
Melody duduk di salah satu bangku yang ada di rumah sakit dengan tangannya berada di dadanya sembari mengusap-ngusap lengannya yang tampaknya dia kedinginan. Tiba-tiba Ardian datang dan langsung duduk di samping istrinya.
Melihat istrinya tampak kedinginan membuat Ardian membuka jaketnya dan langsung memakaikan pada istrinya. Melody melihat ke arah suaminya dengan mengeluarkan senyum tipisnya.
" Makasih," ucap Melody.
Ardian menganggukkan kepalanya, " kamu mau makan?" tanya Ardian.
Melody menggelengkan kepalanya, " aku sudah kenyang tadi," jawab Melody.
" Memang makan apa?" tanya Ardian.
" Tadi di belikan kak Marsel," jawab Melody.
" Walau marah kepada adiknya. Kecewa kepada adiknya. Tapi kak Marsel begitu peduli kepada Melody. Bahkan kenyataan itu belum sampai 24 jam berlalu. Sakit hati kak Marsel pasti sangat besar dengan perasaannya yang pasti kecewa kepada Melody. Tetapi dia mengenyampingkan hal itu dan terus memberi perhatian kepada Melody," batin Ardian yang telah melihat seorang kakak yang selalu ada untuk adik perempuannya.
" Kak, kenapa?" tanya Melody melihat suaminya bengong.
Ardian tersenyum dengan memegang tangan Melody, " tidak apa-apa," jawab Ardian.
" Benar?" tanya Melody tidak yakin.
" Iya aku tidak apa-apa. Aku hanya lega. Akhirnya semua masalah satu persatu bisa terselesaikan," ucap Ardian.
Melody menganggukkan kepalanya, " tapi mama dan papa pasti masih belum bisa memaafkan kesalahanku," sahut Melody dengan wajah senduhnya.
" Semoga nanti mama dan papa bisa menerima dengan baik," sahut Ardian penuh dengan harapan. Melody hanya mengangguk yang juga pasti berharap yang sama.
" Oh iya kak Ardian," sahut Melody tiba-tiba.
" Ada apa?" tanya Ardian.
" Hmmm, aku lupa bertanya pada mama. Aku kok bisa tiba-tiba ada di kamar rumah sakit?" tanya Melody.
" Tidak apa-apa. Kamu hanya kecapean," jawab Ardian yang tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
Ardian juga sudah mendapat cerita dari Dania. Melody jika lintasan traumanya teringat dia memang akan drop dan setelah itu akan lupa yang artinya memang Melody belum sembuh total.
" Semoga kamu benar-benar sembuh Melody," batin Ardian.
" Kak Melody kak Ardian!" tiba-tiba Febby datang yang terlihat Febby tergesa-tergesa yang sepertinya ada yang ingin di katakannya.
" Ada apa Febby?" tanya Melody heran.
" Ch_ Chaca_ Chaca sudah siuman," sahut Febby membuat Ardian dan Melody kaget.
" Kamu serius," Melody langsung berdiri yang tidak percaya dengan kata-kata adiknya.
" Iya kak, Chaca sudah bangun, ayo buruan kita kekamarnya!" jawab Febby yang begitu senangnya. Melody dan Ardian pun begitu senangnya dan langsung menyusul Febby untuk kekamar Chaca yang di nyatakan Chaca sudah sadar.
Akhirnya mereka tiba di kamar Chaca terlihat orang tua Melody berada di dekat Chaca, Gadis duduk di samping tempat tidur Chaca, Marsel di sampingnya dan Melody yang melihat kebenaran itu langsung berlari menghampiri Chaca.
" Chaca ya Allah kamu sudah bangun sayang," Melody langsung mendekati Chaca dengan memegang tangan Chaca yang begitu bahagianya. Bahkan sampai Melody memeluk Chaca.
Ardian yang juga begitu bahagia melangkah ingin mendekat. Namun langkahnya terhenti ketika menyadari sesuatu. Ya dia tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti Melody, memeluk Chaca. Dia menyadari posisinya seperti apa. Walau pasti dia ingin melakukannya. Karena naluri seorang ayah pasti tidak akan bisa hilang. Tetapi mau bagaimana lagi, ini hukuman untuknya yang hanya bisa melihat tanpa bisa menggapai.
" Gimana Aunty tidak menangis. Chaca seperti ini. Karena kesalahan Aunty. Jadi Aunty sedih," ucap Melody. Gadis hanya diam yang menjadi minder untuk mendekati Chaca. Dia semakin di sadarkan jika itu bukan anaknya. Suaminya di dekatnya hanya mengusap pundaknya untuk memberikan istrinya kekuatan.
" Jangan nangis lagi. Chaca kan sudah tidak apa-apa," ucap Chaca yang tangan kecilnya mengusap air mata Melody.
" Alhamdulillah jika Chaca sudah sembuh. Oma senang mendengarnya," sahut Dania.
" Makasih Oma," sahut Chaca tersenyum dan Chaca melihat di sekitarnya yang mencari seseorang, " Om Ardian tidak datang?" tanya Chaca yang tidak melihat Ardian.
Melody pun melihat di ruangan itu memang tidak ada Ardian. Hal itu membuat Melody heran, " kemana kak Ardian. Tadi dia ada di sini," ucap Melody heran.
Marsel dan istrinya saling melihat mereka juga heran kemana Ardian. Tadi juga sempat melihat Ardian.
" Apa Ardian memang sengaja menghindar," batin Dania.
" Kasian kak Ardian, dia pasti sengaja pergi. Karena tidak bisa melihat situasi ini," batin Febby.
__ADS_1
" Mungkin Ardian ke toilet," sahut Wawan berpikiran positif. Melody mengangguk-angguk. Walaupun dia tiba-tiba merasa ada yang tidak beres. Karena tadi suaminya jelas-jelas ikut bersamanya dan sudah main pergi saja.
" Ya sudah Chaca mau makan sesuatu tidak?" tanya Melody.
" Mau-mau Chaca terasa lapar," jawab Chaca.
" Biar papa belikan," sahut Marsel.
" Baik pah," sahut Chaca.
" Chaca mau makan apa?" tanya Gadis.
" Hmmm, pokoknya yang banyak," sahut Chaca dengan tangannya yang di buka lebar untuk menerangkan banyaknya makanan yang ingin di makannya yang membuat orang-orang yang ada di ruangan itu tertawa.
" Ya sudah papa beli dulu," sahut Marsel. Chaca mengangguk-angguk dengan cerianya.
**********
Ardian menyendiri untuk menghindari semuanya. Di duduk di luar rumah sakit dengan tangannya yang berada di dadanya. Ada rasa ingin memeluk Chaca yang mana itu anaknya. Namun tidak bisa karena dia harus menjaga perasaan wanita yang juga berkorban untuk Melody dan Chaca. Yaitu gadis kakak ipar Melody.
" Huhhhhh, aku tidak tau sampai kapan perasaan ini akan terus ada. Rasanya begitu sakit anak sendiri yang hanya bisa di lihat tanpa bisa di gapai. Aku ayahnya. Tetapi tidak bisa memeluknya. Aku tidak bisa mendengarnya memanggilku papa. Ternyata sakit ini sangat luar biasa. Ini adalah karma untukku yang mana aku tidak akan bisa untuk bersama anakku sendiri," batin Ardian yang meratapi kesedihannya dengan matanya yang berkaca-kaca.
Marsel yang ingin keluar untuk membeli makanan tidak sengaja melihat Ardian. Marsel menghentikan langkahnya dan hanya melihat dengan tatapan datar. Hanya sebentar saja dan dia juga langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Ardian hanya murung dalam pikirannya sendiri.
Sama dengan Melody yang sejak tadi mencari suaminya. Karena dia juga tidak menemukan suaminya di toilet dan lelah mencari akhirnya menemukannya. Dengan membuang napasnya perlahan kedepan. Melody langsung menghampiri suaminya
" Kak!" tegur Melody yang berdiri di samping Ardian membuat Ardian menoleh kesamping dan Melody pun langsung duduk di samping suaminya itu.
" Kakak kenapa?" tanya Melody merasa ada yang tidak beras.
" Aku tidak apa-apa Melody," jawab Ardian Bohong.
" Benar?" tanya Melody tidak percaya.
" Iya," jawab Ardian.
__ADS_1
Bersambung