
Tidak lama Melody sampai Raisa juga akhirnya sampai rumahnya. Setelah turun dari Taxi Raisa langsung memasuki rumahnya dan Melody sudah tidak terlihat ada di teras rumah. Padahal Melody menunggu di sana sebelumnya.
" Apa aku tidak mengkuncinya," batin Raisa yang saat membuka pintu terlihat tidak di kunci.
" Astaga Raisa kamu ini benar-benar ya. Bisa-bisanya begitu teledor," ucap Raisa geleng-geleng dan langsung memasuki rumahnya. Rumahnya yang gelap dan Raisa langsung menghidupkan lampu.
" Aku begitu lelah. Aku sebaiknya langsung istirahat saka," ucap Raisa yang langsung memasuki kamarnya. Saat membuka pintu kamar Raisa yang terang dan Raisa begitu terkejut setelah melihat seseorang di kamarnya yang mana seorang wanita yang membelakanginya yang mengejutkan Raisa.
" Melody!" lirih Raisa. Melody membalikkan tubuhnya dan di tangan Melody terlihat beberapa benda salah satunya tespeck dan obat-obatan.
" Melody apa yang kau lakukan!" Raisa yang panik langsung mendekati Melody dan merampas semua yang di pegang Melody.
" Kenapa kau masuk kamarku sembarangan," ucap Raisa yang terlihat panik dan Melody hanya diam yang menatap Lea penuh dengan tanya.
" Kamu hamil?" tanya Melody langsung pada intinya. Hal itu mengejutkan Raisa.
" Apa yang kau bicarakan. Aku tidak hamil sama sekali," sahut Raisa yang langsung membantah.
" Lalu itu apa?" tanya Melody.
" Bukan urusanmu. Ini bukan milikku ini punya teman kerjaku yang dia kemarin menginap di sini. Ayo keluar dari kamarku," Raisa yang panik berusaha tenang dan menarik tangan Melody untuk keluar dari kamarnya. Namun Melody menahan kakinya sampai Raisa tidak bisa menariknya.
" Melody pergilah!" usir Raisa.
" Raisa hasil USGnya tertera atas nama kamu dan kamu masih bisa mengatakan jika itu milik orang lain," ucap Melody. Raisa perlahan melepas tangannya dari lengan Melody. Dia pasrah dengan Melody yang akhirnya mengetahui hal itu.
" Ada apa sebenarnya Raisa. Kamu hamil dan semuanya kenapa seperti itu. Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Melody dengan lembut yang sekarang memegang tangan Raisa yang terlihat bergetar. Raisa meneteskan air matanya dan langsung duduk di pinggir ranjang dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
" Raisa!" ucap Melody pelan dan langsung duduk di samping Raisa dengan memegang pundak Raisa.
" Kamu tidak perlu berbohong lagi. Kamu harus jujur ada apa sebenarnya dan mari kita selesaikan masalahnya," ucap Melody dengan lembut.
" Tidak bisa Melody. Masalahnya tidak akan selesai. Karena anak yang aku kandung akan lahir tanpa seorang ayah," ucap Raisa menangis mengatakan kepedihan hatinya.
" Apa maksud kamu. Apa ayah dari bayi itu tidak akan bertanggung jawab?" tanya Melody menatap Raisa serius.
__ADS_1
" Dia mana mungkin bertanggung jawab. Saat bertemu saja dia berpura-pura tidak mengenalku," sahut Raisa semakin menangis ketika melihat kepedihannya.
" Siapa ayah dari bayi itu Raisa. Kenapa dia tidak bertanggung jawab? Raisa dia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja kepada kamu. Apa yang terjadi Raisa. Ada apa sebenarnga katakan kepadaku siapa ayahnya aku akan membantumu untuk meminta pertanggung jawabannya," ucap Melody yang benar-benar ingin tau dan tidak bisa membiarkan Raisa menanggung semua itu sendirian.
" Aku yang salah Melody. Aku terlalu berharap banyak kepadanya. Aku merasa dia laki-laki yang tulus kepadaku. Tetapi aku salah setelah semuanya terjadi aku malah di tinggalkan dan mana mungkin dia bertanggung jawab dia sudah bertunangan dan aku tidak tau apa dia bertunangan saat kami menjalin hubungan atau sebelum itu," ucap Raisa menangis terisak-isak yang merasa hidupnya begitu menyediakan.
Melody mengamati setiap kata yang di keluarkan dari mulut Raisa.
" Siapa pria itu Raisa?" tanya Melody memastikan lagi. Namun Raisa terlihat masih tidak ingin menjawabnya. Masih menutupi siapa Pria yang menghamilinya. Melody memegang ke-2 bahu Raisa dan menatap wanita itu dalam-dalam.
" Katakan kepadaku siapa dia?" tanya Melody yang benar-benar ingin tau.
" Tidak ada gunanya dia tidak akan bisa bersama ku. Dia sudah bertunangan. Jadi percuma saja semuanya," sahut Raisa yang pasrah dengan kehidupannya.
" Apa ayah dari bayi itu adalah Axel!" tebak Melody. Raisa mendengarnya terdiam.
Dari semua penjelasan Raisa Melody bisa mengutip satu nama itu sebagai kesimpulan dari yang masalahnya. Yang mana hanya Axel yang bersama Raisa sewaktu Raisa sakit.
" Jadi dia orangnya!" sahut Melody yang sudah yakin pasti karena Raisa diam. Melody langsung memeluk Raisa dengan erat untuk menenagkan wanita itu.
" Kita akan cari jalan keluarnya Raisa kamu harus tenang. Kamu tidak sendirian. Aku ada bersamamu," ucap Melody yang menepuk-nepuk bahu Raisa. Dia harus menenagkan Raisa agar Raisa tidak merasa sendirian dan bisa tenang dalam menghadapi masalah berat itu.
************
Setelah mengetahui semuanya Melody kembali pulang kerumahnya dengan wajahnya yang sendu dan banyak pemikiran yang pasti memikirkan Raisa yang mana Raisa yang telah hamil. Melody memasuki kamar dan langsung duduk di pinggir ranjang.
" Apa yang harus aku lakukan!" ucap Melody yang penuh kebingungan yang tidak tau harus melakukan apa. Karena masalah Raisa.
" Aku sudah menduga dari awal. Jika Dokter Axel pasti ada apa-apa. Terlihat dia menghindari Raisa dan ternyata Raisa hamil anaknya dan dengan pengecutnya Dokter Axel tidak bertanggung jawab dan lebih parahnya seolah-olah tidak mengenal Raisa. Keterlaluan benar-benar sangat keterlaluan," batin Melody dengan mengepal tangannya yang terlihat emosi dengan Dokter Axel.
************
Rumah sakit jiwa.
Melody yang mendengar cerita lengkap dari Raisa memutuskan langsung menemui Dokter Axel. Raisa padahal mengatakan tidak perlu Axel tau masalah itu. Namun Melody tidak puas dan membuat janji untuk bertemu dengan Dokter Axel.
__ADS_1
" Ada apa ya Melody tumben sekali kamu menemui saya?" tanya Axel yang duduk berhadapan dengan Axel dan lihatlah wajah Melody melihat Axel dengan penuh kemarahan yang sepertinya ingin mencabik-cabik Axel.
" Melody kenapa kamu diam?" tanya Axel.
" Hmmm, saya ingin bertanya dengan Dokter. Dokter sudah berapa lama bertunangan?" tanya Melody. Mendengar perkataan itu membuat Axel her.
" Maksud kamu apa ya. Kenapa tiba-tiba harus bertanya masalah itu?" tanya Axel heran.
" Jawab saja Dokter. Karena saya ingin tau," sahut Melody.
" Apa Sintia membuat kekacauan lagi?" tebak Axel.
" Bukan dia yang membuat kacau keluarga kami. Tetapi Dokter," sahut Melody.
" Maksud kamu?" tanya Axel heran.
" Dokter dan Raisa. Kenapa Dokter meninggalkannya dan bertemu pura-pura tidak mengenal apa karena sudah bertunangan dan melupakan Raisa," ucap Melody yang langsung to the point.
" Melody apa yang kamu bicarakan. Pasien saya banyak dan bukan hanya Raisa saja. Jika ingat-ingat sedikit bukannya itu wajar," sahut Axel yang berusaha berbicara dengan tenang. Namun Melody mendengarnya mendengus kasar.
" Jadi semua pasien dokter juga. Dokter perlakukan seperti Raisa," sahut Melody sinis.
" Apa maksud kamu?" tanya Axel.
" Apa hubungan Dokter memang begitu dekatnya kepada pasien Dokter. Apa sampai juga pasien yang lain hamil lalu di tinggalkan," ucap Melody menahan kekesalannya.
Mendengar kata hamil membuat Axel terkejut dan langsung menatap Melody dengan serius.
" Kamu bilang hamil!" pekik Axel dengan suaranya yang tertahan.
" Jangan pura-pura bodoh. Apa yang Dokter lakukan kepada Raisa membuatnya hamil dan menanggung semuanya sendirian. Keterlaluan. Dokter adalah seorang Dokter yang menyembuhkan pasien. Namun Dokter melebihi batas Dokter yang membuat Raisa luluh. Raisa percaya dan hanya terbuka pada Dokter, dia sembuh karena Dokter yang di percayanya. Lalu apakah Dokter harus meminta imbalan dengan hal itu. Lalu meninggalkannya begitu saja," jelas Melody yang bicara terang-terangan mengenai Raisa.
" Dokter Axel benar-benar terkejut mendengar kata-kata Melody yang tidak percaya jika Raisa benar-benar hamil.
" Dokter membuatnya sembuh namun menghancurkannya kembali," ucap Melody dengan sinis. Axel mengusap kasar wajahnya yang tidak percaya dengan semua yang di katakan Melody yang rasanya benar-benar sangat mustahil.
__ADS_1
Bersambung