Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 51 pelajaran ke-2.


__ADS_3

Raisa sedari tadi marah-marah di dalam mobil yang mana Novi yang menyetir sedari tadi.


" Apa ini yang Tante inginkan?" tanya Raisa melihat ke arah Novi. Dengan wajah Raisa yang memerah dan marah-marah yang penuh emosi.


" Apa maksud kamu?" tanya Novi.


" Semua ini gara-gara Tante. Tidak ada yang beres. Resepsi berjalan dengan lancar dan lihat apa yang sudah terjadi. Semuanya gara-gara Tante. Lihat apa yang terjadi. Apa yang Tante rencanakan. Justru melukai Ardian dan lihat wanita itu. Bagaimana mulutnya tadi bicara. Dia sangat lantang mengatakan itu. Itu rencana Tante sebenarnya!" ucap Raisa yang penuh kemarahan.


" Raisa kamu jangan menyalahkan Tante dong apa yang terjadi itu bukan salah Tante. Semua itu di luar ekspektasi yang penting Tante sudah berusaha dan jika itu terjadi ya Tante tidak bisa berbuat apa lagi," sahut Novi yang mencari pembelaan.


" Sama saja. Semuanya sama saja. Semuanya sudah berantakan dan itu terjadi karena Tante. Jadi semuanya sudah selesai. Aku sudah di permalukan di depan orang-orang banyak. Teman-teman Ardian yang datang di acara pesta itu telah menghinaku. Pesta itu benar-benar menghancurkan harga diriku. Semuanya selesai. Semuanya berakhir. Dan tadi Melody juga menghancurkan segalanya. Semuanya hancur semuanya berantakan," ucap Raisa.


" Raisa kamu tenaglah," sahut Novi.


" Cukup Tante. Jangan menyuruhku tenang lagi. Aku sudah capek dengan cara Tante yang tidak ada yang beres," sahut Raisa yang tidak ingin mendengarkan Novi lagi. Dia benar-benar sangat marah dengan rencana Novi yang berantakan.


" Raisa, kamu ini malah menyalahkan aku. Padahal apa yang aku lakukan sudah semuanya benar," batin Novi yang terlihat kesal dengan main salah-salahan Raisa kepada dirinya.


***********


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk terdengar suara Ardian yang tiba-tiba batuk membuat Melody yang tertidur di sofa tiba-tiba langsung terbangun. Melody langsung duduk dan melihat ke arah tempat tidur Ardian di mana Ardian yang duduk batuk-batuk dan ingin meraih air putih yang terlihat kesulitan.


Melody dengan cepat langsung bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Ardian. Melody langsung mengambil gelas yang berisi air putih dan memberikan pada Ardian membantu Ardian untuk minum. Ardian pun langsung meneguk air putih itu di mana tangannya dan tangan Melody sama-sama menumpuk di atas gelas tersebut.


" Apa perlu panggil Dokter?" tanya Melody yang terlihat khawatir.


" Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Hanya tergorokanku sedikit sakit," ucap Ardian.


" Begitu rupanya. Ya sudah kamu istirahat saja," sahut Melody yang mendadak menjadi wanita lembut. Bahkan tidak ketus, judes dan seperti Mak lampir seperti biasanya. Ardian hanya mengangguk dan Melody kembali membantu Ardian untuk membaringkan tubuh Ardian. Melody juga menyelimuti Ardian.

__ADS_1


" Terimakasih," sahut Ardian. Melody mengangguk dan Melody kembali ketempatnya untuk tertidur di sofa. Ardian pun perlahan memejamkan matanya yang kembali tertidur.


***********


Pagi hari kembali tiba. Di dalam rumah sakit di ruangan perawatan Ardian. Masih saja sama. Ardian berada di atas ranjang rumah sakit dan Melody berada di sofa yang ada di sana. Tidak ada yang terjadi di antara ke-2nya. Mereka semua sama-sama diam dan tidak mengobrol.


Cahaya sinar matahari mampu membuat Melody mengerjap-ngerjapkan matanya, Melody menguap dengan menutup mulutnya mengucek-ngucek matanya dan langsung melihat ke arah Ardian yang masih tetap di sana yang masih tertidur.


" Aaaaaaaa," Melody kembali menguap dengan melurus- luruskan tangannya, memijat-mijat belakang lehernya yang terasa encok.


" Jam berapa sekarang," batinnya yang mencari-cari jam di ruangan itu dan menemukan jam yang menggantung di dingding.


" Baru jam 7," gumam Melody yang langsung bangkit dari sofa. Melody kembali melihat ke arah Ardian. Ardian masih tetap tidak bangun juga.


" Aku cari sarapan dulu," gumamnya yang langsung berjalan menuju pintu yang ingin keluar dari ruangan itu. Saat membuka pintu di ujung jalan sana Melody melihat Raisa. Hal itu membuat Melody mendengus kasar.


" Ya ampun pagi-pagi seperti ini bisa-bisanya dia langsung datang. Memang benar ya tidak ada kerjaan," batin Melody yang geleng-geleng melihat Raisa.


Melody kembali memasuki kamar dengan buru-buru. Di mana dia menaiki tempat tidur Ardian dengan perlahan agar Ardian tidak bangun. Melody memasukkan tubuhnya kedalam selimut Ardian dan memeluk Ardian dengan matanya yang perlahan memejam.


" Aku ingin tau bagaimana reaksimu setelah ini," batin Melody yang melakukan akal blusnya.


************


Raisa berjalan dengan buru-buru yang pasti memang langkah itu menuju ruangan Ardian.


" Ardian pasti belum bangun. Aku ingin saat dia bangun. Dia langsung melihatku," batin Raisa yang sudah merencanakan hal itu sebelumnya dengan semangatnya Raisa melangkah terus sampai tiba di depan pintu ruangan Ardian.


Raisa memegang kenopi pintu dan langsung menekannya yang memasuki ruangan itu. Raisa langsung di kejutkan dengan pemandangan indah itu. Matanya melotot melihat Ardian yang tidur satu ranjang dengan Melody di mana tidurnya terlihat mesra yang Melody memeluk Ardian.

__ADS_1


Wajah Raisa langsung memerah melihat apa yang terjadi hal yang benar-benar tidak di duganya sama sekali. Tangan itu mengepal kuat dengan sorot mata yang tajam yang ingin menerkam Melody saat itu.


" Kurang ajar," desis Raisa dengan suara bergetarnya. Dadanya terasa begitu sesak dengan pemandangan itu yang menyalakan kobaran api yang besar dalam hatinya.


Raisa yang penuh kemarahan ingin melangkahkan kakinya yang mungkin ingin menarik Raina dari pelukan itu. Namun tidak jadi. Kakinya tiba-tiba saja terhenti dengan sendirinya.


" Tidak Raisa, kamu tidak mungkin menariknya atau memakinya. Dia dan Ardian suami istri. Jika aku membuat kegaduhan karena kecemburuanku. Orang-orang hanya akan menertawakanku. Kamu jangan bodoh Raisa melakukan hal itu," batin Raisa yang kepikiran dengan akibat yang akan terjadi jika dia melakukan kegilaannya.


" Sial," desis Raisa yang akhirnya memilih untuk keluar sendiri dari ruangan itu dengan pintu yang tertutup yang lumayan kuat.


Melody menyunggingkan senyumnya ketika melihat kepergian Raisa yang penuh dengan emosi.


" Emang enak. Makanya jangan coba-coba untuk main-main denganku. Ini belum seberapa kamu akan melihat yang lebih parah lagi. Supaya kamu itu sadar. Kamu itu tidak ada apa-apa nya dengan ku," batin Melody yang menyunggingkan senyumnya yang merasa menang dari Raisa.


Melody pun perlahan bergerak dari sisi Ardian. Namun saat dia melepas pelukan itu. Tiba-tiba tangannya tertahan yang membuat Melody panik dan melihat kearah Ardian yang mana Ardian sudah bangun.


" Apa yang kamu lakukan?" tanya Ardian dengan wajah seraknya pada Melody.


" Lepaskan aku!" berontak Melody yang berusaha melepaskan diri dari Ardian. Namun Ardian malah semakin memeluknya dengan erat.


" Ardian kamu benar-benar," geram Melody yang meronta-ronta.


" Kamu yang datang kemari. Jadi kenapa harus melepaskanmu," ucap Ardian yang menahan tubuh Melody dengan memeluknya.


" Lepaskan aku! lepaskan," Melody terus meronta-ronta. Sampai akhirnya Melody berhasil melepaskan diri dari Ardian.


" Gila kamu!" teriak Melody yang penuh emosi yang sudah bangkit dari tempat tidur Ardian. Melody pun langsung pergi dari ruangan kamar Ardian.


" Jika ada orang aja, beraninya minta ampun. Tidak ada orang ketakutan," batin Ardian geleng-geleng.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2