Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 160 Alvin dan Lea.


__ADS_3

Dengan pakaian simple, kemeja biru navy dengan paduan celana scuba dengan rambutnya yang di ikat satu di bawah. Lea tampak elegan. Tampak seperti wanita kelas tinggi. Padahal penampilannya se simple itu.


Mobilnya sudah berhenti di depan Bandra.


" Menyebalkan sekali sih dia. Apa dia pikir aku supirnya yang harus menjemputnya," oceh Lea sembari membuka seat beltnya.


" Kenapa sih aku itu bisa-bisanya berurusan dengan orang yang paling menyebalkan sepertinya. Kapan masalahku akan selesai dengannya. Jika seperti ini terus yang ada aku itu di tindas," Lea terus mengoceh dari dalam mobil. Sampai sekarang ke luar dari mobil.


Memasuki Bandara mencari-cari Alvin, Lea juga terus marah-marah mengumpat kesal pada sosok Pria yang membantunya menyelesaikan masalah Ardian dan Melody.


Wajah kesalnya dan mulutnya itu belum selesai merocos saat sudah bergabung dengan orang-orang yang menunggu jemputan. Lea melihat di kiri dan kanannya di sekitarnya. Yang mana ternyata orang-orang yang menjemput itu ada sebagian membawa tulisan.


" Selamat datang my Honey," salah satu tulisan yang di baca Lea yang membuat Lea geli sendiri. Ya kebanyak para kau bucin di sekitarnya. Bahkan ada membawa boucket bunga.


Akhirnya orang-orang yang di tunggu itu keluar, dengan ke-2 tangannya berada di dadanya. Lea pun melihat di mana Alvin. Dia mungkin tidak akan heboh seperti orang-orang di sekitarnya melambai-lambaikan tangan. Karena kalau Alvin melihatnya pasti Alvin akan menghampirinya.


" Akhirnya muncul juga wajahnya," batin Lea ketika melihat Alvin.


Di mana pria itu keluar dan terlihat begitu berwibawa yang mendorong kopernya dengan memakai kaca mata hitamnya. Seharusnya Lea menyadari jika Pria yang di ajaknya kerja sama itu begitu tampan, ya bahkan tanpa Lea sadari banyak wanita-wanita yang menunggu bersamanya perhatiannya teralihkan dengan ke hadiran Alvin yang seperti opa-opa Korea.


Alvin menyunggingkan senyumnya. Saat melihat wanita yang di suruhnya untuk menjemputnya.


" Aku tidak percaya. Akhirnya dia menjemputku," batin Alvin dengan senyum miringnya yang langsung menghampiri Lea. Wajah Lea tidak berhentinya di tekuk, kekesalan Lea semakin besar ketika Pria itu berada di depannya yang terlihat santai tanpa dosa.


" Apa kau tidak punya supir. Makanya menyuruhku datang untuk menjemputmu?" tanya Lea dengan ketus.


" Jika masih ada kau, kenapa harus menggunakan supir," jawab Alvin dengan santainya. Lea hanya mendengus kasar mendengar jawaban Pria itu. Ya pasti Lea mengumpat lagi di dalam hatinya dengan kebenciannya ke pada Alvin yang sengaja mempermainkannya.


" Alvin!" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang membuat Lea menoleh ke arah suara itu. Wanita cantik dan seksi yang menyeret kopernya yang berjalan cepat menghampiri Alvin. Hal itu membuat Lea bertanya-tanya dengan penuh kebingungan.


" Siapa dia?" batin Lea tanda tanya menatap wanita itu dengan mengamati penampilannya saat sudah berada di samping Alvin.

__ADS_1


" Kamu cepat sekali perginya aku mencarimu," ucap wanita itu yang langsung merangkul lengan pria itu. Lea melihatnya tampak biasa saja. Walau sebenarnya di begitu penasaran dengan wanita itu.


Namun Alvin tampaknya tidak merespon dan melepas tangan wanita itu dari genggamannya yang terlihat Alvin tampak risih. Wanita itu tersenyum. Walau sangat kesal. Karena Alvin tidak cuek kepadanya.


" Siapa dia?" tanya wanita itu ketika melihat Lea. Alvin tersenyum dan mendekati Lea, berdiri di samping Lea dengan merangkul pinggang Lea membuat Lea kaget dan wanita itu juga tampak terkejut.


" Dia pacarku," jawab Alvin. Cup. Alvin mencium pipi Lea membuat Lea semakin kaget dengan pipinya yang tiba-tiba merah merona. Melihat hal itu Wanita itu tampak kesal dengan tangannya yang terkepal.


" Pacar katamu," sahut wanita itu yang tampak tidak terima.


" Iya dia kekasihku," jawab Alvin membenarkan lagi dengan tersenyum melihat ke arah Lea.


" Apa yang dia katakan. Kapan aku menjadi pacarnya. Kenapa bicaranya asal-asalan. Pria ini benar-benar selalu memanfaatkan ku," batin Lea dengan menatap Alvin kesal.


" Mana mungkin dia pacarmu," sahut Wanita itu yang tampak tidak percaya.


" Terserah percaya atau tidak," sahut Alvin dengan santai, " sayang terima kasih sudah menjemputku. Aku sangat merindukan mu. Ayo sekarang kita pergi," ajak Alvin yang kelihatan penuh sandiwara di depan Lea. Lea tidak tau harus apa. Dia diam saja mengikuti apa-apa kata Pria itu.


" Sial mana mungkin Alvin punya kekasih. Rencanaku bisa berantakan. Jika dia punya kekasih. Aku tidak akan ada lagi posisi di tempat Alvin," batin Wanita itu yang mengepal ke-2 tangannya yang melihat punggung Alvin dan Lea yang semakin jauh dan terlihat begitu romantis.


Akhirnya Alvin dan Lea sampai ke mobil Lea dan Lea langsung melepaskan genggaman tangan Pria menyebalkan itu dari pinggangnya.


" Apa maksud mu mengatakan aku pacarmu?" tanya Lea dengan wajah kesalnya.


" Kenapa? apa itu salah?" tanya Alvin tanpa dosa.


" Hey, bisa-bisanya kau bertanya itu salah atau tidak. Ya jelas salah lah. Kapan pula aku jadi pacarmu. Kau itu benar-benar ya," geram Lea yang langsung marah-marah dengan Alvin.


" Sudahlah jangan berlebihan. Itu hanya kata saja. Jangan di besar-besarakan. Lagi pula kenyataannya. Aku mana mungkin menjadi pacarmu. Itu sangat mustahil. Jadi jangan membahas masalah yang tidak penting," ucap Alvin kalau bicara selalu suka-sukanya.


" Aku juga tidak sudi menjadi pacarmu," sahut Lea menegaskan.

__ADS_1


" Bagus kalau begitu," sahut Alvin yang berlalu dari hadapan Lea.


Alvin menuju bagasi mobil Lea dan langsung memasukkan kopernya ke dalam sana tanpa permisi pada Lea. Setelah itu Alvin memasuki mobil di bagian kursi di samping pengemudi.


" Ayo masuk, ngapain masih berdiri di sana. Aku capek!" panggil Alvin yang sudah berada di dalam mobil.


" Issss, dia pikir aku supirnya," umpak Lea dengan menggertakkan kakinya ke tanah dan dengan terpaksa Lea memasuki mobil. Sesuai dengan keinginan Alvin.


" Kenapa kau lama sekali?" tanya Alvin yang memakai sabuk pengamannya.


" Diamlah! sudah menumpang banyak protes," sahut Lea dengan ketus.


" Lalu begitu ayo jalan buruan," ucap Alvin.


" Baik tuan Alvin. Tuan Alvin ingin di antar kemana?" tanya Lea dengan terpaksa bicara se ramah mungkin. Bahkan sampai mengeluarkan senyuman palsu untuk Pria yang banyak mengaturnya.


" Ke hotel!" jawab Alvin dengan santai. Mendengar kata hotel membuat Lea sedikit kaget dan mendadak panik.


" Aku ingin menagih janji yang sudah kau undur-undur dan aku rasa hari ini kau tidak bisa beralasan lagi," ucap Alvin dengan menaikkan 1 alisnya.


" Siapa yang beralasan. Lagian bagus jika akhirnya aku menyelesaikan tugasku. Dengan begitu aku dan kau tidak akan berurusan lagi," ucap Lea dengan wajahnya yang sok tenang. Padahal jantungnya sedang bergetar hebat.


" Bagus kalau begitu," sahut Davin dengan tersenyum miring. Lea mengalihkan pandangannya dari Alvin dan kembali fokus kedepan. Lea tidak banyak bicara lagi dan langsung menarik gas mobil dengan melajukan dengan kecepatan santai.


" Hotel mana?" tanya Lea tanpa melihat ke arah Alvin.


" Kau yang memilihnya," jawab Alvin dengan santai.


" Kenapa juga harus aku," umpat Lea dengan kesal. Alvin tidak mempedulikan protes dari wanita itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2