Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 246.


__ADS_3

Indonesia. Jakarta.


Akhirnya mereka semuanya sampai di Indonesia dengan selamat. Mereka juga langsung di jemput supir untuk menuju rumah.


Di dalam mobil terlihat Melody yang mengirim pesan.


..." Rasti apa kamu sudah sampai?" tanya Melody....


..." Iya Melody aku sudah sampai dan juga sudah naik Taxi. Kamu jangan khawatir aku tidak apa-apa," jawab Rasti....


..." Baiklah, kamu hati-hati," ucap Melody....


Melody memang mengetahui jika Rasti juga pulang sama dengan kepulangan mereka. Melody tidak memihak siapa-siapa berusaha untuk netral di antara Rasti dan Evan. Makanya dia juga terus mengabari Rasti. Karena Melody juga khawatir dan untungnya Rasti juga tidak menutup komunikasi pada Melody.


Dia orang dewasa yang harus berpikir cermat. Masalahnya hanya dengan Evan, Melody atau yang lainnya adalah sahabatnya. Jadi jelas tidak ada urusannya dengan yang lain yang harus di jauhi atau apapun. Karena urusannya hanya dengan Evan.


********


Tidak lama akhirnya mereka sampai di kediaman Ardian. Mereka turun dari mobil dan langsung memasuki rumah. Evan yang pertama masuk dan hanya menyuruh supir membawa kopernya masuk.


Sementara di ruang tamu ada eyang besar, Widia, Mila dan Shandra yang mana mereka juga pasti begitu terkejut melihat kepulangan Evan dan yang lainnya tiba-tiba yang tidak sesuai dengan jadwal yang sudah di rencanakan.


" Kalian sudah pulang?" tanya Widia heran.


" Iya mah," sahut Melody yang langsung menyalam orang-orang di ruang tamu itu dan di ikuti yang lainnya.


" Kok cepat pulangnya. Bukannya seharusnya beberapa hari lagi?" tanya Mila yang terlihat begitu terkejut.


" Dan iya Evan bagaimana apa semuanya lancar?" tanya Shandra yang pasti mengerti apa yang di maksud Shandra dan Shandra ingin mendengar cerita putranya itu..


Namun terlihat begitu hening. Melody, Ardian, Alvi, Lea saling melihat dengan wajah mereka yang tampak murung. Hal itu juga membuat Eyang besar, Wida, Shandra dan Mila heran.


" Kenapa kalian pada diam?" tanya Shandra, " dan iya mana Rasti dia langsung pulang. Apa tidak mampir dulu mentang-mentang anak itu..."


" Aku kamar dulu," sahut Evan membuat Shandra tidak jadi melanjutkan kalimatnya dan Evan langsung pergi begitu saja.


" Ada apa dengan Evan?" tanya Eyang besar yang sudah merasa ada yang tidak beres.


" Tidak apa-apa eyang hanya sedikit ada masalah saja," jawab Ardian.


" Dan masalah itu juga yang membuat kalian pulang tiba-tiba?" tanya Eyang memastikan.


" Ada apa Ardian, semua baik-baik aja kan?" tanya Widia yang mulai khawatir.


" Kami sebaiknya istirahat sebentar. Kami begitu lelah. Kalau sudah tenang. Nanti kita semua akan bicara," sahut Alvin yang mengambil tindakan.


" Baiklah kalian semuanya sebaiknya istirahat saja," sahut Eyang besar.


" Baiklah!" sahut Ardian yang menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya untuk kekamar. Begitu juga dengan Alvin yang membawa istrinya untuk beristirahat.


" Apa lagi ini. Apa mereka ada masalah lagi?" tanya Widia mulai khawatir.


" Jangan terlalu di pikirkan Widia anak-anak sudah sangat dewasa dan sangat pintar. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik. Kamu jangan kepikiran apa-apa," sahut Eyang besar.


" Benar mah, sebaiknya mama juga istirahat saja," sahut Mila.


" Ya sudah Mila," sahut Widia.


" Kenapa Evan wajahnya tidak semangat saat seperti dia berangkat. Ada apa dengan anaku itu sangat tidak biasanya dia seperti itu," batin Shandra yang mengkhawatirkan putranya.

__ADS_1


************


Malam hari di ruang keluarga. Ada Ardian, Melody, Alvi, Lea, Shandra, Widia, Mila, Bayu, Vivi, Arya, dan Widia yang sudah berkumpul dan barusan saja mereka mendengarkan apa-apa yang di katakan Ardian. Apa yang di jelaskan Ardian mengenai apa yang terjadi yang membuat mereka akhirnya pulang tidak tepat waktu.


" Jadi Rasti menolak lamaran Evan," sahut Shandra yang tidak habis pikir.


" Bukan hanya menolak. Bahkan mengakhiri hubungan mereka," sahut Vivi.


" Apa yang terjadi kenapa bisa seperti itu. Bukannya mereka sebelumnya baik-baik saja," sahut Mila dengan wajah herannya.


" Seperti apa yang di katakan Ardian tadi. Jika alasan Rasti hanya karena tidak siap. Tetapi jelas aku dan yang lainnya sangat tidak percaya alasan itu," sahut Melody.


" Memang sangat tidak masuk akal. Jika hanya kata-kata tidak siap. Jelas-jelas Rasti juga ingin menikah dan kalau aku lihat Evan yang malah ragu," sahut Mila.


" Ya mungkin ada sesuatu yang membuat Rasti harus menolak dengan alasan seperti itu?" sahut Bayu.


" Biasanya memang pasti ada hal yang aneh," sahut Arya.


" Ya alasan dan hak aneh itu yang sedang berusaha kami cari dari Rasti," sahut Alvin.


" Kalian sudah bicara dengan Rasti?" tanya Widia.


" Sudah Tante, aku dan Melody sudah menemuinya. Namun Rasti tidak memberitahu apa-apa. Selain alasan itu saja. Namun aku dan Melody merasa jika ada sesuatu yang di sembunyikan Rasti," jawab Lea dengan sedikit penjelasan.


" Apa yang kalian curigai?" tanya Eyang besar.


" Kami tidak menemukan petunjuk apa-apa. Kami masih berusaha mencari tau," sahut Ardian.


" Sudahlah. Jangan melakukan apa-apa lagi. Jika Rasti sudah menolak anakku. Ya sudah untuk apa melakukan ini itu. Tidak ada gunanya. Wanita bukan hanya dia saja di dunia ini," sahut Shandra yabg tampaknya begitu kecewa.


" Kamu tenang dulu Shandra," ucap Widia.


" Tapikan Tante mungkin ada sesuatu hal yang besar makanya Rasti sampai menolak semua ini," sahut Melody.


" Apapun alasannya. Rasti bukanlah gadis yang tepat. Dia tidak dewasa. Menolak ya menolak saja. Tidak perlu memutuskan hubungan," sahut Shandra kesal.


" Tante," lirih Melody. Ardian memegang tangan Melody agar Melody tidak bicara lagi. Karena suasana yang di hadapi Shandra sedang panas. Ibu mana yang tidak kesal melihat anaknya menjadi pendiam dan pasti Shandra akan marah.


" Kalian jangan melakukan apa-apa lagi dan jangan menyebut nama wanita itu di rumah ini," tegas Shandra yang langsung pergi.


" Shandra!" panggil Widia. Shandra tidak peduli dan tetap pergi.


" Biarkan dia seperti itu. Dia hanya marah dan itu wajar," sahut Eyang besar.


" Tapi Tante Shandra tidak seharusnya membenci Rasti," sahut Lea.


" Jika kalian ingin melakukan sesuatu. Maka lakukanlah yang terbaik. Shandra atau Evan biarkan saja seperti itu dan semoga saja ada titik terang dari Rasti yang bisa bijak dalam tindakannya. Jadi Eyang tidak akan melarang kalian. Jika ingin berbuat sesuatu," jelas Eyang yang memberi semangat untuk cucu-cucu hebatnya itu.


" Iya Eyang kami memang akan terus menyelidiki semua ini dan semoga saja. Rasti dan Evan bisa kembali lagi," sahut Ardian.


Eyang dan yang lainnya mengangguk-angguk yang setuju saja apapun yang di katakan Ardian.


*********


Ardian dan Melody menuruni anak tangga dengan bergandengan tangan.


" Kalian mau kemana Ardian?" tanya Widia yang kebetulan ada di ruang tamu bersama Eyang besar.


" Mau ngecek kandungan Melody sebentar mah," jawab Ardian.

__ADS_1


" Hmmm, begitu rupanya. Ya kalian hati-hati ya semoga kandungannya baik-baik saja," sahut Widia mengusap perut Melody yang mulai membesar.


" Amin," sahut Ardian dan Melody dengan tersenyum.


" Hmmm, kalian nanti mampir ya ke rumah Dokter Axel untuk melihat Raisa sebentar, Eyang menitipkan ini untuk Dokter Axel," ucap Eyang dengan memberikan Ardian paper bag.


" Apa ini Eyang?" tanya Ardian.


" Itu hanya makanan. Kebetulan Dokter Axel kemarin menelpon dan katanya perkembangan Raisa sangat meningkat. Bahkan Raisa bicara sangat banyak. Dia juga ingin tiba-tiba makanan dari rumah ini. Jadi makanya Eyang memberikannya, menitipkan pada kalian. Semoga dia menyukainya," jelas Eyang.


" Ya sudah Eyang kalau begitu. Aku dan Melody akan mampir nanti," ucap Ardian.


" Ya sudah mah, kami pamit ya," ucap Melody mencium punggung tangan ibu mertuanya dan sama dengan Ardian yang juga melakukan hal yang sama pada Widia dan Eyang.


" Hati-hati," ucap Widia dan Eyang besar dengan serentak.


********


Raisa yang berada di tempat selama ini melakukan penyembuhan terlihat duduk di Sofa yang sekarang sedang makan bersama suster yang mana suster menyuapinya.


" Apa enak makananya?" tanya suster.


" Iya enak," jawab Raisa suster tersenyum. Yang mana Raisa belakangan ini memang sangat mudah berkomunikasi.


" Kalau aku lapar. Apa aku boleh minta lagi?" tanya Raisa dengan eksperesi sangat menunggu jawaban.


" Pasti Raisa, suster akan memberikan kamu banyak makanan. Supaya perut kamu kenyang," jawab Suster.


" Makasih Suster," sahut Raisa tersenyum. Suster juga mengangguk tersenyum.


" Hmmm, di mana Dokter Axel?" tanya Raisa yang tidak melihat Dokter nya itu.


" Saya di sini!" tiba-tiba suara Dokter yang khas itu sudah menyatu membuat Raisa tersenyum dan Axel pun langsung menghampiri Raisa.


" Apa harus mencari saya?" tanya Axel.


" Hmmm, tidak hanya menayakan saja," jawab Raisa gugup. Jika ada kegugupan berarti memang kondisinya mulai normal.


" Kalau begitu biar Dokter Axel yang melanjutkan tugas Suster. Suster kebetulan ada pekerjaan," sahut Suster yang berdiri.


" Tapi Suster," sahut Raisa yang mendadak panik dan Suster langsung pergi. Raisa jadi gelisah dan Dokter Axel langsung duduk di sampingnya menggantikan Suster.


" Kamu kenapa?" tanya Dokter.


" Tidak apa-apa," jawab Raisa gugup.


" Lanjutkan makannya ya!" ucap Dokter dengan lembut. Raisa mengangguk dan begitu gugup saat di suapi Dokter tampan di depannya itu.


" Kamu kenapa terlihat begitu gugup?" tanya Axel yang melihat dari postur tubuh Raisa.


" Tidak. Siapa yang gugup. Aku tidak kenapa-kenapa," sahut Raisa dengan panik. Axel tersenyum dan memegang tangannya membuat Rais semakin gugup dengan menelan salivanya.


" Tangan kamu dingin," ucap Axel.


" Hmmm, mungkin aku mau mati," sahut Raisa asal-asalan membuat Dokter Axel tertawa. Pasiennya itu sangat Random.


" Apa ada yang lucu?" tanya Raisa gugup.


" Kamu yang lucu. Jangan gugup Raisa. Saya tidak akan memakan kamu," ucap Axel. Raisa tiba-tiba saja. Jadi tersenyum malu-malu dengan perkataan Axel.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2