
Melody berhasil melarikan diri dan sampai Jakarta dan tidak tau Melody sampai Jakarta bagaimana ceritanya. Melody berusaha untuk menelpon kakaknya untuk menjemputnya. Sewaktu berada di lampu merah Melody yang terus berjalan tertatih-tatih tiba-tiba melihat Ardian.
" Kak Ardian," lirih Melody yang melihat Ardian memasuki mobil.
" Kak Ardian!" panggil Melody yang berusaha menyebrang di tengah banyaknya mobil yang berlewatan. Namun langkah Melody terhenti dengan tiba-tiba Raisa datang yang berlari ke arah Ardian dan langsung memeluk Ardian.
Melody diam di tempat dengan melihat jelas dari kejauhan. Ardian dan Raisa yang setelah selesai berpelukan langsung di gandeng Raisa menuju mobil dan saat memasuki mobil.
Melody melihat dengan jelas di mana wajah Ardian berdekatan dengan Raisa dan seperti orang yang berciuman. Apa yang di lihat Melody membuat air mata Melody menetes dengan sakit hati yang melihat apa di depan matanya.
Ting.
Tiba-tiba notif pesan masuk kedalam handphone Melody dan Melody langsung membukanya.
..." Kau hanya sampah yang sudah tidak bisa di pakai, jadi kembali ketempatmu tong sampah. Dasar anak kecil bodoh. Mau saja di rayu dalam cinta. Ardian adalah kekasihku dan kau hanya di jadikan selingan dan juga untuk di permainkan. Makanya kau di serahkan kepada orang-orang itu. Jangan pernah temui Ardian lagi manusia bodoh,"...
Air mata Melody menetes pada layar ponsel itu dan tiba-tiba terkirim foto di mana Ardian dan Raisa berada di atas tempat tidur yang Raisa memeluk Ardian dan ke-2 tubuh mereka di tutupi selimut.
" Arggghhhh!" teriak Melody yang langsung terduduk yang merasa hancur berkeping-keping kenyataan yang di terimanya.
Melody berteriak di tengah jalan dengan menjambak rambutnya sendiri seperti orang gila. Suara klakson kendaraan sama sekali tidak di pedulikan. Dia berusaha meloloskan diri dari teman-teman Ardian, melarikan diri dari puncak sampai Jakarta.
Apa yang di dapatkannya penghiyanatan dari Ardian. Setelah hidupnya di hancurkan berkeping-keping. Kehormatannya hilang dan
hancur semuanya.
Flash on.
__ADS_1
Air mata Melody menetes saat tubuh itu masih terbaring di atas ranjang. Luka yang teringat membuatnya yang tertidur meneteskan air mata yang keluar dari pelupuk mata yang terpejam itu.
Sementara Ardian yang berada di taman belakang yang duduk seperti orang frustasi. Saat dia mengingat kejadian yang terjadi padanya dan Melody saat itu. Beberapa kali Ardian mengusap kasar wajahnya, mengusap kepalanya frustasi yang mengingat kejadian.
" Aku sudah mengatakan Melody bertanggung jawab saat itu. Tapi apa, kamu malah pergi dan menghiyanatiku, kamu tidak peduli dengan apa yang terjadi," batin Ardian dengan suara beratnya dengan napasnya naik turun.
" Lalu apa maksud perkataan mu Melody. Apa yang kau katakan teman-teman ku, apa maksudmu Melody. Saat aku kembali ketempat itu. Kau pergi dan mereka mengatakan kau pergi di jemput Pria dan bahkan bermesraan di mobil. Melody kenapa kau membuat banyak teka-teki," batin Ardian yang ternyata saat dia kembali setelah pulang mengisi bensin ada sandiwara yang di lakukan oleh teman-temannya untuk menutupi apa yang terjadi tanpa sepengetahuan Ardian.
" Melody!" teriak Dania. tiba-tiba Dania berteriak dengan suara yang menggelegar yang membuat Ardian tersentak kaget.
" Pah, Melody!" teriak Dania.
" Melody!" lirih Ardian yang langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung lari dengan cepat memasuki rumah untuk mengetahui apa yang terjadi.
Ardian pun langsung memasuki kamar Melody dan melihat mertuanya sudah di tempat tidur yang melihat Melody, Gadis dan Marsel juga ada di sana dan mengerumuni Melody. Sampai Ardian tidak bisa melihat apa yang terjadi pada Melody.
Ardian pun melangkah masuk dan mendekati istrinya di tengah kepanikan dan Ardian melihat Melody yang tetap tertidur. Namun air matanya terus menangis tanpa suara dan keluar darah dari hidungnya yang begitu deras. Hal itu membuat Ardian kaget yang pertama kali melihat Melody dalam kondisi seperti itu.
" Melody!" lirih Ardian dengan suara beratnya. Marsel mendengar suara Ardian dan membalikkan tubuhnya. Marsel langsung mendekati Ardian dan langsung menarik kerah baju Ardian dan mendorong Ardian keding-ding.
" Apa yang kau lakukan kepadanya?" teriak Marsel dengan matanya yang melotot yang ingin menerkam Ardian.
" Mas, sudah," sahut Gadis yang memegang tangan suaminya yang berusaha untuk menghentikan suaminya yang ingin memukul Ardian.
" Marsel cukup, kamu lihat kondisi adik kamu," sahut Dania menggertak Marsel.
" Pasti terjadi sesuatu yang di lakukan si brengsek ini sampai Melody bisa kumat seperti ini," teriak Marsel menunjuk Ardian.
__ADS_1
" Apa maksud kakak, kumat. Apa yang kakak katakan," tanya Ardian dengan penuh kebingungan dengan kata-kata Marsel. Seolah Melody sering mengalami hal itu.
" Marsel sudah dari pada kamu ribut kamu telpon Dokter," sahut Wawan menggertak Marsel.
" Mas, tenangkan diri kamu. Cepat kamu hubungi Dokter Lia," sahut Gadis yang memberi saran.
Marsel menenangkan dirinya mengatur napasnya dengan tenang dan langsung menghubungi Dokter yang sepertinya khusus untuk Melody. Dan Ardian langsung menghampiri Melody. Dania menyinggir dari samping Melody dan membiarkan Ardian yang ada di sana.
" Melody bangun," ucap Ardian yang panik dengan memegang tangan Melody yang panasnya minta ampun, sementara Dania terus melap darah yang keluar dari hidung Melody.
" Apa yang terjadi padamu Melody. Kenapa kau menyiksaku dengan tidak mengatakan apa-apa. Katakan sesuatu Melody, katakan," ucap Ardian yang begitu panik melihat kondisi istrinya yang tidak pernah di duganya. Jika Melody akan bisa seperti itu.
Jika Marsel menyalahkannya dan itu memang iya semua karena pertengkarannya yang berlarut-larut sampai akhirnya, hal buruk itu kembali menghantui Melody dan mengakibatkan Melody seperti itu. Padahal Melody sudah lama tidak seperti itu.
*************
Suasana sudah lumayan tenang dan hanya tinggal menunggu Dokter Lia yang di katakan keluarga Melody dan katanya sedang di Luar kota dan memburu untuk datang makanya sampai saat ini tidak datang juga.
Sementara Ardian duduk di samping Melody yang menatap sendu wajah Melody yang masih tetap terpejam, Ardian mengusap pipi Melody dengan lembut yang masih ada bekas air mata di sana.
" Tidak mungkin jika kita hanya putus membuatmu hancur. Apa yang terjadi Melody setelah itu. Katakan kepadaku Melody," ucap Ardian yang benar-benar penuh tanda tanya dengan apa yang terjadi kepada Melody saat itu.
" Aku tidak mendapatkan apa-apa. Jika hanya diam terus. Aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Jika hanya bertanya. Melody seakan tidak ingin memberitahu apa-apa. Dia diam tanpa bicara sekalipun, dia membenciku, mengatakan aku menghiyanitanya, membawa teman-teman ku. Lea, dia bukannya juga ada di sana dan Lea belakangan ini sering mempengaruhi Melody. Tempat itu adalah kuncinya. Karena tempat itu yang membuatku dan Melody selai saat itu.
" Aku harus bergerak untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya," batin Ardian dengan tekatnya yang bulat yang ingin fokus satu titik.
Bersambung
__ADS_1