
Chaca sedang berbaring di tempat tidur yang mana Gadis berada di sampingnya yang mengusap-usap pucuk kepala Chaca. Masih ada bekas air mata Chaca dan Gadis mengusap di pipi gembul itu. Sementara Febby hanya berdiri di depan pintu dengan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.
" Chaca kenapa belum tidur?" tanya Gadis. Chaca menggelengkan kepalanya.
" Memang Chaca belum ngantuk?" tanya Gadis.
" Kenapa Aunty mau bawa Chaca malam-malam? dan Aunty kenapa nangis? dan mama kenapa tarik Chaca dari gendongan Aunty? Mama kan sangat senang kalau Chaca di jaga Aunty. Tapi kenapa mama malah marah-marahi aunty?" Chaca bertanya begitu banyak pada mamanya.
Kejadian tadi membuatnya takut, bingung dan pasti anak kecil seperti Chaca harus di jelaskan. Karena raut wajah Chaca benar-benar ingin tau. Gadis diam seperti tidak punya jawaban untuk anaknya.
" Kenapa mama diam? lalu Aunty kenapa tidak jadi menginap di sini?" Chaca yang tingkat penasarannya begitu kuat masih ingin mendengar jawaban mamanya.
" Sayang Aunty kamu membuat kesalahan. Jadi makanya mama marahin Aunty dan mama tidak mau Aunty kamu kemari lagi," ucap Gadis sembari mengusap-ngusap rambut Chaca.
Febby mendengar jawaban kakaknya mendengus kasar yang merasa kakak iparnya itu sedang memprovokasi Chaca yang masih kecil.
" Memang apa salah Aunty?" tanya Chaca.
" Salahnya banyak. Chaca juga kalau mama marahi pasti nangis. Sama dengan Aunty yang mama marahi dan menangis," ucap Gadis.
" Jadi mama juga akan hukum Aunty?" tanya Chaca. Dia menyamakan dirinya yang kalau berbuat salah pasti akan mendapat hukuman.
" Iya sayang mama dan papa menghukum Aunty dengan tidak boleh bertemu atau gendong Chaca," jawab Gadis menegaskan.
" Kak Gadis keterlaluan," batin Febby yang hanya bisa kesal di hatinya tanpa mengeluarkan isi hatinya.
" Lalu kalau Chaca kangen sama Aunty bagaimana?" tanya Chaca.
__ADS_1
" Ada mama dan papa. Jadi Chaca tidak akan kangen," sahut Gadis dengan senyum tipisnya.
" Tapi Chaca pasti kangen sama Aunty. Kalau sama papa Chaca tidak pernah kangen. Karena Chaca lebih enak kalau main sama Aunty. Chaca juga kalau di marahi Aunty pasti akan minta maaf. Karena Chaca takut Aunty marah sama Chaca. Jadi Chaca maunya sama Aunty. Mama jangan hukum Aunty. Chaca tidak mau pisah dari Aunty," ucap Chaca yang seakan menampar Gadis.
Kata-kata anak kecil yang polos itu seakan menyadarkan dirinya. Jika seorang anak mau dia tau itu ibunya atau tidak. Tetapi pasti ikatan itu lebih besar. Terbukti kata-kata Chaca yang lebih akan merasa rindu dengan Melody di bandingkan dirinya.
Febby yang menjadi penonton dan pendengar setia, mengeluarkan senyum tipis. Saat melihat kakak iparnya diam tanpa ada yang di ucapkannya, " darah jauh lebih kental di bandingkan air," batin Febby.
" Mama sekarang telepon Aunty dan suruh Aunty nginap lagi. Jangan marahi Aunty atau hukum Aunty. Chaca tidak mau lihat Aunty nangis. Chaca merasa dada Chaca sesak kalau Aunty nangis," lanjut Chaca membuat mata Gadis berkaca-kaca.
" Chaca itu anak mama. Jadi Chaca harus dengarkan mama. Jangan bicarakan Aunty di depan mama lagi. Pokoknya mama sedang menghukum Aunty. Jadi sudah jangan membantah atau menyuruh mama untuk tidak menghukumnya. Chaca mengerti," ucap Gadis dengan penuh penelaahan dan penegasan pada Chaca.
" Tapi ma...."
" Cukup Chaca!" sentak Gadis menguatkan Volume suaranya membuat Chaca terdiam karena kaget yang mendapat bentakan.
" Kak gadis!" tegur Febby merasa kakaknya itu kelewatan.
" Dengarkan mama ya. Jangan membantah apa yang mama katakan. Chaca sekarang istirahat," ucap Gadis mencium kening Chaca dengan merapikan selimut Chaca menarik sampai dadanya. Lalu Gadis beranjak dari tempat tidur dan memilih untuk pergi tanpa melihat ke arah Febby yang tetap berada di depan pintu.
Febby geleng-geleng. Dan menghampiri Chaca, duduk di samping Chaca. Chaca juga langsung duduk dan memeluk Febby.
" Chaca takut sama mama. Chaca mau ketemu Aunty. Aunty Febby telpon Aunty Melody. Chaca mau di sana aja. Chaca tidak apa-apa kalau ada tante jahat di rumah Om Ardian. Chaca bisa di kamar aja nanti," Chaca menagis di pelukan Febby mengadukan semua apa yang di alaminya.
Anak sekecilnya yang kebingungan mulai takut dan ingin tau. Karena pasti ada perasannya yang bertanya-tanya dan pasti Chaca tidak mengerti.
" Chaca jangan nangis lagi. Aunty Melody akan datang," Febby hanya menenangkan keponakannya itu dengan mengusap-usap rambut Chaca.
__ADS_1
" Tapi mama lagi hukum Aunty. Aunty juga tadi nangis. Chaca mau sama Aunty Melody aja. Chaca mau Aunty Melody, Chaca tidak mau di sini," rengek Chaca yang menangis tersedu-sedu.
" Iya sayang Chaca pasti akan sama Aunty. Chaca jangan nangis lagi ya," ucap Febby yang berusaha untuk mendiamkan Chaca. Chaca pun melepas pelukannya dari Febby.
" Jadi Aunty akan balik lagi?" tanya Chaca yang ingin kepastian.
Febby mengusap air mata keponakannya itu dengan menganggukkan kepalanya, " Aunty pasti akan kembali. Chaca sayang sama Aunty Melody?" tanya Febby.
Dengan cepat Chaca menganggukkan kepalanya.
" Kalau begitu katakan di mana tempat Aunty Melody?" tanya Febby.
Dengan polosnya Chaca membuat telapak tangannya di dadanya, " di sini!" jawab Chaca membuat Febby tersenyum dengan rasa haru.
" Itu artinya walau Aunty Melody pergi. Dia tetap ada di hari Chaca. Sama dengan Chaca. Chaca juga satu-satunya di hati Aunty Melody," ucap Febby.
" Kalau begitu walau Aunty di hukum mama tidak boleh ketemu Chaca, gendong Chaca dan ajak Chaca main. Aunty akan tetap ada. Karena Aunty di hati Chaca," ucap Chaca dengan polosnya.
" Iya sayang. Kan ada tempat special untuk Aunty di hati Chaca. Sekarang Aunty Febby mau tanya. Chaca sayang tidak sama Aunty Melody?" tanya Febby.
" Sayang bangettttt!!!!!!!" jawab Chaca dengan melebarkan tangannya yang menggambarkan rasa sayangnya.
" Sama Aunty Melody juga pasti akan sayang sama Chaca. Jadi Chaca jangan nangis lagi. Chaca berdoa saja sama Allah ya," ucap Febby.
" Iya Aunty. Chaca akan minta sama Allah supaya mama tidak hukum Aunty Melody, supaya Chaca bisa ketemu Aunty dan Aunty tidak akan nangis lagi," ucap Chaca membuat Febby tersenyum.
Febby mengusap-usap rambut Chaca dan bahkan Chaca jauh lebih tenang di bandingkan tadi. Febby begitu kasihan pada Chaca yang harus menjadi korban.
__ADS_1
Ternyata apa yang di katakan Chaca terdengar di telinga Gadis masih berada di balik pintu. Hatinya pasti sangat sakit dan membuat dirinya meneteskan air mata karena kata-kata yang keluar dari mulut Chaca yang begitu sayangnya sama Melody.
Bersambung