
Melody berada di kamar yang duduk di depan cermin sembari bersiap-siap sebelum tidur. Maklumlah wanita kalau sebelum tidur juga tingkahnya sangat banyak. Sementara Ardian berada di atas ranjang yang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan Ardian yang meletakkan laptopnya di atas pahanya yang terlihat sibuk mengecek pekerjaannya.
" Sayang aku dengar dari Eyang. Katanya Raisa sudah sembuh ya?" tanya Melody yang tadi siang mendengar kabar itu.
" Ya mama juga sudah bilang. Eyang sih mintanya untuk Raisa tinggal di rumah ini. Ada beberapa yang tidak setuju dan lagian Raisa juga tidak mau tinggal di rumah ini. Raisa sepertinya lebih memilih untuk tinggal sendiri," jawab Ardian tanpa melihat istrinya.
" Jika dia sudah pikiran seperti itu. Itu artinya dia benar-benar sudah sembuh?" tanya Melody.
" Kamu benar Melody. Dia memang sudah sembuh. Perkembangannya sangat cepat," jawab Ardian melihat ke arah Melody.
" Lalu bagaimana dengan masa hukumannya dengan pihak berwajib. Bukannya dia masih tercatat dalam tahanan?" tanya Melody yang tiba-tiba kepikiran hal itu. Ardian melihat ke arah Melody yang Melody juga melihat dirinya.
" Soal itu aku tidak tanyakan pada Eyang. Namun aku dengar-dengar. Mas Bayu dan mas Arya yang mengurusnya. Kalau Eyang sudah menyiapkan tempat untuk Raisa. Aku rasa Raisa bebas hukuman," ucap Ardian menerka-nerka saja.
" Memang kenapa? kamu memikirkan sesuatu? apa ada yang kamu khawatirkan?" tanya Ardian melihat keresahan di wajah Melody.
" Tidak ada sih. Aku hanya penasaran saja masalah hukum yang di jalaninya dan ya aku berdoa yang terbaik saja. Semoga saja Raisa benar-benar berubah tidak mengulangi lagi kesalahannya dan menjadikan semuanya sebagai pelajaran," ucap Melody dengan doa dan harapannya.
" Aku juga berharap seperti itu," sahut Ardian.
" Hmmm, oh iya mengenai Dokter Gita dan Alvin. Apa menurut kamu tidak ada yang aneh. Apa lagi Lea? tanya Melody yang tiba-tiba kepikiran.
" Masalah kedekatan?" tebak Ardian.
Melody menganggukkan kepalanya, " aku mengerti sih apa yang di pikiran Lea. Lagian Dokter itu aneh sekali. Masa iya mengabari hal penting itu pada Alvin bukan pada Rasti. Jadi menurutku wajar saja. Tadi tingkah Lea seperti itu. Aku juga kalau di posisinya pasti sangat kesal. Bahkan lebih kesal lagi," ucap Melody dengan menunjukkan kekesalannya.
" Mereka hanya berteman dan kita juga tidak tau pertemanan mereka seperti apa. Dan mungkin hanya salah paham. Alvin juga nantinya akan menjelaskan semuanya. Jadi tidak ada masalah menurutku," sahut Ardian yang berpikiran positif.
" Ya semoga saja seperti itu. Aku hanya berharap semua orang profesional dan jangan sampai Rasti jadi kepikiran. Hanya perkara masalah itu. Ya bagaimanpun pikiran Rasti Haris setenang mungkin," ucap Melody.
" Iya sayang. Ya sudah sekarang kita tidur. Sudah larut juga," ucap Ardian. Melody mengangguk menghampiri Ardian ke atas ranjang. Ardian juga menutup laptopnya dan memeluk istrinya dengan erat.
" Bagaimana pertemuan kamu dengan Chaca?" tanya Ardian mengusap-usap rambut Melody.
" Baik-baik aja. Chaca ingin bertemu papinya. Jadi aku bilang aja papinya sedang sibuk," jawab Melody.
" Lalu dia marah?" tanya Ardian.
__ADS_1
" Dia tidak marah sih. Hanya kesal saja dengan papinya. Karena sudah lama tidak menemuinya," jawab Melody.
" Baiklah kita akan mengajaknya jalan-jalan weekend nanti," ucap Ardian.
" Baiklah, dia pasti senang mendengarnya," ucap Melody. Ardian mengangguk tersenyum.
********
Rumah sakit.
Rasti mulai mendapatkan perawatan serius untuk kesembuhannya. Bahkan dia sudah di rawat di rumah sakit yang pastinya di kamar VVIP yang di sediakan keluarga Evan untuknya.
Hari ini juga pertama kali Shandra, Widia, Eyang, Mila berkunjung kerumah sakit untuk melihat kondisi Rasti. Sebelumnya di dalam kamar perawatan Rasti ada Ardian, Melody dan juga Evan yang menemani Rasti, sementara Lea dan Alvin kemungkinan belum datang.
" Assalamualaikum!" sapa Eyang setelah memasuki ruangan itu.
" Walaikum salam," sahut semuanya yang ada di dalam dengan serentak.
Rasti melihat orang-orang yang datang keluarga Evan membuat Rasti sedikit canggung. Karena semenjak permasalahan itu ada Rasti tidak pernah bertemu keluarga itu dan bahkan baru kali ini bertemu, kecuali Shandra yang juga sebelumnya bertemu dengan Shandra dengan penuh ketegangan. Jadi sangat wajar kalau Rasti begitu gugup.
" Baik-baik aja Tante," jawab Rasti sangat gugup. Bahkan tidak berani melihat Shandra. Dia mengingat betapa marahnya Shandra kepadanya kemarin.
" Syukurlah kalau begitu. Ini Tante bawakan kamu makanan kesukaan kamu. Kamu harus banyak-banyak makan ya," ucap Widia dengan tersenyum ramah kepada Rasti.
" Makasih Tante, seharunya tidak repot-repot," ucap Rasti merasa tidak enak.
" Tidak ada yang repot Rasti, kami senang bisa mengunjungi kamu dan memasakkan makanan ini untuk kamu," sahut Mila tersenyum. Rasti juga tersenyum.
" Shandra kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Eyang yang melihat ke arah Shandra yang sejak tadi hanya diam saja. Eyang bicara seperti itu hanya membuat Rasti semakin gugup saja.
Shandra mendekati Rasti berdiri di samping Rasti, " maafkan Tante ya. Tidak seharunya kemarin Tante bicara seperti itu kepada kamu. Tapi Tante kelas kecewa dengan kamu yang sudah melakukan hal itu. Seharusnya kamu mengatakan hal sekecil apapun kepada Tante. Jangan menyembunyikan apa-apa dari Evan," ucap Shandra dengan tulus meminta maaf pada calon menantunya itu.
" Tidak Tante. Rasti yang harus minta maaf pada Tante. Rasti yang salah. Rasti tidak bisa bijak dalam mengatasi semuanya dan begitu egois. Rasti mengerti perasaan Tante. Jadi Tante tidak salah," ucap Rasti dengan matanya yang berkaca-kaca.
" Jangan di ambil hati ya dengan kata-kata Tante kemarin," ucap Shandra.
Rasti mengangguk-angguk, " Rasti melupakannya. Makasih Tante juga sudah memberikan Rasti kesempatan untuk semua ini. Rasti benar-benar sangat bahagia," ucap Rasti tersenyum penuh keharuan.
__ADS_1
Shandra mengangguk membungkukkan tubuhnya untuk memeluk Rasti.
" Kamu pasti akan sembuh. Kamu harus semangat," ucap Shandra.
" Iya Tante," jawab Rasti dengan tersenyum lebar.
" Alhamdulillah akhirnya calon ibu mertua dan calon menantu bisa berdamai juga seharusnya seperti ini aja dari kemarin," ucap Melody.
" Namnya juga kehidupan pasti ada perselisihan," sahut Ardian. Mereka tersenyum-senyum sambil tertawa kecil dengan kebahagiaan kecil yang ada di ruangan itu.
" Selamat pagi semuanya!" tiba-tiba saja Dokter Gita datang.
" Pagi Dokter," sahut semua yang ada di ruangan itu.
" Untuk menjenguk pasien harus di atur ya. Jangan terlalu menumpuk di ruangan ini. Agar kondisi pasien bisa mendapat kenyamanan," ucap Dokter Gita memberi saran.
" Kami minta maaf Dokter untuk hal itu," sahut Eyang.
" Tidak apa-apa ini berlaku untuk lain kali," sahut Dokter Gita dengan tersenyum.
" Hmmm, oh iya Alvin di mana?" tanya Gita tidak melihat Alvin.
" Kenapa sih dia malah mencari Alvin," batin Melody.
" Memang untuk apa Dokter?" tanya Rasti.
" Saya ingin bicara serius masalah kondisi kamu. Tetapi kelihatan dia belum datang kalau begitu saya harus bicara dengan...." Dokter Gita melihat satu persatu orang yang ada di ruangan itu.
" Kamu saja, Pak Ardian," sahut Dokter Gita melihat Ardian
" Saya," sahut Ardian.
" Iya benar. Mari ikut keruangan saya," sahut Dokter Gita yang berjalan duluan. Ardian kebingungan sementara Melody wajahnya terlihat mengkerut.
" Aku ikut!" Melody dengan cepat menyusul. Dan Gita melihatnya hanya menghela napas saja.
Bersambung
__ADS_1