Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 247. merasa ada sesuatu


__ADS_3

Raisa dan Axel tetap melanjutkan makan. Di mana rasa ke gugupan Raisa terus saja merasa begitu canggung saat di suapi oleh Dokter Axel. Terlihat ada sebutir nasi di ujung bibir Rais. Axel dengan spontan langsung untuk membersihkannya dengan jarinya membuat Raisa semakin begitu gugup dengan apa yang di lakukan Axel.


Jari Axel masih berada di ujung bibirnya dengan mengusap lembut. Mata mereka yang saling bertemu.


" Dokter aku gugup!" ucap Raisa jujur apa adanya dengan apa yang di rasakannya debaran yang tidak biasa.


Tida pernah dia seperti ini kepada laki-laki. Karena memang hanya Ardian satu-satunya pria yang dekat dengannya.


Axel tersenyum mendengarnya dan mengusap-usap lembut pipi Raisa membuat Raisa semakin gugup. Axel mendekatkan wajahnya pada Raisa membuat debaran jantung Raisa semakin kencang yang mungkin saja Axel dapat mendengarkannya.


Sepertinya Axel juga kehilangan akalnya yang tampak ingin mencium Raisa. Semua itu hampir saja terjadi. Kalau Suster tidak datang tiba-tiba.


" Maaf Dokter," sahut suster merasa bersalah dengan menundukkan kepalanya. Sementara Axel langsung menjauh dengan salah tingkah yang merasa juga sangat bodoh, bisa-bisanya punya pikiran untuk melakukan hal itu.


" Ada apa?" tanya Axel dengan gugup. Raisa juga terlihat salah tingkah.


" Ada Tuan Ardian dan Nona Melody yang ingin bertemu," jawab suster.


" Melody!" lirih Raisa. Axel langsung melihat ke arah Raisa.


" Selamat siang!" Melody dan Ardian sudah memasuki rumah dan langsung di lihat Raisa.


Melody dan Raisa saling melihat begitu lama. Dengan Raisa yang terlihat penuh rasa bersalah dan bahkan sangat gelisah, postur tubuhnya sangat aneh yang mencemaskan sesuatu. Axel melihat Raisa seperti itu membuatnya khawatir dan dengan spontan memegang tangan Rais yang semakin dingin.


" Kamu baik-baik saja?" tanya Dokter dengan lembut.


" Iya Dokter. Saya baik-baik saja," jawab Rais dengan suara bergetarnya.


Melody dan Ardian saling melihat dan mereka seakan mengerti apa yang di rasakan Raisa.


" Kami datang kemari. Hanya ingin membawakan pesanan dari Eyang," sahut Melody menunjukkan apa yang di bawanya.


" Mari silahkan duduk!" sahut Axel dengan ramah. Ardian dan Melody mengangguk dan langsung menduduki sofa bergabung dengan Axel dan Raisa. Raisa hanya menunduk yang merasa takut tiba-tiba.


" Raisa kamu bagaimana kabarnya?" tanya Melody dengan lembut.


" aku-aku- a-aku baik-baik saja," jawab Raisa dengan gugup. Melody mengangguk dengan tersenyum.


" Aku juga bisa melihat kamu sudah jauh lebih baik. Kamu baru selesai makan?" tanya Rais dengan ramah. Agar Raisa bisa tenang dan tidak takut.


" I-iya baru selesai," jawab Raisa yang terus menunduk dengan saking meremas jarinya di atas pahanya.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Aku sama Melody sebaiknya pulang dulu. Kami kebetulan mau kerumah sakit. Karena tadi mampir terlebih dahulu kemari untuk menyampaikan apa yang Eyang berikan," ucap Ardian.


" Iya benar. Semoga kamu menyukainya ya. Masakan rumah sangat enak. Kamu pasti sangat merindukannya. Jadi makanlah yang banyak," ucap Melody. Raisa menganggukkan kepalanya saja.


" Baiklah Dokter kami pergi dulu ya," ucap Ardian pamit.


" Iya," sahut Dokter Axel.


" Ayo sayang!" ajak Ardian. Melody mengangguk dan mereka langsung pergi.


" Kamu mau istirahat Raisa?" tanya Axel.


Raisa menganggukkan kepalanya. Dia mungkin lebih baik beristirahat untuk menenagkan dirinya.


" Ya sudah mari kita istirahat!" ajak Dokter. Raisa mengangguk.

__ADS_1


Axel pun membawa Raisa kekamar untuk beristirahat. Axel membantu Raisa merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan Axel bahkan menyelimutinya.


" Apa kedatangan Melody kemari itu artinya dia sudah memaafkanku?" tanya Raisa tiba-tiba.


Axel menghela napasnya. Lalu duduk di samping Raisa, " dia sudah memaafkanmu sebelumnya," jawab Axel.


" Aku sebenarnya ingin bicara banyak kepadanya. Tetapi aku takut dia tidak mau mendengarkanku," ucap Raisa.


" Dan aku melihat Melody juga sepertinya ingin juga bicara banyak padamu. Tetapi kamu sepertinya tidak ingin," sahut Axel.


Raisa diam dengan wajahnya yang tampak penuh pikiran. Axel menghela napasnya kembali dan memegang tangan Raisa.


" Jangan khawatir. Jika ada waktu nanti. Kita akan bicara dengan Melody dan juga Ardian," ucap Dokter Axel.


" Apa mereka akan mau?" tanya Raisa dengan ragu.


" Pasti Raisa," sahut Axel. Raisa diam yabg seperti tidak yakin dengan apa yang di katakan Dokter Axel.


" Kamu jangan banyak berpikir lagi. Kamu harus istirahat sekarang," ucap Dokter mengingatkan Raisa. Raisa menganggukkan kepalanya. Axel kembali berdiri dan menyelimuti Raisa lagi.


" Tidurlah!" ucap Axel dengan lembut, lalu pergi. Namun tiba-tiba tangannya tertahan.


" Dokter bisa Dokter di sini saja. Sampai saya tertidur!" pinta Rais dengan gugup. Axel mengangguk. Raisa mengeluarkan senyum tipisnya.


Axel kembali duduk di samping Raisa dengan mengusap-usap kepala Raisa.


" Sekarang saya sudah ada di sini. Jadi kamu istirahatlah, saya akan menjaga kamu," ucap Dokter.


Raisa menganggukkan kepalanya dan perlahan-lahan memejamkan matanya untuk secepatnya istirahat dan Axel sangat setia untuk menemaninya.


Rumah sakit.


Sekarang Melody sudah berada di atas tempat tidur rumah sakit. Di mana Dokter wanita sedang memeriksa kandungannya. Tangannya dan tangan Ardian saling memegang erat dengan mata mereka yang melihat ke monitor layar di mana bayi mereka terlihat di sana.


" Janin Bu Melody begitu aktif dan sangat sehat," ucap Dokter dengan tersenyum. Melody dan Ardian saling melihat yang tidak kalah mengeluarkan senyum indahnya.


" Tidak ada masalahkan Dokter sama sekali?" tanya Ardian.


" Tidak ada pak Ardian. Janinnya tumbuh berkembang dengan baik. Ini semua pasti karena kerja sama suami istri yang baik," ucap Dokter.


" Alhamdulillah kalau begitu," ucap Ardian yang merasa lega.


" Bu Melody jaga kesehatan saja. Jangan banyak pikiran dan jaga makan dengan baik dan iya Bu Melody makanan pedasnya di kurangi ya," ucap Dokter memberi saran.


" Kamu dengar sayang apa kata Dokter makanan pesananya di kurangi," ucap Ardian.


" Iya-iya," sahut Melody.


" Memang Dokter istri saya ini sangat susah di kasih tau agar tidak memakan makanan yang pedas," ucap Ardian mengadu.


" Sayang memang harus ya dokternya tau," ucap Melody kesal.


" Karena pemikiran aku sama Dokter itu sama. Kita tau kalau makanan pedas itu tidak baik untuk kamu," tegas Ardian menceramahi istrinya.


" Iya-iya," sahut Melody. Dokter hanya tersenyum saja melihat perdebatan suami istri.


" Ya sudah mari. Saya akan berikan vitamin lagi," ajak Dokter. Melody dan Ardian mengangguk. Ardian membantu istrinya untuk duduk yang langsung keruangan Dokter untuk mengambil resep vitamin Melody yang kebetulan memang vitamin Melody habis.

__ADS_1


********


Akhirnya Ardian dan Melody selesai juga untuk cek kandungan dan sekarang mereka berjalan di koridor-koridor rumah sakit.


" Aku lega tidak terjadi apa-apa pada bayi kita. Aku sudah khawatir yang takut bayi kita kenapa-kenapa karena penerbangan kemarin," ucap Melody.


" Iya sayang kan Dokter sebelumnya sudah mengatakan. Keberangkatan kita aman," sahut Ardian.


" Ya maklumlah. Aku agak parnoan orangnya. Mungkin karena bawaan batinya juga," ucap Melody.


" Iya mungkin seperti itu. Karena karena kata orang-orang. Hormon ibu hamil itu memang berbeda-beda," ucap Ardian.


" Ya kita doakan saja. Semoga semuanya baik-baik saja. Dan aku juga senang tadi melihat perkembangan Raisa yabg benar-benar meningkat," ucap Melody.


" Sama aku juga senang. Semoga saja Raisa juga keaadaannya akan baik-baik saja. Dia cepat sembuh," ucap Ardian dengan harapannya.


" Amin. Kita sama-sama berdoa saja dan aku lihat. Dokter Raisa yang sekarang begitu baik padanya. Aku melihat ketulusannya dan mungkin karena itu juga Raisa bisa sembuh dengan cepat. Karena berada di tangan Dokter yang benar," ucap Melody.


" Ya semua itu kembali lagi pada sang pencipta. Dan semoga saja Dokter Raisa kali ini mampu membuat Raisa sembuh. Kita doakan saja yang terbaik," ucap Ardian. Melody menganggukkan kepalanya.


" Ya sudah kamu tunggu sini. Aku tebus resep dulu. Setelah itu kita baru makan," ucap Ardian.


" Kita mau makan kemana?" tanya Melody.


" Terserah kamu saja. Yang penting ingat kata Dokter makanan pedas di kurangi," ucap Ardian menegaskan.


" Dikurangi bukan berarti tidak boleh," sahut Melody.


" Jangan keras kepala. Ingat ini demi bayi kita," ucap Ardian.


" Iya sayang, kamu ini takut amat," sahut Melody.


" Ya sudah kamu tunggu sini. Aku pergi sebentar dulu!" ucap Ardian. Melody hanya mengangguk-angguk saja dan Ardian pun langsung pergi untuk menebus obat.


Untuk menunggu suaminya Melody memilih duduk bergabung dengan orang-orang yang sedang duduk di kursi penunggu.


Raisa membuka handphone untuk melepas kejenuhannya. Namu tiba-tiba saat melihat kearah kanan Melody melihat Rasti yang berjalan membuat Melody heran.


" Rasti! ngapain di di sini?" batin Melody penuh tanya yang melihat Rasti menghampiri meja Suster yang membuat Melody heran.


Karena penasaran Melody pun akhirnya berdiri untuk menghampiri Rasti. Paling tidak menyapa Rasti. Namun sayangnya Rasti sudah berjalan dan Melody pun mengikutinya.


" Tumben sekali Rasti kerumah sakit sendirian. Dia ngapain sih jenguk sakit. Atau dia yang sakit. Ya kalau dia yang sakit. Mana mungkin pergi sendiri. Pasti jenguk orang sakit," batin Melody yang berjalan terus mengikuti Rasti yang juga terlihat begitu buru-buru.


Padahal Melody mengikuti Rasti tanpa ada jejak sama sekali. Namun Melody harus kehilangan jejak Rasti dan Melody berhenti di depan ruangan Dokter firman. Dr cancer.


" Di mana Rasti, kenapa secepat itu menghilang. Padahal di sini bukannya lokasi kamar pasien. Semuanya ruangan Dokter. Masa iya Rasti masuk ke salah satu ruangan ini," gumam Melody dengan kepalanya yang berkeliling mencari-cari keberadaan Rasti.


Melody juga melihat pintu-pintu yang tertutup yaitu ruangan Dokter-Dokter dengan ke ahlian masing-masing. Melody begitu lama berdiri di dekat ruangan Dokter firman Dokter cancer.


tiba-tiba ada Suster dan Dokter yang berjalan mendekati ruangan itu membuat Melody meminggir.


" Bu Rasti sudah menunggu di dalam Dokter," ucap Suster itu sambil berjalan. Apa yang di katakan Suster membuat Melody terkejut.


" Baiklah!" sahut Dokter. Suster membukakan pintu ruangan itu untuk mempersilahkan masuk kedalam dan Suster pun ikut masuk kedalam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2