Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 201 Melepas rindu


__ADS_3

Akhirnya Ardian sudah di pindahkan ke dalam ruang perawatan. Yang mana baru Melody saja yang ada di ruangan Ardian. Ardian kondisinya memang jauh lebih baik. Bahkan sekarang Ardian tidak memakai alat pernapasan lagi. Hanya memakai infus saja untuk menambah tetangganya.


Kondisinya benar-benar fit bahkan sudah bersandar di kepala ranjang. Sementara Melody duduk di sampingnya di atas tempat tidur tepat di samping Ardian.


Walau kondisi Ardian jauh lebih baik. Tetapi Melody tetap saja masih mengkhawatirkanku suaminya itu. Apa yang terjadi masih membuatnya takut. Apalagi Ardian pernah koma dan kejadian yang menyeramkan itu terjadi di depan matanya. Dan bahkan Ardian seperti itu karena menolong dirinya.


Jadi jelas, dia masih takut. Pandangannya saja kepada suaminya masih merasa takut. Ardian tersenyum tipis dengan menjulurkan tangannya yang membuka tangannya agar Melody masuk ke dalam pelukannya.


" Kemarilah!" ajak Ardian yang ingin memeluknya. Melody mengangguk dan langsung memeluk Ardian dengan erat.


" Aku tidak apa-apa Melody. Kenapa wajah kamu terus saja khawatir," ucap Ardian yang memeluk istrinya yang berada di dada bidang suaminya yang sekarang Melody pasti sudah menangis. Karena baru pertama kali memeluk suaminya setelah beberapa hari tidak di peluknya.


" Aku jelas khawatir. Aku takut kamu kenapa-kenapa dan kamu baru bangun tadi, aku takut kamu tidak bangun lagi. Aku takut kamu meninggalkanku. Aku takut sendirian. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu Ardian. Aku belum siap untuk semua itu," ucap Melody yang akhirnya menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya. Perasaan itu sudah beberapa kali di tumpahkan nya dan sekarang di tumpahkan nya kembali.


" Cup, cup, cup, cup," Ardian langsung mengusap-usap rambut Melody, layaknya memperlakukan Melody sebagai anak kecil yang mendiamkan Melody yang menangis semakin menjadi-jadi.


" Hey, sudahlah sayang, kamu jangan menangis terus sayang. Aku sudah baik-baik saja. Lihat sekarang kita berpelukan. Aku sudah tidak apa-apa, aku sudah sembuh. Aku sudah tidak kenapa-kenapa lagi. Kamu tidak perlu takut. Aku tidak mungkin meninggalkanmu dan itu tidak akan pernah terjadi sayang," ucap Ardian yang menenangkan Melody yang terus menangis di pelukannya.


Melody melonggarkan pelukannya dan melihat Ardian. Ardian melihat wajah Melody yang begitu sendu dengan penuh air mata. Ardian langsung mengusap air mata itu dengan ke-2 tangannya.


" Jangan menangis lagi," ucap Ardian.


" Aku tidak bisa. Jika tidak harus menangis," jawab Melody.


" Katakan kepadaku. Berapa lama istriku yang cantik ini menangis terus, aku melihat mata cantik istri ku ini begitu sembab. Apa kamu menangis terus karena aku ada di ruangan ICU," ucap Ardian. Yang terus mengusap air mata yang mengalir terus.


" Bagaimana aku tidak menangis. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu penuh darah dan tidak bangun-bangun. Jadi bagaimana aku tidak menangis. Mana ada istri yang tidak menangis melihat suaminya seperti itu," ucap Melody.


" Tapi aku sudah tidak apa-apa. Lihat aku. Aku sudah baik-baik saja. Aku sudah sembuh. Jadi apa yang kamu takutkan," ucap Ardian.


Terlihat Melody melihat-lihat serius pada tubuh suaminya yang memastikan apa Ardian baik-baik saja atau tidak. Wajah itu apa pucat atau tidak. Karena sebelumnya wajahnya memucat. " Benar. Kamu tidak apa-apa lagi?" tanya Melody yang masih ragu pada suaminya itu.


Ardian menganggukkan kepalanya dengan tersenyum pada istrinya, " lihatlah sayang aku sudah tidak apa-apa. Sudah tidak ada lagi yang sakit, aku sudah sembuh sayang," ucap Ardian meyakinkan istrinya.


" Benar tidak sakit lagi?" tanya Melody yang masih tetap tidak percaya dengan keadaan suaminya.


" Iya aku tidak apa-apa. Aku tidak mungkin bohong," jawab Ardian.


" Kalau begitu jangan melakukan hal itu lagi. Aku tidak mau kamu melakukan hal bodoh seperti itu," ucap Melody.


" Hal bodoh!" sahut Ardian.


" Iya itu hal bodoh yang tidak perlu kamu lakukan. Jangan membuat hal itu lagi. Jangan mengorbankan diri demi aku. Itu nyawa. Kamu jangan memainkan nyawa. Itu adalah kebodohan untukku," ucap Melody mengingatkan suaminya.


" Melody itu bukan hal bodoh. Aku itu suami kamu dan sudah menjadi kewajiban ku untuk melindungi kamu. Apa yang aku lakukan bukanlah hal yang bodoh yang aku lakukan itu memang adalah kewajiban yang memang harus di lakukan suami. Untuk menyelamatkan, melindungi istrinya. Jadi itu namanya bukan kebodohan," ucap Ardian.


" Kamu memang suamiku. Tetapi tidak juga harus mengorbankan nyawamu. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku takut kamu sampai kenapa-kenapa. Jadi jangan pernah melakukan itu kepadaku lagi. Kamu tidak tau bagaimana takutnya aku saat itu. Aku tidak bisa membayangkan apa-apa Ardian. Jadi jangan seperti itu lagi," ucap Melody yang masih trauma dengan kejadian. Jelas dia begitu takut dengan ke adaan suaminya.


" Kamu maukan menuruti permintaan ku?" tanya Melody dengan wajahnya yang serius.


" Melody, jika itu permintaan kamu. Maka aku tidak akan bisa menurutinya. Aku tidak akan melakukan hal itu. Melindungi mu adalah tugasku dan kewajibanku. Jadi jangan menyuruhku untuk tidak melakukan hal itu. Karena permintaan itu tidak akan bisa aku kabulkan," ucap Ardian menegaskan pada Melody m


" Tapi Ardian. Kamu melakukan hal itu mempertaruhkan nyawa kamu," ucap Melody.


" Mempertaruhkan nyawa. Bukan hal yang sulit dan itu tidak masalah untukku," ucap Ardian.


" Tapi Ardian...." ucap Melody.


" Melody sudah ya jangan membahas itu lagi. Yang penting sekarang aku sudah tidak apa-apa dan kamu lihat aku baik-baik saja. Aku di sini bersama kamu. Aku tidak apa-apa. Aku sudah sembuh dan ada bersama kamu di sini. Jadi jangan membahas masalah hal itu lagi," ucap Ardian.


Melody masih diam saja. Dia tetap merasa jika apa yang di lakukan Ardian membuatnya takut.

__ADS_1


" Melody jangan merasa bersalah atas apa yang aku lakukan. Jika itu terjadi pada ku dan posisiku sama dengan kamu. Aku bisa menjamin jika kamu pasti akan melakukan hal yang sama dengan ku. Kamu juga akan mengorbankan diri kamu sama seperti aku," ucap Ardian.


Melody hanya diam saja. Apa yang di katakan Ardian memang pasti benar. Jika mungkin Ardian sepertinya. Maka dia juga pasti akan melakukannya hal yang sama yang di lakukan suaminya kepadanya.


" Jadi jangan merasa bersalah. Kita lupakan kejadian itu. Kita jadikan semuanya pelajaran. Untuk kita kedepannya agar hati-hati kedepannya dan kamu jika ada sesuatu katakan pada ku. Jangan menyimpan sendiri. Sama seperti kejadian kemarin. Jika kamu mempunyai perasaan yang aneh atau mencurigai sesuatu seperti kemarin terhadap Lea. Katakan kepadaku. Kita akan menyelesaikan semua masalah pelan-pelan," ucap Ardian yang memberikan pengertian kepada istrinya.


" Kamu mengerti kan apa yang aku katakan?" tanya Ardian.


" Hmmmm, iya aku minta maaf. Semua terjadi juga karena aku. Aku minta maaf," ucap Melody.


" Kamu tidak salah jangan meminta maaf," sahut Ardian yang mencium kening Melody dengan lembut.


" Kita sudah ada di sini," ucap Ardian.


" Baiklah. Tetapi kalau ada yang sakit kamu harus katakan cepat," ucap Melody. Ardian menganggukkan kepalanya.


" Hmmm, tapi kalau aku merasa sakit. Bukannya harus bilang Dokter. Kenapa harus bilang sama kamu," ucap Ardian.


" Biar aku yang merawatmu. Aku ingin menebus kesalahan ku," jawab Melody.


" Memang kamu bisa melakukannya?" tanya Ardian terlihat meragukan istrinya


" Bisa. Itu hal yang mudah. Aku akan merawatmu," sahut Melody.


" Tapi aku hanya ingin Dokter yang merawatku," sahut Ardian.


" Kenapa. Apa karena Dokter nya cantik?" sahut Melody dengan wajahnya yang tampak cemberut yang merasa kesal.


" Hmmm, mungkin itu menjadi salah satunya," sahut Ardian dengan tersenyum melihat wajah Melody yang cemberut.


" Oh, ya sudah sana pergi! kalau ada apa-apa, minta tolong saja padanya. Nanti kalau sudah di rumah, sana minta rawat pada Dokter, pakai baby sister sekalian," ucap Melody yang benar-benar cemburu dan bertambah kesal dengan Ardian.


Melody tampaknya memang kesal sampai sudah melepas pelukannya dari Ardian dengan wajahnya yang kelihatan yang sudah cemberut yang membuat Ardian tersenyum melihat istrinya yang merajuk.


" Apa sekarang istriku yang di pelukanku ini sedang cemburu?" tanya Ardian dengan tersenyum.


" Tidak siapa yang cemburu! kalau memang kamu mau di rawat sama suster, Dokter sana pergi, jangan bersamaku. Aku sudah menunggumu begitu lama, aku menangis terus, sekarang malah menginginkan Dokter. Ya sudah sana pergi," ucap Melody yang kesal yang memberontak ingin melepas pelukannya dari suaminya. Dia bahkan sudah mengeluh.


" Jadi ceritanya sekarang hitung-hitungan ini," ucap Ardian.


" Tidak siapa yang hitung-hitungan," sahut Melody.


" Jadi tadi apa namanya?" tanya Ardian yang terus menggoda Melody.


" Isss, sudahlah jangan membahas hal itu," sahut Melody kesal.


" Baiklah sayang aku minta maaf. Aku hanya bercanda sayang. Lagian mana mungkin aku lebih memilih di rawat orang lain sekalian pun seorang Dokter. Aku lebih memilih untuk di rawat istriku," ucap Ardian dengan lembut yang sekarang membujuk istrinya.


Melody diam saja yang belum menanggapi apa-apa. Yang masih ngambek di pelukan suaminya.


" Sayang, Melody istriku yang cantik. Maafkan aku," ucap Ardian yang membujuk- bujuk Melody. Melody di dalam pelukan Ardian sudah mengeluarkan senyumannya. Melody pun langsung melonggarkan pelukan itu dari suaminya dan melihat suaminya.


" Jadi mau di rawatku. Apa mau di rawat Dokter?" tanya Melody. Ardian diam dan wajahnya tampak berpikir yang terlihat masih berusaha membuat Melody kesal yang sengaja membuat Melody jengkel.


" Kenapa malah terlihat berpikir. Apa begitu ragu menjawab pertanyaan ku," sahut Melody kesal.


" Aku lebih ingin di rawat oleh istriku yang cantik ini," jawab Ardian membuat Melody tersenyum.


Ardian pun tersenyum dan kembali mencium kening Melody dengan memegang ke-2 pipinya dan juga mencium ke-2 kelopak mata Melody dan juga mencium hidung Melody dan mencium bibir Melody mengecupnya sebentar.


" Aku merindukanmu!" ucap Ardian.

__ADS_1


" Aku juga merindukanmu," jawab Melody tersenyum. Ardian tersenyum lebar dan menatap istrinya itu. Mata Ardian turun pada bibirnya dan ingin mencium bibir itu lagi.


Krekkk.


Hal itu tidak jadi ketika pintu kamar yang tiba-tiba di buka membuat Ardian dan Melody tidak jadi berciuman untuk melepas rindu di antara mereka yang mana ternyata keluarga Ardian dan Melody yang datang.


" Mami!" Chaca yang pertama kali masuk dan berlari menghampiri maminya dan papinya dan juga langsung memeluk papinya yang sudah bangun. Dia juga merindukan papinya tersebut. Ardian juga sama yang begitu merindukan Chaca anaknya.


" Papi sudah sembuh?" tanya Chaca yang sudah melepas pelukan itu dari Ardian.


" Chaca bisa lihat sendiri papi sudah sembuh," jawab Ardian.


" Alhamdulillah ya Allah," sahut Chacha sembari mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya mengucapkan amin.


Eyang besar, Widia, Shandra, Mila, Aliya, Evan, Rasti, Dania, Wawan, Marsel dan Febby hanya tersenyum dengan Chaca yang begitu bahagia dengan Ardian yang sudah sembuh.


" Apa kamu sudah jauh lebih baik Ardian?" tanya Eyang besar.


" Iya Eyang aku baik-baik saja. Aku sudah merasa jauh lebih enakan sekarang," jawab Ardian yang memang apa adanya.


" Alhamdulillah kalau begitu. Jadi kamu jaga kesehatan kamu selanjutnya agar kondisi kamu semakin pulih," ucap Eyang besar.


" Benar Ardian. Kamu harus benar-benar memperhatikan kesehatan kamu," sahut Shandra menambahi.


" Iya Eyang, Tante Ardian akan melakukan hal itu. Jadi Eyang dan yang lainnya jangan khawatir aku baik-baik saja. Mama juga jangan khawatir Ardian sudah tidak apa-apa," ucap Ardian.


" Ardian terima kasih ya. Kamu sudah menepati janji kamu untuk menjaga Melody. Terima kasih untuk apa yang kamu lakukan pada Melody," ucap Marsel.


" Aku tidak melakukan apa-apa kak. Dan apa yang aku lakukan memang sudah sewajarnya aku lakukan," sahut Ardian.


" Apapun itu Ardian. Kami sangat berterima kasih dengan kamu. Terima kasih untuk yang kamu lakukan," ucap Dania.


" Iya mah, aku juga berterima kasih karena mama sudah menjaga Melody untukku," jawab Ardian.


" Hal menjaga itu memang sudah kewajiban kami," sahut Marsel.


" Benar Ardian. Kita juga takut. Kalau kamu akan marah-marah. Jika nanti Melody sampai kenapa-kenapa," sahut Evan.


Ardian tersenyum dengan melihat keluarganya yang begitu memperhatikan istrinya dan dia bahagia dengan kumpulnya dia bersama keluarganya.


Chaca yang berada di dekat Ardian yang tadinya naik ke atas tempat tidur sekarang turun dan terlihat melihat ke belakang Ardian yang kelihatan Chaca memperhatikan luka yang masih di perban.


" Apa luka papi masih sakit?" tanya Chaca. Ardian tersenyum dan langsung meraih tangan Chaca membawa Chaca kembali duduk di depannya.


" Luka papi mana mungkin sakit. Sekarang Chaca ada di sini. Jadi mana mungkin ada rasa sakit lagi," jawab Ardian.


" Benarkah papi sudah tidak apa-apa?" tanya Chaca yang masih tidak percaya.


" Iya sayang papi sudah tidak apa-apa," jawab Ardian.


" Alhamdulillah ya Allah. Kalau papi sembuh. Jadi mami tidak akan nangis lagi. Sekarang mami makan sudah bisa normal lagi. Mami juga akan bisa tidur," ucap Chaca.


" Jadi sewaktu papi sakit. Mami makan tidak teratur dan juga tidak tidur?" tanya Ardian.


" Benar papi. Mami terus menangis dan bahkan makan tidak teratur kan kasihan dedek bayi di dalam perut mami," ucap Chaca dengan polosnya yang kecemplosan bicara masalah bayi.


Karena Melody memang belum mengatakan hal itu pada Ardian. Karena dia masih bercerita dan melepas rindu. Jadi Melody belum kepikiran apa-apa untuk mengatakan kabar bahagia itu.


" Dedek bayi," sahut Ardian terlihat serius melihat ke arah Chaca.


" Iya papi, Dede bayi di perut mami," jawab Chaca membuat Ardian langsung melihat ke arah Melody. Melihat dengan mengintimidasi Melody yang ingin tau apa maksud Chaca sebenarnya yang mengatakan masalah dedek bayi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2