Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 23 Tidak punya pilihan.


__ADS_3

Mila sedang di kamar yang berhadapan dengan Bayu suaminya. Di mana Bayu sedang membuka jasnya yang habis pulang kerja.


" Apa semuanya sudah beres?" tanya Mila pada suaminya itu.


" Ya semuanya beres tinggal besok untuk mengambil buku nikah Melody dan Ardian," sahut Bayu melonggarkan dasinya.


" Syukurlah kalau begitu," sahut Mila yang merasa lega.


tok-tok-tok-tok.


Pintu kamar mereka di ketuk membuat Mila yang langsung melangkah membuka pintu kamar.


" Mama," sapa Mila yang melihat mertuanya yang mengetuk pintu kamar.


" Mama minta tolong sama kamu. Tolong bujuk Melody dia lagi menagis di kamar gara-gara tidak terima dengan keputusan Eyang. Kamu sana kekamarnya dan buat dia mengerti," ucap Widia. Mila menghela napasnya yang sudah malam akan punya tugas lagi untuk mengurus Melody layaknya anak kecil.


" Bisakan Mila?" tanya Widia memastikan. Mila menengok kebelakang melihat suaminya. Bayu mengangguk seakan memberikan izin pada istrinya.


" Ya sudah mah," sahut Mila.


" Makasih ya," sahut Widia mengusap bahu Mila. Lalu Widia pergi begitu saja dan Mila menutup pintu kamar kemabli dan menghampiri suaminya.


" Aku akan kekamar Melody sebentar. setelah itu aku akan menyiapkan kamu makan," ucap Mila.


" Ya sudah. Lagian aku mau mandi dulu," sahut Bayu. Mila mengangguk dan langsung pergi kekamar Melody untuk membujuk adik iparnya itu yang layaknya sudah seperti anak kecil yang apa-apa harus di bujuk.


************


Melody yang berada di atas ranjang yang menayandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan air matanya yang menetes dan tangannya beberap kali harus menyekanya. Dia benar-benar menagis sedari tadi yang menolak untuk sekamar dengan Ardian.

__ADS_1


Di mana Mila iparnya yang sedang membujuknya untuk berhenti menangis. Ya dia harus menuruti apa kata ibu mertuanya yang pasti mengkhawatirkan Melody. Karena apa kata Eyang besar memang tidak bisa di bantah dan tidak ada protes-protes atau negoisasi.


Sangat banyak yang menyayangi Melody. Makanya orang-orang di rumah itu masih sangat peduli kepadanya dan tidak ingin membuat Melody menangis berlarut-larut.


Hanya karena kebencian Melody pada Ardian membuat Melody menganggap jika semua orang di rumah itu sama yang hanya berpihak pada Ardian. Padahal beberapa orang di ruang itu sangat netral dan begitu peduli kepada Melody.


" Melody sudahlah, kamu jangan menagis seperti itu. Kamu jangan seperti ini Melody. Ardian dan kamu sudah menikah dan tidak ada yang salah. Kalian mau satu kamar atau tidak. Karena memang seharusnya kalian itu satu kamar. Suami istri memang harus satu kamar," ucap Mila membujuk Melody dengan kata-kata yang itu-itu saja di sebutkan berkali-kali.


Melody hanya diam dan tidak menanggapi apa yang di katakan Mila sama sekali. Diamnya dia sudah kemarahan yang paling terbesar. Dia semakin merasa jika dirinya benar-benar di kekang di dalam rumah itu. Apa lagi dia lumpuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana dia tidak merasa begitu sangat tertekan.


" Tolong Melody jangan seperti ini. Ini adalah keputusan Eyang dan kamu tidak bisa seperti ini. Kamu jangan menagis terus seperti ini Melody. Kamu dan Ardian sudah sama-sama dewasa. Jadi bersikaplah dewasa. Tolong jangan egois Melody," sahut Mila. Dengan membelai-belai rambut Melody yang berusaha membujuk Melody.


" Kalian semua benar-benar jahat kepadaku," sahut Melody dengan suara seraknya.


" Tidak ada yang jahat kepadamu. Semuanya baik dan peduli kepadamu," sahut Mila menegaskan.


" Jika kalian baik. Kalian tidak akan memperlakukan ku seperti ini," sahut Melody. Mila menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


" Ya sudah ini sudah malam, kamu istirahat ya, besok kamu ada pertemuan dengan ahli terapi, jadi kamu harus mempersiapkan diri kamu, jangan menagis lagi. Tidak ada gunanya menagis lagi," ucap Mila dengan mengusap pipi Melody, menyeka air mata Melody.


" Kamu istirahat ya," ucap Mila lagi. Lalu dia langsung berdiri. Melihat Melody dengan sendu dan langsung pergi begitu saja.


Yang jelas dia sudah memberikan Melody arahan. Agar Melody tenang dan tidak marah-marah. Mila hanya berharap Melody benar-benar menerima semuanya.


Kepergian Mila membuat Melody semakin teriak-teriak menangisnya. Seakan tidak ada jalan. Tidak ada yang bisa di lakukan yang akhirnya membuatnya menangis. Seakan merasa sendiri tanpa ada yang membantu dan mengerti perasaannya.


***********


Malam semakin larut. Mau menbantahpun sudah tidak ada gunanya lagi. Pada kenyataannya Melody dan Ardian berada di dalam kamar yang sama dan juga berada datas ranjang yang sama.

__ADS_1


Melody berada di ujung kanan dan Ardian berada di ujung kiri mereka berjauh-jauhan. Padahal di tengah sedang kosong. Mereka juga saling punggung-punggungan. Melody memiringkan tubuhnya dengan dengan ke-2 tangannya di bawah pipinya yang mana dia yang mana air matanya terus menetes.


Ardian yang juga membelakangi Melody juga sama. Sama-sama diam yang perlahan memejamkan matanya dan membukanya dengan denggan perlahan. Suara tangisan Melody walau pelan tetap terdengar oleh Ardian.


Posisi Ardian serba salah, seperti ini salah seperti itu salah. Namun Ardian harus tetap mempertanggung jawabkan apa yang sudah di lakukannya. Karena memang itu yang harus di lakukannya. Ardian tidak punya pilihan dalam hal lain.


Flas back


Teringat di lintasan Melody. Di mana dia dan Ardian berjalan bersama di taman dengan tangan mereka yang saling bergandengan dengan senyum lebar.


" Kak Ardian!" tegur Melody melihat ke arah Ardian sebentar.


" Ada apa Melody?" tanya Ardian.


" Siapa Raisa?" tanya Melody.


" Ohhh, Raisa itu teman dari aku kecil dan dia juga tinggal di rumah. Orang tuanya sudah meninggal dan mama sudah menganggapnya sebagai anak," jawab Ardian. Melody hanya menyimak saja apa yang di katakan Ardian.


" Memang kenapa? oh iya dari mana kamu tau yang namanya Raisa?" tanya Ardian.


" Ada wanita di rumah kakak yang mengatakan tentang Raisa kepadaku dan aku melihat Tante yang kita temui pertama kali itu seperti tidak menyukaiku," jawab Melody apa adanya. Ardian tersenyum mendengarnya.


" Mana mungkin dia tidak menyukaimu. Semua orang menyukaimu dan aku sudah menceritakan kamu kepada semua keluargaku dan semua orang menyukaimu termasuk Raisa dia begitu mendukung hubungan kita," jelas Ardian.


" Benarkah seperti itu?" tanya Melody tidak percaya.


" Benar Melody. Jadi jangan berpikiran apa-apa. Kamu itu sangat special di dalam keluargaku," ucap Ardian menegaskan Melody tersenyum tipis mendengarnya.


" Hmmm, ya sudah kalau begitu aku mempercayainya," sahut Melody tersenyum. Ardian juga tersenyum dengan mereka yang sambil berjalan sambil saling melihat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2