
Rumah sakit.
Ardian yang sudah selesai mendonorkan darahnya langsung keluar dari rumah sakit dan langsung menemui istrinya yang masih menunggunya dan juga keluarganya masih ada di sana. Hanya Shandra dan Mila yang sudah pulang.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya Melody dengan suara paniknya yang langsung menghampiri Ardian dan langsung mengajak Ardian untuk duduk.
" Aku tidak apa Melody, kamu jangan khawatir yang penting keadaan Chaca membaik setelah ini," ucap Ardian.
" Makasih ya Ardian kamu sudah mau membantu Chaca. Kami tidak tau harus melakukan apa jika kamu tidak ada. Terima kasih Ardian," ucap Gadis.
" Sama-sama," sahut Ardian.
" Untung saja darah Ardian cocok dengan Chaca. Kalau tidak tau lagi harus mendapatkan donor dari mana," sahut Dania.
" Kenapa darah Ardian bisa sama dengan Chaca. Sedangkan Melody saja darahnya berbeda dengan Chaca," batin Marsel yang tiba-tiba kepikiran.
" Sebenarnya apa yang terjadi Melody kenapa Chaca tiba-tiba bisa jatuh?" tanya Eyang yang memang tidak tau kronologi.
" Aku sama Chaca ingin turun dari tangga dan tiba-tiba berpapasan dengan Raisa. Lalu aku sempat debat dengan Raisa karena Raisa marah. Gara-gara Eyang menghukumnya. Lalu dia kasar kepadaku di depan Chaca. Tidak terima dengan apa yang di lakukan Raisa Chaca menggigit tangan Raisa dan Raisa langsung marah dan menepis tangan Chaca sampai Chaca jatuh," kelas Melody menceritakan kronologi yang sebenarnya.
" Astagfirullah Al Azdim," lirih semuanya dengan serentak.
" Jadi semua ini gara-gara wanita itu," sahut Marsel yang langsung naik pitam.
" Raisa lagi, Rais lagi," desis Ardian yang ikut emosi.
" Dia benar-benar sungguh keterlaluan anak kecil saja harus di lawannya," sahut Gadis yang tidak percaya jika hal terjadi karena Raisa lagi.
" Mba Widya masalah ini sungguh keterlaluan. Cucu kami kritis karena perbuatan salah satu orang di rumah kalian dan itu hanya 1 hari saja, Chaca ada di sana. Kami sangat ragu jika Melody masih tetap tinggal di sana," sahut Dania tiba-tiba yang membuat semua orang kaget. Termasuk Ardian.
" Apa maksud mama?" tanya Melody yang mendadak panik.
" Mama tidak mau menyesal Melody nantinya. Jika kamu lebih parah dari pada Chaca. Jadi sebaiknya kamu pergi dari rumah itu," ucap Widia memutuskan yang membuat semua semakin kaget.
__ADS_1
" Mbak, jangan seperti itu, kita akan selesaikan semua ini dengan baik," sahut Widia yang tampak tidak ingin hal itu terjadi.
" Mah, jangan seperti ini mah," sahut Melody yang juga gelisah.
" Kami tidak ingin mengambil resiko. Di mana nanti nyawa Putri kamu yang menjadi taruhannya," ucap Dania yang harus tegas demi kebaikan Melody.
" Wanita yang bernama Raisa itu bukan manusia dia itu psikopat yang berbahaya. Aku akan langsung memenjarakannya," sahut Marsel dengan tangannya yang mengepal yang sudah tidak sabar ingin memenjarakan Raisa.
" Baiklah, kami serahkan semuanya kepada kalian. Apa yang di lakukan Raisa sudah tindak kriminal dan jika kalian ingin membawa masalah ini pada hukum maka silahkan. Kami tidak akan mencampuri masalah itu," ucap Eyang besar mengambil keputusan.
" Aku memang pasti akan membawa masalah ini pada hukum," sahut Marsel.
" Mbak Dania saya tau mbak marah dengan kejadian ini. Kami minta maaf. Tapi tolong jangan sangkut pautkan dengan Melody, dia menantu di rumah kami dan kami pasti akan menjaganya," ucap Widia yang memang kelihatan begitu sayang pada Melody.
" Kami tidak bisa menjamin hal itu. Jika wanita berbahaya itu masih ada di sana," ucap Dania
" Mah, sudahlah, ayolah, Melody bisa jaga diri. Lagian dia juga akan mendapatkan hukumannya. Tolonglah mah," sahut Melody.
" Sudah Dania, kamu jangan memaksa Melody tidak baik. Dia tau apa yang harus di lakukannya dan keluarga ini sudah menjamin semuanya. Jadi semuanya akan baik-baik aja," sahut Wawan.
" Benar mah, aku tidak akan membiarkan Melody sampai kenapa-kenapa percayalah kepadaku," sahut Ardian yang berjanji.
" Baiklah, aku percayakan kepada kamu. Tetapi jika Melody mengalami hal yang sama seperti Chaca maka saya tidak akan pernah memaafkan keluarga ini," ucap Dania dengan tegas. Eyang dan Widia hanya mengangguk. Melody merasa lega dengan keputusan mamanya yang langsung di ubah.
Ardian mengusap-usap bahu Melody, agar Melody jauh lebih tenang.
************
Marsel berada di ruangan salah satu Dokter. Yang mana Dokter wanita yang berkacamata dan Marsel duduk berhadapan dengan wanita itu yang tampaknya mereka bicara serius.
" Untuk golongan darah sendiri. Banyak yang darah anak tidak sama dengan darah ibu atau bapaknya. Tetapi untuk darah golongan AB positif itu memang biasanya hanya di miliki orang tua kandung dan pasti dari gen ayahnya," jelas Dokter yang membuat Marsel kaget mendengarnya.
" Tidak mungkin, jika Chaca anak Ardian. Melody bilang dia saat itu....." batin Marsel dengan wajahnya yang begitu shock.
__ADS_1
" Jadi golongan darah Ab positif memang sangat langka dan seperti yang saya katakan hanya akan di dapat dari orang tua sedarah saja," jelas Dokter lagi.
Marsel mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang mana dia mendadak resah. Ada yang di simpulkannya. Tetapi merasa tidak mungkin.
" Pak Marsel!" tegur Dokter.
" Iya Dokter," sahut Marsel.
" Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Dokter.
" Dokter bagaimana caranya melakukan tes DNA?" tanya Marsel tiba-tiba.
" Bapak ingin melakukan tes DNA?" tanya Dokter.
" Iya, tetapi melalui hal singkat," jawab Marsel.
" Bisa dari ujung kuku dan yang paling sering di lakukan dari rambut dan pastinya dari Darah," jawab Dokter.
" Aku harus memastikan Chaca anak Ardian atau tidak. Tidak ada yang kebetulan. Jika ternyata benar Chaca anak Ardian berarti selama ini Melody bohong," batin Marsel yang wajahnya begitu penasaran dengan kebenaran yang ingin di ungkapnya.
*********
Sementara di sisi lain Ardian sedang berada di depan ruangan Chaca yang melihat Chaca dari depan pintu yang ada kacanya sedikit. Ardian melihat terus di mana Chaca yang terbaring lemah yang begitu memprihatinkan.
" Ya Allah. Kenapa perasaanku begitu sakit saat melihat anak itu. Aku seakan bingung dan seperti orang bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa bertanya pada Melody. Karena aku takut dia kenapa-kenapa," batin Ardian yang merasa serba salah.
" Hasil tes DNA sudah keluar kamu bisa langsung kerumah sakit," tiba-tiba Ardian mendengar suara orang yang menelpon lewat dari belakangnya.
" DNA," batin Ardian.
" Apa salahnya jika aku mencobanya. Paling tidak aku tidak penasaran. Ya aku harus melakukan tes DNA agar bisa tau apa Chaca adalah anakku atau bukan," batin Ardian yang tiba-tiba mendapatkan ide. Sebenarnya itu sudah lama di pikirkannya. Namun tidak berani untuk melakukannya.
Bersambung.
__ADS_1