
" Apa maksud mama?" tanya Iriana.
" Kamu ini selalu saja mencari masalah. Kamu tidak pernah memikirkan ini dan itu selalu melakukan semua yang kamu mau. Semua orang di sini hanya ingin kebahagian untuk Lea. Semua orang di sini hanya ingin yang terbaik untuk Lea," tegas Oma.
" Tetapi aku orang tuanya dan seharusnya semua orang di sini. Juga menyadari hal itu. Aku yang punya hak atas Lea," sahut Iriana menegaskan.
" Mama mungkin ibuku. Tetapi maaf kali ini tidak akan mengikuti apa kata mama. Aku tidak akan peduli apapun yang mama katakan. Mau mama menolak atau menerima. Lea hanya akan mendengarkan apa kata Eyang. Dan kalau Eyang sudah menentukan untuk setuju maka itu keputusan yang setuju itu yang aku terima," sahut Lea yang baru mengeluarkan suara sekarang.
" Kamu memang benar-benar tidak pernah mengharagaiku sebagai ibumu," sahut Iriana.
" Maaf tapi aku juga ingin bahagia," sahut Lea.
" Semauanya sudah jelas. Tidak ada yang mengganggu gugat keputusanku. Apapun yang aku katakan itulah keputusannya dan tidak ada yang bisa membantah lagi. Irian jika kamu tetap pada pendirian kamu silahkan. Tetapi tetap dengan apa yang mama katakan kepada kamu," tegas Eyang besar sekali lagi.
" Keterlaluan semua orang di sini," sahut Iriana yang penuh kemarahan dan langsung meninggalkan tempat itu.
Yang lainnya hanya menghela napasnya dan termasuk Lea yang pasti merasa lega dengan keputusan Eyang.
" Hmmmm, ini sudah siang. Aku sebaiknya kekantor dan anak-anak juga harus sekolah," sahut Bayu.
" Iya mas, kamu hati-hati mas," sahut Mila yang mencium punggung tangan suaminya. Seperti biasa layaknya suami yang pamitan ingin bekerja.
" Ayo anak-anak," sahut Bayu.
" Iya pah," sahut Dani.
Aliya dan Dani pun bergegas untuk berangkat kesekolah dan tidak lupa berpamitan dengan keluarga yang lainnya.
" Kami juga berangkat," sahut Arya yang memang harus kekantor bersama istrinya.
" Ayo Yogi !" ajak Vivi.
" Iya ma," sahut Yogi.
Setelah berpamitan mereka semua pun akhirnya meninggalkan sarapan dan langsung pergi untuk menjalankan aktifitas masing-masing.
__ADS_1
" Lea!" tegur Eyang.
" Iya Eyang," jawab Lea.
" Kamu temui Alvin dan katakan semuanya. Jika Eyang menerima lamarannya dan jangan di lama-lamakan. Semuanya harus di cepatkan!" ucap Eyang yang malah kelihatan begitu mendesak.
" Hmmm baik Eyang," sahut Lea tersenyum.
" Kalian semuanya juga harus membantu pernikahan Lea," sahut Eyang lagi.
" Pasti mah kami akan melakukan yang terbaik untuk persiapan pernikahan Lea dan juga Alvin," sahut Shandra.
" Lea nanti kalau apa-apa kamu tanya Tante, tanya semua orang. Kamu jangan sungkan untuk bertanya," sahut Widia.
" Benar Lea. Kamu juga bisa tanyakan kakak apa yang mau kamu tanyakan. Karena kakak itu sangat berpengalaman dan pasti mengerti semuanya," sahut Mila.
" Iya kak pasti," sahut Lea, " Eyang makasih ya, Eyang sudah memberi keputusan yang terbaik. Eyang sudah menerima Alvin sebagai suamiku. Aku benar-benar tidak tau harus bicara apa lagi. Terima kasih Eyang dan untuk semuanya terima kasih. Termasuk kamu Melody yang sudah banyak membantuku dan semua ini juga karena kamu," sahut Lea yang tidak bisa berkata apa-apa lagi.
" Lea. Kamu itu sudah banyak membantu ku dan juga Ardian. Apa yang aku lakukan sama sekali tidak tidak ada apa-apanya di bandingkan apa yang kamu lakukan pada kami. Jadi jangan bicara seperti itu. Yang penting kamu dan Alvin bisa menjalani semuanya dengan bahagia," sahut Melody.
" Iya Ardian. Pokoknya terima kasih untuk semuanya baik Eyang, Tante Widia, Tante Shandra, kak Mila, Melody kamu Ardian dan juga kamu Evan. Aku benar-benar tidak menyangka. Jika kalian semua seperduli ini kepadaku. Ya sekali lagi terima kasih yang sebanyak-banyaknya," sahut Lea yang begitu terharunya.
" Sudahlah Lea. Kamu ini berlebihan sekali. Biasa aja dong. Hmmmmm tapi tidak di sangka juga akhirnya Lea akan menikah," sahut Evan.
" Lalu kamu kapan Evan?" tanya Eyang ceplas-ceplos. Evan jadi diam dengan semua orang yang melihatnya.
" Jangan pacaran mulu, pacaran berantem baikan, tapi nikah entah kapan," ledek Ardian.
" Benar kamu nikahi tu Rasti. Kasian anak orang di anggurin mulu," sahut Melody menambahi.
Menjadi bahan ledekan Evan hanya menggaruk-garuk kepalanya yang melihat mamanya.
" Kenapa lihat-lihat mama?" tanya Shandra heran.
" Ya semuanya tergantung mama. Sudah ada lampu hijau atau tidak," sahut Evan.
__ADS_1
" Kamu itu ada-ada saja Evan kamu yang mau menikah yang seharusnya kamu yang memutuskannya," sahut Eyang.
" Ya kan semuanya tergantung mama Eyang. Mama kan yang memegang restu," sahut Evan.
" Lalu kalau mama tidak memberi Restu kamu mau mutusin hubungan kamu dengan Rasti?" tanya Shandra.
" Ya nggak juga dong mah," sahut Evan.
" Ya sudah makanya jangan bawa-bawa nama mama," sahut Shandra.
" Sudah-sudah sekarang kalian malah bertengkar. Yang penting yang terbaik untuk hubungan kamu dan juga Rasti," sahut Eyang.
" Makasih Eyang untuk doanya," sahut Evan.
Yang lain tersenyum lega dengan semua permasalahan yang terjadi benar-benar sudah di selesaikan.
" Akhirnya masalah ini selai. Benar kata Alvin jika di coba tidak ada salahnya. Jika aku tetap kekeh menyembunyikan hubunganku dengan Alvin. Mungkin hal ini tidak akan ada. Ya seharusnya dari dulu saja aku mengatakan hubunganku pada keluarga ini. Jadi aku tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi," batin Lea yang benar-benar merasa lega sekarang.
" Hmmmm, sudah tidak sabar mengatakan semuanya pada Alvin. Aku harus menemuinya secepatnya," batin Lea yang kelihatan sudah tidak sabaran ingin memberikan kabar bahagia itu untuk kekasihnya yang pasti sekarang sedang menunggu-nunggu kabar dari Lea yang berharap kabar baik dari Lea.
***********
Karena sudah mendapatkan restu akhirnya Lea memutuskan untuk menemui Alvin. Dia sudah rapi-rapi yang keluar dari kamarnya yang ingin pergi. Saat keluar dari kamarnya bersamaan dengan sang mama yang juga keluar dari kamarnya membuat mereka saling melihat sebentar.
Namun Lea tidak bicara atau tidak melakukan apa-apa. Lea lebih memilih untuk pergi. Dari pada nanti mamanya akan memulai keributan.
Lea langsung menuruni anak tangga dan berpapasan dengan Melody.
" Mau kemana kamu Lea?" tanya Melody.
" Hmmm, aku mau menemui Alvin," jawab Lea dengan senyum lebarnya.
" Hmmm, begitu rupanya," sahut Melody yang juga senyum-senyum.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu. Aku pergi dulu ya, Daaaaa," sahut Lea yang begitu semangatnya dan Melody hanya geleng-geleng saja melihat Lea yang begitu semangatnya.
__ADS_1
bersambung