
Rumah sakit jiwa.
Raisa yang masih mengalami gangguan jiwa. Masih tetap pada aktivisnya yang di kelilingi orang-orang yang sama-sama memiliki gangguan jiwa sepertinya. Namun untuk penyakit Raisa. Dia lebih banyak duduk diam, terkadang menangis, terkadang tertawa dan itu pun pelan-pelan. Jarang sekali Raisa berteriak-teriak.
Dokter Rosa yang Dokter yang di percayai keluarga Ardian untuk mengontrol Raisa menghampirinya.
" Raisa ayo kita istirahat, kamu harus minum vitamin dulu," ucap Dokter Rosa dengan lembut. Namun Raisa diam dan bahkan tidak melihat ke arah suara yang bicara padanya.
" Raisa!" Dokter Rosa menegurnya dan bahkan memegang tangannya. Tidak ada perlawanan yang di keluarkan Raisa tidak menepis atau marah. Tetapi mungkin bari permulaan tidak tau nantinya.
" Ayo Raisa!" bujuk Dokter itu lagi. Selembut sedemikian rupa.
" Tante," tiba-tiba seorang Pria datang dari belakang wanita itu dan membuat Rosa menoleh kebelakang.
" Axel!" sahut wanita itu.
" Maaf Tante aku baru bisa datang sekarang. Soalnya rumah sakit tempatku bekerja yang sebelumnya masih menahanmu untuk tetap di sana. Sehingga masih banyak prosedur yang harus aku ikuti. Makanya aku kesulitan untuk pindah kemari!" jelas Axel.
" Tidak apa-apa Axel yang penting kamu sudah ada di sini dan bisa menggantikan Tante untuk mengurus pasien pribadi di sini. Karena Tante juga harus ke Kalimantan," jawab Rosa.
" Baik Tante, semoga saya bisa menjalankan amanah yang Tante berikan," ucap Axel.
" Iya Axel. Dan iya nanti kita juga akan bertemu dengan keluarga pasien untuk lebih jelasnya agar mereka tau. Kalau kamu menggantikan Tante dan jika mereka butuh sesuatu dan ingin Konsultasi. Biar langsung melalui kamu saja. Tanpa melalui Tante lagi," ucap Rosa menjelaskan.
" Baik Tante. Mana yabg terbaik saja," sahut Axel, " oh iya Tante. Saya bisa bertemu dengan pasiennya langsung?" tanya Axel.
" Ini pasiennya," ucap Rosa menunjukkan Raisa. Axel langsung melihat Raisa yang masih diam dan sama sekali tidak melihat Axel maupun Rosa. Tidak tau juga apa dia mendengar perkataan Rosa dan Pria yang bernama Axel itu.
" Jadi dia pasiennya?" tanya Axel.
" Benar Axel. Namanya Raisa dan sudah hampir 1 bulan berada di sini. Riwayatnya penyesalan. Kamu bisa lihat nanti hasil tesnya dan juga sebagainya," ucap Rosa.
" Baik Tante," jawab Axel.
__ADS_1
" Ya sudah Tante mau ajak Raisa dulu kekamar untuk di beri vitamin," ucap Rosa.
" Biar saya saja yang melakukannya," jawab Axel yang mengambil alih. Karena memang Raisa akan menjadi pasien tetapnya setelah ini.
" Ya sudah kalau begitu. Tante tinggal dulu," ucap Rosa. Axel mengangguk dan Rosa pun meninggalkan Raisa dan Axel. Axel menghela napasnya dan mendekati Raisa.
" Raisa aku sekarang Dokter mu. Aku pengganti Dokter Rosa," ucap Axel basa-basi. Namun Raisa tidak peduli sama sekali. Namanya juga gila.
" Baiklah Raisa. Sekarang ayo kita masuk. Aku akan memberikan mu vitamin," ucap Axel sedemikian rupa lembutnya agar Raisa nyaman di dekatnya.
Raisa tetap tidak menanggapi dan Axel berjongkok di depan Raisa.
" Ayo kita pergi!" ajak Axel lagi. Akhirnya Raisa melihat ke arah Axel dan barulah wajah yang penuh kekosongan itu di tatap Axel.
" Apa kau sudah memaafkanku?" tanya Raisa dengan suara pelannya.
" Aku sudah memaafkanku," jawab Axel dengan tersenyum.
" Tetapi kesalahanku sangat banyak. Aku membuat seseorang menderita, hancur dan aku juga menghancurkan hati sahabatku dan tanganku juga menghilangkan nyawa seseorang, aku juga...." Rais tidak melanjutkan kalimatnya saat jari Axel berada di bibirnya.
Ya dia juga tidak tau wanita itu seperti apa dan mungkin dosa-dosa yang di lakukannya membuatnya menjadi gila. Karena hidup penuh dengan penyesalan.
" Jadi jangan berpikiran lagi dengan hal itu. Karena aku benar-benar sudah memaafkan mu dan oleh sebab itu. Sekarang kamu ikut denganku. Karena apa. Karena kita akan minum vitamin dan mungkin aku tidak akan memafkanmu. Jika kamu tidak mau menurutiku. Termasuk minum vitamin," ucap Axel dengan lembut yang jarinya sudah tidak di bibir Raisa lagi.
" Kamu maukan ikut denganku?" tanya Axel. Raisa mengangguk pelan. Axel tersenyum dan meraih dengan lembut tangan Raisa yang mengajak Raisa pergi. Sebagai Dokter kejiwaan Axel memang harus melakukan hal-hal yang membuat pasiennya nyaman agar pasien yang di tanganinya cepat sembuh. Karena sudah banyak pasien yang di tanganinya sembuh dengan cepat dan semoga Raisa yang menjadi selanjutnya.
**********
Persiapan pernikahan Lea dan Alvin tinggal beberapa persen lagi. Mereka memang hanya tinggal menghitung hari saja dan dalam Minggu ini pernikahan itu akan terjadi.
Hari ini Lea sedang fitting baju pengantin yang di temani Melody dan juga Rasti. Di mana Melody dan Rasti duduk di sofa sembari melihat-lihat majalah yang masih menunggu Lea yang sudah mengganti beberapa gaun.
" Mel!" tegur Rasti.
__ADS_1
" Iya kenapa?" tanya Melody sembari membolak-balikkan majalah.
" Aku dengar kamu sama Ardian sudah pernah menjenguk Raisa ya?" tanya Rasti.
" Iya sih sebelum lamarannya Lea. Hanya sekali. Setelah itu Ardian tidak memberiku izin untuk melihatnya," jawab Melody.
" Memang ke adaannya parah ya?" tanya Rasti yang penasaran. Karena dia juga belum pernah melihat Raisa sebelumnya.
" Kata Dokter sih belum ada perubahan. Namun kemarin aku dengar pembahasan Eyang dengan mama. Katanya Dokter yang menangani Raisa sebelumnya sudah di ganti dan beberapa hari ini adalah perubahan sedikit. Walau tidak terlihat. Ya mengurangi teriak-teriaknya Raisa aja sih," jawab Melody memberi tahu apa yang di ketahuinya.
" Menurut kamu dia akan sembuh atau tidak?" tanya Rasti.
" Aku juga tidak tau Rasti. Tetapi bukannya orang yang punya gangguan jiwa kalau di rawat pasti sembuh ya. Tidak jauh-jauh. Contohnya saja aku," sahut Melody yang menyadari dia dulu pernah gila.
" Iya sih. Tetapi kan faktor kalian berdua berbeda, gila karena apa," sahut Rasti.
" Ya kita doakan saja. Semoga dia cepat sembuh," sahut Melody.
" Menurut kamu. Kalau dia sembuh dia akan kembali lagi atau tidak. Kembali jahat maksudnya?" tanya Rasti.
" Aku tidak tau. Semoga saja tidak. Makanya kita doa yang baik-baik saja," ucap Melody.
" Bagaimana yang ini cocok?" tanya Lea yang tiba-tiba datang yang sudah memakai gaun pengantin yang indah.
" Cantik," sahut Melody dan Rasti dengan serentak.
" Benar ini pas untuk kamu. Tidak terlalu heboh. Simple namun sangat mewah," ucap Melody yang mengeluarkan penilaiannya.
" Jadi ini sudah pas?" tanya Lea lagi yang meminta pendapat teman-temannya itu.
" Iya Lea ini sangat cocok. Alvin akan semakin jatuh cinta padamu," sahut Rasti menggoda Lea.
" Amin kan ajalah," sahut Lea yang membuat mereka ber-3 sama-sama tertawa.
__ADS_1
Bersambung.