
Melody sedang membantu Chaca berpakaian setelah sebelumnya Chaca tadi mandi. Sementara Ardian terlihat duduk di sofa yang fokus pada laptopnya yang memeriksa pekerjaan. Rencananya mereka akan jalan-jalan di pagi ini untuk mengganti acara mereka yang tertunda.
Walau sebenarnya Ardian ada pekerjaan. Tetapi untuk kesenangan istri dan juga anaknya tidak masalah untuk Ardian. Karena dia juga dan Chaca jarang bersama dan kebetulan Marsel dan istrinya juga selalu memberikan banyak waktu untuk Ardian dan Melody. Jadi Ardian harus mengambil kesempatan yang ada untuk bersama putrinya.
" Pakai yang ini aja bajunya," ucap Melody setelah menentukan pilihan dress merah tua dengan gambar bunga-bunga.
" Cantik," sahut Chaca yang setuju.
" Bagus kalau cantik. Jadi Chaca pakai ini aja," ucap Melody yang membantu Chaca memakaikan dress pilihan Melody tersebut. Chaca hanya mengangguk dan memakainya langsung.
" Anak pintar, Chaca semakin pintar memakai bajunya sendiri," puji Melody pada Chaca.
Ardian melihat sebentar dengan tersenyum melihat bahagianya Melody jika sudah bersama Chaca.
" Memang kita mau kemana ma?" tanya Chaca.
Melody kaget mendengar kata yang di ucapkan Chaca terakhir kalinya.
" Chaca tadi bilang apa?" tanya Melody memastikan apa yang di dengarnya salah atau tidak. Ardian juga tampaknya mendengar perkataan Chaca sampai membuat Ardian melihat ke arah Chaca dan Melody dengan wajah seriusnya.
" Kita mau kemana," jawab Chaca singkat.
" Bukan itu sayang. Kata di bagian akhirnya, Aunty dengar sesuatu," ucap Melody.
" Ohhhhh, mama maksudnya," sahut Chaca dengan polosnya membuat Melody terkejut bahkan sama dengan Ardian yang terkejut dengan panggilan Chaca. Ardian dan Melody bahkan saling melihat yang mendengar kata itu.
" Chaca panggil apa, mama?" tanya Melody yang belum yakin.
Chacha menganggukkan kepalanya, " iya mama," jawab Chaca membenarkan apa yang di ucapkannya.
" Chaca kenapa memanggil mama. Bukannya seharusnya Chaca memanggil Aunty?" tanya Melody dengan debaran jantungnya yang tidak menentu yang masih merasa panggilan Chaca itu tidak benar.
" Mama Gadis yang ngomong. Katanya Chaca harus belajar manggil Aunty Melody dengan panggilan mama. Chaca juga tidak tau kenapa," jelas Chaca dengan wajah polosnya.
Ardian dan Melody semakin kaget dan kembali saling melihat.
" Bukan cuma itu mama Gadis juga menyuruh Chaca manggil Om Ardian dengan papa," ucap Chaca lagi menjelaskan apa yang di katakan mamanya sebelumnya.
" Mama Gadis bilang seperti itu?" tanya Melody yang tidak percaya. Chaca menganggukkan kepalanya. Melody terlihat shock. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca.
Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu menghampiri Chaca dan Melody dengan berjongkok di depan Chaca.
" Chaca serius mama dan papa menyuruh Chaca untuk memanggil itu?" tanya Ardian lagi yang ingin memastikan.
" Iya. Memang kenapa tidak boleh?" tanya Chaca dengan polosnya.
" Tidak sayang bukan begitu. Aunty hanya kaget saja dengan panggilan Chaca," sahut Melody.
" Chaca juga tidak mengerti. Kenapa memanggil Aunty dan Oma dengan sebutan mama dan papa. Tetapi memanggil Aunty Febby tetap memanggil Aunty," ucap Chaca dengan wajah bingungnya yang begitu menggemaskan.
" Lalu apa Chaca nyaman dengan memanggil panggilan baru itu?" tanya Ardian. Wajah Chaca tampak berpikir keras.
" Hmmm, agak ribet sih manggilnya. Mama Gadis dan mama Melody, papa Marsel dan papa Ardian. Manggilnya susah," ucap Chaca. Ardian dan Melody saling melihat dengan wajah mereka yang sedih.
" Hmmmm, bagaimana kalau Chaca manggil Aunty Melody mami aja dan Om Ardian panggil papi aja," ucap Chaca memutuskan panggilan barunya.
Terlihat wajah Melody dan Ardian mengeluarkan senyum bahagia. Senyum ketulusan di sana.
" Boleh tidak?" tanya Chaca memastikan.
" Iya sayang boleh," sahut Melody. Chaca tersenyum lebar.
" Mami dan papi," ucap Chaca dengan tawanya yang lebar membuat Ardian dan Melody begitu bahagia.
" Terima kasih kak Gadis, kak Marsel, kalian benar-benar orang yang sangat baik. Kalian menjadikan ku seorang ibu. Bahkan mengajarkan anakku untuk memanggilku sebutan seorang anak memanggil ibunya. Aku sangat berhutang Budi banyak kepada kalian, maafkan aku yang banyak salah dan selalu merepotkan kalian," batin Melody yang merasa terharu. Bahkan air matanya sampai bergenang.
" Aku tidak percaya. Jika anak ku akan pernah memanggilmu dengan panggilan orang tua. Ya Allah begitu banyaknya kesempatan yang aku dapatkan. Aku sungguh tidak percaya dengan semua kebahagian ini. Terima kasih ya Allah untuk semua ini," batin Ardian dengan rasa syukurnya yang bisa di panggil papi oleh anak kandungnya sendiri.
**********
Setelah selesai bersiap-siap Chica, Melody dan Ardian pun keluar dari kamar untuk pergi jalan-jalan. Saat ingin menuruni anak tangga langkah Chaca terhenti melihat anak tangga yang menjulang kebawah sampai dia memegang baju Ardian dan bersembunyi di belakang Ardian yang sepertinya Chaca takut sesuatu.
" Chaca kenapa sayang?" tanya Melody yang melihat perubahan Chaca. Wajah ceria yang berubah menjadi takut.
Melody dan Ardian saling melihat dengan wajah mereka yang penuh kebingungan. Melody melihat anak tangga yang sepertinya membuat Chaca takut. Ardian juga melihat apa yang di takuti Chaca dan Ardian langsung berjongkok di depan Chaca.
__ADS_1
" Mau papi gendong?" tanya Ardian dengan memegang ke-2 pipi Chaca. Chaca menganggukkan kepalanya. Ardian tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Chaca dan langsung menggendong Chaca.
Melody dan Ardian tampaknya mengerti apa yang terjadi pada Chaca yang bisa di tebak. Chaca mengalami terauma karena jatuh kemarin dari tangga akibat ulahnya Raisa.
Sampai di anak tangga terakhir barulah Chaca kembali seperti semual.
" Chaca mau kemana kok cantik sekali? tanya Widia yang kebetulan lewat.
" Mau jalan-jalan nenek," jawab Chaca dengan senyumnya yang kembali keluar.
" Oh iya jalan-jalan kemana. Kenapa nenek tidak di ajak?" tanya Widia dengan mengusap pipi menggemaskan itu.
" Memang nenek mau ikut. Ayo!" ajak Chaca dengan polosnya.
" Nenek hanya bercanda, nenek sudah tua. Kalau jalan-jalan nanti pasti encok," sahut Widia dengan nada bercandaan yang mampu membuat Chaca tertawa.
" Jadi nenek tidak jadi ikut?" tanya Chaca memastikan.
" Tidak sayang, Chaca pergi sama Aunty dan Om saja," ucap Widia.
" Bukan Aunty dan Om. Tetapi mami dan papi," ucap Chaca membenarkan panggilan itu dan jujur membuat Widia kaget dan minat Ardian dan Melody secara bergantian. Ardian dan Melody sama-sama menganggukkan kepalanya. Widia tersenyum lebar yang tidak percaya jika Chaca akhirnya memanggil ibu dan ayahnya panggilan seorang anak kepada orang tuanya.
" Ya sudah mah, kalau begitu kami harus pergi dulu," ucap Ardian berpamitan.
" Ya sudah kalian hati-hati ya," sahut Widia.
Melody dan Ardian berpamitan dengan mencium punggung tangan Widia dan Chaca juga melakukan hal yang sama.
" Dada nenek," ucap Chaca melambaikan tangannya saat pergi. Widia pun membalas lambaian tangan itu.
" Alhamdulillah jika Ardian mendapat banyak kesempatan bersama anak mereka dan sekarang Chaca bahkan memanggil mami dan papi. Ya Allah besar sekali hati Gadis dan Marsel. Mereka begitu menyayangi Melody dan memberikan banyak kebahagian untuk Melody bahkan mengajarkan Chaca untuk memanggil panggilan orang tua. Semoga ya Allah engkau secepatnya memberikan keturunan pada pasangan itu. Karena mereka orang baik," ucap Widia dengan kebahagiannya dan bahkan berdoa untuk pasangan suami istri Gadis dan Marsel.
Marsel dan Gadis semakin lama memang semakin berbesar hati. Bahkan tidak ada Nia memisahkan Melody dari Chaca. Mereka juga mengajari Chaca untuk memanggil mama pada Melody. Ya secara pelan-pelan mereka ingin Chaca tau siapa orang tuanya dan mungkin Chaca yang masih kecil belum mengerti. Tetapi jika di ajari atau di beritahu dari kecil. Itu akan jauh membuat Chaca mengerti.
*************
" Kak Gadis kenapa tidak keluar kamar juga ya," gumam Febby yang merasa aneh pada kakak iparnya, " padahal hari ini mau pergi," ucapnya lagi yang kebingungan.
" Aku cek kekamarnya aja deh," gumam Febby memutuskan untuk mengecek kekamar kakak iparnya.
Tidak lama akhirnya Febby sampai di depan kamar Gadis yang pintunya tertutup.
" Kak Gadis!" Febby mengetuk pintu dengan memanggil-manggil Gadis.
" Kok nggak ada suara ya," gumam Febby yang sedari tadi memanggil. Tetapi tak kunjung mendapat respon.
" Kak Gadis, Febby terus memanggil Gadis. Tetapi tidak ada respon yang membuat Febby akhirnya mengambil keputusan untuk membuka pintu. Saat membuka pintu kepala Febby yang pertama kali melihat kedalam.
" Di mana kak Gadis, kok kamarnya kosong," gumam Febby yang merasa heran, " kak Gadis!" panggil Febby yang akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam kamar. Febby berjalan mendekati tempat tidur dan saat ingin menuju kamar mandi. Kakinya seperti menendang sesuatu yang membuat Febby perlahan menurunkan pandangannya.
Betapa terkejutnya Febby saat melihat Gadis yang sudah terbaring di lantai. Mata Febby terbelalak kaget yang ingin keluar melihat pemandangan itu.
" Kak Gadis!" teriak Febby dengan suara yang menggelegar dan langsung duduk di samping Gadis.
" Kak Gadis. Tolong! tolong! ma, pa, kak Marsel!" Febby berteriak memanggil semua penghuni rumah dan mencoba untuk membangunkan Gadis dengan menggoyang-goyangkan tubuh Gadis. Namun Gadis tidak bangun sama sekali yang membuat Febby semakin panik.
" Mama papa, kak Marsel!" Febby terus berteriak sampai akhirnya penghuni rumah berdatangan karena teriakan Febby.
" Ada apa Febby?" tanya Wawan yang masih berada di depan kamar.
" Ini kak Gadis tidak sadarkan diri," jawab Febby dengan wajah paniknya.
" Apah!" pekik Marsel dengan wajah kagetnya dan langsung menghampiri istrinya yang sudah tergeletak.
" Gadis sayang, kamu kenapa? sayang bangun?" Marsel ikutan panik dengan istrinya yang pucat.
" Apa yang terjadi Febby? kenapa kakak kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Dania.
" Febby juga tidak tau ma. Tadi Febby heran aja. Kenapa kak Gadis tidak keluar kamar juga dan akhirnya Febby melihatnya dan sudah menemukan kak Gadis seperti ini," jelas Febby dengan terbata-bata karena saking paniknya.
" Ya sudah sekarang sebaiknya kita bawa kerumah sakit saja," sahut Wawan yang memutuskan.
" Iya, sebaiknya kita ayo kita buru-buru ke rumah sakit," jawab Dania yang setuju dan Marsel langsung menggendong istrinya ala bridal style untuk membawa sang istri kerumah sakit.
***********
__ADS_1
Melody dan Ardian sedang membawa Chaca ketempat taman bermain yang sering mereka kunjungi. Chaca memang begitu bahagia jika jalan-jalan bersama Melody dan Ardian. Seperti sekarang ini di mana mereka bertiga menaiki mobil-mobil. Pasti Melody sendirian dan Ardian bersama dengan Chaca. Mobil mereka saling bersenggolan dan itu membuat Chaca tertawa-tawa.
Di tengah kebahagian mereka. Baik Melody dan Ardian. Tiba-tiba handphone Melody bergetar dan Melody langsung mengambilnya dari dalam tasnya.
" Febby, kenapa? dia menelpon?" ucap Melody dengan menautkan ke-2 alisnya. Melody memilih keluar dari tempat permainan untuk mengangkat telpon.
" Mami mau kemana Pi?" tanya Chaca.
" Papi juga tidak tau," jawab Ardian yang melihat istrinya mengangkat telpon dan melihat kepanikan di wajah Melody yang membuat Ardian jadi ikutan panik. Padahal belum tau apa yang terjadi.
" Sayang, kita susul mami ya," ucap Ardian.
" Baik papi," sahut Chaca. Ardian pun membantu Chaca untuk keluar dari mobil dan langsung menyusul Melody yang sudah menutup telpon.
" Ada apa Melody?" tanya Ardian dengan memegang pundak Melody.
" Kak Gadis masuk rumah sakit," ucap Melody dengan wajah paniknya.
" Apa!" sahut Ardian yang terlihat begitu kaget.
" Mama masuk rumah sakit?" sahut Chaca yang ikut kaget mendengarnya.
" Iya sayang," jawab Melody.
" Apa yang terjadi?" tanya Ardian.
" Aku tidak tau. Febby yang menelpon dia bilang menemukan kak Gadis di kamar sudah tidak sadarkan diri dan sekarang di bawa ke rumah sakit," jelas Melody menyampaikan apa yang di katakan adiknya. Dia begitu panik sampai bibirnya bergetar saat berbicara.
" Ya sudah sekarang sebaiknya kita kesana saja," sahut Ardian mengambil keputusan.
" Iya ayo," sahut Melody.
Dengan kepanikan mereka pun tidak melanjutkan permainan mereka dan memilih kerumah sakit untuk melihat Gadis.
********
Rumah sakit.
Di luar kamar di mana Gadis di periksa Dokter, terlihat Marsel, Febby, Wawan dan Dania begitu panik. Apalagi Marsel yang sedari tadi mengusap kasar wajahnya yang bolak balik mendekati kamar tersebut yang tidak sabaran untuk menunggu Dokter yang keluar dari ruangan itu.
" Marsel, kamu tenang dong. Gadis tidak akan apa-apa," ucap Dania yang melihat putranya begitu gelisah.
" Aku khawatir sama Gadis ma," jawab Marsel.
" Mama mengerti. Tetapi kamu jangan panik seperti ini," sahut Dania.
Tidak lama akhirnya Dokter keluar dan Marsel langsung menghampiri Dokter tersebut.
" Dok bagaimana keadaan istri saya?" tanya Marsel dengan wajahnya yang begitu cemas.
" Pak Marsel istri anda baik-baik saja. Sekarang istri anda juga sudah sadar," jawab Dokter yang membuat semuanya bernapas dengan lega.
" Apa yang terjadi padanya?" tanya Marsel.
" Hanya kecapean saja. Jaga istrinya ya jangan biarkan capek-capek. Apa lagi berpikir keras. Karena sangat bahaya untuk janin di kandungannya," ucap Dokter.
Marsel dan yang lainnya kaget mendengar kata-kata Dokter.
" Apa maksud Dokter dengan janin, apa istri saya...." ucap Marsel dengan napasnya mendadak tidak beraturan yang merasa tidak mungkin dengan tebakannya.
" Benar Pak Marsel Bu Gadis sedang mengandung 6 Minggu. Makanya harus di bantu menjaga kandungannya. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," jelas Dokter semakin membuat semua orang kaget.
" Gadis hamil?" tanya Marsel semakin tidak percaya. Dokter menganggukkan kepalanya.
" Alhamdulillah," Marsel langsung mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya dengan mata yang berkaca-kaca yang tidak percaya degan kehamilan Gadis.
" Alhamdulillah," Dania, Febby dan Wawan ikut mengucap syukur dengan kehamilan Gadis. Kabar bahagia yang di tunggu-tunggu mereka.
Marsel langsung memeluk mamanya dan di pastikan air matanya sudah jatuh karena saking bahagianya.
" Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Dokter pamit.
" Terima kasih Dokter," sahut Wawan. Dokter tersebut mengangguk dan langsung pergi.
" Alhamdulillah akhirnya kak Gadis hamil juga. Terima kasih ya Allah," batin Febby yang ikut bahagia dengan kabar itu.
__ADS_1
Suasana haru menyelimuti keluarga yang sedang mendapat kabar bahagia itu.
Bersambung