
Acara lamaran selesai begitu juga dengan pertukaran cincin yang sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Sekarang para tamu hanya tinggal menikmati makanan yang sudah di sediakan sebelumnya. Begitu juga dengan Ardian dan Melody yang sedang mengisi perut yang duduk di meja bulat yang bersama Rasti dan Evan
" Sayang Tante Iriana tidak turun juga sampai sekarang. Apa dia benar-benar tidak ingin mengucapkan selamat pada Lea," ucap Melody.
" Ya ampun Melody. Kamu sih baru kenal Tante Iriana. Dia itu nggak ada bedanya sama Lea. Sama-sama keras kepala. Jadi pasti dua tidak peduli dengan pertunangan Lea dan Alvin," sahut Evan yang sudah paham dan tidak perlu heran lagi.
" Tetapi kan ini hari bahagia Lea. Kita bahkan sudah memberi waktu untuk Tante Iriana bahkan lebih satu Minggu untuk berubah pikiran memberi Lea restu dan sampai saat ini juga tidak memberi Lea restu. Apa kah nanti sampai pernikahan juga akan seperti itu?" tanya Melody dengan sendu.
" Sayang, seperti yang kata Evan tadi Tante Iriana itu keras kepala. Apa yang dia katakan tidak akan dirubah dan semua itu karena kebenciannya," sahut Ardian.
" Aneh sekali ada ya seorang ibu seperti itu yang menganggap anaknya musuh dan terlihat jelas Tante Iriana tidak mau Lea bahagia," sahut Rasti dengan geleng-geleng kepala.
" Ya sudah kodratnya seperti itu. Jadi mau bagaimana lagi. Lihatlah bukannya turun dan mendampingi anaknya malah di kamar hanya diam saja," sahut Evan yang menghela napas kasar.
" Tapi tadi aku melihat kok. Tante Iriana ada di atas. Aku sih berharap dia turun. Tetapi ternyata tidak. Dia malah melihat acara pertunangan Lea dan Alvin dengan tatapan yang tidak suka," sahut Melody yang sebelumnya memang sempat melihat Iriana tadi.
" Ya namanya juga di dalam hatinya sudah tertanam kebencian ya mana mungkin tiba-tiba langsung memberi restu begitu saja. Ya kalaupun itu terjadi pasti dunia akan langsung kiamat," ucap Evan.
" Shutttt, kamu ini bawa-bawa kiamat segala," tegur Rasti.
" Ya habisnya semua itu hanya mustahil jika terjadi," sahut Evan.
" Sudahlah kita jangan memikirkan hal yang aneh-aneh. Yang penting acaranya berjalan dengan lancar. Alvin dan Lea bertunangan dan walaupun Tante Iriana kekeh tidak menyetujui hal itu. Tetapi acaranya sukses tanpa ada hambatan. Kita berdoa saja. Semoga kedepannya acara mereka juga berjalan lancar sampai pernikahan," ucap Ardian dengan bijak.
" Iya aku juga berdoa. Semoga secepatnya Tante Iriana bisa berubah pikiran dan menerima Alvin sebagai menantunya dan mereka mendapatkan restu yang semestinya," sahut Melody menambahi.
" Amin ya walaupun itu tidak mungkin," sahut Evan.
" Kita doakan saja yang terbaik," sahut Rasti.
***********
Lea sedang berjalan melewati ke taman belakang dengan memegang ponselnya.
__ADS_1
" Alvin benar-benar ya. Bisa-bisanya mau bertemu sudah di beritahu sebelumnya jika tidak boleh bertemu dulu. Tetapi tetap saja tidak sabaran. Issss kamu benar-benar ya Alvin," batin Lea yang berjalan cepat dengan melihat-lihat ke sekitarnya yang sepertinya takut ada seseorang yang melihatnya ya dia mencuri-curi waktu untuk menemui pacarnya yang sedang ngebet itu mau menemuinya.
Dalam langkah Lea tiba-tiba tangannya di tarik yang membuat Lea kaget dan ternyata itu pekerjaan Alvin yang sekarang sudah menghimpit tubuhnya ke dingding yang tidak membiarkan wanita itu pergi jauh darinya.
" Alvin kamu itu apa-apaan sih!" ucap Lea dengan panik.
" Memang aku kenapa hah! aku hanya ingin bertemu denganmu. Apa itu suatu kesalahan?" tanya Alvin.
" Tidak. Itu bukan kesalahan bagiku. Hanya saja aku sudah mengatakan. Jika kita berdua harus melakukan hubungan berjarak sampai pernikahan," ucap Lea.
" Tapi aku tidak menunggu lama-lama. Ini saja sudah entah berapa lama. Aku tidak bisa menahan rindu Lea. Apa lagi saat melihatmu tadi. Kau sangat cantik dan itu membuatku bergetar," ucap Alvin mengeluarkan jurus mautnya untuk merayu Lea.
" Jadi hanya tadi aku sangat cantik dan sekarang tidak?" tanya Lea.
" Kamu cantik bagiku setiap hari dan sekarang juga iya," jawab Alvin membuat Lea tersenyum.
Alvin yang sepertinya merindukan Lea mendekatkan wajahnya pada Lea yang sepertinya ingin mencium bibir Lea yang begitu di rindukannya. Namun saat bibir itu hampir menempel Lea langsung menutup mulut Alvin dengan 2 jarinya.
" Aku sudah mengatakan tidak boleh," cegah Lea
Lea menggelengkan kepalanya, " tidak boleh Alvin. Kita harus menunggu sampai pernikahan kita. Jadi kamu harus belajar untuk sabar," ucap menegaskan.
" Kalau begitu mari menikah sekarang," ucap Alvin.
Lea langsung tertawa mendengarnya, " kamu itu aneh-aneh saja harus menikah sekarang," ucap Lea geleng-geleng dengan kelakukan kekasihnya itu yang terlihat sudah tidak sabaran.
" Lea!" tiba-tiba terdengar suara yang membuat Lea kaget dan langsung panik dengan melihat ke arah Alvin.
" Suara Eyang!" ucap Lea. Alvin menganggukkan kepalanya yang memang mendengar suara Eyang.
" Bagaimana ini. Eyang bisa marah jika melihat kita bertemu diam-diam seperti ini," ucap Lea panik.
" Lea apa kamu ada di sana?" tanya Eyang. Lea yang adanya semakin panik yang melihat keberadaan Eyang.
__ADS_1
" Lea!" panggil Eyang lagi.
" Bagaimana ini?" tanya Lea dengan suara pelan.
" Sudah kamu sana temui Eyang. Biar aku aja di sini dan kamu ajak Eyang pergi. Baru nanti aku akan menyusul," ucap Alvin memutuskan. Lea mengangguk-anggukkan kepalanya dan langsung menunjukkan dirinya dengan tarikan napas yang panjang.
" Iya Eyang!" sahut Lea yang berusaha untuk tenang.
" Kamu ngapain di sana?" tanya Eyang heran.
" Oh, aku tidak, tidak apa-apa. Tadi hanya mengangkat telpon saja," jawab Lea dengan gugup.
" Kamu ini ada-ada saja, mengangkat telpon selama itu. Ayo kembali ke sana. Soalnya keluarga Alvin mau pulang!" ucap Eyang.
" Iya Eyang!" jawab Lea dengan mengangguk tersenyum kaku.
" Eyang juga tidak melihat Alvin. Apa kamu tau dia di mana?" tanya Eyang.
Mendengar hal itu membuat Lea panik.
" Gawat bagaimana ini. Bagaimana kalau Eyang tau aku bohong dan tadi malah bersama dengan Alvin," batin Lea yang begitu paniknya.
" Lea!" tegur Eyang.
" Ha iya Eyang," sahut Lea.
" Kamu lihat Alvin atau tidak?" tanya Eyang lagi.
" Oh tidak Eyang, mungkin saja mengobrol sama Ardian. Soalnya tadi Lea tidak ada bertemu dengannya," jawab Lea dengan gugup yang pasti penuh dengan kebohongan. Karen kelas dia barusan bertemu dengan Alvin.
" Ya aneh juga sih jika kamu malah mencuri-curi waktu untuk bertemu dengannya. Ingat kamu harus dengarkan apa kata Eyang," ucap Eyang menegaskan pada Lea.
" Iya Eyang pasti," sahut Lea dengan tersenyum kaku.
__ADS_1
" Ya sudah ayo kita kembali!" ajak Eyang Lea mengangguk-angguk dengan menghela napas panjang yang akhirnya selamat juga.
Bersambung...