Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 64 Hukuman yang setimpal


__ADS_3

Tinggal Shandra, Evan, Mila dan Ardian yang masih berada di tempat semula.


" Aku tidak percaya jika Raisa dan Tante Novi bisa melakukan ini. Semoga saja Eyang besar memberikan hukum jera kepada mereka. Agar mereka tau apa yang mereka lakukan itu sungguh keterlaluan dan hanya merugikan orang lain," ucap Mila dengan wajah yang masih seperti tidak percaya.


" Kasian Melody harus menanggung semuanya. Mereka itu benar-benar sungguh keterlaluan," sahut Evan.


" Ah sudahlah yang penting masalah ini akhirnya terbongkar. Mila mau keatas dulu," sahut Mila yang langsung pergi. Evan pun menyusul pergi dan hanya meninggalkan Widia dan juga Ardian.


Widia mendekati Ardian dengan berdiri di depannya dengan memegang pipi Ardian.


" Apa yang kamu lakukan sudah yang terbaik. Kamu menutup kesalahan istri di depan orang lain. Kamu tidak ingin namanya jelek dan kamu rela memakan makanan yang tidak bisa di makan. Mama bangga sama kamu Ardian. Kamu harus lebih tegas dengan keadaan ini. Jika kamu ingin pernikahan kamu tetap utuh," ucap Widia dengan matanya berkaca-kaca.


" Tapi aku juga sudah menuduh Melody," batin Ardian yang merasa bersalah karena menuduh Melody yang tidak-tidak.


" Ardian jika istrimu salah maka tegurlah dia. Jika dia kamu yang salah maka minta maaflah. Kamu tidak akan kehilangan harga diri. Jika hanya karena permintaan maaf. Kamu adalah seorang suami. Kamu imam dan istrimu adalah tanggung jawabmu di Duni bahkan di akhirat nanti," ucap Widia yang terus mengingatkan Ardian. Ardian hanya menganggukkan kepalanya.


" Ya sudah mama kekamar dulu," ucap Widia.


" Iya mah," sahut Ardian. Setelah kepergian sang mama Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan lalu Ardian langsung menaiki anak tangga yang pasti ingin kekamarnya.


Setibanya di depan pintu kamar Ardian langsung membuka pintu kamar dan langsung mendapati Melody yang merapikan tempat tidur. Ardian beberapa kali membuang napasnya perlahan kedepan yang seketika seperti orang bingung yang harus memulai dari mana pembahasan dengan Melody.


" Aku minta maaf," ucap Ardian yang langsung pada intinya, Melody yang merapikan selimut langsung menghentikan pekerjaannya dan langsung melihat ke arah Ardian. Melody pasti melihat kesal suaminya itu.


Namun Melody diam saja yang tidak menjawab apa-apa yang di katakan Ardian. Melody pun memilih pergi yang menang acuh pada Ardian.

__ADS_1


" Melody!" panggil Ardian menghentikan tangan Melody. Namun Melody langsung melepaskan tangannya dari Aditya dan keluar dari kamar. Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan yang tidak bisa berbuat apa-apa dan memang pasti Melody tidak mudah untuk memberinya maaf.


" Aku memang keterlaluan. Seharusnya aku tidak menuduhnya melakukan hal itu. Mungkin Melody membenciku. Tetapi dia juga wanita yang kamu kenal Ardian. Dia mana mungkin melakukan hal itu. Tapi kau menuduhnya yang tidak-tidak," batin Ardian yang merasa bersalah dengan wajahnya yang sendu yang hanya bisa menerima konsukuensinya.


************


Eyang besar sedang berhadapan dengan Raisa dan juga Novi di dalam kamarnya. Tidak tau apakah 2 wanita itu masih mempunyai muka atau tidak yang jelasnya Meraka yang duduk bersebelahan hanya bisa menunduk di depan Eyang besar.


Tiba-tiba Eyang besar meletakkan 2 lembar kertas di atas meja yang membuat Raisa dan Novi melihat lembaran apa itu yang terlihat berupa tiket.


" Apa ini Eyang?" tanya Novi yang sudah mengangkat kepalanya dan melihat apa yang di berikan itu.


" Hanya 10 hari kalian bisa untuk sementara pergi. Anggaplah liburan," sahut Eyang besar. Raisa dan Novi saling melihat dan kaget mendengar pernyataan singkat itu.


" Apa yang kalian lakukan sudah sangat kelewatan. Melody menantu di rumah ini dan masih banyak adat-istiadat yang harus di jalankan ya sebagai istri dan juga menantu. Pertama dia bisa menyelesaikannya. Walau ada kesalahan. Tetapi bukan dua yang melakukannya. Aku tidak ingin hal ini terulang lagi yang bisa-bisa adat yang kental bisa menjadi rusak karena perbuatan kalian. Jadi pergilah ke Kalimantan untuk 10 hari," jelas Eyang besar dengan penuh penekanan dan juga penegasan.


Raisa dan Novi sama-sama terkejut dengan mata mereka yang sama-sama melotot dan hampir bola mata itu ingin keluar.


" Eyang mengusir kami," sahut Novi dengan napas beratnya.


" Beda kata mengusir dan juga hukuman. Aku melakukan ini demi kenyamanan orang baru di rumah ini dan juga demi menjaga adat di rumah ini yang tidak tercoreng dengan kelakukan kekanak-kanakan kalian. Hanya 10 hari aku rasa itu hukuman yang tidak berat," jelas Eyang besar yang yakin dengan keputusannya.


" Tidak mungkin. Jika aku pergi dari sini selama 10 hari itu sama saja aku memberi peluang untuk Melody dan juga Ardian," batin Raisa yang kepanikan.


" Hukuman ini berlebihan Eyang," protes Raisa.

__ADS_1


" Aku tidak suka di bantah dan jika di bantah maka akan aku tambah lagi. Apa yang aku lakukan untuk mendewasakan diri kalian berdua yang seperti anak kecil. Jadi jalankan hukuman ku dengan baik agar mendapatkan maaf dari ku dan juga kembalinya kepercayaan ku kepada kalian," tegas Eyang lagi yang menolak tawar menawar.


" Tapi Eyang..." sahut Raisa. Namun Eyang mengangkat tangannya untuk menyuruh stop.


" Sudah malam aku mau beristirahat pergilah kalian dari sini dan persiapkan diri kalian untuk besok. Supir akan mengantar kalian ke Bandara," tegas Eyang.


" Eyang, tapi....."


Eyang langsung berdiri dan mempersilahkan Raisa dan Novi untuk keluar dari kamarnya yang mana dia memang tidak akan mengubah keputusannya sedikitpun.


" Raisa ayo!" ajak Novi. Raisa seakan tidak menerima hukuman itu dan membuat Novi menariknya paksa membawanya keluar dari kamar itu.


" Itu yang terbaik. Siapa yang salah harus di hukum dan Melody berhak mendapatkan kenyamanan. Ya karena tidak mungkin Raisa dan Novi pergi dari rumah ini. Dan ini hukuman yang pas untuk mereka. Agar bisa belajar lebih baik," batin Eyang yang dengan yakin pada keputusannya.


Raisa dan Novi yang keluar dari kamar Eyang dengan Novi yang memegang tiket yang di berikan Eyang. Wajah Raisa begitu panik dan marah dengan hukuman yang telah di terimanya.


" Bagaimana ini Tante?" tanya Raisa yang penuh kebingungan.


" Kita tidak membantahnya Raisa. Jika kita membantah masalahnya akan semakin panjang. Sudahlah kita terima saja hukuman ini. Supaya kita kembali mendapatkan kepercayaan di keluarga ini dan ingat apa yang kita lakukan untuk membuat nama kita kembali bersih," ucap Novi.


" Tapi ini mana mungkin aku jalankan Tante. Sama saja membuat Ardian dan Melody dekat.


" Raisa kita tidak punya pilihan. Sudahlah. Kita terima saja. Ayo kita pergi," sahut Novi menegaskan dan menarik tangan Raisa dari depan kamar Eyang yang membawanya pergi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2