
Melody dan Chaca sudah tidur terlebih dahulu. Di mana Chaca berada di pinggir, Melody di sampingnya dan di samping Melody Ardian. Ardian sama sekali belum tidur. Ardian menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan fokus pada handphonenya.
Ardian melihat artikel mengenai rumah sakit jiwa kasih bunda. Di mana Melody pernah di rawat di sana.
" Suster itu mengatakan kandungan Melody sempat besar dan itu artinya Melody tetap hamil. Aku sepertinya harus menemui suster itu lagi. Aku yakin ada sesuatu yang aku tidak tau dan Melody sendiri juga tidak tau," batin Ardian yang penasaran dengan apa yang terjadi.
Ardian melihat kearah Melody dan Melody masih tertidur lelap membelakanginya dan memeluk Chaca. Mata Ardian kembali melihat ke arah Chaca perkataan ibu tadi membuat Ardian teringat di mana orang asing saja mengatakan bahwa dia mirip dengan Chaca.
Melody tiba-tiba bergerak dan membalikkan tubuhnya membuka sebelah matanya melihat Ardian belum tidur.
" Kenapa belum tidur?" tanya Melody dengan suara seraknya.
" Tidak apa-apa Melody, aku belum mengantuk saja," sahut Ardian dengan mengusap-usap pucuk kepala Melody. Melody langsung memeluk pinggang Ardian.
" Kamu istirahat lah, aku juga mau tidur," sahut Ardian meletakkan handphone di atas meja.
" Hmmm, aku haus, aku mau kedapur sebentar mau ngambil minum," ucap Melody.
" Biar aku saja yang mengambilnya. Kamu tidak perlu mengambilnya," ucap Ardian.
" Benar tidak apa-apa?" tanya Melody mengangkat kepalanya melihat suaminya. Ardian mengangguk. Melody melepas pelukannya dari suaminya.
" Kamu tunggu sebentar ya!" ucap Ardian. Melody mengangguk dan Ardian pun langsung menuruni tempat tidur untuk keluar kamar mengambil air putih untuk istrinya.
*********
Ardian sudah sampai dapur. Di dapur gelap. Tidak terlalu gelap juga. Masih banyak cahaya. Ardian langsung mengambil air putih tanpa menghidupkan lampu. Saat menuang air putih tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya membuat Ardian kaget.
" Aku merindukanmu!" suara itu sangat di kenali Ardian.
" Apa-apaan sih kamu Raisa," ucap Ardian yang langsung melepas tangan Raisa dari pelukannya dan langsung membalikkan tubuhnya dan benar ternyata Raisa.
" Kamu itu benar-benar lancang ya," ucap Ardian.
__ADS_1
" Kau tidak percaya kalau kamu langsung mengenali suaraku. Aku tau Ardian kamu sebenarnya merindukanku," ucap Raisa dengan memegang pipi Ardian dan Ardian langsung menepis tangannya.
" Jaga sikap kamu. Raisa aku bukan laki-laki yang tidak tau siapa kamu," ucap Ardian.
" Memang aku siapa. Pandangan kamu terhadapku menjadi salah. Karena terhasut istri paksamu itu," sahut Raisa.
" Tutup mulutmu dia bukan istri paksa ku. Justru aku menegaskan kepadamu jangan menggangguku dan juga Melody," ucap Ardian menegaskan. Namun Raisa menyunggingkan senyumnya mendengarnya.
" Tapi aku merindukanmu, bagaimana dong? dan kalau sudah rindu aku tidak ingin mendengar apa-apa," sahut Raisa.
" Hentikan melakukan. Jadilah wanita yang terlihat mahal dan tidak murah," sahut Ardian menegasakan yang bicara tanpa peduli Raisa akan sakit hati atau tidak.
" Aku sudah menjadi mahal Ardian. Tetapi aku akan menjadi murahan. Jika itu untuk bersamamu," sahut Raisa. Ardian hanya geleng-geleng dengan kata-kata Raisa yang menjelma menjadi wanita murahan. Ardian yang ingin pergi dan malas mencari masalah dengan Raisa. Namun Raisa langsung memeluknya paksa.
" Lepaskan Raisa! apa yang kamu lakukan! lepaskan!" berontak Ardian dengan mendorong Raisa. Namun tidak di sangka Raisa begitu kuat dan bahkan pelukannya semakin erat.
" Aku sudah mengatakan aku mencintaimu dan sangat merindukanmu," ucap Raisa dengan terus memeluk erat.
" Jangan gila kamu!" bentak Ardian dan Raisa memang wanita gila yang tidak ingin melepaskan diri dari Ardian.
Tiba-tiba lampu hidup dan dapur menjadi terang membuat Ardian kaget dan melihat ke arah saklar lampu yang mana Melody berdiri di sana dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.
" Melody!" lirih Ardian dan langsung mendorong Raisa menjauh darinya. Melihat kehadiran Melody Raisa menyunggingkan senyumnya.
" Hmmm, kamu itu memang tukang ganggu ya. Kamu harus tau aku sama Ardian sedang melepas rindu," sahut Raisa dengan santai. Melody hanya mendengus mendengarnya.
" Diam kamu Raisa!" bentak Ardian.
" Kamu panik sekali Ardian. Melody menangkap kita ber-2an. Seharusnya dia sadar. Kita itu dua pasangan yang tidak bisa di pisahkan," ucap Raisa yang sengaja memanas-manasi. Melody tidak menanggapi dan langsung pergi.
" Melody!" panggil Ardian. " keterlaluan kamu!" gertak Ardian pada Raisa dan Ardian langsung mengejar Melody.
" Hmmm, akan terjadi perang besar nih. Huhhhh, Tidak sia-sia aku mengikutinya. Jadi bisa deh membuat Melody kepanasan," batin Raisa dengan menyunggingkan senyumnya yang merasa menang yang berhasil membuat Melody marah.
__ADS_1
Melody memang tampaknya kesal dia masuk kamar kembali dan menaiki tempat tidur. Masuk kedalam selimut dan langsung memeluk Chaca. Tidak lama Ardian pun datang dan melihat Melody yang tampaknya sedang ngambek. Ardian langsung mendekati tempat tidur dan langsung menaiki ranjang mendekati Melody dengan memegang bahu Melody. Namun Melody langsung menjauh.
" Melody, aku tau kamu tidak mungkin berpikiran jika aku dan Raisa aneh-aneh. Kamu tau dia seperti apa. Sungguh Melody kamu hanya salah paham," ucap Ardian menjelaskan pada Melody agar tidak ngambek.
" Melody!" tegur Ardian lagi dan Melody diam saja.
" Kamu tidak mempercayaiku," ucap Ardian mengusap-usap rambut Melody.
" Kenapa tidak menghidupkan lampu saat kedapur?" tanya Melody.
" Aku hanya mengambil minum dan hanya sebentar aku rasa itu tidak perlu. Tetapi aku tidak tau. Kalau kejadiannya akan seperti ini. Raisa selalu saja memanfaatkan keadaan," jelas Ardian.
" Lalu kalau aku tidak akan datang bagaimana?" tanya Melody.
" Tidak akan ada yang terjadi Melody. Karena pada intinya aku tau siapa dia dan aku akan bersamanya," ucap Ardian mengusap-usap lengan Melody dan mencium bahu pundak Melody.
" Maafkan aku, kamu jangan marah lagi," ucap Ardian.
" Iya," sahut Melody datar.
" Kalau begitu jangan membelakangiku. Aku ini suamimu, lihat dia," sahut Ardian.
Melody menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan membalikkan tubuhnya yang menghadap Ardian yang berbaring miring. Di mana Ardian langsung memeluknya.
" Kamu sangat cantik jika cemburuan," goda Ardian.
" Siapa yang cemburuan," bantah Melody melihat kearah Ardian dengan wajahnya yang terlihat manyun.
" Lalu apa namanya jika tidak cemburu?" tanya Ardian.
" Aku hanya kesal saja. Dia selalu mencari kesempatan," ucap Melody. Ardian tersenyum dengan mencium lembut kening Melody.
" Aku tidak akan membiarkannya mendapatkan kesempatan sekecil apapun," ucap Ardian. Melody menganggukkan kepalanya. Mata Ardian menatap intens wajah Melody dan matanya tertuju pada bibir Melody dan Ardian langsung mencium bibir indah yang menjadi candunya itu.
__ADS_1
" Aunty!" Chaca tiba-tiba mengigau membuat Ardian dan Melody berhenti dalam ciuman dan Melody menoleh kebelakang nya dan Chaca sudah memeluknya erat. Melody hanya tersenyum dan pasti Ardian kesal karena hanya sebentar mencium Melody.
Bersambung