
Ardian pun selesai berbincang-bincang dengan petugas dan langsung menghampiri Melody.
" Ayo!" ajak Melody dengan menggenggam tangan Melody.
" Apa harus?" tanya Melody yang masih ragu.
" Ya harus lah, kita sudah nungguin dan jika tidak maka akan sia-sia," ucap Ardian.
" Tapi itu terlalu tinggi, aku takut," ucap Melody melihat keatas yang merasa terlalu takut ketinggian.
" Aku tau kamu takut ketinggian. Tapi kamu tidak takut ketinggian jika bersamaku. Jadi ayo," ucap Ardian dengan lembut. Melody hanya diam. Dari dulu dia memang takut ketinggian.
Tetapi dengan Ardian di sisinya Melody tidak pernah takut. Melody tidak punya pilihan dan mengikuti Ardian saja yang mana mereka sudah memasuki balon udara dan di dalamnya hanya ada Ardian dan juga Melody. Balon udara itu perlahan naik dan membuat Melody semakin takut terlihat dari tangannya yang memegang baju Ardian yang mulai takut dan tidak berani melihat kebawah.
Ardian tersenyum meraih ke- tangan Melody untuk di genggamnya yang tau Melody tidak tenang karena balon itu semakin tinggi. Melody bahkan sampai memejamkan matanya yang tidak berani untuk melihat kebawah. Ardian memegangi ke-2 bahu Melody dan membelikan tubuh Melody agar Melody bisa melihat kebawah sementara Ardian berdiri di belakangnya.
" Jangan takut Melody. Buka mata kamu," ucap Ardian yang memegang pundak Melody.
" Aku takut. Aku tidak mau. Kita turun saja," ucap Melody.
" Jangan takut kamu buka saja mata kamu dan percaya padaku. Jika semuanya akan baik-baik saja," ucap Ardian. Melody pun perlahan membuka matanya dan langsung melihat kebawah.
Melody begitu takjub melihat pemandangan indah dari atas, dia berada di udara yang bisa melihat pijakan bumi yang yang indah dengan lampu-lampu sangat indah membuat terukir senyum di wajah Melody. Melody menengok kearah Ardian yang ada di belakangnya.
__ADS_1
" Kamu suka?" tanya Ardian. Melody menganggukkan kepalanya.
" Kamu masih takut?" tanya Ardian. Melody menggelengkan kepalanya.
Melody menikmati pemandangan itu dengan tiupan angin yang selow yang membuat rambutnya menari-nari. Ke- tangannya di letakkannya di pinggiran pagar dengan menghirup udara dalam-dalam. Seakan-akan Melody melupakan semua masalah yang terjadi dalam hidupnya. Dia melupakan segala keributannya dengan Ardian yang tidak habisnya.
Ardian semakin mendekati Melody dengan meletakkan ke-2 telapak tangannya di atas tangan Melody dan membuat Melody sedikit kaget dan menengok ke belakang dengan Ardian yang menempelkan wajahnya di pipi Melody.
" Aku suamimu Melody yang tidak harus kau takuti," ucap Ardian berbisik pelan di telinga Melody yang membuat Melody merinding. Namun sedikit tidak nyaman dengan Ardian yang memeluknya erat dari belakang. Ardian membalikkan tubuh Melody perlahan dengan mereka yang sama-sama saling berhadapan dengan wajah Melody yang gelisah melihat kesamping yang tidak ingin menetap Ardian.
Ardian mencium lembut kening Melody yang membuat Melody memejamkan matanya. Namun dia semakin gugup. Ardian memegang dagu Melody mensejajarkan wajah Melody padanya sehingga Melody menatap mata Ardian.
" Nyamanlah bersamaku," ucap Ardian.
" Maksudmu?" tanya Ardian.
" Ardian pernikahan kita terjadi begitu saja dengan kita berdua yang saling membenci dan orang yang saling membenci karena masa lalu di satukan dalam pernikahan kamu menyuruhku untuk nyaman bersamamu. Tetapi menempatkan orang ke-3 di antara kita. Orang yang sama seperti dulu. Apa aku bisa nyaman," ucap Melody.
" Melody aku sudah menyelesaikan hubunganku dengan Raisa. Aku hanya ingin fokus pada pernikahan kita," ucap Ardian.
" Kamu menyelesaikan hubunganmu dengan Raisa hanya karena keluargamu yang memintanya bukan dari keinginan kamu sendiri dan apa yang kamu lakukan dari tadi kepadaku hanya berusaha untuk mengecoh hatiku. Kamu ingin membuatku nyaman bersamamu dan akhirnya rasa penasaran mu yang ada di pikiranmu kamu dapatkan dan setelah itu apa kamu akan kembali seperti Ardian yang sesuangguhnya," ucap Melody yang seakan tau arah mana tujuan Ardian memperlakukan Melody.
" Apa maksud kamu Melody?" tanya Ardian dengan suara seraknya.
__ADS_1
" Kau ingin taukan apa yang terjadi, itu kan yang membuatmu melakukan ini. Kau seakan-akan tidak tau apa yang terjadi. Kau pura-pura tidak tau apa yang terjadi. Kau bersandiwara padahal kau yang merencanakannya. Aku tidak tau Ardian yang kau lakukan ini sebuah penebusan atau hanya untuk membuatku melupakan semua itu," ucap Melody dengan matanya berkaca-kaca.
" Jujur Ardian aku tidak mengingat apapun tentang masa indah yang pernah kita lalu 4 tahun lalu. Namun aku mengingat kejadian satu hari yang menghancurkan segalanya dan itu dari tanganmu sendiri. Jadi percuma kau bersandiwara kepadaku. Pura-pura tidak tau dan seakan-akan merasa bersalah yang pada kenyataannya kau tertawa bersama Raisa saat melihat kehancuran ku untuk ke-2 kalinya," ucap Melody dengan air matanya yang menetes.
" Melody aku tidak berpura-pura tidak tau. Aku tau jika malam itu kita melakukan hubungan itu dalam kondisi tidak sadar dan saat pagi kita masih bicara. Kau juga pasti mengingat kata-kata ku saat itu. Aku tidak melupakan itu Melody. Tapi aku sungguh tidak tau apa-apa setelah itu," ucap Ardian jujur apa adanya.
" Tidak Ardian kau tidak harus membahas masalah itu. Jika itu untuk Melody kejadian tadi malam terulang. Melody menganggap ada titik salah. Percuma kau menjelaskan atau berkata banyak padanya. Melody hanya akan seperti ini terus sebaiknya aku tidak melanjutkan pembicaraan ini," batin Ardian yang ingin bicara lagi. Namun menghentikannya karena melihat perubahan sikap Melody yang kembali dan membuat Ardian khawatir kepadanya.
Ardian memegang ke-2 tangan Melody dan menciumnya dengan lembut.
" Aku tidak perduli apa pikiranmu kepadaku. Aku juga tidak peduli kebencianmu seberapa besar kepadaku. Yang jelas aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan," ucap Ardian yang menatap Melody dalam-dalam.
Ardian mendekatkan wajahnya pada Melody dan mengecup bibir Melody membuat Melody sedikit kaget.
" Jika kau mengatakan aku hanya berusaha membuatmu nyaman bersamaku. Memang iya aku ingin kau tetap nyaman di sisi ku dan kau tau mana yang bersandiwara dan mana tidak," ucap Ardian yang langsung mencium bibir Melody lagi dan kali ini tidak mengecupnya Ardian ******* lembut bibir Melody, Melody awalnya ingin memberontak. Namun Melody tidak punya kuasa dan perlahan memejamkan matanya dengan ciuman yang yang semakin dalam dari Ardian.
Ke-2 tangan Melody yang memegang kuat baju Ardian dengan Ardian yang memegang wajah Melody yang membawa Melody lebih dekat lagi kepadanya agar bisa mencium dalam-dalam dengan menelusuri mulut istrinya.
" Aku hanya berusaha untuk memperbaiki segalanya Melody," batin Ardian.
" Aku tidak bisa membedakan mana kebenaran dan mana hanya sandiwara," batin Melody.
Bersambung.
__ADS_1