
Lea merasa lega. Karena sudah menceritakan pada Melody dan sudah tidak ada lagi yang perlu di tutupinya. Dia juga dengan perjanjiannya pada Alvin yang akhirnya batal. Ya untung saja Alvin mau memaafkannya.
Setelah tadi terjadi keharuan dan saling berpelukan. Sekarang Lea dan Melody akhirnya menuju mobil yang berada di parkiran.
" Kamu tadi kemari naik apa?" tanya Lea sambil mereka ber-2 berjalan.
" Aku naik Taxi. Aku mau kerumah mama. Mau jemput Chaca. Soalnya ada janji makan siang bersama kak Ardian dan nanti kak Ardian jemput aku sama Chaca di rumah mama," jawab Melody.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu biar aku antar aja sekalian," sahut Lea.
" Kamu memang tidak mau kemana-mana?" tanya Melody.
" Tidak mau kemana-mana. Mau langsung pulang aja mau istirahat," jawab Lea.
" Nggak apa-apa nih, kamu nganterin aku?" tanya Melody.
" Nggak apa-apa santai aja. Ayo itu mobil aku!" ajak Lea menunjuk mobilnya. Melody menganggukkan kepalanya dan mereka sama-sama memasuki mobil. Saat masuk mereka sama-sama memakai sabuk pengaman.
" Kita jalan?" tanya Lea. Melody mengangguk.
" Bagaimana kabar kak Gadis? Apa kandungannya baik-baik saja?" tanya Lea sambil menyetir.
" Alhamdulillah, kandungan kak Gadis baik-baik aja. Hanya saja sering mual-mual. Ya normal lah ibu hamil muda," jawab Melody.
" Semoga kandungannya baik-baik saja," sahut Lea berdoa yang baik-baik.
" Amin," jawab Melody dengan tersenyum tipis, " Oh iya Lea. Lalu hubungan kamu sama Tante Iriana bagaimana?" tanya Melody dengan hati-hati.
__ADS_1
" Hubungan kami tidak pernah baik. Jika bertemu akan bertengkar. Ya seperti itu selalu sama dengan kemarin. Waktu aku menemui mama di Hotel. Mama tidak mempedulikan ku dan tetap saja bersama Pria itu," jelas Lea dengan wajah sedihnya.
" Jadi saat di Hotel itu. Kamu sempat juga bertemu dengan Tante Iriana?" tanya Melody.
" Iya. Kita sempat ribut dan bahkan Alvin menyaksikannya. Mama juga dengan seenaknya mengataiku anak haram. Tanpa memikirkan perasaanku. Ya begitulah mama jika bicara tidak peduli siapa di sekitarnya. Anaknya sakit hati atau tidak. Dia tidak pernah mempedulikan hal itu sama sekali," kelas Lea dengan wajahnya yang begitu sedih.
Mendengarnya Melody ikut merasakan perasaan Lea. " Ya Allah apakah anak di luar nikah itu adalah anak haram. Lalu bagaimana Chaca. Apa Chaca juga anak haram," batin Melody yang tiba-tiba kepikiran dengan Chaca.
Lea menoleh ke arah Melody dan melihat Melody malah bengong, " Kamu kenapa Melody?" tanya Lea heran.
" Hmmm, tidak. Aku tidak apa-apa. Kamu jangan sedih Lea. Tidak ada anak haram di dunia ini. Itu bukan kesalahan kamu. Kamu juga tidak meminta untuk di lahirkan," sahut Melody dengan bijak yang mencoba untuk menghibur Lea dan juga sekalian menghibur dirinya sendiri.
" Ya, aku hanya bertahan dengan tidak peduli semuanya. Baik perkataan mama dan sebagainya. Dan aku berharap kamu ini Eyang jauh lebih tegas kepada mama. Aku tidak berdoa untuk yang tidak baik pada mama. Tetapi rasanya aku ingin mama jera dengan apa yang di lakukannya," ucap Lea.
" Pasti Lea. Pasti Tante Iriana akan segera sadar," sahut Melody yang berharap banyak.
" Hmmm, aku berharap seperti itu dan aku juga bisa belajar menjadi yang lebih baik lagi," ucap Lea. Melody hanya mengangguk tersenyum.
Lea langsung melihat dari kaca spion dan betapa terkejutnya Lea saat melihat orang yang memakai penutup wajah yang menondongkan pistol ke kepala Melody dan Lea. Melody juga sama terkejutnya yang tiba-tiba saja ada 2 orang Pria berada di dalam mobil mereka yang berada di kursi penumpang.
" Si_siapa kalian?" tanya Melody dengan suara terbata-bata.
" Jangan banyak bertanya. Ikuti perintah kami," sahut salah seorang pria yang membuat Melody dan Lea semakin takut. Dengan ke-2 tangan mereka yang sama-sama meremas baju mereka karena begitu takutnya dengan 2 orang-orang yang menggunakan senjata tajam itu.
" Apa yang kalian inginkan?" tanya Melody lagi yang berusaha untuk tenang.
" Sudah di katakan jangan bertanya!" bentak salah satu Pria itu membuat Melody dan Lea terkejut. Melody dengan perlahan berusaha untuk mengambil handphone yang sepertinya ingin meminta bantuan. Namun saat handphone itu sudah di tangannya. Dorongan pistol semakin kuat di kepalanya.
__ADS_1
" Kau mau mati!" ucap Pria itu yang membuat Melody bergetar dan tidak jadi menelpon.
" Sini handphone kalian berdua!" perintah Pria itu.
" Untuk apa. Jika kalian mau merampok. Maka akan kami serahkan semuanya," sahut Lea yang terus menyetir sambil melihat dari kaca spion.
" Aku sudah mengatakan jangan banyak bertanya. Sekarang sini handphone kalian berdua!" bentak Pria itu membuat Melody dan Lea semakin takut.
" Ba_ba_baik," sahut Lea yang begitu bergetar. Lea dan Melody saling melihat dan menganggukkan mata mereka. Lalu mereka memberikan handphone itu pada dua orang itu dengan tangan mereka yang bergetar dan penuh ketakutan.
Pria itu langsung menarik kasar " Kalian berdua dengar. Jangan macam-macam jika masih ingin hidup," ucap Pria itu mengingatkan.
" Sekarang belokkan mobilnya!" perintah ya v satunya yang berada di belakang Lea.
" Mau kemana?" tanya Lea dengan gugup.
" Jangan bertanya. Kau tidak punya hak untuk tau. Ikuti saja apa yang kami katakan. Sebelum kepala kalian pecah di sini," ancam pria itu tidak tanggung-tanggung.
" Cepat, belokkan!" teriak Pria itu semakin menodongkan pistol. Lea mengangguk dan menuruti apa kata Pria itu yang terus membelokkan mobilnya. Dia juga tidak tau akan di bawa kemana bersama Melody.
Pria itu tiba-tiba mengambil handphonenya dan meletakkan di depan Lea. Di mana Pria itu menunjukkan Share lokasi yang harus di tuju.
" Ikuti arahnya!" perintah Pria itu. Lea mengangguk. Karena sudah semakin takut.
" Ingat kalian ber-2 jangan ada rencana atau pikiran kalian untuk meloloskan diri. Karena aku tidak jamin kalian masih akan bertahan. Atau sudah berakhir," ancam Pria itu lagi yang tidak tanggung-tanggung membuat Lea dan Melody semakin takut.
" Ya Allah siapa mereka. Apa yang mereka inginkan. Mau kemana mereka membawa kami. Kak Ardian tolong aku," batin Melody yang semakin takut.
__ADS_1
" Apa yang mereka lakukan. Kenapa tiba-tiba ada di sini. Ya Allah bagaimana ibu. Bagaimana aku dan Melody akan menyelamatkan diri dari orang-orang ini," batin Lea yang tidak kalah cemasnya.
Bersambung