Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 205


__ADS_3

Rumah sakit.


Malam hari tiba terlihat Melody duduk di samping Ardian yang mana sedang menyuapi Ardian makan. Di mana Melody menyuapi Ardian dengan lembut yang membuat yang pasti membuat selera makan Ardian meningkat.


" Sudah cukup!" tolak Ardian yang merasa kenyang.


" Sedikit lagi sayang," ucap Melody sedikit memaksa.


" Aku sudah kenyang Melody," sahut Ardian merasa perutnya memang sudah penuh.


" Benar?" tanya Melody tidak percaya. Ardian mengangguk dengan tersenyum lebar pada istrinya.


" Aku benar-benar sudah kenyang. Kamu tidak melihat perutku sudah sebesar ini," ucap Ardian dengan menunjukkan perut lebarnya.


" Tidak biasa saja. Tidak ada perubahan sama sekali," jawab Melody.


" Itu hanya perasaan kamu saja. Lihatlah betapa besarnya perutku ini," sahut Ardian.


" Oke-oke lah," sahut Melody mengangguk-anggukkan saja.


Sekarang aku ingin bertanya dulu pada istriku yang cantik ini. Apa istriku yang cantik ini sudah makan?" tanya Ardian dengan lembut berbicara pada Melody.


" Hmmm, aku sudah makan tadi. Sama kak Gadis, Febby dan Chaca juga sama Chaca tadi," jawab Melody.


" Lalu apa anak kita sudah makan?" tanya Ardian dengan mengusap perut istrinya dengan matanya yang melihat perut itu.


" Hmmm, dia juga sudah makan. Sudah banyak makanan yang di makan," jawab Melody dengan tersenyum mengangguk.


" Benarkah!" tanya Ardian. Melody menganggukkan kepalanya.


" Hmmmm, ya sudah kalau begitu papanya juga sudah kenyang sama seperti mama dan juga anak kita," ucap Ardian dengan tersenyum.


" Ya sudah kalau memang sudah kenyang. Aku tidak bisa memaksa lagi. Sekarang kita istirahat saja," ucap Melody yang berdiri dari tempat duduknya dan langsung menyimpan makanan yang tadi di suapinya untuk suaminya tersebut.

__ADS_1


" Kamu tidur di sini?" tanya Ardian.


" Ya pasti aku tidur di sini," jawab Melody yang mengambil obat untuk suaminya dan kembali duduk di samping suaminya.


" Sekarang minum obatnya," ucap Melody. Ardian mengangguk dan langsung menerima obatnya dari tangan istrinya. Setelah menelan obat itu Melody juga memberikan air untuk Ardian dan langsung meneguknya.


" Chaca sudah pulang?" tanya Ardian memberikan gelas itu pada istrinya.


" Iya Chaca sudah pulang. Karena sangat tidak baik anak sekecil Chaca harus menginap di rumah sakit," jawab Melody.


" Ya sudah tidak apa-apa. Besok kita masih bisa bertemu lagi dengan Chaca. Sekarang kita istirahat saja. Ini sudah malam," ucap Ardian.


" Iya sayang," sahut Melody yang kembali beres-beres di sekitar tempat tidur suaminya. Sebelum dia tidur. Karena dia ingin istirahat di samping suaminya nanti.


" Hmmmm, perban kamu tidak di ganti?" tanya Melody yang tiba-tiba kepikiran.


" Kata Dokter besok pagi saja. Tadi mama sudah bertanya pada Dokter," jawab Ardian.


" Aku merindukanmu!" ucap Ardian mencium pucuk kepala Melody.


" Aku juga merindukanmu," jawab Melody mengangkat kepalanya dan Ardian langsung mengecup bibirnya sekilas.


Lalu mengusap-usap perut Melody yang di dalamnya pasti ada bayinya.


" Apa anak anak kita baik-baik saja?" tanya Ardian.


" Aku tidak tau kalau itu. Tetapi baru kemarin di periksa Dokter dan kata Dokter baik-baik saja. Kita belum USG. Nanti kalau kamu sudah sembuh. Kita USG sama-sama," ucap Melody.


" Iya. Semoga saja anak kita baik-baik saja," jawab Ardian. Melody mengangguk-anggukkan dan memeluk suaminya yang di rindukannya kembali.


" Aku tidak percaya. Jika hari ini akan ada di mana kita bisa bersama seperti ini. Aku sangat merindukan momen-moment seperti ini," ucap Melody yang merasa begitu bahagia.


" Aku juga Melody. Aku merindukan masa-masa kita berdua. Maafkan aku sudah membuatmu melewati banyak ujian selama ini," ucap Ardian yang tidak akan hentinya merasa bersalah pada istrinya.

__ADS_1


" Jangan meminta maaf padaku lagi. Kita sama-sama bersalah. Aku juga salah dan kamu juga. Jadi kita belajar saja untuk kebaikan kita ber-2 kedepannya," ucap Melody dengan bijak menanggapi permasalahan itu.


" Iya sayang. Aku berjanji akan terus membahagiakanmu. Aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku akan terus belajar menjadi suami yang terbaik untukmu," ucap Ardian yang terus mengucapkan janji.


" Hmmm, aku juga berjanji untuk hal itu. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu," sahut Melody yang juga ikut berjanji.


" Ya sudah ini sudah malam. Sekarang sebaiknya kita istirahat saja," ucap Ardian. Melody menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Ardian dengan erat.


" I love you," ucap Ardian dengan mencium kembali pucuk kepala Melody.


" I love you to," sahut Melody yang langsung menjawabnya.


Mereka perlahan memejamkan mata mereka yang Melody pasti begitu nyaman tertidur di pelukan suaminya setelah beberapa hari merindukan suaminya. Ardian juga pasti sama yang begitu nyaman berada di dekat istrinya yang tidak kalah di rindukannya.


*********


Ardian dan Melody sedang memadu kasih dengan penuh kerinduan. Berbeda dengan Lea yang sekarang galau yang mana Lea sedang berada di dalam mobil yang terlihat resah, terlihat gusar dengan wajah yang penuh dengan masalah dengan kepalanya beberapa kali menunduk ke setir mobil.


" Argggghhh," Lea mengangkat kepalanya dengan bersandar pada jok mobil, " kenapa semuanya menjadi seperti ini. Kenapa Alvin tidak bisa mengerti dan bukannya dari awal dia sudah tau bagaimana aku. Aku pikir dia memahami ku. Aku pikir dia paling mengerti diriku. Tetapi apa hanya itu saja dia tidak sabaran," umpat Lea yang marah-marah dengan kondisi yang di hadapinya.


" Aku tidak tau bagaimana lagi kejelasan hubungan ku dengan dia. Aku benar-benar frustasi dengan semua ini!" Lea sampai mengacak-acak rambutnya frustasi dengan hubungannya dan juga Alvin.


Lea menarik napasnya panjang-panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu melihat ponselnya. Lea melihat kontak Alvin dan dengan cepat langsung di telponnya Alvin.


Tidak mengangkat sama sekali. Lea sepertinya masih ingin bicara lagi pada Alvin. Makanya dia langsung menghubungi Alvin.


" Di mana Alvin, kenapa dia tidak mengangkat telponku? tanya Lea yang kelihatan begitu panik. Sampai akhirnya beberapa saat Lea terus menelpon. Tetapi sama saja tidak di angkat sama sekali.


" Aku tidak bisa diam saja. Aku harus bicara pada Alvin. Aku harus menyelesaikan masalah kami. Aku tidak mau hubunganku dan Alvin berantakan," batin Lea memutuskan. Lea tidak membuag banyak waktu lagi. Lea langsung menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Lea yang merasa tidak adil dengan hubungannya yang berakhir begitu saja membuatnya harus menyelesaikan urusannya dengan Alvin yang tidak akan membiarkan hubungannya selesai begitu saja. Yang mana hanya penyelesaian sepihak saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2