
Akhirnya Melody sudah lumayan enakan. Dia telah melakukan kesepakatan dengan Ardian yang itu artinya tidak akan ada perceraian diantara mereka baik dari Melody yang terus meminta atau Ardian sendiri yang melakukannya. Mungkin ada niat untuk memperbaiki semuanya.
Malam ini untuk yang pertama kalinya Melody makan bersama dengan keluarga itu. Di mana Melody harus memperlihatkan wajahnya yang palsu yang seolah dia menerima semuanya. Termasuk dalam pernikahannya.
" Bagaimana ke adaan kamu Melody?" Tanya Eyang besar.
" Aku baik-baik saja," jawab Melody dengan datar.
" Ya sudah sekarang kita makan malam dulu," sahut Eyang besar. Yang lainnya mulai mengambil makanan masing-masing.
Melody duduk di samping Ardian terlihat tidak biasa dengan semua itu. Namun tetap harus berpura-pura untuk tegar untuk menghadapi semuanya.
" Mah tolong ambilin," sahut Yogi yang meminta nasi pada ibunya Vivi.
" Yogi kamu ambil sendiri dong kan sudah dewasa," sahut Vivi.
" Apa salahnya sih Vivi mengambilkan," tegur Arya sang suami.
" Sudah biar Tante yang ambilkan," sahut Mila yang langsung mengambil piring Yogi dan mengisinya dengan makanan.
" Mau lauk yang mana?" tanya Mila dengan lembut.
" Yang mana aja Tante," sahut Yogi.
" Baiklah!" sahut Mila yang kelihatan sudah hafal dengan makanan anak dari iparnya itu.
" Makasih Tante," sahut Yogi.
" Sama-sama. Ayo Dani, Alya kamu juga makan," sahut Mila.
" Iya ma," jawab mereka serentak. Yang mulai mengambil nasi dan juga lauk kepiring masing-masing.
__ADS_1
" Melody jadi bagaimana. Apa kamu akan mengikuti tradisi atau seperti apa?" tanya Shandra yang menyinggung kembali masalah itu. Melody baru saja mengisi nasi kepiringnya. Tetapi sudah di tanyain masalah itu. Kayak tidak ada waktu nanti saja.
" Hmmm, jika Raisa nanti ikut-ikutan. Akan di katakan tidak punya harga diri. Padahal dia hanya ingin menyelamatkan keluarga ini. Tapi ya sudahlah mungkin sudah resikonya seperti itu," sahut Novi yang memulai memancing keributan. Raisa tersenyum sinis mendengarnya.
" Sudahlah Tante jangan di bahas lagi. Yang tadi saja aku masih teringat dengan kata-katanya yang sangat menyakitkan itu. Jangan di tambah lagi. Nanti dia semakin menyakitiku," sahut Raisa dengan wajah sedihnya yang seakan merasa masih terpukul dengan kata-kata Melody.
Lea mendengarnya hanya mendengus kasar. Dia sampai tidak bisa membedakan mana kesedihan asli dan mana kesedihan palsu.
" Tapi bukannya memang masalah ini harus di bahas. Jika tidak mau sampai kapan," sahut Novi yang masih aja mencari gara-gara.
" Aku sedang makan. Dan tidak terbiasa untuk makan sambil membahas masalah lain. Itu yang di ajarkan di keluargaku. Jika ingin di bahas maka nanti di bahas dan di sini ada Yogi yang masih kecil ada Dani dan Aliya yang masih di bawah umur. Sangat tidak pantas harus membahas masalah ini. Bukannya kita semua sudah dewasa. Jadi jangan hanya isian yang dewasa. Tetapu juga pikiran," sahut Melody seaka menampar mulut-mulut orang-orang sinis kepadanya.
Novi langsung terdiam. Begitu juga dengan Shandra dan apa lagi Raisa yang harus diam tanpa kata.
" Wanita ini sungguh berani bicara seperti itu," batin Novi yang mati kutu.
" Benar nanti saja kita membahas masalah lain. Sekarang kita makan dulu," sahut Bayu.
" Ayo makan jangan ada yang ribut lagi. Apa yang di katakan Melody benar jangan membahas masalah itu. Karena tidak pantas dengan tempat dan situasinya," sahut Eyang besar menekankan dengan jelas pada yang lainnya yang setuju dengan Melody.
" Hmmmm, Melody, Melody kamu sangat pintar sebenarnya. Kenapa tidak seperti ini terus. Kami hanya sakit hati dengan Ardian dan membuatmu tidak menerima segalanya. Padahal banyak kesempatan yang dapat kamu lakukan," batin Lea yang senyum-senyum melihat Melody.
" Kenapa sih Raisa selalu saja mencari gara-gara dengan Melody. Dia memanfaatkan situasi untuk membuat suasana semakin buruk," batin Evan.
Sementara Ardian diam saja melihat apa yang terjadi. Karena mau Bicarapun sudah tidak ada gunanya lagi.
Dia mengambil nasi kepiringnya juga mengambil lauk dan kebetulan bersamaan dengan Melody dan tangan mereka bertemu di atas sendok yang sama, saling menimpa dan membuat ke-2nya saling melihat. Ternyata Raisa menyaksikan hal itu membuatnya panas.
Melody dengan cepat melepas tangannya yang seolah tidak mau lama-lama menatap apa lagi bersentuhan dengan Ardian.
" Apa yang mereka lakukan mau bermesraan di depanku. Sangat tidak pantas," geram Raisa yang harus menahan kecemburuannya.
__ADS_1
" Biar waktu yang memberikan kalian untuk kembali saling memahami," batin Widia yang juga menangkap pemandangan indah itu.
***********
Setelah selesai makan. Melody memasuki kamarnya terlebih dahulu sebelum berkumpul dengan orang-orang yang pasti akan membahas masalah yang terlewatkan tadi.
Melody duduk di pinggir ranjang yang terlihat sendu dan banyak berpikir. Kondisinya sebenarnya masih belum sembuh total.
" Melody kamu harus mengendalikan dirimu. Ingat Melody semuanya sudah terlanjur. Hanya tinggal kamu yang menyelesaikan semuanya dan keputusan ada di tanganmu. Kamu juga yang menentukan kehidupanmu selanjutnya. Jadi pikirkan baik-baik,"
" Kamu sudah pernah kenak sekali dan sekarang kamu masuk dalam jebakan ini yang itu artinya kamu tidak membiarkan dirimu kembali lemah. Kamu harus bertahan Melody. Belajar untuk mengendalikan dirimu,"
Melody terus berbicara di dalam hatinya seolah bertanya, memberi jawaban, memberi semangat dan lain sebagainya kepada dirinya sendiri.
" Huhhhhhhh, semuanya akan baik-baik saja," ucapnya menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
Ceklek.
Pintu kamarnya terbuka yang menampilkan Ardian berdiri di depan pintu kamar.
" Ayo turun yang lain sudah menunggu!" ucap Ardina. Melody kembali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.
Melody pun dengan keyakinannya akhirnya berdiri dan menghampiri Ardian yang berdiri di depan pintu. Namun Melody yang berjalan tiba-tiba kakinya tersangkut karpet bulu yang ada di lantai dan membuatnya hampir terjungkal jatuh.
Melihat hal itu dengan sigap Ardian berlari dan menahan Melody yang hampir jatuh di mana ke-2 tangan Melody memegang kedua tangan Ardian. Jika tidak ada Ardian Melody sudah tengkurap di lantai.
Napas Melody tidak beraturan karena masih begitu terkejut. Perlahan Melody mengangkat kepalanya dan melihat Ardian di depannya yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mata itu saling melihat.
Bola mata yang sama-sama memutar yang seakan mengamati pasangan masing-masing. Dengan menatap penuh art. Yang pasti ada getaran-getaran yang terdapat di dalam diri keduanya. Getaran yang tidak bisa di jelaskan.
Tidak lama dalam keheningan yang saling menatap itu yang akhirnya membuat ke-2nya sama-sama tersadar dan dengan cepat Melody berdiri tegak dan salah tingkah. Begitu juga dengan Ardian.
__ADS_1
Melody yang tidak ingin terlihat bodoh atau gugup di depan Ardian memilih untuk pergi keluar kamar terlebih dahulu dan di susul oleh Ardian yang menghembuskan napasnya dengan perlahan.
Bersambung