Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 260 baru tau rasa.


__ADS_3

Dokter Gita dan Ardian sekarang sedang berjalan sambil mengobrol dan di depan ruang perawatan Rasti ada Melody dan Lea yang menunggu di sana dan melihat Dokter Gita yang begitu dekat dengan Ardian.


" Heran sama Dokter itu. Sebenarnya mau apa sih suka amat ganjen-ganjen sama suami orang," cicit Lea dengan kesalnya melihat Dokter Gita.


" Aku juga nggak tau apa maunya. Memang dasar cari perhatian mulu kerjanya. Banyak yang orang. Tetapi harus Ardian yang yang di ajaknya bicara," sahut Melody yang tidak kalah kesalnya.


" Tidak Ardian tidak Alvin. Dia terus saja membuat ulah dengan mencari-cari perhatian dari suami orang. Memang dasar wanita kurang waras," umpat Lea bertambah emosi.


Mereka menceritai Dokter wanita itu dan sampai Ardian dan wanita itu menghampiri Lea dan Melody.


" Kamu sudah lama menunggu sayang," ucap Ardian.


" Hmmm," Melody hanya menjawab dengan deheman dengan wajahnya yang terlihat begitu kesal.


" Kapan operasinya di mulai?" tanya Lea dengan ketus pada Dokter Gita yang senyum-senyum sendiri itu.


" Saya sudah membicarakannya pada Ardian. Jadi bisa tanyakan langsung padanya. Jangan pada saya lagi," sahut Dokter Gita dengan santai.


Melody dan Lea sama-sama mengkerutkan dahi mereka yang rasanya ingin sekali mencabik-cabik mulut wanita di depan mereka itu.


" Kamu itu sebenarnya Dokter apa tidak," sahut Melody yang tiba-tiba kesal.


" Maksud anda apa?" tanya Dokter Gita tersinggung.


" Kayaknya ijazah ke Dokteran kamu perlu di periksa. Kamu lebih bukan seperti seorang Dokter. Tapi seperti wanita....." Melody tidak jadi melanjutkan kalimatnya yang sepertinya penuh sensor.


Sementara Gita terlihat tersinggung dengan menatap tajam Melody. Ardian sudah panik jika akan terjadi keributan. Kalau Lea sudah senyum-senyum saja yang mana Melody mewakilinya untuk memberi tau wanita itu.


" Maaf Bu Melody anda sepertinya salah paham," ucap Gita yang mulai serius dalam bicara.


" Kamu yang salah paham dan tidak mengerti mana dunia ke Dokteran dan mana dunia pribadi. Kamu sadar tidak dengan apa yang kamu lakukan. Di dalam sana ada pasien yang harus menentukan hidup dan matinya dan semua keluarga sedang memikirkannya. Namun kamu sibuk bicara ini, bicara itu dengan suami orang dan jika di tanya dengan manisnya mulut kamu mengatakan bahwa daya sudah mengatakan dengan si ini itu. Kamu pikir semua ini permainan hah!" ucap Melody dengan seriusnya yang pasti sudah tidak bisa menahan dirinya sejak tadi.


"Sayang sudah!" cegah Ardian.


" Bu Melody jaga sikap ibu ini rumah sakit dan Saya Dokter. Jadi tolong di perhatikan kata-kata ini!" tunjuk Gita.


" Apa yang salah dengan kata-kata saya hah!. Kamu tidak terima," sahut Melody dengan menantang Dokter Gita.

__ADS_1


" Saya sangat tersinggung dengan perlakuan Bu Melody. Saya hanya berusaha untuk kesembuhan pasien dan jika Bu Melody tidak minta maaf atas apa yang Bu Melody katakan. Saya akan lepas tangan dengan pasien di dalam sana," ucap Dokter Gita


Ardian kaget mendengarnya. Melody dan Lea mendengus kasar mendengar ucapan Gita tersebut. Apa yang di katakan Gita bersamaan dengan datangnya Evan dan Alvin yang juga mendengar kata-kata Gita.


" Apa maksud kamu Gita?" tanya Alvin.


" Alvin, kemarin istri kamu dan sekarang dia. Aku heran melihat kalian semua. Sepertinya aku tidak bisa menjadi Dokter untuk Rasti sebelum wanita ini minta maaf pada ku," ucap Gita menegaskan.


" Kenapa kau jadi membawa-bawaku. Itu semua kesalahan mu karena Dokter sepertimu tidak bisa menempatkan dirimu harus berada di mana," sahut Lea yang sejak tadi diam dan sangat menarik untuk ikut-ikutan bicara.


" Lea sudah," sahut Alvin yang kelihatan tidak mau ribut.


" Gita tolong jangan membawa masalah dengan serius. Rasti tidak tau apa-apa. Jadi jangan libatkan dia. Kamu Dokter dan tugas kamu untuk Rasti. Jadi tolong untuk melupakan kejadian ini," sahut Alvin dengan tegas.


" Benar Dokter Gita. Bukankah Rasti sudah di tangani Dokter beberapa hari ini lagi. Jadi saya mohon tolong selamatkan Rasti. Lakukan yang terbaik untuknya. Jika teman saya menyinggung Dokter. Maka saya yang mewakili untuk minta maaf," sahut Evan dengan wajahnya penuh memohon.


" Evan kau tidak perlu untuk minta maaf," sahut Melody merasa temannya itu kelewatan.


" Tidak apa-apa Melody. Aku hanya ingin yang terbaik untuk Rasti," sahut Evan.


" Saya tidak membutuhkan maaf kamu. Tetapi dia. Saya akan melakukan tindakan pada Rasti. Jika dia meminta maaf pada saya," sahut Gita menegaskan.


" Aku tidak sudi minta maaf padamu. Kau itu tidak tau bagaimana sikap dan kelakuan mu," sahut Melody yang to the point yang kalau tidak salah tidak akan meminta maaf.


" Melody!" lirih Evan yang berusaha membujuk Melody. Namun Ardian angkat tangan. Dia bisa menjadi sasaran kemarahan Melody kalau dia ikut-ikutan membujuk Melody meminta maaf.


" Kalau begitu maafkan saya Pak Evan saya tidak akan melanjutkan tindakan pada Rasti kalau dia tidak minta maaf," tegas Dokter Gita sekali lagi.


" Berani sekali kau menyuruh adikku minta maaf," tiba-tiba terdengar suara lantang yang membuat semua orang melihat ke arah suara itu.


" Kak Marsel!" lirih Melody yang melihat kakaknya melangkah dengan tegap yang menghampiri mereka dan sekarang berdiri di depan Dokter Gita.


" Maaf anda siapa?" tanya Gita.


" Kau yang siapa. Oh maaf pasti Dokter karena sudah berpakaian seragam Dokter," sahut Marsel.


" Gita, Ya itu mamamu Gita," sahut Marsel melihat papan nama Gita.

__ADS_1


" Saya Dokter Gita. Jadi jangan hanya memanggil nama saya," sahut Gita.


" Ini terakhir kalinya kau mendapat gelar Dokter. Karena apa. Aku akan melaporkan mu pada Direktur rumah sakit ini tentang kelakukanmu yang sudah melanggar kode etik kedokteran," tegas Marsel to the point


" Apa maksud anda," sahut Gita dengan wajahnya yang kelihatan terkejut.


" Kau itu Dokter. Tetapi kelakuanmu seperti tidak sekolah. Kau mengancam adikku dengan menggunakan pasien. Kau pikir nyawa pasien ada di tanganmu. Kau pikir hanya kau Dokter di rumah sakit ini," ucap Marsel yang memarahi Gita membuat Melody tersenyum mendapat pembelaan.


" Tetapi dia yang salah," sahut Gita.


" Dia tidak bersalah. Tetapi kau yang mencari masalah dengannya. Melody kenapa kau tidak mengatakan kepada wanita ini. Jika saham orang tuamu sangat besar di besar di rumah sakit ini. Kau hanya tinggal menelpon orang tuamu. Wanita langsung keluar dari rumah sakit ini. Kenapa kau punya pikiran menjadi Dokter abal-abal ini untuk pasien serius seperti Rasti," ucap Marsel dengan tegas.


" Bukan Melody yang mencari Dokter ini. Tapi suamiku yang memang sudah salah pilih sejak awal," sahut Lea dan Alvin diam tidak berkutik.


" Jadi sekarang kami tidak membutuhkan kau yang bertele-tele dalam menangani pasien. Karena kau bukan Dokter lagi di rumah sakit ini," tegas Marsel membuat Gita sekarang diam yang penuh dalam ketakutan yang tidak riwayatnya sebagai Dokter akan berakhir.


Melody tersenyum mendengarnya. Kesombongan wanita itu akhirnya sudah di dapatkannya hasilnya.


" Gita mungkin memang sebaiknya kamu tidak menjadi Dokter Rasti. Karena kamu sudah membuatku kecewa. Aku tidak mengerti ada apa denganmu yang lebih mementingkan hal lain dari pada pasien. Jadi mohon maaf. Kami tidak bisa memakai Dokter sepertimu lagi," sahut Alvin. Lea tersenyum mendengar suaminya yang akhirnya dengan bijak menuntaskan Dokter yang suka ganjen-ganjen dengan suami orang.


" Kalian semua keterlaluan," ucap Gita dengan kesalnya dan langsung pergi.


Melody menghela napas dan langsung menghampiri kakaknya dan memeluk kakaknya itu.


" Kakak ku yang paling terbaik, yang selalu ada di saat aku ada masalah," ucap Melody dengan tersenyum memeluk erat kakaknya.


" Kamu juga seharusnya pintar-pintar amat sedikit," ucap Marsel mengingatkan. Melody mengangguk-angguk.


" Evan jangan khawatir Rasti tidak akan berpengaruh dalam hal ini," ucap Marsel.


" Iya kak Marsel terima kasih jika harus ikut-ikutan dalam mengurus Rasti," sahut Evan.


" Seharunya kalian memang harus memberitahu masalah ini tapi apa. Kalian malah berusaha sendiri," sahut Marsel terlihat kecewa yang mana masalah itu bisa di atasinya tanpa bertele-tele seperti sekarang ini.


" Maaf kak kami hanya tidak ingin merepotkan," sahut Ardian.


" Hmmm, baiklah sekarang biarkan aku yang mengurus semua ini.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2