
Ardian yang menemukan tespeck itu langsung keluar dari kamar itu dengan terburu-buru menuju kamarnya dengan buru-buru. Dan Ardian langsung menemui Melody yang sudah siap-siap di dalam kamar.
" Ada apa?" tanya Melody heran dengan Ardian yang masuk dengan cepat.
" Aku tidak mungkin menanyakan hal ini pada Melody!" batin Ardian menyembunyikan tespeck tersebut di dalam genggaman tangannya yang tidak mungkin bertanya pada Melody.
" Ardian ada apa?" tanya Melody lagi heran.
" Tidak apa-apa," jawab Ardian, " apa kamu sudah siap?" tanya Ardian.
" Kita pergi pagi ini?" tanya Melody yang tampaknya masih ingin mengulur-ulur waktu.
" Iya, kita harus buru-buru pulang," jawab Ardian.
" Ya sudah," jawab Melody datar. Ardian mengangguk dengan menghembuskan napasnya perlahan.
**********
Akhirnya Melody dan Ardian pun pamitan untuk pulang pada orangtuanya kakak dan juga kakak iparnya.
" Padahal baru aja 2 hari kalian sudah pulang aja," ucap Dania dengan wajah sendunya.
" Maaf ma, aku ada pekerjaan mendadak. Jadi tidak bisa berlama-lama," sahut Ardian.
" Ya sudah tidak apa-apa. Lagian rumah ini juga tidak jauh dengan rumah kalian. Melody pasti bolehkan main-main ke mari lagi," sahut Wawan.
" Pasti pa," sahut Ardian.
" Ya sudah kalau begitu. Pah, mah, kami pulang dulu ya," ucap Melody berpamitan memeluk ke-2 orang tuanya.
" Hati-hati ya sayang," sahut Dania.
" Kak Melody pulang dulu," ucap Melody memeluk Marsel.
" Iya kamu jaga diri ya. Ada apa-apa bilang sama kakak," ucap Marsel.
" Pasti kak," sahut Melody tersenyum dan juga berpindah memeluk kakak iparnya.
" Melody pergi dulu ya kak," ucap Melody.
" Iya Melody sering-sering ya main kemari," ucap Gadis.
" Pasti kak," sahut Melody dan Melody langsung berjongkok dengan memeluk keponakannya.
" Aunty pergi dulu ya sayang," ucap Melody memeluk gemas.
__ADS_1
" Chaca masih kangen sama Aunty," ucap Chaca dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Nanti aku aunty pasti datang lagi," ucap Melody dengan mengusap-usap pipi Chaca.
" Benar?" tanya Chaca. Melody mengangguk dengan mencium kening Chaca.
" Om Ardian titip Aunty Chaca," ucap Chaca dengan bijaknya bicara. Padahal usianya baru 3 tahun.
" Iya sayang, kamu tenang aja," sahut Ardian.
" Ya sudah mah, kita pulang dulu," ucap Melody yang kembali pamitan.
" Iya sayang kalian hati-hati ya," ucap Dania lagi dan akhirnya Ardian dan Melody pun memasuki mobil dengan tangan Melody yang melambai.
Sebelum Ardian melajukan mobilnya. Ardian mengklakson dulu. Lalu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan santai.
" Ayo kita masuk," sahut Wawan. Yang lainnya mengangguk dan akhirnya masuk kedalam rumah kembali.
Di dalam mobil Ardian dan Melody seperti biasa pasti diam saja dengan Melody yang hanya melihat keluar jendela dengan wajahnya yang begitu murung dan Ardian melihat ke arah Melody.
" Melody pernah depresi, lalu di mana dia di rawat. Vidio yang pernah aku lihat bersama mama, eyang adalah bukti jika Melody memang pernah depresi. Siapa yang harus aku tanyakan untuk masalah Melody," batin Ardian yang begitu penasaran dengan depresi Melody beberapa tahun lalu.
" Banyak yang tidak aku ketahui. Kata-kata Melody yang mengaitkan dengan teman-temanku saat itu, penemuan tespeck, Raisa yang membakar Villa dan depresinya Melody. Tidak ada yang terjawab. Jika Melody tidak berbicara dan aku tidak bisa menanyakan itu kepadanya," batin Ardian yang terus memikirkan masalah yang terjadi.
**********
" Assalamualaikum," sapa Ardian dan Melody.
" Walaikum salam," sahut Shandra, Eyang besar dan Widia dan juga Mila.
" Kalian sudah pulang," sahut Widia. Melody dan Ardian langsung menyalam satu persatu orang-orang yang ada di sana.
" Iya mah, Ardian ada pekerjaan mendadak," jawab Ardian.
" Ardian, pekerjaan kamu di pegang sama Arya dan juga Bayu. Jadi apa yang mendadak. Kamu di suruh ketempat Melody dalam beberapa hari bukan pulang asal-asalan," ucap Eyang besar tampak kecewa.
" Sudah kuduga itu pasti alasannya. Dia memang tidak betah tinggal di rumahku," batin Melody yang langsung kesal dengan Ardian.
Ardian juga tidak bisa bicara apa-apa. Karena memang pulangnya dia bukan untuk pekerjaan. Namun pekerjaan yang lebih penting lagi.
" Kamu sudah kembali Ardian!" tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing yang berasal dari tangga dan ternyata Raisa dan Novi. Melody kaget melihat 2 orang itu namun Melody langsung mendengus kasar dan melihat kearah Ardian dengan tersenyum kesal.
" Ini alasan kamu untuk pulang cepat-cepat," ucap Melody yang langsung salah paham.
" Jadi kamu sengaja pulang karena mendengar aku sudah pulang," sahut Raisa yang semakin memperkeruh masalah.
__ADS_1
" Ikatan yang kental memang tidak bisa di pungkiri," sahut Novi menambah-nambahi yang membuat Melody panas.
Melody pun geleng-geleng dengan Ardian dan langsung pergi dari tempat itu.
" Melody!" panggil Ardian. Raisa dan Novi sama-sama tersenyum.
Ardian pun langsung menyusul Melody kedalam kamarnya.
" Baru juga pulang mereka sudah kembali ribut," batin Widia.
" Raisa, Novi. Bukan berarti kalian pulang lebih awal dari pada janji yang di tentukan. Hukuman kalian selesai," sahut Eyang besar.
" Iya Eyang," sahut Raisa tersenyum. Eyang pun geleng-geleng dan langsung pergi di susul Shandra, Widia dan juga Mila. Raisa dan Novi saling melihat dan sama-sama tersenyum dan bahkan tos. Lea yang berada di balik tembok melihat kelakukan Tante dan keponakan itu.
" Ketawalah kalian ber-2. Kalian pikir Ardian tidak tau jika kalian memang sudah ada di Jakarta, dasar ular berbisa," batin Lea dengan penuh emosi dengan di betina tersebut.
Di dalam kamar Melody dengan kesalnya membuka kopernya dengan mengeluarkan pakaiannya dari koper dan tidak lama Ardian datang.
" Melody kamu salah paham," ucap Ardian yang langsung pada intinya. Melody dengan kesalnya menghentikan pekerjaannya dah menghadap Ardian.
" Kamu itu memang belum cukup ya mempermainkan aku hah! kamu itu hanya ingin terus menyiksaku. Baru semalam Ardian kamu dengan manisnya memberiku bunga, sarapan membawa ku jalan-jalan di balon udara kamu mengatakan kata-kata manis mu itu. Kita berciuman di sana. Kamu manis sekali di depan orang tuaku. Dan ini akhirnya. Kamu kemari buru-buru pulang hanya untuk wanita simpanan mu itu!" teriak Melody yang langsung emosi tingkat dewa.
" Aku pulang bukan karena Rais. Tapi memang karena pekerjaan," sahut Ardian.
" Kamu pikir telinga ku budek hah! jelas-jelas Eyang mengatakan apa tadi di depan. Pekerjaan kamu sudah di pegang. Kamu hanya beralasan, alasan kamu hanya untuk dia," tegas Melody.
" Melody aku memang tau Rais pulang. Tapi aku pulang bukan untuk itu," tegas Ardian.
" Lihatkan baru saja kamu mengatakan lagi kebenarannya kamu tau Raisa pulang. Yang artinya kamu dan Raisa sama-sama berkomunikasi, iya kan!" teriak Melody yang ada saja bahan untuk mencecar Ardian.
" Aku tidak mungkin mengatakan kepadamu jika aku Raisa pulang karena melihatnya ada di Villa," batin Ardian.
" Kamu benar-benar keterlaluan Ardian. Kamu hanya mempermainkan perasaan ku saja. Kamu tau Ardian aku juga punya batas kesabaran," teriak Melody.
tok-tok-tok-tok. Pintu di ketuk membuat Melody merasakan emosinya dengan menghembuskan napasnya kedepan menyibak rambutnya kebelakang dan langsung memasuki kamar mandi untuk menetralkan emosinya.
Sementara Ardian langsung membuka pintu dan melihat Mila yang ternyata datang.
" Kak Mila!" sapa Ardian.
" Ini Ardian ada paket untuk kamu," ucap Mila yang memberikan paket yang di simpannya untuk Ardian. Ardian mengambilnya dan heran dengan paket itu.
" Ya sudah kakak pergi dulu," ucap Mila yang langsung pergi dan Ardian hanya mengangguk dan langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.
Bersambung
__ADS_1