
Lea dan Alvin sedang melakukan malam pertama mereka yang tiada hentinya sama sekali yang berbeda dengan Melody dan Ardian yang ternyata memilih pulang dan tidak menginap di hotel.
Melody sudah tertidur yang membelakangi Ardian dan ternyata Ardian belum tidur yang masih bersandar pada kepala ranjang. Ardian tampaknya tidak bisa tidur yang hanya terus melihat handphonenya.
Melody yang merasa jika suaminya itu belum tidur menoleh ke sampingnya dan memang benar suaminya belum tidur sama sekali.
" Kenapa belum tidur?" tanya Melody yang melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi
" Aku tidak bisa tidur," jawab Ardian.
" Kenapa?" tanya Melody heran yang mencoba menggeserkan tubuhnya dan mendekati Ardian dengan memeluk Ardian, " apa yang salah sehingga sudah selarut ini kamu belum tidur?" tanya Melody mengangkat kepalanya agar bisa melihat suaminya.
" Tidak ada yang salah sayang. Aku hanya tidak mengantuk," jawab Ardian.
" Mana mungkin?" tanya Melody yang tidak percaya.
" Itu mungkin Melody, jangka memikirkan apa-apa," ucap Ardian sembari mengusap-usap kepala Melody.
" Ya sudah kalau begitu ayo tidur. Bukannya besok kamu harus kekantor juga," ucap Melody.
" Iya sayang, aku besok akan kekantor. Kita akan istirahat," ucap Ardian. Melody mengangguk dengan tersenyum memeluk Ardian.
" Aku hanya memikirkan apa yang di katakan Evan. Aku takut Melody. Jika apa yang aku dan Evan rencanakan tidak berhasil," batin Ardian yang memikirkan cara untuk kebahagiaan istrinya.
Tidak ingin membuat Melody kepikiran. Ardian pun akhirnya menyusul untuk tidur. Karena memang sebaiknya dia tertidur dan Melody juga sudah menunggunya dan bahkan sudah kembali tertidur.
*********
Mentari pagi kembali tiba. Ini sarapan pertama Lea dan Alvin setelah menikah. Tetapi mereka tidak sarapan di hotel melainkan langsung pulang ke rumah Lea. Karena Eyang besar ingin mengadakan sarapan pertama.
Sebenarnya Lea dan Alvin pasti masih lelah. Mungkin saja mereka baru selesai bermain. Namun mau tidak mau Lea harus mendengarkan apa kata Eyangnya dan pasti itu tradisi keluarga dan Alvin yang sudah menjadi bagian dari keluarga harus mengikuti tradisi keluarga itu.
Mereka semua sudah berkumpul di meja makan dengan lengan lengkap yang pasti bertambah 1 yaitu Alvin sang suami Lea yang menjadi anggota keluarga besar itu.
" Alvin ayo kamu nikmati sarapan buatan Lea. Ini hari pertama kamu menjadi keluarga di rumah ini dan ini juga hari pertama kamu menikmati sarapan buatan istri kamu sendiri," ucap Eyang besar dengan ramah.
" Makasih Eyang," sahut Alvin yang mulai mencicipinya.
__ADS_1
" Jika tidak enak. Maka katakan tidak enak Alvin. Biar Lea bisa belajar," sahut Mila.
" Iya kak. Tapi sebelum aku memakannya. Ini pasti enak, karena ini masakan istriku," sahut Alvin tersenyum pada Lea membuat Lea melayang-layang. Namun harus malu karena di goda do depan orang banyak.
" Namanya juga pengantin baru. Hal itu biasa kali. Dulu juga mas Arya mengatakan hal itu. Padahal hanya roti saja. Sekarang aja tidak ada makanan yang tidak di sukainya, jika aku membuatnya," sahut Vivi dengan sewot membuat orang-orang tertawa.
" Kan Tante tidak bisa masak. Jadi apa yang mau di sukai Om Arya," sahut Aliya.
" Benar Tante. Kalau mama kan ahlinya memasak. Jadi papa bisa memuji dan menyukai masakan mama," sahut Aliya yang membanggakan mamanya.
" Iya, iya deh yang pintar masak," sahut Vivi.
" Nggak apa-apa kak Vivi. Melody juga tidak pintar-pintar amat memasak. Jadi aman," sahut Melody yang tersenyum lebar.
" Tapi bagiku. Kamu sangat pintar memasak dan masakan kamu sangat enak, bahkan mengalahkan masakan kak Mila," sahut Ardian yang memuji Melody.
" Sudahlah jangan membahas masalah memasak. Jika semuanya belajar, pasti akan bisa memasak," sahut Eyang dengan bijak.
" Benar kata Eyang yang penting kita para wanita harus berusaha dan memasak itu bukan kekurangan. Tetapi bisa menjadi kelebihan juga," sahut Widia menambahi.
Yang lain mengangguk-angguk saja dengan perdebatan kecil dalam becandaan soal memasak dan memasak.
" Eyang pakai nanyak lagi. Ya pasti bulan madu lah," sahut Evan yang mengambil alih untuk menjawab.
" Shuttt, Eyang tidak bertanya pada kamu!" tegur Shandra menepuk lengan anaknya itu yang duduk di sampingnya. Yang lainnya yang ada di meja makan itu tertawa geleng-geleng saja.
" Mungkin kata Evan benar Eyang aku dan Lea akan melakukan perjalanan ke Eropa untuk berbulan madu," sahut Alvin. Lea tampaknya terkejut seakan tidak tau jika Alvin merencanakan hal itu.
" Kamu serius?" tanya Lea yang benar-benar tidak tau.
" Iya Lea. Aku memang sudah memikirkan semua ini dan aku akan melakukan perjalanan bulan madu untuk kita berdua. Aku sudah menyiapkannya sebelum kita menikah," ucap Alvin membuat Lea yang pasti begitu bahagia.
" Ini sungguhan Alvin?" tanya Lea lagi yang tidak percaya. Alvin menganggukkan kepalanya.
" Dan pasti bukan hanya kita berdua yang berangkat," sahut Alvin lagi.
" Memang siapa lagi Alvin?" tanya Widia.
__ADS_1
" Ardian Melody dan Rasti dan Evan," jawab Alvin.
Apa yang di katakan Alvin membuat Melody terkejut. Namun Ardian ataupun Evan terlihat biasa saja.
" Aku," sahut Melody bingung dengan menunjuk dirinya sendiri.
" Benar, kamu dan Ardian akan ikut bersamaku dan juga Lea," jawab Alvin menegaskan.
" Kok aku sama Ardian?" tanya Melody heran melihat ke arah suaminya namun. Suaminya tampak santai dan sepertinya suaminya memang sudah tau.
" Iya Melody kita juga belum pernah liburan ke Luar Negri setelah menikah. Jadi tidak ada salahnya kita liburan dulu," ucap Ardian membenarkan apa yang di katakan Alvin.
" Iya Melody sekalian aku sama Rasti juga ikutan nebeng," sahut Evan dengan semangatnya.
" Tapikan Om Evan belum menikah. Apa boleh?" tanya Aliya heran membuat Evan terdiam dan melihat ke arah mamanya yang mamanya melihatnya dengan tatapan mengintimidasi.
" Tidak akan terjadi apa-apa mah. Hanya liburan saja. Percaya," ucap Evan sebelum mamanya berpikiran yang lain padanya.
" Mama meragukan kamu," sahut Shandra to the point.
" Astaga mah," sahut Evan geleng-geleng.
" Melody kamu kenapa? apa kamu tidak ingin liburan bersamaku dan juga Alvin?" tanya Lea.
" Bukan begitu. Aku kan lagi hamil. Apa bisa langsung terbang?" tanya Melody heran.
" Jangan khawatir sayang. Sebelum aku mengajak kamu. Pasti aku sudah konsultasi dengan Dokter. Jadi kamu jangan takut," ucap Ardian yang mempersiapkan semuanya.
" Benar itu tidak akan apa-apa?" tanya Melody khawatir.
" Tidak akan apa-apa," sahut Ardian meyakinkan.
" Ya sudah kalau memang tidak akan terjadi apa-apa," sahut Melody yang merasa lega sedikit.
" Itu artinya kamu tidak masalahkan. Jika ikut?" tanya Lea memastikan.
Melody menganggukan kepalanya.
__ADS_1
" Jika tidak ada halangan aku akan ikut bersama kalian," sahut Melody dengan tersenyum. Walau dia masih ragu. Ardian dan Evan tersenyum mendengar Melody yang akhirnya mau.
Bersambung