
Melody begitu senangnya dengan kehadiran sang kakak yang datang tepat waktu dan sekarang Melody mengantarkan kakaknya ke mobil dengan terus merangkul lengan kakaknya. Sementara Ardian mengikut di belakang.
" Makasih ya kak untuk hari ini. Kakak itu memang kakak Melody yang paling terbaik. Kakak sudah ada untuk Melody dan wanita itu sekarang dia tau rasa," ucap Melody dengan langkah mereka yang sama-sama berhenti di depan mobil Marsel yang terparkir.
" Kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih untuk kakak. Semua kakak lakukan demi kebaikan kamu. Untuk lain kali ada apa-apa. Kamu harus cerita pada kakak. Jangan seperti ini kejadiannya lagi," ucap Marsel.
" Iya kak Marsel pasti," ucap Melody dengan tersenyum.
" Ardian kamu jangan buat Melody cemburu buta seperti itu ya," ucap Marsel menegur Ardian.
" Siapa yang cemburu kak," sahut Melody mengeles.
" Jangan mengeles. Apa namanya kalau tidak cemburu sampai kamu harus menceramahi Dokter itu," ucap Marsel menggoda adiknya.
" Kakak jangan khawatir. Aku tidak akan membuatnya cemburu lagi. Kejadian tidak akan terjadi lagi," sahut Ardian dengan tersenyum.
" Issss, siapa yang cemburu sih," sahut Melody.
" Ya sudah kalau begitu kakak pulang dulu," ucap Marsel berpamitan.
" Ya sudah kak. Kakak hati-hati ya," ucap Melody.
" Iya Melody. Ardian titip Melody ya dan masalah Rasti kalian jangan khawatir. Dokternya hari ini datang dan akan menangani masalah Rasti. Kamu bantu Evan saja menandatangani semua surat-suratnya. Agar Rasti cepat di proses," ucap Marsel.
" Iya kak Marsel, terima kasih sekali lagi karena sudah membantu kami," sahut Ardian.
" Iya, kakak pulang dulu!" ucap Marsel menepuk bahu Ardian dan Melody melambaikan tangan pada kakaknya itu.
" Daaaaa," ucap Melody dengan senyumnya dan Ardian merangkul bahu istrinya itu.
" Jadi tadi istriku sangat galak itu karena cemburu!" ucap Ardian dengan menaikkan satu alisnya melihat Melody.
" Kegeeran siapa juga yang cemburu," sahut Melody yang tidak mau mengakuinya.
" Jadi tidak cemburu?" tanya Ardian yang menatap istrinya penuh selidik.
__ADS_1
" Tidak sama sekali!" tegas Melody. Ardian hanya mengangkat ke-2 bahunya dengan senyum-senyum sendiri.
" Kenapa senyum-senyum. Aku memang tidak cemburu. Tetapi aku kesal dengan Dokter itu dan sekarang tau rasa dia sudah mendapatkan pelajaran dari perbuatannya sendri pakai acara mengancam segala lagi," ucap Melody dengan mulutnya yang kerucut yang benar-benar masih kesal dengan Gita yang tadi bicara padanya.
" Jangan marah-marah sayang. Sekarang dia sudah tidak menangani Rasti lagi. Jadi istriku yang cantik ini jangan marah lagi," ucap Ardian.
" Baiklah, aku memang sekarang jauh lebih bahagia. Ya sudah sekarang ayo kita masuk. Ingat kata kak Marsel kamu harus bantu Evan," ucap Melody.
" Baik sayang," sahut Ardian yang mengajak istrinya yang kembali memasuki rumah sakit.
**********
Sementara di sisi lain Alvin dan Lea yang sedang duduk di salah satu bangku di dekat ruang perawatan Rasti.
" Untung saja bukan aku yang tadi bicara. Kalau tidak pasti Gita akan merasakan hal yang jauh lebih sakit lagi dengan kata-kata ku. Padahal aku sudah ingin mengatainya yang lebih parah lagi dari pada Melody tadi. Hanya saja aku masih menahannya," ucap Lea dengan wajahnya yang terlihat begitu dendam pada Gita.
" Benarkah begitu?" tanya Alvin.
" Ya benarlah, aku hanya menahan diri saja. Aku bahkan ingin menarik rambut wanita itu yang sudah berani menggoda kamu. Dia juga sudah mengataiku ini dan itu. Huffffff aku benar-benar ingin menerkamnya!" ucap Lea lagi.
" Aku sudah mengatakan kalau aku yang bicara akan lebih parah lagi. Makanya aku membiarkan Melody yang melawannya. Karena dia bukan tandinganku dan seharusnya kamu itu seperti kak Marsel langsung tegas. Lihat kak Marsel yang langsung pasang badan untuk istrinya, set-set langsung deh wanita itu di hempas," ucap Lea.
" Jadi sekarang ceritanya sedang membela Marsel. Atau sangat mengaguminya," sahut Alvin yang menatap istrinya dengan mengintimidasi.
" Bukannya memang dia yang terbaik, sangat teliti dan langsung to the point," sahut Melody.
" Ohhhh, begitu rupanya," sahut Alvin mengangguk-angguk. Lea tersenyum melihat suaminya yang rada-rada kesal dan Lea langsung mencubit ke-2 pipi suaminya itu sampai mengembang.
" Ya ampun cepat amat marahnya!" geram Lea dengan gemes mencubit pipi suaminya dengan Alvin yang melotot menahan sakit.
" Aku hanya bercanda sayang. Bagiku kamu yang paling terbaik," ucap Lea dengan tersenyum dan melepas tangannya dari pipi suaminya. Lalu mengecup bibir suaminya.
" Makanya jangan membuatku kesal!" ucap Lea. Alvin menyunggingkan senyumnya menarik tangan Lea sehingga Lea lebih dekat lagi dengannya dan mata Alvin turun pada bibir Lea yang di pastikan ingin meraih bibir itu.
" Ehem!" Ardian berdehem kuat sembari batuk-batuk membuat dua orang yang ingin berciuman itu jadi tidak jadi.
__ADS_1
" Ini rumah sakit. Masih aja cari kesempatan," ucap Ardian mengejek. Alvin dan Lea sama-sama tersenyum.
" Namanya juga sudah halal," sahut Lea yang tersenyum.
" Iya deh yang sudah halal. Tetapi nggak di depan umum juga kali," sahut Melody.
" Iya-iya," sahut Lea.
" Oh iya Evan mana?" tanya Ardian.
" Lagi mengurus surat-surat operasi Rasti," jawab Alvin.
" Ya sudah sayang sana kamu temani Evan, aku akan telpon mama, Eyang dan yang lainnya. Karena Rasti akan di operasi hari ini," ucap Melody.
" Iya sayang," sahut Ardian yang mengingat perkataan Marsel sebelumnya, " ayo Alvin!" ajak Ardian. Alvin mengangguk dan Ardian dan Alvin pun langsung pergi menyusul Evan.
Melody duduk di samping Lea dan mereka sama-sama menghela napas saling melihat dan tersenyum langsung berpelukan.
" Akhirnya si Dokter itu tidak bisa membuat tingkahnya lagi," ucap Lea ternyata itu yang membuat dia begitu bahagia.
" Kamu benar. Kau lega sekarang. Bukan hanya dia Dokter satu-satunya," sahut Melody.
" Kamu sangat keren Melody," puji Lea melepas pelukannya dan memberikan 2 jempol pada Melody.
" Siapa dulu kamu gurunya," sahut Melody. Lea tersenyum mendengarnya.
" Semoga saja setelah ini semuanya akan baik-baik saja. Semoga Rasti bisa sembuh dan penyakitnya tidak ada lagi," ucap Lea dengan penuh doa dan harapannya.
" Aku juga berharap seperti itu. Kita doakan saja yang terbaik. Aku sangat berharap dia dan Evan bisa hidup bahagia," sahut Melody yang tidak kalah mendoakan sahabatnya yang terbaik.
" Amin. Kita sama-sama berdoa ya," ucap Lea. Melody mengangguk dan mereka kembali berpelukan.
1 masalah bisa terselesaikan. Memang yang menjadi korban Lea dan Melody yang menahan api cemburu karena godaan dari Dokter yang memang sangat pecicilan.
Bersambung.
__ADS_1