Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 213 Kesempatan.


__ADS_3

Eyang menarik napas panjang dan membuangnya perlahan kedepan melihat satu persatu orang yang masih ada di ruang tamu itu.


" Maafkan untuk kegaduhan ini Bu Dania dan juga pak Wawan," ucap Eyang besar.


" Tidak apa-apa Bu kami memaklumi semuanya," sahut Daniah yang mungkin terbiasa dengan keluarga Ardian yang apa-apa pasti penuh perdebatan.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Kami sebaiknya pulang saja. Karena Ardian juga harus istirahat," ucap Wawan berpamitan.


" Benar, aku juga sama Gadis ada cek kerumah sakit. Jadi kami juga harus pulang," sahut Marsel.


" Ya sudah kalau begitu sekali lagi kami minta maaf dengan ketidak nyamanan ini," sahut Widia.


" Tidak apa-apa mbak. Ya sudah Melody mama dan papa pulang ya. Kamu jaga Ardian. Perhatikan makannya dan juga lukanya," ucap Dania berpamitan.


" Iya mah, mama papa dan kakak hati-hati. Chaca menginap di sini ya," ucap Melody.


" Ya sudah Melody tidak apa-apa," sahut Gadis.


" Biar saya panggilkan Febby," sahut Vivi.


" Iya," sahut Dania.


" Ya sudah kami tunggu di mobil Febby. Sekali lagi terima kasih untuk jamuannya," sahut Wawan yang kembali pamitan dan mereka saling berpamitan dengan bersalaman lalu meninggalkan rumah itu.


Setelah kepergian keluarga Melody. Eyang melihat ke arah Lea dan juga Alvin yang mana ke-2nya terlihat canggung yang penuh dengan kebingungan.


" Alvin silahkan kamu kembali duduk!" perintah Eyang. Alvin mengangguk dan akhirnya duduk kembali dan Lea juga ikut duduk.


" Maaf Alvin untuk ketidaknyamanan kamu atas apa yang terjadi dan memang seperti itu lah ibu Lea," ucap Eyang.


" Saya mengerti Eyang," sahut Alvin.


" Alvin kami sangat menghargai niat baik kamu untuk mempersunting Lea. Namun kami belum bisa memutuskan apa-apa. Kami akan melakukan apapun demi kebaikan Lea nantinya. Jadi saya sebagai orang yang dituakan di tempat ini. Saya meminta kamu untuk memberi kami waktu. Suasana masih panas. Jadi jika ingin membicarakan ini dan itu hanya percuma saja. Jadi sebaiknya kita saling memberi waktu dulu," ucap Eyang yang memberikan saran.

__ADS_1


" Benar Alvin. Lagian pernikahan itu juga tidak mudah. Kami juga memberi kamu kesempatan untuk memahami semuanya. Termasuk apa yang terjadi hari ini. Agar kamu juga tidak menyesal," sahut Shandra menambahi.


" Dan kami mengatakan ini bukan karena tidak memberikan restu pada kalian. Tetapi kamu ingin kamu dan Lea sama-sama memahami dulu dan kita bisa bicarakan ketika semuanya sudah tenang nanti," sahut Widia yang bicara lembut agar Alvin tidak salah paham.


Alvin dan Lea saling melihat dan mereka sama-sama mengangguk pelan yang tidak tau apa artinya itu.


" Baiklah saya mengerti dengan apa yang kalian pikirkan. Tetapi tetap apapun itu saya tidak akan mengubah keputusan saya untuk menjadikan Lea sebagai istri saya dan ya jika kalian semua ingin berembuk dan saling bicara dulu. Maka silahkan saya tidak akan melarang dan akan menunggu sampai kapanpun itu. Tetapi tetap saya tegaskan saya mencintai Lea dan saya sangat bermohon untuk kedepannya hubungan saya dengan Lea menjadi jauh lebih baik nantinya dan penuh kejelasan pastinya," ucap Alvin menegaskan.


" Kami memahami maksud kamu dan jangan khawatir," sahut Eyang.


" Baiklah, kalau begitu saya sebaiknya pamit dulu. Terima kasih untuk waktunya," sahut Alvin. Yang lainnya mengangguk.


" Ardian aku pulang, semoga kau cepat sembuh," ucap Alvin yang masih mendoakan Ardian.


" Iya makasih," sahut Ardian mengangguk tersenyum. Alvin menghela napasnya dan melihat ke arah Lea. Alvin pun berdiri dan langsung keluar dari ruangan itu setelah berpamitan dengan ramah.


" Aku akan mengantarnya kedepan," ucap Lea yang menyusul Alvin. Yang lainnya mengangguk dan membiarkan Lea menyusul Alvin.


" Melody kamu bawa Ardian istirahat saja. Kayaknya Ardian sudah lelah," ucap Widia.


" Hmmm, aku juga ke atas dulu," sahut Bayu yang juga pergi dan istrinya juga mengikut. Ruangan itu hanya tinggal Widia, Eyang besar dan Shandra saja.


" Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Widia.


" Kita bicarakan nanti saja. Kepala mama sakit," sahut Eyang memijat kepalanya yang terasa berat.


" Ya semoga saja ada jalan yang terbaik," ucap Shandra hanya berharap saja.


" Mama istirahat dulu!" ucap Eyang besar yang berdiri dan memilih untuk istirahat menenangkan dirinya yang sejak tadi bertengkar dengan anaknya yang selalu membuat ulah itu.


Shandra dan Widia juga akhirnya juga memilih untuk beristirahat.


************

__ADS_1


Rasti, Evan dan Melody membawa Ardian kekamar dan mendudukkan Ardian dengan perlahan.


" Akhirnya jelas juga hubungan Lea dan juga Alvin. Ya benar selama ini mereka itu memang berpacaran," sahut Rasti yang kau lebih lega.


" Beruntung sih Lea mendapatkan Alvin yang menerima dia apa adanya. Tetapi lihat Tante Iriana yang terlihat menentang hubungan itu," sahut Evan.


" Aku juga tidak mengerti jalan pikiran Tante Iriana. Kenapa sih dia itu bisa setega itu pada Lea. Padahal kan Lea anaknya. Kenapa harus mempermalukan Lea di depan semua orang," sahut Melody.


" Memang dari dulu Tante Iriana seperti itu Melody," sahut Evan.


" Tetapi kasihan jadinya Lea," sahut Melody.


" Menurut kalian bagaimana. Apa kah Tante Iriana akan tetap kekeh menolak Alvin sebagai menantunya. Walau aku salut banget dengan Alvin yang tidak takut dengan Tante Iriana," ucap Rasti.


" Masalah itu kita tidak bisa menebak-nebak. Alvin orang yang baik dan Lea pantas bahagia. Jadi kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan dan semoga saja Tante Iriana hatinya terketuk," sahut Ardian bicara dengan bijak.


" Ya semoga saja," sahut Evan. Rasti dan Melody mengangguk-anggukkan kepala yang pasti berharap dengan semua itu.


********


" Alvin tunggu!" panggil Lea mengejar Alvin yang ingin memasuki mobil dan Alvin langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Lea. Lea berlari dan langsung memeluknya.


Alvin menghela napas dan juga memeluk erat Lea dengan mengusap-usap bahu Lea.


" Semuanya akan baik-baik saja Lea," ucap Alvin yang tau apa yang di pikirkan Lea.


" Maafkan keluargaku!" ucap Lea yang begitu takut jika Alvin marah dengan apa yang terjadi. Karena permasalahan keluarganya.


" Tidak ada yang perlu di maafkan. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu jangan merasa bersalah seperti itu," ucap Alvin yang menenangkan Lea.


" Aku takut Alvin. Aku takut kita tidak akan bisa bersama," ucap Lea.


" Tidak perlu takut Lea. Bukannya aku sudah mengatakan kepadamu awalnya. Jadi tidak ada yang harus kamu takuti," ucap Alvin yang meyakinkan Lea. Dia terus memeluk wanitanya yang memberikan ketenangan pada wanita agar wanitanya itu tidak memikirkan apa-apa lagi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2