Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 197 Membicarakannya.


__ADS_3

Mereka semua melihat Melody yang seperti itu hanya bisa meneteskan air mata. Tanpa bisa melakukan apa-apa. Mereka juga pasti ikut merasakan kesedihannya.


" Sudah 3 hari tetapi Ardian tidak kunjung bangun juga," ucap Rasti yang matanya terus melihat kedalam, melihat dari kaca yang melihat Melody yang terus bicara pada suaminya.


" Iya Dokter juga mengatakan. Tidak ada kemajuan dari perkembangannya," sahut Evan yang sudah mulai tidak bersemangat.


" Ya Allah. Aku mohon tolong berikan putraku kesempatan untuk hidup. Dia masih harus banyak bertanggung jawab ya Allah, kasihan sekali dia ya Allah banyak sekali cobaannya dalam hidup. Sekarang istrinya sedang mengandung. Kasihan Melody ya Allah dia butuh suaminya di sampingnya ya Allah," ucap Widia yang semakin lama tidak tega dengan kondisi Melody yang begitu merindukan Ardian. Apa lagi dalam posisi Ardian yang seperti ini.


" Widia kamu harus bersabar. Kita serahkan semua kepada Allah. Jika kita semua kuat. Pasti Melody juga kuat. Jadi kita harus kuat dan terus memberikan semangat untuk Melody," ucap Eyang besar.


" Iya mbak. Kita harus sama-sama kuat mbak," sahut Dania yang sama-sama sedih. Jadi harus saling menguatkan.


" Sebaiknya Tante Widia, mama dan Eyang besar pulang saja. Biar kami di sini yang menjaga Melody dan Ardian," sahut Evan memberi saran.


" Benar mbak apa kata Evan sebaiknya kita kembali saja. Mbak juga harus istirahat dulu. Nanti kita baru kemari lagi. Ada anak-anak yang menjaga Melody dan Ardian. Jadi kita percayakan pada mereka yang sebaiknya kita pulang saja," ucap Shandra.


" Baiklah kalau begitu. Titip mereka ber-2," sahut Widia.


" Mama dan papa juga ada sebaiknya juga pulang. Aku dan Gadis nanti akan menyusul. Aku bicara dengan Dokter dulu. Agar Melody tetap di dalam," ucap Marsel.


" Benar kata mas Marsel mah, mama juga harus beristirahat," ucap Gadis.


" Iya kami akan pulang sebentar dulu," sahut Wawan.


" Chaca. Chaca pulang sama Eyang ya. Nanti mama dan papa akan menyusul," ucap Gadis.


" Lalu bagaimana dengan mami dan juga papi?" tanya Chaca.


" Mami dan papi tidak apa-apa sayang. Mereka akan baik-baik saja. Chaca jangan khawatir kan banyak aunty-aunty di sini yang jagain," sahut Gadis.


" Iya sayang kamu jangan khawatir. Kita pulang dulu. Nanti Chaca sama Aunty Febby akan kembali lagi kemari. Kita akan lihat papi lagi," ucap Febby.

__ADS_1


" Ya sudah kalau begitu. Tetapi nanti kalau papi sudah bangun bilang sama Chaca ya," ucap Chaca.


" Iya sayang kamu tenang saja," sahut Marsel.


" Ya sudah kalau begitu sebaiknya kita segera pergi," sahut Wawan.


" Mama titip adik kamu," ucap Dania kepada Marsel. Marsel menganggukkan kepalanya.


Akhirnya para orang tua itu pun pulang membiarkan untuk beristirahat di rumah sementara. Karena istirahat di rumah sakit pun tidak bisa berhubung Ardian masih berada di ruangan insentif yang memang tidak bisa di masuki banyak orang dan mau tidak mau mereka harus pulang dan menyerahkan kepercayaan kepada anak-anak muda di sana.


************


Rasti, Evan, dan Lea berjalan di koridor rumah sakit yang melewati kamar-kamar.


" Semoga setelah Melody berada di dekat Ardian dia bisa sadar kembali," ucap Lea dengan penuh harapan.


" Hmmm, aku juga hanya berharap yang sama. Karena kasihan juga Melody. Seharusnya dia bahagia dengan kehamilannya malah menjadi sedih karena kondisi Ardian," sahut Evan.


" Kita doakan saja yang terbaik. Semoga Melody dan bayinya sehat-sehat saja dan Ardian juga segera siuman," sahut Lea.


" Hmmm, hanya itu harapan yang kita inginkan. Kita hanya berdoa saja," sahut Evan.


" Hmmm, by the way, gimana dengan kabar Novi. Apa dia sudah di makamkan?" tanya Rasti yang tiba-tiba kepikiran dengan Novi yang memang di nyatakan telah tiada dan bahkan Novi mati di tempat. Karena luka tembakan di dadanya akibat perbuatan Raisa.


" Iya dia sudah di makamkan secara layak. Oleh keluarga kami juga. Walau apapun yang di lakukannya kepada keluarga kami. Termasuk Ardian dan paling parahnya kepada Melody. Tetapi keluarga tetap menempatkan dia dengan baik. Memakamkan Tante Novi dengan layak. Mungkin itu yang bisa kami lakukan untuk peristirahatannya yang terakhir," jawab Evan.


Keluarga besar memang tetap bertanggung jawab untuk pemakaman Novi. Mereka mengkesampingkan apa yang terjadi. Dan tidak menyimpan dendam atau tidak peduli. Mereka memakamkan dengan layak. Karena masih menganggap sebagai keluarga.


" Syukurlah kalau begitu. Memang musuh lebih baik mendapat hukuman akhirat dari pada dunia yang pasti dia akan kembali- kembali lagi, dia tidak akan pernah bertobat," sahut Rasti.


" Iya sekarang hanya tinggal Raisa," sahut Evan.

__ADS_1


" Iya aku ingin bertanya itu. Bagaimana dengan Raisa. Apa dia masih di jaga ketat Polisi," sahut Rasti. Dia memang banyak ketinggalan kabar mengenai Raisa dan Novi. Padahal dia terus di rumah sakit. Tetapi tidak tau kenapa tidak tau apa-apa.


" Raisa sudah di bawa tadi pagi," sahut Lea membuat Rasti menautkan ke-2 alisnya.


" Di bawa kemana?" tanyanya dengan penuh kebingungan.


" Jadi Raisa itu mengalami gangguan jiwa. Saat dia sadar dia terus berteriak-teriak seperti orang gila dan terus mengatakan aku tidak salah, bukan aku dan banyak kata-kata yang di keluarkannya lebih seperti kata-kata menyesal. Jadi maka dari situ Polisi akhirnya bertindak memindahkannya ke rumah sakit jiwa. Karena tidak memungkinkan untuk berada di sini," jelas Lea.


Rasti mendengarnya merasa ngeri yang Raisa akhirnya memasuki rumah sakit jiwa.


" Ya anggap saja itu juga balasan untuknya mengingat dulu Melody juga pernah masuk rumah sakit jiwa. Dan sekarang giliran Raisa. Ya karma harus berjalan dengan semestinya," sahut Evan.


" Iya sih kamu benar. Ya biarlah seperti itu," sahut Rasti dengan menggedikkan ke-2 bahunya.


" Pelajaran untuk Raisa. Aku tidak tau apakah dia akan bertobat setelah ini atau tidak. Walau itu tidak akan ada harapan lagi. Tetapi semoga dengan sakit jiwanya dia. Bisa membuat dia berubah. Ya otaknya bisa menjadi jauh lebih baik," sahut Evan dengan harapannya.


" Itu memang yang paling kita harapkan," sahut Rasti.


" Ya sudahlah kita jangan terus membahas masalah itu yang penting sekarang Novi sudah aman, dan Rais juga aman, kita hanya berdoa untuk Melody dan Ardian semoga Ardian sadar," sahut Lea.


" Hmmm, benar juga," sahut Rasti.


Ting


Tiba-tiba Lea menerima pesan.


..." Aku ada di depan," Alvin....


" Hmmmm, ya sudah kalau begitu aku kedepan sebentar ya," Lea.


Rasti dan Evan mengangguk dan Lea pun langsung pergi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2