
Malam hari terlihat tidak begitu cerah. Yang sesuai dengan suasana rumah Ardian yang memang tidak ada cerahnya. Apa lagi dengan Ardian yang belum mendapatkan maaf dari istrinya dan Melody sendiri juga malas untuk bicara dengan Ardian.
Setelah membantu Mila di dapur mencuci piring makan malam tadi Melody kembali kekamarnya dan melihat kamarnya kosong dan mendengar suara air di kamar mandi yang pasti Ardian ada di sana.
Melody terlihat tidak perduli dan hanya merapikan kasur sebelum nanti di tiduri dan tidak lama Ardian keluar dari kamar mandi yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santainya. Ardian melihat Melody yang terlihat begitu sibuk sendiri.
" Melody!" tegur Ardian yang berada di belakang Melody.
" Aku malas bicara denganmu," sahut Melody yang tetap melanjutkan pekerjaannya.
" Aku minta maaf dengan apa yang aku lakukan kepadamu. Aku salah telah menuduhmu," ucap Ardian dengan menegaskan Melody membuang napasnya perlahan kedepan dan langsung membalikkan tubuhnya menghadap Ardian.
" Tidak semudah itu minta maaf," sahut Melody yang tampaknya menolak kata maaf itu, " yang melakukan saja aku tidak memaafkannya apa lagi yang sudah menuduhku dan tuduhan itu jauh lebih besar kesalahannya," lanjut Melody. Ardian hanya menanggapi dengan membuang napasnya perlahan kedepan.
" Lalu apa yang harus aku lakukan. Agar aku mendapat maaf dari mu," sahut Ardian yang terlihat memang tidak ingin membesarkan masalah dan lebih baik memberikan Melody untuk mengatakan apa yang harus di lakukannya.
" Aku sudah mengatakan di awalnya kepadamu. Jika aku terbukti tidak bersalah. Kau harus adil kepadaku," sahut Melody.
" Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Ardian.
" Usir 2 wanita itu dari rumah ini," sahut Melody yang langsung pada intinya. Ardian kembali menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.
" Kau taukan Melody aku tidak bisa melakukan itu dan aku tidak punya kuasa untuk melakukan itu. Jangan menyuruhku untuk melakukan yang tidak bisa aku lakukan itu hanya percuma," sahut Ardian menjelaskan.
" Kenapa? kau takut jika dia pergi dari rumah ini. Kau tidak akan bisa berselingkuh dengannya," sahut Melody mulai marah-marah.
" Aku tidak pernah berselingkuh dengannya," bantah Ardian.
__ADS_1
" Lalu kenapa tidak mengusirnya. Lihat apa yang di lakukannya kepadaku. Dan itu akan berulang-ulang terus di lakukannya. Jika merasa termakan hutang Budi. Keluargamu bisa memberikannya rumah dan tidak tinggal di sini. Apa susahnya melakukan hal itu. Kau sengaja ingin menyatukan ku dengan dia," ucap Melody dengan suaranya yang meninggi.
" Kita yang pergi!" sahut Ardian tiba-tiba dengan keputusan yang mendadak yang membuat Melody kaget dan langsung terdiam.
" Apa maksudmu?" tanya Melody.
" Untuk Raisa dan Tante Novi. Aku tidak punya kuasa untuk mengusir mereka dari sini. Dan ada masalah keluarga yang hal itu tidak mungkin di lakukan, menjelaskannya kepadamu, kau tidak akan pernah mengerti dan hanya akan memperbesar masalah. Karena kau selalu merasa paling benar. Jadi jika kau tidak mau bersama dengannya. Maka kita yang akan pergi dari rumah ini," jelas Ardian dengan keputusannya.
Malas ribut dan akhirnya lebih baik membawa Melody pergi dari rumah itu.
" Aku dan Ardian akan tinggal berdua, itu tidak mungkin. Bukan ini yang aku inginkan. Hanya dua orang itu yang aku hempas dari rumah ini. Bukan aku yang pergi," batin Melody dengan wajahnya yang cemas yang sepertinya Melody tidak menginginkan hal itu terjadi.
" Kenapa kamu diam. Kamu tinggal berdua denganku?" sahut Ardian bisa menebak dari wajah Melody yang tiba-tiba cemas.
" Sudah kuduga. Kamu memang tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kata menerima pernikahan hanya di mulut kamu saja dan kamu memang tidak ada niat untuk yang terbaik dalam pernikahan mu. Kamu hanya ingin bersaing Melody. Ingin membalas dendam dan bukan pernikahan ini," ucap Ardian.
" Apa yang aku katakan sudah jelas. Kamu menyuruhku mengusir Raisa dan juga Tante Novi, hanya dendam kamu," sahut Ardian.
" Jangan asal menuduh kamu. Aku menyuruh mereka pergi dari rumah ini. Supaya tidak ada yang menggangguku dan aku bisa hidup tenang," tegas Melody.
" Kalau begitu kita yang pindah rumah," sahut Ardian lagi.
" Aku tidak bisa tinggal berdua denganmu," sahut Melody yang memang tidak siap untuk hal itu.
" Kenapa?" tanya Ardian.
" Aku tidak perlu menjelaskannya kepadamu," tegas Melody.
__ADS_1
" Kau takut kembali jatuh cinta kepadaku. Itu alasannya. Karena jika kita tinggal berdua, kita akan sering bersama dan kau menakutkan itu," sahut Ardian yang menduga-duga apa yang di pikirkan Melody dan kelihatan memang benar Melody memang langsung terdiam mendengarnya.
" Kenapa harus takut Melody, bukannya kamu dulu mencintaiku. Bukannya kita dulu pernah saling mencintai," lanjut Ardian.
" Iya kamu benar, alasan ku tidak ingin dekat-dekat denganmu itu karena aku takut perasaanku kembali seperti dulu. Karena aku tidak menginginkan hal itu. Karena jatuh cinta kepadamu sama saja mati sebelum ajal. Jadi aku tidak akan jatuh kedalam lubang yang sama dan walau kita menikah, itu hanya pernikahan dan tidak akan pernah ada rasa. Karena aku tidak akan membiarkan diriku untuk kembali sakit," tegas Melody dengan matanya berkaca-kaca.
Melody yang merasa cukup untuk bicara memilih untuk berlalu dari hadapan Ardian. Namun Ardian menarik tangannya dan langsung memeluknya yang membuat Melody kaget dan memberontak. Namun Ardian semakin mengeratkan pelukannya yang tidak membiarkan Melody memberontak.
" Aku sangat mengenalmu. Kau hanya memendam perasaanmu. Tetapi kau juga tidak bisa mengendalikan dirimu. Matamu menjelaskan jika kau bukan takut untuk jatuh cinta kembali kepadaku. Tetapi matamu menjelaskan jika kau masih mencintaiku," ucap Ardian yang memeluk Melody erat.
Melody terdiam dan bahkan tidak memberontak dalam pelukan itu yang mana napasnya tiba-tiba begitu sesak yang seketika begitu sulit untuk bernapas.
" Jangan bicara sembarang, aku tidak pernah mencintaimu," bantah Melody. Ardian melepas pelukan itu dan menatap Melody dengan dalam-dalam dengan memegang pipi Melody. Mata Melody terlihat berkaca-kaca.
" Kau tidak bisa bohong Melody," ucap Ardian dengan menatap mata yang juga menatapnya itu.
" Aku tidak bohong!" tegas Melody.
" Kalau begitu mari kita buktikan," ucap Ardian.
" Apa maksudmu?" tanya Melody heran.
" Jika aku sudah menyakitimu dan membuat cinta menjadi benci. Dan aku ingin tau apa kah benar sudah tidak ada lagi perasaan mu kepadaku," ucap Ardian. Melody terdiam dengan menatap Ardian tanpa berkedip sama sekali.
Pandangan mata Ardian turun pada bibir Melody dan tidak tau terbawa perasaan atau tidak Ardian langsung mencium bibir Melody dan Melody sendiri kaget dengan apa yang di lakukan Ardian yang bisa-bisanya dia lengah dengan ciuman Ardian di bibirnya.
Bersambung
__ADS_1