa kamu marah. Bukannya itu biasa. Kecuali kalian belum menikah," sahut Vivi menatap curiga Melody dan Ardian.
" Jangan bilang jika kalian berdua belum...." sahut Eyang melihat serius Melody dan Ardian dan Ardian dan langsung membuang napasnya pasrah.
" Ardian kamu belum menyentuh istri kamu," celetuk Vivi yang menebak. Yang lain mendengar celetukan langsung melihat serius kearah Melody. Melody menelan salivanya saat yang lain menatapnya dengan mengintimidasi.
" Kalian kok jadi lihatin aku kayak gitu," sahut Melody mendadak gugup.
__ADS_1
" Ahhhhhh, sudahlah, aku masuk," sahut Melody yang malu sendiri dan langsung menutup pintu kamarnya. Orang-orang yang di buat heboh hanya geleng-geleng dengan kelakukan Melody di pagi hari.
Bersambung