
Lea yang selesai menemui Rio kembali memasuki mobilnya. Lea memakai sabuk pengamannya begitu sudah duduk di kursi mengemudi. Lea menarik napasnya perlahan dan membuangnya kedepan.
Lea mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya dan melihat apa yang di tulis Rio.
" Alamat siapa ini!" batinnya yang melihat alamat itu.
" Aku harus cepat kesana. Sebelum semuanya terlambat. Bahkan Evan tadi sudah menelpon yang mana Eyang mau menyampaikan maksudnya pada Ardian, aku tidak bisa membiarkan semua itu. Aku harus cepat bergerak," gumam Lea dengan napasnya yang terhembus kedepan.
Tidak ingin mengulur-ulur waktu Lea pun langsung melajukan mobilnya untuk tujuan selanjutnya. Agar masalahnya selesai dengan sempurna.
********
Sementara Ardian dan Melody berada di dalam kamar, di mana terlihat wajah Melody yang begitu resah dengan Ardian merangkul bahunya yang duduk di sampingnya.
" Kamu jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja.
" Bagaimana aku bisa tidak khawatir dan bagaimana mungkin akan baik-baik saja. Kamu lihat apa yang terjadi. Aku yakin setelah ini Eyang akan memanggil kita dan akan mengatakan semuanya. Lalu bagaimana aku tidak khawatir," ucap Melody lagi.
" Iya, aku akan menyelesaikan semuanya. Kita tidak akan membiarkan, Tante Novi atau Raisa yang menjadi menang percayalah padaku," ucap Ardian yang hanya bisa meyakinkan istrinya. Namun Melody pasti meragukan hal itu. Karena dia tau keluarga itu gila-gila masalah hutang Budi.
Tok tok tok tok tok tok
" Iya siapa?" tanya Ardian dari dalam.
" Aliya kak, Eyang besar memanggil untuk bicara di luar," sahut Aliya.
Melody dan Ardian saling melihat baru saja di katakan Melody sudah terjadi.
" Baiklah, kami segera turun!" sahut Ardian.
" Iya kak," sahut Aliya.
" Semuanya akan baik-baik saja," ucap Ardian memberi keyakinan untuk Melody.
__ADS_1
******
Eyang besar, Widia, Mila, Shandra, Evan, Ardian, Melody sedang berkumpul di ruang keluarga yang pasti membahas masalah serius karena terlihat wajah-wajah tegang yang di tunjukkan orang-orang di sana.
" Ada apa Eyang memanggil kami untuk berkumpul di sini?" tanya Ardian yang perasaannya sudah mulai tidak tenang.
" Ardian ini untuk membahas Raisa," sahut Eyang besar.
" Mengeluarkan Raisa dari penjara itu maksud Eyang," sahut Ardian yang tampaknya sudah tau apa tujuan eyangnya mengumpulkan mereka di sana.
Eyang terdiam dan saling melihat dengan Shandra dan juga Ratih.
" Alasannya apa karena hutang Budi," sahut Ardian lagi yang sudah bisa menebak.
" Ardian, apa kita punya pilihan," sahut Eyang yang bicara tampak pasrah.
" Lalu bagaimana Eyang, jika Raisa sampai membunuh di rumah ini. Apa Eyang juga akan membebaskannya karena alasan yang sama, hutang Budi yang selalu di kaitkan," sahut Ardian yang benar-benar tegas dalam melakukan sesuatu.
" Hanya membebaskannya saja. Apa itu suatu yang sulit semua banyaknya yang di lakukan keluarga Raisa pada keluarga ini," sahut Novi yang tiba-tiba datang. Dengan pedenya Novi langsung berjalan menghampiri ruang keluarga itu.
Ardian dan Melody sama-sama berdecak kesal melihat wanita yang berjalan itu yang seolah-olah dia adalah pemenangnya.
" Ardian tolong kamu jangan egois saat ini. Ini bukan sepenuhnya salah Raisa. Tetapi istri kamu. Kamu jangan lupa dengan semua yang di lakukan keluarga Raisa pada keluarga kamu dan iya kamu jangan lupa Raisa sudah banyak mengalah dengan semua perbuatan kamu," sahut Novi yang mencoba mempengaruhi pikiran Ardian.
Melody hanya bisa mengumpat di dalam hatinya saat wanita itu yang bicara dengan suka-suka nya. Dan iya keluarga ini diam saja. Seharusnya Melody memang tidak heran dengan hal itu. Karena sebelumnya keluarga itu memang seperti itu.
" Jadi jangan lupakan kebaikan yang di lakukan Raisa," ucap Novi yang mengingatkan kembali pada Ardian.
" Aku juga tidak lupa dengan kejahatan Raisa yang menghancurkan hubunganku dengan Melody," ucap Ardian dengan penekanan yang membuat Novi terdiam.
Evan menyunggingkan senyumnya mendengar pernyataan Ardian, " emang enak," batin Evan yang merasa puas dengan balasan kata-kata Ardian.
" Ardian tidak semuanya apa yang kamu katakan benar mengenai Raisa dan lagian dia melakukan itu karena mencintaimu. Dia mengorbankan segalanya untuk mu. Jadi jangan menutup semua kebaikan Raisa untuk satu kejahatan dan itu pun karena perbuatan wanita itu," sindir Novi melihat sinis Melody.
__ADS_1
" Sama dengan kamu, jangan hanya terobsesi dengan satu tujuan sampai memanfaatkan masalah hutang Budi," sahut Melody yang membalas kata-kata Novi dengan tidak kalah sinisnya.
" Kamu tidak tau apa-apa Melody. Jadi jangan ikut-ikutan," sahut Novi.
" Tidak ikut-ikutan. Tetapi ini berhubungan denganku. Wanita itu di penjara terutama karena mencelakai Chaca. Jadi sudah jelas dia pantas di penjara dan iya mau kalian melibatkan masalah hutang Budi. Itu tidak ada kaitannya denganku, karena ini juga merupakan laporan kakakku. Jadi tetap masalah hutang Budi dalam keluarga ini. Tidak ada urusannya dengan kebebesan Raisa. Hukum tetap hukum!" tegas Melody.
Novi mengepal tangannya mendengar kata-kata Melody.
" Kita sudah bahas ini Eyang. Jadi aku tidak mau Eyang berubah pikiran," sahut Novi yang langsung melihat Eyang besar yang ingin meminta kepastiannya.
" Karena Eyang lihat sendiri. Bagaimana wanita ini tidak peduli dengan keluarga ini dia sangat egois, sungguh benar-benar egois," ucap Novi yang menyudutkan Melody mengambil kesempatan membuat nama Melody semakin jelek.
" Melody kita harus bicara 4 mata," sahut Eyang yang tampaknya ingin membujuk Melody.
" Tidak perlu Eyang," sahut Ardian mencegah.
" Ardian berikan waktu untuk Melody bicara dengan Eyang dulu," sahut Shandra.
" Tidak! tegas Ardian, " aku tidak setuju dengan pembebasan Raisa. Apapun alasannya. Semua ini demi kenyamanan istriku. Jadi aku minta tolong untuk tidak bertindak tanpa persetujuanku," sahut Ardian menegaskan.
" Tapi Ardian...." sahut Eyang besar.
" Dan jika kalian masih tetap melakukannya. Silahkan, silahkan Raisa di bebaskan, dia mau tinggal di rumah ini. Silahkan! lakukan semua sesuai dengan keinginan kalian. Tetapi aku akan pergi bersama Melody dari rumah ini," ucap Ardian menegaskan.
Penegasan Ardian membuat semua orang kaget. Termasuk Novi apa gunanya Raisa pulang kerumah ini. Kalau orang yang di incarnya tidak ada.
" Apa yang kamu bicarakan Ardian," sahut Eyang.
" Semua sudah jelas dan aku tidak mau kejadian sebelumnya terulang lagi. Jadi lakukan sesuai kemauan kalian aku dan Melody tidak peduli dan akan pergi dari sini," ucap Ardian menegaskan sekali lagi.
Melody tersenyum tipis dengan keputusan Ardian. Memang itu jauh lebih baik dengan begitu Melody tidak resah dengan kehadiran Raisa yang apa lagi jika hanya akan menjadi si perusuh tukang ganggu, tukang cari masalah.
Bersambung
__ADS_1