
Raisa berada di kamarnya dan menceritakan semuanya kepada Novi tentang apa yang terjadi siang.
" Kamu serius?" tanya Novi tidak percaya dengan pengaduan Raisa.
" Benar Tante, aku serius. Tante benar aku harus berpura tersakiti. Supaya orang-orang di rumah ini iba kepadaku," ucap Raisa.
" Tante bilang juga apa Raisa. Kamu sih tidak mendengarkan apa kata Tante. Melody itu anaknya keras kepala dan kamu lihat sendiri dia itu membenci Ardian. Orang-orang di rumah ini akan semakin muak kepadanya. Jika sikapnya terus seperti itu. Jadi kamu lah yang harus menunjukkan sikap kebaikan kamu," ucap Novi yang memberi saran.
" Iya Tante. Tante tenang aja. Aku sudah melakukan itu dan semuanya akan baik-baik saja. Sesuai rencana kita dan tidak lama lagi. Ardian akan berpisah dari Melody dan aku yang tetap menjadi wanita satu-satunya," sahut Raisa dengan tersenyum lebar.
" Ya itu memang harus kamu lakukan," sahut Novi yang mendukung 100%.
" Tante tenang aja. Kita berdua akan bersama-sama membuat Melody keluar dari rumah ini dalam keadaan jiwa yang rusak," ucap Raisa tersenyum sinis.
Ternyata apa yang di bicarakan Raisa dan Novi terdengar oleh Lea yang berdiri di depan pintu kamar yang terbuka sedikit itu.
" Hmmm, memang aneh sih. Sudah tau pacarnya menikah. Tapi masih aja berusaha keras untuk mendapatkannya dan sekarang dia mulai lagi berperan sebagai artis," batin Lea geleng-geleng.
" Dan iya, si Melody juga terlalu keras kepala. Katanya mau memberi pelajaran. Nyatanya dia sendiri tidak bisa mengendalikan dirinya," batin Raisa yang langsung memilih untuk pergi.
***********
Malam hari kembali tiba dan Ardian memanggil Dokter untuk mengecek kondisi Melody. Di mana Melody sudah sadar yang bersandar di kepala ranjang dan Dokter sedang mengecek darah Melody. Sementara Ardian hanya berdiri di belakang Dokter yang hanya memperhatikan Dokter menangani istrinya.
" Bagaimana keadaannya?" tanya Ardian.
" Tidak apa-apa Pak Ardian. Hanya kelelahan saja. Bu Melody vitaminnya jangan lupa di minum ya. Ibu harus harus rajin-rajin minum vitamin. Supaya kondisinya semakin membaik," ucap Dokter menyarankan pada Melody.
__ADS_1
" Iya Dok," sahut Melody dengan pelan.
" Pak Ardian. Istrinya di perhatiannya. Emosian yang berlebihan bisa mempengaruhi kesehatannya. Jadi mohon tolong di perhatikan. Jangan sampai lelah dan apalagi pikiran yang terlalu banyak dan iya Bu Melody jangan di tekan terus. Sangat berbahaya pada mentalnya," ucap Dokter memberi peringatan pada Ardian mengenai kesehatan Melody.
" Baik Dok, terima kasih atas sarannya," sahut Ardian. Melody hanya diam dan tidak menanggapi apa-apa. Wajahnya juga masih terlihat begitu kucel.
" Baiklah, saya sudah tuliskan resep obat tambahan nanti silahkan tebus di apotik," ucap Dokter.
" Iya," sahut Dokter.
" Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dokter pamit.
" Terima kasih Dok. Mari saya anatar," sahut Ardian. Dokter mengangguk.
Ardian melihat Melody sebentar yang mana Melody langsung membuang pandangannya. Ardian pun mengantar Dokter keluar kamar dan Tiba-tiba Lea sudah berdiri di depan kamar.
" Mau ngapain kamu?" tanya Ardian.
" Sudah sana antar dokternya. Takut amat istrinya lecet," sahut Lea yang langsung meauk begitu saja dan Ardian tidak bisa melakukan apa-apa. Dia pun harus mengantarkan Dokter cepat-cepat. Agar bisa melihat apa yang di lakukan Lea. Tidak tau kenapa Ardian memang begitu takut sepupunya itu dekat-dekat dengan Melody.
" Hai," sapa Lea begitu masuk kekamar Melody dan Melody Acuh bahkan tidak melihat Raisa.
" Jutek amat," sahut Lea yang langsung duduk di samping Melody.
" Ngapain kamu kemari. Aku mau istirahat. Sana keluar!" usir Melody dengan suara rendah yang kelihatan juga tidak ingin di ganggu.
" Aku itu kemari yang pertama membawakan mu makanan. Tetapi yang paling utama aku ingin memperlihatkan mu ini," sahut Lea mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Melody rekaman Vidio di mana tadi Raisa menangis dan Shandra memeluknya.
__ADS_1
Video itu juga bersuara dan Raisa yang berbicara seakan menjadi korban yang sesungguhnya dengan kata-katanya yang manis menangis di depan Widia, Eyang besar dan Shandra.
" Hmmm, dia itu pintar drama ya. Memanfaatkan situasi untuk menciptakan drama yang menarik simpatik orang. Kekalahan seorang Melody adalah yang tidak bisa menerima kenyataan. Marah dengan keadaan dan terakhirnya membiarkan ular semakim merajai," ucap Lea yang sudah mematikan handphone itu dan bicara dengan kata-kata seolah memberikan saran.
" Apa maksud mu," sahut Melody dengan menekan suaranya.
" Aku tau Melody kamu seolah yang paling menderita. Kamu seakan-akan terjebak dan memang benar kamu terjebak. Tetapi tidak dengan dia yang membuat dirinya paling terjebak dan paling menderita. Melody aku tau kamu juga ingin memberikan pelajaran untuk orang-orang yang sudah menyakitimu. Tetapi kamu di lemahkan dengan kemarahanmu, sehingga kamu yang apa-apa tidak menerima kenyataannya yang padahal kamu tau. Jika kamu menolaknya kamu memberi orang lain kesempatan. Contohnya seperti tadi dan lihat karena kamu tidak bisa mengendalikan diri poin mu berkurang," ucap Lea yang seakan memberikan masukan pada Melody dan Melody terlihat menyimak kata-kata Lea.
" Hmmm, yang adanya kamu bukan bercerai dari Ardian. Tapi orang di rumah ini bisa-bisa memindahkanmu kerumah sakit jiwa. Kalau kamu sendiri membuat dirimu yang tertekan. Kamu seharusnya bisa santai dan menikmatinya. Bukan seperti orang kesetanan," ucap Lea dan Melody terlihat berpikir-pikir dengan kata-kata Lea.
" Aku benar tidak?" tanya Lea melihat ke-2 bola mata Melody yang terlihat berpikir keras.
" Jika sudah menderita jangan membuat bertambah menderita. Ajak dong mereka menderita sama-sama," lanjut Lea.
" Kau berusaha untuk mempengaruhi pikiranku," sahut Melody tampak datar. Lea tersenyum miring mendengarnya.
" Mempengaruhi. Aku jelas tidak punya keuntungan. Aku hanya kasihan denganmu yang dari dulu hanya di oper sana sini. Hati di permainkan dan lain-lain. Melody kamu bukan anak sekolah lagi yang pikirannya tidak jernih. Jadi coba memahami situasi dan pasti ambil tindakan dengan bijak," ucap Lea lagi. Melody jelas meresapi apa yang di katakan Lea barusan.
" Jangan berpikir. Jika ada kesempatan kenapa tidak melakukannya. Kamu tidak akan rugi apa-apa. Percayalah," ucap Lea yang memberikan saran pada Melody.
" Apa sudah selesai kamu bicara dengannya," sahut Ardian yang datang tiba-tiba. Lea tersenyum dengan menegok kebelakang nya.
" Lihatlah Melody dia sangat takut aku dekat-dekat denganmu," sahut Lea dengan pelan.
" Keluarlah Lea," sahut Ardian.
" Iya-iya ini juga sudah mau keluar. Aku hanya memberikannya makanan," sahut Lea yang langsung berdiri.
__ADS_1
" Aku keluar dulu Daaaaa," sahut Lea yang langsung pergi keluar dari kamar Ardian dan Melody.
Bersambung