Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 253 Hati yang luluh.


__ADS_3

Widia, Eyang besar, Shandra, Mila, Ardian, Melody, Alvin, Lea dan Evan sedang berkumpul di ruang tamu untuk berbicara serius.


" Jadi Rasti diagnosa kanker rahim?" sahut Widia yang tampaknya begitu terkejut mendengar semuanya.


" Benar mah. Kami juga tidak percaya Rasti mengalami semua itu dan itu alasannya mengakhiri hubungan dengan Evan. Karena Dokter menyarankan untuk mengangkat rahimnya dan di pastikan jika rahim sudah di angkat Lea tidak akan bisa memiliki anak lagi," ucap Ardian menjelaskan sedikit.


" Kasihan sekali Rasti," sahut Mila yang terlihat masih tidak percaya.


" Aku juga tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ya kita semua tidak percaya. Tetapi Rasti sudah jujur semuanya," sahut Lea.


Shandra diam saja yang tidak menanggapi apa-apa yang telah di bicarakan itu.


" Shandra kamu tidak mengeluarkan 1 katapun?" tanya Eyang besar. Shandra diam yang tetap tidak bicara apa-apa.


" Aku tau mama sangat marah dengan Rasti. Tetapi Rasti melakukan ini karena ada alasannya dan ini pasti berat untuknya. Aku sangat mengerti posisinya mah," sahut Evan.


" Lalu kamu akan tetap bersamanya?" tanya Shandra yang ingin tau jawaban dari Evan.


" Aku tidak punya alasan untuk meninggalkannya. Aku sangat mencintainya dan akan tetap bersamanya apapun yang akan terjadi," jawab Evan dengan yakin tanpa ragu sedikitpun.


" Evan dengan keaadaannya yang seperti itu," sahut Shandra yang terlihat tidak setuju.


" Apa maksud mama. Apa menurut mama aku akan meninggalkannya setelah aku tau apa yang terjadi. Itu tidak mungkin mah. Aku tidak akan melakukannya. Bagiku Rasti segalanya," tegas Evan.


" Evan kamu jangan berlebihan. Kamu tidak perlu berkorban banyak untuk dia," sahut Shandra


" Aku mencintainya dan masalah pengorbanan aku rasa itu biasa. Aku tidak peduli aku sama sekali tidak akan meninggalkannya. Mah Rasti tidak punya siapa-siapa selain aku. Dia anak yang terbuang dan tidak di pedulikan dan hanya aku yang di milikinya. Aku tidak akan menghancurkan hidupnya hanya karena semua ini," tegas Evan dengan serius.


Eyang besar tersenyum mendengar kata-kata Evan yang terdengar lantang dan bijak.


" Evan!" gertak Shandra yang terlihat protes.


" Shandra apa kamu mau jadi Iriana ke -2," sahut Eyang besar baru mengeluarkan suara mengingatkan Shandra pada anaknya Iriana yang di penjara. Karena kebodohan yang tidak merestui hubungan anaknya.


" Mah, tapi Evan..." sahut Shandra terlihat gelisah.


" Apa salahnya dengan keputusan Evan. Seharusnya kamu bangga dengan dia. Kamu lihat anak kamu yang selalu kamu katakan ini itu. Lihat dia betapa bijaksananya dia dalam keputusannya, ketulusannya untuk seorang wanita. Kamu selama ini mengatakan Evan hanya main-main dalam hubungannya dan lihat ini apa ini yang namanya main-main. Kamu seharunya bersyukur dengan perubahan Evan bukan malah berulah," sahut Eyang besar menegaskan.


" Aku hanya tidak ingin hidup Evan sia-sia," sahut Shandra dengan suara rendah yang pasti mencemaskan Evan.


" Apa yang sia-sia Tante. Rasti akan mendapatkan pengobatan yang serius dengan dukungan kita semua dia pasti bisa melewati semua ini. Jadi tidak akan ada yang namanya sia-sia," sahut Melody yang mencoba membuat Shandra mengerti.


" Benar Tante aku, Ardian dan Evan bahkan sudah membuat list beberapa Dokter-Dokter hebat. Kita semua saja berjuang untuk wanita bisa di katakan bukan bagian dari keluarga ini karena belum menjadi istri Evan. Lalu apa yang membuat hati Tante begitu keras sehingga tidak kasihan sedikitpun dengan Rasti," sahut Alvin menambahi.


" Tante Shandra kita mengenal Rasti bukan kemarin. Tante juga menganggapnya sebagai anak dan bahkan lebih membelanya kalau ribut kecil dengan Evan. Apa ini tugas seorang wanita yang menganggap putri lain seorang anak dan anak itu sedang mengalami masalah. Apa kah seorang ibu harus membiarkannya," sahut Ardian menambahi.


" Mungkin yang Rasti butuhkan salah satunya juga dukungan Tante," sahut Lea lagi.


Mereka berusaha mengacak-acak hati Shandra agar memahami semua situasi yang ada.


" Ayolah Tante jangan seperti ini," sahut Melody lagi.


" Lihat Shandra anak-anak ini saja punya hati seperti itu. Lalu kamu apa masih tetap keras kepala," sahut Eyang besar.

__ADS_1


" Shandra jangan sampai kamu menyesal dengan tetap pada apa yang kamu pikirkan. Kamu juga harus bijak dalam hal ini," sahut Widia mengingatkan.


" Baiklah! Mama tidak akan melarang appaun yang ingin kamu lakukan," sahut Shandra yang akhirnya hatinya bisa luluh juga.


Evan dan yang lainnya tersenyum mendengarnya dan Evan langsung memeluk mamanya dengan erat.


" Makasih mah, terima kasih mah, Evan dan Rasti tidak akan pernah mengecewakan mama," ucap Evan yang benar-benar begitu lega.


Mereka begitu lega dengan keputusan Shandra yang begitu bagus yang menerima Rasti kembali.


" Sampaikan maaf mama kepadanya. Mama mengatakan hal itu karena sangat marah dan kecewanya kepadanya. Mama menyesali apa yang mama katakan kepadanya. Jadi sampaikan permohonan maaf mama kepadanya," ucap Shandra yang sudah melepas pelukannya dari mamanya dan Evan mengangguk-angguk yang pasti akan menyampaikan hal itu.


" Kamu jaga dia baik-baik. Terus di sisinya. Jangan tinggalkan dia dan terus beri dia semangat. Hanya kamu yang di milikinya. Jadi tetaplah mendukungnya," ucap Shandra yang benar-benar tulus pada Rasti.


" Pasti mah," sahut Evan mengangguk.


" Akhirnya Tante Shandra hatinya bisa luluh juga. Terima kasih ya Allah untuk semua yang engkau berikan. Engkau memang punya jalan yang sangat indah untuk semua ini," batin Melody yang terharu melihat suasana itu.


Pastinya bukan hanya Melody saja yang terharu. Yang lainnya juga terharu, bahagia, merasa lega dan lain semuanya yang bercampur aduk.


*********


Melody dan Ardian memasuki kamar yang mana mereka berdua juga terlihat begitu lelah seharian dan sekarang waktunya beristirahat.


" Kamu mau istirahat?" tanya Ardian memegang pipi Melody sembari mengusap dengan jarinya.


Huhhhhhhhh, Melody membuang napasnya perlahan ke depan.


" Hari ini sangat melelahkan," ucap Melody yang terlihat begitu lesu.


" Tapi aku masih lapar," jawab Melody membuat Ardian tersenyum lalu berlutut dengan wajahnya yang di tempelkan pada perut rata Melody.


" Apa aku belum memberi makan bayi kita?" tanya Ardian mengangkat kepalanya melihat ke arah Melody.


" Belum Kamu belum memberinya makan sama sekali. Makanya dia terus mendesakku untuk memberinya makan. Dia sangat kelaparan," ucap Melody dengan tersenyum.


" Kalau begitu katakan anak kita ingin makan apa?" tanya Ardian.


" Kamu saja yang bertanya sendiri," sahut Melody.


Ardian tersenyum yang mengusap-usap perut rata Melody.


" Katakan sama papa.Anak papa di dalam sana ingin makan apa?" tanya Ardian dengan lembut yang bicara pada bayinya.


" Ingin makan sate," jawab Melody menirukan suara bayi.


" Benarkah mau berapa banyak?" tanya Ardian.


" Sebanyak-banyaknya sampai 1 gerobak penuh," sahut Melody yang lagi-lagi menjawab menirukan suara anak kecil.


" Papa akan membelikannya," jawab Ardian membuat Melody tersenyum. Lalu Ardian berdiri dan langsung memeluk erat.


" Kamu mandilah, aku akan pergi mencari makanan yang kamu inginkan," ucap Ardian.

__ADS_1


" Belum mau mandi, masih mau di peluk," ucap Melody dengan manjanya.


" Baiklah aku akan memelukmu sampai kamu benar-benar puas.


Melody mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Ardian. Dia seharian menghadapi masalah yang begitu serius dan tidak bermanja pada suaminya dan sekarang saatnya bermanja pada suaminya. Jadi wajar dia ingin terus di peluk sang suami untuk membuat dirinya nyaman dan rasa penat yang di pikirkannya hilang dengan cepat.


***********


Di kamar Lea baru keluar dari kamar mandi yang selesai beres-beres dan ada Alvin yang duduk di sofa.


" Kamu tidak mandi sayang?" tanya Lea.


" Sebentar lagi," jawab Alvin yang melihat handphonnya dengan serius.


" Sedang apa?" tanya Lea.


" Komunikasi dengan Dokter. Kemungkinan besok Rasti bisa menemuinya," jawab Alvin.


" Teman kamu?" tanya Lea.


" Iya teman aku yang aku katakan tadi saat di mobil. Aku baru bisa komunikasi dengannya sekarang ini," jawab Alvin.


" Syukurlah kalau begitu semoga Dokternya bisa membantu Rasti," sahut Lea yang hanya penuh doa dan harapannya.


" Aku juga berharap seperti itu. Oh iya sayang. Kita besok tidak bisa ikut menemani Rasti. Biar Melody dan Ardian saja," sahut Alvin.


" Kok gitu?" tanya Lea heran.


" Bukannya besok kita sudah pindah ke rumahku," sahut Alvin.


" Ya ampun aku lupa. Malah belum siap-siap lagi," sahut Lea menjadi panik sendiri.


" Tidak apa-apa besok saja kamu siap-siap nya. Lagian hanya berkemas beberapa barang saja. Jadi tidak akan masalah. Makanya besok kita tidak bisa menemani mereka," ucap Alvin.


" Ya sudah kalau begitu mana yang terbaik saja," sahut Lea. Alvin mengangguk.


" Lalu kamu sudah bilang sama Eyang dan yang lainnya tentang pindahnya kita?" tanya Lea.


" Aku belum mengatakan yang ke-2 kalinya. Baru kemarin aku mengatakannya waktu kita mau liburan ke Jepang. Ya nanti aku akan menemui Eyang dan mengatakannya lagi," ucap Alvin.


" Ya sudah terserah kamu saja," sahut Lea yang hanya mengikut saja apa yang akan di katakan suaminya.


**********


" Jadi kalian akan pindah?" tanya Eyang setelah mendengar apa tujuan Alvin.


" Iya Eyang, aku akan membawa Lea kerumahku. Di sana juga sudah menjadi rumahnya," jawab Alvin.


" Iya Alvin, Eyang mengerti hal itu. Ya semoga saja Lea betah tinggal di sana dan kalian juga sering-sering ya datang kemari," ucap Eyang yang pastinya tidak akan bisa melarang Alvin dan Lea jika ingin punya rumah sendiri.


" Pasti Eyang. Kami pasti akan sering-sering tinggal di sini dan lagian rumah saya juga tidak terlalu jauh dengan rumah ini dan pastinya tidak akan jarak yang membuat kamu untuk tidak datang kemari," ucap Alvin.


" Iya Alvin. Yang penting kamu sama Lea akur-akur ya. Jangan memperbesar masalah kecil. Kamu harus bisa memahami Lea dan semoga kalian benar-benar tidak apa-apa yang sama-sama bisa menjaga emosi kalian," ucap Eyang memberi saran untuk Alvin.

__ADS_1


" Pasti Eyang, saya akan melaksanakan apa saran dari Eyang. Terima kasih Eyang untuk semuanya," sahut Alvin dengan tersenyum dan Eyang pun tersenyum mendengarnya.dia memang tau Alvin itu adalah orang yang sangat baik dan pasti Eyang akan mempercayakan Lea pada Alvin. Kalau tidak untuk apa di restuinya hubungan itu yang di tentang itu.


Bersambung


__ADS_2