
" Lalu Dokter apa ada yang menangani Raisa secara khusus?" tanya Melody yang sepertinya mempunyai niat baik untuk perkembangan kesembuhan Raisa.
Melody hanya mengambil hikmahnya saja. Jika Raisa seperti itu bukan sepenuhnya kesalahannya dan mungkin tempat ini akan membuat Raisa menyadari segalanya dan keluarga Ardian juga masih bertanggung jawab atas Raisa. Karena Raisa yang tidak punya siapa-siapa dan Melody hanya mengeluarkan hari nuraninya saja.
" Benar Dokter apa ada yang menangani Raisa?" tanya Ardian yang juga ingin tau.
" Untuk saat ini belum ada penanganan khusus untuk Bu Raisa. Tetapi jangan khawatir beberapa hari ini Dokter kejiwaan yang profesional akan datang dan menangani kondisi Bu Raisa," jawab Dokter itu yang memberikan sedikit harapan.
" Syukurlah kalau begitu Dokter. Kami lega mendengarnya. Kami hanya minta untuk pihak Dokter maupun rumah sakit memberikan yang terbaik untuk Raisa. Semoga ada kemajuan dan perkembangan kesehatannya," ucap Melody.
" Iya Bu Melody. Untuk masalah itu jangan khawatir. Kami akan memberikan yang terbaik untuk Bu Raisa," sahut Dokter.
" Hmmm, Dok apa boleh saya menemuinya?" tanya Melody.
" Melody apa yang kamu bicarakan?" tanya Ardian panik.
" Aku hanya ingin melihatnya secara dekat dan tidak bicara atau melakukan apa-apa," jawab Melody.
" Itu bahaya Melody. Kamu tidak bisa melihat langsung. Karena kamu sedang mengandung. Jadi jangan mencari masalah. Raisa bisa menyakiti kamu," ucap Ardian yang panik dan pasti tidak membiarkan istrinya melakukan hal itu.
" Ardian semuanya akan baik-baik saja," jawab Melody.
" Tapi Melody!" sahut Ardian yang tidak menginginkannya.
" Dokter bolehkan saya melihatnya sebentar? hanya sebentar saja Dok?" tanya Melody yang memang ingin bertemu Raisa.
" Silahkan. Tapi tolong jaga jarak. Saya juga takut jika nanti Bu Raisa lepas kendali karena melihat anda!" jawab Dokter memberi saran.
__ADS_1
" Iya Dokter saya mengerti," sahut Melody.
" Melody kamu jangan mencari masalah," ucap Ardian yang masih berusaha menahan Melody.
" Tidak Ardian, aku akan baik-baik saja. Kamu tunggu di sini saja," jawab Melody yang meyakinkan suaminya dan melangkah mendekati Raisa dan Ardian hanya panik yang tidak bisa mencegah kenekatan istrinya.
Saat beberapa langkah lagi berdekatan dengan Raisa. Melody menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu dengan yakin melangkahkan kakinya mendekati Raisa yang duduk di sana.
Dengan perasaan yang dek-dekan. Melody berdiri di depan Raisa dengan ke-2 tangannya yang mengepal karena jujur dia begitu takut.
Melihat ada orang yang berdiri di depannya membuat Raisa mengangkat kepalanya perlahan dan melihat wanita yang berdiri di depannya.
Raisa langsung meneteskan air matanya saat melihat Melody. Tidak tau apa yang di rasakan Raisa. Beberapa detik meneteskan air matanya tiba-tiba Raisa malah tertawa dan lagi-lagi tatapan mata itu kosong. Raisa pun tidak melihat ke arah Melody di depannya melainkan melihat ke arah lain. Seolah tidak menganggap ada orang di depannya.
" Raisa aku tau kesalahanmu begitu besar dan juga karena kesalahanmu. Aku juga dulu berada di tempat ini. Tetapi jika kamu bertanya aku memaafkan mu atau tidak. Maka jawabannya aku memaafkanmu. Aku memaafkan segala kesalahan mu," ucap Melody yang terlihat tulus.
Raisa tidak menanggapi dan seperti orang linglung ya namanya juga gila. Jadi wajar saja. Kalau dia linglung.
" Ayo Melody kita pulang!" ajak Ardian meraih tangan Melody dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian Melody dan suaminya Ardian. Raisa baru melihat 2 punggung orang yang berjalan semakin jauh itu.
Dia hanya menatap nanar dengan air matanya yang kembali keluar. Tidak tau bagaimana perasaannya yang jelas dia mengalami gangguan jiwa dan mana tau juga apakah orang yang mengalami gangguan jiwa itu bisa memiliki perasaan yang lain.
**********
Setelah berkunjung dari rumah sakit melihat kondisi Raisa. Melody dan Ardian kembali kembali ke mobil dan sudah sama-sama duduk Ardian di kursi pengemudi dan Melody di sebelah Ardian.
" Jangan bertindak seperti itu lagi Melody. Semua itu bisa membahayakan kamu," ucap Ardian mengingatkan yang masih khawatir dengan tindakan Melody barusan.
__ADS_1
" Ardian walaupun Raisa mengalami gangguan jiwa. Tetapi dia juga tidak mungkin menyakiti orang lain dan tadi semuanya baik-baik saja," ucap Melody.
" Melody mungkin tadi hanya kebetulan. Bagaimana jika apa yang kata Dokter tadi terjadi. Dia berteriak-teriak dan bahkan menarik mu, kau bisa celaka," tegas Ardian.
" Tapi tadi hal itu tidak terjadi dan aku yakin Raisa tidak akan seperti itu," sahut Melody.
" Apapun itu. Kau melarangmu melakukan hal yang membahayakan itu. Jangan kemari tanpa seizin ku dan apa lagi harus bertemu dengannya dengan bertatap muka seperti tadi. Aku benar-benar melarangmu Melody," ucap Ardian menegaskan dan Melody hanya menghela napasnya mendengar larangan suaminya itu.
Ardian meraih tangan Melody dan menggenggamnya dengan erat dengan menatap sendu Melody.
" Aku mengerti perasaanmu. Aku tau apa yang kamu rasakan. Tetapi aku melakukan semua ini hanya demi kebaikan mu saja. Aku sangat khawatir dengan keselamatan mu dan anak yang ada di kandunganmu," ucap Ardian yang berbicara lembut pada istrinya.
" Iya Ardian. Aku paham kok. Aku hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Terlebih semua kesalahan Raisa atau tidak aku sebagai manusia biasa yang hanya melihat dari sisi lain tanpa adanya dendam," ucap Melody.
" Iya aku mengerti itu. Jadi mari kita lakukan semua hal yang menurut kita baik dan menjaga batasan demi keselamatan kita," ucap Ardian. Melody mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Ya sudah sekarang sebaiknya kita pulang saja. Kita bisa terlambat untuk acara lamaran Lea dan juga Alvin," ucap Ardian melihat arloji di tangannya.
" Hmmm, baiklah. Tetapi aku mau ke salon dulu, soalnya mau tampil cantik di lamaran Lea," ucap Melody.
" Kamu tidak perlu ke salon kamu itu sudah cantik," ucap Ardian memuji istrinya.
" Iya aku tau itu," sahut Melody, " tetapi tetap aja aku harus kesalon biar fresh dan berpenampilan sesuai dengan tema lamaran Lea. Jadi nggak malu-maluin nantinya," ucap Melody.
" Baiklah kalau itu mau kamu," sahut Ardian mengangguk dengan tersenyum.
" Ya sudah. Ayo kita pergi," ajak Melody. Ardian mengangguk dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan santai yang akan menemani istrinya kesalon terlebih dahulu.
__ADS_1
Memang hari ini adalah lamaran resmi Lea dan Alvin. Setelah kabar bahagia itu di berikan Minggu lalu. Ini waktu yang tepat untuk melaksanakan acara lamaran yang pasti sangat kental dengan adat istiadat di keluarga itu dan mungkin itu juga akan menjadi pertemuan pertama Alvin dan Lea. setelah satu Minggu lamanya
Bersambung