
" Sudah jelaskan semuanya," ucap Lea. Ardian terdiam.
" Jika tidak tau apa yang terjadi. Lalu bagaimana aku harus mengetahuinya?" tanya Ardian dengan suara rendahnya.
" Keluarganya Melody. Bukannya keluarganya tau semuanya. Kamu tanyalah sama keluarganya," ucap Lea.
" Aku tidak mungkin menanyakan itu," sahut Ardian.
" Kenapa malu. Sudah tidak punya muka lagi. Sudah merusak anak orang merasa paling benar lagi. Dan Raisa. Kamu sudah tau bagaimana dia. Anggap aja kamu tidak tau jika Raisa ada di sini. Dengan begitu kamu juga akan mendapatkan sesuatu darinya yang mana dia sendiri yang akan membongkarnya," ucap Lea dengan terang-terangan bicara.
" Ardian di sini yang menjadi korban adalah Melody. Persetan kamu di khiyanati atau apapun. Tapi dia setelah semua yang terjadi. Melody menjadi depresi berat. Bahkan masuk rumah sakit jiwa dan sementara kamu malah berpacaran seolah-olah kamu begitu bahagia. Jadi jelas korbannya Melody," tegas Lea.
" Kamu masuk kedalam perangkap Raisa. Makanya kejadiannya seperti ini," ucap Lea lagi.
Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Dia menyadari jika apa yang di katakan Lea adalah kebenarannya.
" Raisa apa peran kamu dalam semua ini," batin Ardian yang sekarang fokusnya jatuh pada Raisa.
**********
Pagi hari telah kembali tiba Melody keluar dari kamarnya dan menuju meja makan untuk sarapan. Di sana ada Gadis, Marsel, Chaca, Feby dan ada mama dan papanya.
" Sayang kamu sudah bangun ayo sarapan!" ajak Dania.
" Iya ma," jawab Melody menari kursi dan langsung duduk.
" Ardian mana?" tanya Melody.
" Ya ampun kak Melody suaminya siapa. Tanya nya sama siapa. Ya mana kita tau," sahut Febby.
" Tidak ada yang tau Ardian di mana. Semalam aku juga tertidur sepertinya dan setelah itu aku tidak tau apa-apa yang terjadi lagi," batin Melody yang penuh kebingungan.
" Sayang memang Ardian kemana?" tanya Dania. Melody diam dan penuh kebingungan yang memang tidak tau di mana Ardian berada.
__ADS_1
" Assalamualaikum," sapa Ardian yang akhirnya datang setelah namnya banyak di pertanyakan.
" Walaikum salam," sahut semuanya dengan serentak.
" Kamu dari mana Ardian?" tanya Wawan.
" Ini pah, tadi keluar sebentar membelikan bubut untuk Melody," jawab Ardian berdiri di samping Melody.
" Ohhh, begitu rupanya!" sahut Wawan.
" Kamu mencariku tadi," ucap Ardian mengusap-usap pucuk kepala Melody. Sikap manis Ardian membuat Dania, Wawan dan Febby tersenyum. Walau Melody menyinggirkan tangan Ardian dari kepalanya.
" Ya sudah Ardian sekarang kamu ayo duduk. Sarapan bersama," ucap Wawan. Ardian mengangguk dan duduk di samping Melody. Namun Melody hanya biasa saja.
" Tumben sekali dia mencari sarapan. Apa dia pergi sejak tadi," batin Melody yang merasakan sedikit aneh.
*************
" Kita pulang hari ini!" ucap Ardian. Melody menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Ardian.
" Kita baru 2 hari di sini kenapa langsung pulang?" tanya Melody dengan suara pelannya.
" Aku ada pekerjaan mendadak dan harus pulang," jawab Ardian lembut.
" Ya sudah," sahut Melody yang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia juga malas membantah Ardian dan lebih baik menurut saja.
" Aku kedepan sebentar," ucap Ardian. Melody mengangguk dan Ardian langsung pergi.
" Baru juga 2 hari di sini. Tetapi dia sudah minta pulang," batin Melody yang tampaknya masih merindukan orang tuanya. Walau memang kapanpun pasti bisa kerumah orang tuanya. Tetapi dia merasa nyaman di sana.
************
Ardian yang berjalan di sekitar rumah tiba-tiba melewati sebuah kamar di mana di mana Ardian yang di kagetkan dengan asisten rumah tangga yang keluar dari kamar itu.
__ADS_1
" Mas Ardian," ucap bibi yabg jantungan dengan berpapasan dengan Ardian yang mana Ardian juga terkejut.
" Bibi bikin kaget aja," sahut Ardian dengan hembusan napas kasarnya.
" Maaf Mas, bibi tadi habis beresin kamar Mbak Melody. Jadi keluar buru-buru. Kaget dengan mas yang tiba-tiba muncul," ucap Bibi.
" Apa Bibi bilang, kamar Melody," sahut Ardian heran. Bibi mengangguk.
" Ini kamar Melody. Bukannya di sana kamarnya," sahut Ardian.
" Ya sekarang iya. Kalau dulukan mbak Melody tidur di kamar ini. Setelah Mbak Melody sembuh mbak Melody pindah kamar dan tidak di perbolehkan untuk memasuki tempat ini. Kata ibu sama bapak mbak nanti Melody bisa sedih dan sakit lagi. Makanya kamar ini kosong," jelas Bibi yang membuat Ardian kaget yang malah menjadi tanda tanya dan matanya fokus pada kamar yang tertutup itu.
" Ya sudah Bibi kedapur dulu ya mas," ucap Bibi yang langsung panik. Ardian hanya mengangguk saja dengan kepergian Bibi. Ardian yang ingin pergi. Namun di hentikan ya dan malah memasuki kamar yang membuatnya penasaran itu.
Ardian menutup pintu kamar itu dan langsung melihat ke kamar itu di mana kamar yang serba biru itu sesuai dengan warna kesukaan Melody. Kamar Melody saat remaja yang penuh dengan pernak-pernik anak remaja. Tidak menemukan foto-foto dan kenangannya bersama Melody di kamar yang 2 hari ini di tempatnya. Namun Ardian menemukan semuanya di kamar itu.
Tidak ada yang tidak tersimpan. Semuanya tersimpan dengan rapi. Barang-barang pemberian Ardian boneka Teddy bear yang di susun rapi dengan dinding yang di tempeli foto palaroid yang mana Melody dan Ardian yang berfoto lucu-lucu. Ardian berpikir jika semua kenangan itu terbuang. Tetapi masih tetap di tempatnya.
Ardian terus melangkah perlahan mendekati ranjang mengamati kamar itu. Menyentuh barang-barang yang setiap barang memiliki cerita tersendiri yang di abadikan dalam hubungan mereka yang singkat yang tidak sampai 1 tahun. Ardian membuang napasnya perlahan kedepan.
" Apa semuanya sangat menyakitkan Melody. Makanya kamu tidak berani untuk tetap di kamar ini," ucap Ardian dengan matanya berkaca-kaca.
" Jika kamu tidak mengatakan apa-apa. Bagaimana aku tau Melody apa yang terjadi," ucap Ardian dengan memejamkan matanya. Wajah Ardian hanya terlihat penuh penyesalan dengan duduk di ranjang itu dengan mengusap wajahnya kasar.
" Ardian. Kamu harus secepatnya pulang dan mencari tau sendiri, kamu harus ikuti apa kata Lea. Dari pada kamu seperti orang gila yang berusaha mencari tau. Namun tidak tau apa-apa," batin Ardian yang langsung berdiri dan melangkah.
Tetapi saat melangkah kaki Ardian menendang sesuatu yang mana benda itu melayang ke kaki meja.
Ardian berjongkok dan langsung mengambil benda kecil itu. Berupa tespeck yang membuat Ardian terkejut. Di mana tespeck itu garis 2. Mata Ardian sampai melotot dengan apa yang di lihatnya. Bayangan dia dan Melody saat bercumbu di atas ranjang teringat oleh Ardian dengan mata Ardian yang memerah dan napas Ardian yang terasa begitu sesak.
" Tidak mungkin. Apa mungkin Melody saat sempat....." ucap Ardian dengan suara beratnya yang tidak sanggup melanjutkan kalimatnya dengan napasnya yang tiba-tiba tidak beraturan.
Bersambung
__ADS_1