
Raisa yang begitu frustasi dengan kehamilannya yang mana pasti tidak ada pertanggung jawaban membuat pikirannya kosong dan tidak tau harus melakukan apa. Meski sudah bercerita kepada Melody. Namun sama sekali itu tidak berpengaruh apa-apa. Karena memang pada dasarnya Axel pasti tidak mau bertanggung jawab. Apa lagi Axel sudah bertunangan.
Di malam hari yang mana bumi di terangi bintang dan bulan yang indah. Raisa berjalan di pinggir pantai dengan suara ombak yang kuat dan bahkan ombak tinggi menyapu pasir dan mengenai kakinya yang berjalan di bibir pantai.
Air matanya menetes dengan wajahnya yang sendu. Yang pasti pikirannya langsung mengarah pada kondisi kehidupannya.
" Melody pernah merasakan apa yang terjadi padaku dan semua itu karena perbuatanku. Dia juga masuk rumah sakit jiwa dalam keadaan hamil dan Ardian tidak tau apa-apa. Karena perbuatan ku. Aku memanipulasi semuanya hanya demi mendapatkan Ardian dan Melody harus menderita dalam setahun lebih," ucap Raisa dengan tersenyum.
" Aku sekarang sudah mendapatkan karma itu. Tuhan telah membalasku bahkan berlipat dengan apa yang terjadi pada Melody. Aku merasakan jeruji besi. Tanganku pernah membunuh membuatku di awasi Polisi dan mengalami gangguan jiwa dan iya aku terbebas dari hukuman karena kebaikan keluarga Ardian yang masih menyelamatkanku dan memberiku kesempatan untuk hidup damai,"
" Tapi ternyata tidak apa yang terjadi denganku dan Axel juga adalah suatu karma. Di mana aku akan merasakan kembali penderitaan yang di rasakan Melody dulu. Anak yang aku kandung akan berkembang di rahimku tanpa seorang ayah," lanjutnya dengan deraian air mata yang membasahi pipinya.
Raisa terus berbicara dengan langkahnya yang mengarah kepantai dan bahkan semakin jauh ke lautan yang air sudah sampai pada atas mata kakinya.
" Tetapi aku tidak bisa menanggung semua ini. Aku tidak bisa menerima semua ini. Aku sudah tidak sanggup untuk melanjutkan semua ini," ucapnya lagi yang terus berjalan kelautan dan air sampai di bawah lututnya.
Pikiran Raisa semakin entah kemana-mana dan Raisa begitu putus asa dengan apa yang terjadi dengan kehidupannya. Putus asa membawanya ingin mengakhiri hidupnya. Karena lelah dengan apa yang terjadi.
Langkahnya semakin jauh dan semakin dalam di mana sekarang ombak saja sudah menerjang Raisa mengenai wajah Raisa dan Raisa memang tidak peduli sama sekali dan terus melanjutkan langkanya dengan air matanya yang mengalir dan bayangan-bayangan wajah Axel yang mengisi hari-harinya selama dalam masa perawatan.
Sebuah mobil berhenti di pinggir pantai dan sang pengemudi langsung keluar dari mobil itu yang ternyata adalah Axel yang melihat ke arah sekitar pantai.
Setelah mendapat informasi dari Melody yang mengejutkannya. Membuat Axel tidak bisa membiarkan Raisa menanggung semuanya sendirian. Axel langsung mencari Raisa ke tempat pekerjaannya, kerumahnya dan mencari kemana-mana sampai akhirnya berhenti di sekitar pantai.
__ADS_1
Axel langsung melihat ke ujung sana yang mana ada Raisa yang membuat Axel terkejut melihat Rais yang hampir saja tenggelam.
" Raisa!" teriak Axel yang langsung berlari mengejar Raisa.
" Raisa! dengarkan aku! Raisa!" Axel terus berlari mengejar Raisa dengan diapun yang basah-basahan dan Raisa sendiri sudah hampir tenggelam dengan air sudah sampai dadanya.
Axel semakin panik dan jika saja ombak menerjang Raisa benar-benar akan di sapu ombak.
" Raisa!" teriak Axel yang mengencangkan larinya dan akhirnya berhasil menarik tangan Raisa, Raisa yang sudah kelelap air yang berhasil di selamatkan Axel dan menarik Raisa sampai ke pinggir pantai.
" Lepaskan aku!" teriak Raisa ketika dia dan Axel saling berhadapan dan berada di pinggir pantai dengan basah kuyup.
" Apa yang kau lakukan. Apa kau gila ingin mengakhiri hudupmu!" teriak Axel.
" Apa urusannya dengamu. Bukannya kau tidak mengenalku. Lalu kenapa jika aku gila dan mengakhiri semuanya. Bukannya kau yang menghancurkan segalanya. Kau berusaha menyembuhkan dari sakit jiwaku. Dengan caramu yang sampai membuatku tidak bisa mengendalikan perasaan ku. Kau memanfaatkan situasi, memanfaatkan sakitku dengan melakukan hal itu. Lalu setelah itu apa. Kau meninggalkanku. Kau pergi tanpa ada kabar setelah berhasil menghancurkanku lagi dan membuatku lebih gila lagi!" teriak Pricilla dengan penuh kemarahan yang baru bisa mengeluarkan semua unek-unek yang tersimpan selama ini.
" Kau sangat jahat Axel, kau itu bajingan, kau itu Dokter manipulasi yang menghancurkan kehidupanku. Aku sangat membenciku Axel. Aku sangat membencimu!" teriak Raisa yang dengan derain air matanya yang memukul-mukul dada Axel.
" Raisa!" lirih Axel dengan suaranya yang bergetar yang melihat Raisa benar-benar hancur karena perbuatannya.
Plakkk.
Raisa langsung melayangkan tangannya menampar Axel, " kau menyembuhkan ku lalu menghancurkan ku. Membuat ku menjadi wanita yang paling hina!" ucap Raisa menekan suaranya dengan menatap tajam Axel yang sejak tadi diam dan hanya mendengar semua keluhan Raisa yang pasti mata Axel bergenang.
__ADS_1
" Bajingan, kau sangat bajingan," lirih Raisa dengan suaranya yang melemah dan pandangannya yang mulai rabun dan akhirnya membuatnya tidak berdaya dan akhirnya pingsan dan dengan cepat Axel menangkapnya dan membuat Axel terduduk dengan Raisa yang ada di pangkuannya yang tidak sadarkan diri.
" Raisa bangun. Raisa! Raisa bangun!" ucap Axel dengan panik yang membangunkan Raisa dengan memegang pipi Raisa.
" Raisa! Raisa! Raisa!" Axel terus membangunkan Raisa yang tidak sadarkan diri.
2 mobil berhenti di dekat mobil Axel dan semua penghuni mobil langsung keluar dari mobil itu yang ternyata Melody, Ardian, Rasti, Evan, Lea dan Alvin.
" Raisa!" teriak mereka dengan serentak yang kaget melihat dari kejauhan di mana Raisa yang tidak sadarkan diri. Mereka semua pun langsung menghampiri Axel.
" Apa yang terjadi pada Raisa?" tanya Melody dengan paniknya.
" Dia hampir melenyapkan dirinya dan setelah marah-marah. Dia pingsan," jawab Axel dengan suaranya yang begitu mencemaskan Raisa.
" Raisa bangun! Raisa!" Melody mencoba memegang tangan Raisa yang membangunkan Raisa.
" Sebaiknya kita bawa saja kerumah sakit," ucap Ardina.
" Iya ayo kita bawa," sahut Alvin. Yang lainnya setuju. Axel langsung menggendong Raisa ala bridal style dan langsung berlari ke dalam mobil untuk membawa Raisa ke rumah sakit. Yang lainnya juga buru-buru memasuki mobil. Agar Raisa secepatnya tertolong.
Terlalu banyak yang di pikirkan Raisa membuatnya melakukan hal yang nekat. Raisa yang menanggung sendiri masalahnya. Kehamilannya dan pasti tidak ada pertanggung jawaban membuatnya benar-benar lelah dan lebih baik mengakhiri segalanya.
Bagi Raisa mungkin mati jauh lebih baik. Dari pada bertahan yang semakin lama akan semakin menderita saja. Kematian sudah di depan matanya dan untung saja Axel menyelamatkannya yang tidak tau apakah selamatnya dirinya adalah jalan yang terbaik atau justru sebaliknya.
__ADS_1
Bersambung.