
Perkataan Ardian membuat Melody terkejut dan bahkan lintasan saat pertama kali dia tau hamil teringat di kepalanya.
" Anak, anak siapa?" tanya Melody dengan suaranya yang serak. Melody melihat mamanya dan juga papanya. Juga melihat Marsel dan Gadis yang seakan ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
" Ardian, kamu tau segalanya?" tanya Marsel dengan menekan suaranya.
" Iya aku tau segalanya. Aku tau jika aku dan Melody mempunyai seorang anak dan aku juga tau anak itu siapa. Anak itu....."
" Cukup!" bentak Marsel.
" Kamu jangan bicara lagi. Tidak ada anak dari kehamilan Melody. Tidak ada sama sekali. Orang sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan seorag anak," sahut Marsel yang tetap ingin merahasiakan semuanya dan Melody terus mengingat-ingat apa yang terjadi bahkan sampai memegang kepalanya.
" Kenapa harus merahasiakannya, Melody harus tau apa yang terjadi sebenarnya," sahut Ardian.
" Diam kamu! kamu jangan sok tau!" bentak Marsel yang memperingati kepada Ardian.
" Ahhhh!" teriak Melody yang tiba-tiba kepalanya begitu sakit sampai membuat ke-2 tangannya memegang kepalanya.
" Melody!" lirih Ardian berada di hadapan istrinya memegang pundak Melody.
" Ya Allah Melody!"
" Melody!"
" Melody!" orang-orang menjadi panik dengan Melody yang berteriak-teriak dengan kepalanya yang sakit.
" Pah, bagaimana ini pa?" tanya Dania begitu paniknya.
Kepanikan itu mengerumuni Melody yang kelihatan kepalanya begitu sakit. Sampai Melody terus berteriak-teriak. Ardian juga panik dengan keadaan istrinya. Dan akhirnya Melody pingsan di pelukan suaminya.
" Melody!"
" Melody!"
" Melody!"
" Melody bangun! bangun!" Ardian memegang pipi Melody untuk membangunkannya. Ardian langsung menggendong Melody ala bridal style dan langsung membawa lari Melody yang mungkin untuk di tangani Dokter.
__ADS_1
Dania, Wawan, Marsel dan Gadis pun mengikuti kemana Ardian membawa Melody pergi, Melody yang di gendongan Ardan, hidungnya berdarah dengan air matanya yang menetes. Kejadian ini pasti membuat Ardian yang merasa bersalah karena itu adalah kesalahannya.
Akhirnya Dokter menangani Melody. Sementara Ardian, Marsel, Gadis, Febby, Dania dan Wawan menunggu di luar dengan wajah panik mereka yang takut terjadi sesuatu pada Melody.
" Puas sudah melakukan semua ini," sahut Marsel yang menatap Ardian tajam yang langsung menyalahkan Ardian.
" Kau tidak tau bagaimana mentalnya dan kau seenaknya bicara soal anak di depannya!" sentak Marsel.
" Aku hanya ingin Melody tau. Jika dia pernah melahirkan seorang anak dan juga bahkan ikut membesarkannya," sahut Ardian.
" Jadi kamu sudah tau semuanya," sahut Dania.
" Iya aku tau semuanya dan aku juga sudah memastikannya dengan melakukan tes DNA kepada Chaca dan hasilnya positif. Chaca adalah anakku dan juga Melody," ucap Ardian.
" Jadi Chaca anak kak Melody. Pantesan aja batinnya lebih kuat sama kak Melody dari pada sama kak Gadis," batin Febby yang akhirnya teka-teki yang di pikirkannya terjawab.
" Masalah ini juga Melody tidak tau. Karena sebelumnya aku juga pernah bertanya kepadanya dan Melody tidak tau sama sekali. Aku juga tidak bisa memaksanya untuk mengingat semuanya karena aku tidak mau Melody sampai kenapa-kenapa. Dan akhirnya aku memutuskan untuk bergerak sendiri mencari tau segalanya sampai kebenarannya terungkap," jelas Ardian.
" Jika kamu tau, Melody hanya akan trauma jika mengungkit masalah anak. Lalu kenapa tadi kami harus bicara seperti itu," sahut Gadis.
" Enak banget kamu bicara. Jadi menurut kamu. Kamu sudah mengetahui semuanya. Chaca anak kamu dan Melody. Lalu kami pikir semudah itu. Akan bersama anak kamu. Jangan bermimpi Ardian. Kau tidak pantas bersama anak yang sudah kau telantarkan," sahut Marsel yang membuat Ardian kaget.
" Apa maksud kakak," sahut Ardian.
" Meski Chaca anakmu. Jangan berharap akan bersamanya. Karena aku tidak akan membiarkan Pria yang sudah menghancurkan masa depan Melody dan setelah sekian lama dengan seenaknya kau mau bersamanya. Jangan mimpi," ucap Marsel menegaskan.
" Kak Marsel!' lirih Ardian.
" Kenapa kau marah, itu balasan untuk dirimu. Kau akan merasakan tersiksa yang mengetahui siapa anak mu tetapi tidak bisa bersamanya," ucap Marsel yang membuat Ardian kaget.
Pintu ruangan perawatan Melody terbuka yang mana Dokter keluar dari ruangan orang-orang yang menunggu di luar langsung menghampiri Melody.
" Dok bagaimana anak saya?" tanya Dania dengan wajah paniknya.
" Melody sudah siuman," jawab Dokter.
" Alhamdulillah," sahut semuanya serentak.
__ADS_1
" Paa kami boleh melihatnya?" tanya Wawan.
" Silahkan pak, tetapi tolong jangan memaksakan sesuatu kepadanya. Saya takut nanti kondisi Melody menjadi tidak baik. Jadi mari saling menjaga," ucap Dokter memberikan saran.
" Baik Dokter terima kasih untuk semuanya," sahut Gadis.
" Baiklah saya permisi dulu!" sahut Dokter yang berpamitan. Mereka mengangguk dan ketika Dokter pergi mereka langsung memasuki ruangan Melody.
Di mana Melody memang sudah bangun dan Ardian langsung berdiri di depannya dengan mengusap pucuk kepala Melody.
" Bagaimana keadaan kamu?" tanya Ardian yang begitu mengkhawatirkan istrinya.
" Aku baik-baik saja," jawab Melody dengan suaranya yang begitu lemas.
" Melody kamu jangan memikirkan apa-apa ya Melody," ucap Dania.
" Bagaimana Melody tidak memikirkan apa-apa. Kenapa banyak sekali yang di sembunyikan dari Melody. Mah, maafkan Melody yang tidak menjaga kehormatan Melody, maafkan Melody yang sudah membohongi mama dan papa dan juga kakak. Melody tidak punya pilihan waktu itu dan semua ini bukan hanya kesalahan Ardian Melody dan Ardian sama bersalah dan tidak dewasa maafkan Melody. Karena merusak keluarga kita," ucap Melody dengan air matanya yang keluar dan tangannya yang di genggam Ardian.
" Kamu hanya korban Melody. Tetapi Ardian harus bertanggung jawab atas perbuatannya," sahut Marsel.
" Apa maksud kakak?" tanya Melody.
" Keluarganya harus tau betapa bejatnya anaknya yang sudah menghancurkan kamu," sahut Marsel membuat Ardian pasrah. Karena memang keluarganya harus tau bagaimana perbuatannya dulu.
" Apa kakak ingin menyebar aib Melody?" tanya Melody.
" Apa maksud kamu?" tanya Marsel.
" Apa yang terjadi dengan Ardian dan Melody bukan suatu paksaan. Kami melakukannya sama-sama menginginkannya. Itu aib untuk kami ber-2 dan berusaha melupakan dan belajar orang yang lebih baik. Tapi mungkin ini hukuman untuk Melody. Jika pada akhirnya aib Melody di buka di keluarga ini. Tapi sudah cukup. Cukup kalian saja yang menganggap Melody perempuan seperti apa. Cukup. Jangan lagi lebih banyak orang yang tau. Tolong tutup aib kami," ucap Melody dengan air matanya yang mengalir deras.
" Melody itu sama saja. Kamu membiarkan Pria ini. Namanya terus baik di keluarganya," sahut Marsel.
" Sudah Marsel hentikan!" sahut Wawan.
" Jangan mengungkit masalah itu lagi. Kamu jangan melebarkan segala sesuatu yang tidak penting. Ini aib yang harus di tutup bukan semakin di promosikan sana-sini. Jadi hentikan semuanya. Melody adik kamu jadi jaga nama baiknya dengan benar," sahut Wawan dengan keputusannya yang mengambil tindakan tegas
Bersambung
__ADS_1