Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 154 Lea.


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Lea sudah berhenti di depan rumah mewah yang kemarin pernah di datanginya itu. Lea tambah dek-dekan ketika sudah sampai di tempat itu.


" Huhhhhh," Lea menarik napasnya panjang dan membuangnya ke depan dengan perlahan dengan kepalanya yang masih menoleh ke arah rumah itu.


" Kamu harus tenang Lea. Ini sudah resiko Lea. Kamu harus harus tenang. Kau melakukan semua karena sudah tau ini resikonya. Jadi kau harus profesional," ucap Lea dengan suaranya yang sesak yang menunjukkan betapa gugupnya seorang Lea.


Tok-tok-tok-tok.


Pintu mobil Lea di ketuk membuat Lea sedikit tersentak dan melihat seorang Pria yang membungkuk dengan mengetuk pintu itu.


" Huhhhhhhhh!" Lea kembali menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan lagi. Lalu dengan keyakinan yang besar. Lea pun langsung membuka pintu mobil. Setelah Merapi-rapikan pakaiannya.


Pria yang mengetuk pintu itu menundukkan kepalanya, " tuan Alvin sudah menunggu!" ucap Pria itu.


Lea menganggukkan kepalanya. Kemudian Pria itu mempersilahkan Lea untuk berjalan terlebih dahulu dan Lea dengan keyakinannya pun melangkah yang di ikuti pria itu sampai akhirnya Lea berdiri di depan 2 daun pintu yang sangat besar dengan 2 Pria di depannya.


" Biarkan dia masuk!" ucap Pria yang tadi berjalan di belakang Lea. 2 Pria itu mengangguk dan dengan serentak membukakan pintu tersebut. Mereka juga mempersilahkan Lea untuk masuk dan begitu Lea masuk pintu itu kembali di tutup.


Suara heels langkah Lea terdengar di ruangan itu. Yang mana Lea sudah masuk dengan langkah kakinya yang begitu cantik dan berhenti di tengah.


Sebuah kamar mewah yang bernuansa klasik Eropa dengan aroma khas. Aroma yang menyejukkan dan terkesan memabukkan. Mungkin aroma kamar itu akan teringat terus di benak Lea.


Kepala Lea berkeliling melihat kamar yang memiliki tempat tidur king size tersebut dengan seprai berwarna biru Dongker senada dengan bantal-bantal yang tersusun rapi.


Di tempat diri Lea berdiri terdapat sofa berwarna abu-abu dengan meja kaca persegi dan terlihat 1 botol anggur dengan 2 gelas yang masih kosong.


Lea terus mengamati kamar itu. Melihat di sekitarnya yang jendela kamar itu lumayan besar dengan tirai putih yang masih terbelah tengah.

__ADS_1


" Aku tidak menyangka kau datang lebih cepat!" suara dingin yang khas itu terdengar membuat Lea sedikit kaget.


Alvino, atau yang terkenal dengan Alvin yang sudah berdiri di depan kamar mandi dengan tangannya berada di dadanya. Pria itu bersandar dengan posisi miring.


Pria yang memiliki kulit sawo matang itu dengan wajah yang ada beberapa lambang tipis, hidung mancung dengan sorot mata yang tajam yang menakutkan dan mampu membuat Lea gugup ketika mata itu menatapnya.


Tubuh Pria itu begitu kekar yang sangat terlihat dia adalah Pria yang rajin berolahraga dan mungkin salah satu jagoan dalam bela diri.


" Kau juga terlihat berbeda," lanjut Pria itu berbicara dan sementara Lea masih diam dan sangat terlihat jelas Lea hanya pura-pura tenang.


" Aku hanya menepati janjiku," sahut Lea. Alvin menyunggingkan senyumnya lalu melangkah mendekati Lea, berdiri di depan Lea dengan mengamati wanita yang pura-pura tenang itu.


Alvin melihat dengan seriangi nakal, menatap tubuh itu dari bawah sampai atas dan berhenti pada wajah Lea lumayan lama yang seperti ingin mengamati wajah itu lagi. Setelah itu Alvin terlihat berjalan pada sofa di dekat Lea dengan Alvin menuangkan anggur yang sudah di siapkan. Menuangkannya ke gelas sedikit.


" Minumlah dulu!" Alvin memberikan 1 gelas untuk Lea. Lea dengan wajah datarnya mengambilnya dan Alvin menuangkan untuk dirinya sendiri.


" Kau tidak meminumnya?" tanya Alvin dengan menaikkan ke-2 alisnya.


" Aku meminumnya," sahut Lea tersenyum kaku dan langsung meneguknya yang sama dengan Alvin juga langsung habis.


Lea pun langsung duduk tanpa di suruh Alvin. Duduk cantik dengan kakinya di silangkan di pahanya, Davin mendengus kasar dan kembali menuangkan Vodka kedalam gelas Lea yang masih di pegang Lea.


" Kau sengaja ingin membuatku mabuk?" tanya Lea dengan menatap serius Alvin.


" Apa hanya dengan 2 gelas kau bisa mabuk?" Alvin kembali bertanya yang sekarang juga menuang ke gelasnya sendiri lalu meneguknya sampai habis.


" Bukannya kau tau aku peminum yang handal. Jadi jelas aku tidak akan mabuk. Hanya dengan 2 gelas saja. Yang menjadi pertanyaannya adalah kau dan aku akan bermain di atas ranjangmu. Aku hanya tidak percaya saja. Jika kau sangat suka bermain dengan wanita yang mabuk. Padahal tanpa tanpa mabuk. Aku tidak akan lari," ucap Lea bicara dengan terus terang pada Alvin.

__ADS_1


Keberanian Lea dan bicara apa adanya membuat Alvin harus mengagumi wanita yang bisa di katakan di kaguminya, " aku rasa kau sudah tidak sabar untuk melakukannya bersamaku. Apa kau sungguh berpengalaman banyak melakukannya?" tanya Alvin dengan menyunggingkan senyumnya.


" Kau bisa melihatnya nanti," sahut Lea yang dengan menantang Davin.


" Dia terlihat sok tenang. Padahal jelas dari wajahnya tidak bisa di bohongi. Jika dia begitu gugup," batin Alvin dengan menyunggingkan senyumnya.


" Baiklah aku akan melihat bagaimana pelayanan mu dari cara bicaramu. Kau biasa melakukannya. Aku hanya tidak ingin kecewa. Karena aku sudah melakukan banyak hal bahkan memberi bonus kepadamu untuk hidup Rio yang tidak akan mengganggumu. Karena aku sudah membuat dia dan kamu berbeda alam," ucap Alvin.


" Aku tidak pernah menyuruh sejauh itu. Jadi maaf bonusmu tidak terlalu ku minati. Itu kau lakukan hanya untuk keuntungan mu sendiri. Bukannya kau selalu merasa adik tirimu itu merepotkan mu. Jadi kau melakukannya hanya untuk mu. Jadi jangan kaitkan dengan kata-kata bonus itu," sahut Lea.


" Kau memang pintar membaca situasi dan tidak suka basa-basi," ucap Alvin.


" Iya, aku tidak suka basa-basi. Jadi cepat lakukan apa yang mau kau lakukan. Kau tidak perlu membuatku mabuk. Karena itu tidak perpengaruh pada ku," ucap Lea dengan tenang.


Alvin hanya menyunggingkan senyumnya mendengar perkataan Lea.


Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt.


Tiba-tiba ponsel Alvin berdering. Alvin langsung mengangkatnya.


" Ada apa?" tanya Alvin pada sang penelepon.


" Baiklah! urus yang lainnya aku akan datang," ucap Alvin membuat Lea melihat kearah Alvin dengan serius melihat dengan bertanya-tanya. Dan Alvin menutup telpon itu.


" Aku tidak tau apakah hari ini keberuntungan atau kesialan untukmu. Karena aku harus pergi. Sekretaris akan mengatur jadwal ulang. Aku berharap kau tidak akan lari," ucap Alvin yang langsung pergi begitu saja dari hadapan Lea.


" Hey tunggu!" panggil Lea yang kebingungan sendiri. Namun terlihat Lea membuang napas lega yang seakan benar-benar lega.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2