
Suara teriakan Raisa yang di bawa polisi masih terus terdengar yang sama sekali tidak ada yang peduli kepadanya. Dan Novi juga tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya memegang kepalanya yang sepertinya ingin pecah.
" Ada apa Tante Novi, ingin menyusulnya, sabar Tante ada giliran Tante kok," sahut Lea dengan tersenyum sinis melihat Novi yang resah.
" Kurang ajar kamu Lea. Kamu dan Melody pasti menjebak Raisa kan," sahut Novi yang main tuduh aja.
" Jangan libatkan adikku," sahut Marsel.
" Sudah cukup! hentikan semua ini," sahut Eyang dengan tegas.
" Lalu bagaimana Raisa Eyang? dia akan di penjara?" tanya Novi.
" Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Siapa yang berbuat dia yang menanggungnya," sahut Eyang menegaskan.
" Tapi tidak semuanya Raisa yang melakukannya," sahut Novi dengan suara meninggi.
" Lalu Tante yang membantunya. Kayaknya Tante memang ingin cepat-cepat menyusul Raisa," sahut Evan yang membuat Novi hanya terjebak pada pernyataannya sendiri.
" Kalian semua benar-benar jahat, kalian mperlakukam Raisa seperti ini. Hanya karena wanita baru di rumah ini. Kurang sabar apa Raisa menghadapi keluarga kalian. Kalian benar-benar," ucap Novi yang malah marah-marah.
" Novi, kamu jangan malah menyalahkan orang yang ada di sini. Raisa di penjara karena perbuatannya dan tidak ada yang membela siapa. Untuk Melody dia bukan keluarga baru," sahut Widia.
" Jadi kalian ingin mengatakan Raisa yang baru. Ingatlah Raisa sejak kecil ada di rumah ini. Jadi apapun Raisa yang harus di pedulikan bukan Melody dan iya apa kalian lupa dengan keluarga Raisa yang membuat kalian seperti sekarang ini," ucap Novi yang mengungkit masa lalu.
Semua orang diam yang ada di rumah itu ketika mendengar kata-kata Raisa bahkan mereka saling melihat.
" Tidak lupakan mbak Wida, Eyang dan mbak Shandra," sahut Novi.
" Wanita ini benar-benar dia sekarang malah mengungkit hal itu," batin Lea.
" Novi kami tegaskan sekali lagi kepada kamu. Apa yang terjadi tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu. Raisa seperti itu karena perbuatannya dan mengait-ngaitkan dengan hal lain," sahut Eyang menegaskan.
" Sudahlah kalian bilang aja memang kalian semua sudah melupakan semua itu," sahut Novi dengan wajahnya yang penuh kemarahan dan langsung pergi.
" Mah, sudahlah jangan di pikirkan apa yang di katakan Eyang itu tidak ada gunanya, biarkan saja ma," sahut Evan.
" Benar kata Evan, Tante Novi hanya menggertak saja. Jadi biarkan saja dia," sahut Lea.
" Baiklah kalau begitu, aku dan istriku pulang dulu. Lea makasih kamu sudah membantu kami," ucap Marsel.
__ADS_1
" Iya kak sama-sama," sahut Lea.
" Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu permisi!" ucap Marsel pamit
" Kami permisi!" sahut Gadis yang juga pamitan.
" Akhirnya Raisa bisa di penjara juga. Aku sekarang tinggal mencari bukti lain agar bisa membongkar semua kejahatannya," batin Lea.
" Tidak menyangka jika Raisa bisa menjadi wanita yang begitu jahat. Raisa benar-benar keterlaluan, dia sudah banyak mencoba menyakiti Melody dan bahkan sampai membakar Villa dengan maksud yang tidak di ketahui," bayi Widia dengan memijat kepalanya yang terasa begitu berat.
" Mama, apa mama baik-baik saja," sahut Mila memegang mertuanya yang seperti ingin jatuh.
" Tidak apa-apa Mila," sahut Widia.
" Ya sudah mah, mama sebaiknya istirahat, biar Mila antar kekamar," ucap Mila. Widia mengangguk dan langsung membawa Widia pergi.
Shandra dan Eyang besar pun ikut pergi yang hanya tinggal Evan dan juga Lea.
" Untunglah Lea kamu mendapatkan cctv itu," sahut Evan.
" Aku mendengar kecelakaan di rumah ini. Aku buru-buru pulang dan mendengar Rais dan tantenya bertengkar dan aku langsung menyalin cctv tersebut," jelas Lea.
" Iya, kita akan mencari bukti itu secepatnya," sahut Lea.
************
Melody duduk di samping Ardian yang mana Ardian merangkul bahunya dan kepalanya berada di bahu suaminya. Tangan mereka saling menggenggam.
" Kenapa Chaca belum bangun juga?" tanya Melody dengan suara lemasnya.
" Kamu harus bersabar Melody, Chaca pasti akan sembuh," sahut Ardian.
" Tapi aku sudah sangat merindukannya, baru saja sehari dia bersama kita. Tetapi sekarang dia sudah berada di rumah sakit lagi. Aku pikir aku bisa menjaganya dengan baik. Tetapi ternyata tidak," sahut Melody dengan air matanya yang menetes.
" Aku tau Melody. Tapi tetap semua yang terjadi bukan kesalahan kamu, ini adalah musibah," ucap Ardian. Melody mengangkat kepalanya untuk melihat Ardian.
" Jika Chaca nanti sadar boleh tidak kita tinggal di tempat mama untuk beberapa saat agar aku bisa bersama Chaca," ucap Melody meminta izin. Ardian menganggukkan kepalanya.
" Boleh, kita boleh tinggal di sana. Aku juga ingin tinggal lama-lama bersamanya," sahut Ardian. Melody tersenyum dan memeluk Ardian.
__ADS_1
" Melody Chaca adalah anak kamu. Perasaan kamu begitu kuat kepadanya aku yakin Chaca anak kita berdua," batin Ardian mengusap-usap rambut Melody.
Tidak lama Gadis dan Marsel kembali kembali ke rumah sakit dan menghampiri Melody dan Ardian.
" Melody!" tegur Gadis. Melody melepas pelukannya dan melihat ke arah kakaknya.
" Kak Marsel dan kak Gadis habis dari mana?" tanya Melody.
" Kami habis dari rumah Ardian," jawab Marsel.
" Untuk apa?" tanya Melody heran.
" Kami habis memenjarakan Raisa," jawab Marsel. Melody dan Ardian jelas kaget mendengarnya.
" Sungguh?" tanya Melody yang tidak percaya.
" Benar Melody kami memenjarakan wanita itu dan dia sudah di bawa polisi," sahut Gadis.
" Alhamdulillah kalau begitu, aku lega mendengarnya," sahut Melody yang tersenyum lebar.
" Dia memang harus mendapatkan pelajaran atas apa yang di lakukannya. Semoga penjara bisa membuatnya jera," sahut Ardian yang juga ikut bahagia.
" Tapi aku ragu dengan keluarga kalian," sahut Marsel tiba-tiba.
" Apa maksud kak Marsel?" tanya Melody.
" Aku mendengar kalian terikat hutang Budi pada keluarga Raisa dan aku rasa karena masalah itu makanya Raisa masih aman-aman aja dan aku juga tiba-tiba kepikiran wanita itu juga bisa lepas dari hukuman karena hutang Budi itu," sahut Marsel yang sudah bisa menebak.
" Itu tidak akan terjadi. Urusan itu tidak ada kaitannya dengan pertanggung jawaban Raisa. Aku bisa menjamin itu. Keluarga ku juga tidak mungkin membiarkan penjahat berkeliaran," sahut Ardian dengan yakin.
" Asal benar saja. Aku hanya mengingatkan padamu dan juga sampaikan pada keluargamu. Jika kalian mengaitkan masalah ini dengan urusan keluarga kalian terhadap wanita itu. Aku pastikan bukan hanya dia yang di penjara. Tapi seluruh keluarga kalian termasuk kau," tegas Marsel dengan penuh ancaman.
" Kak Marsel sudahlah jangan bicara seperti itu," sahut Melody.
" Sayang sudah, jangan lanjutkan lagi," sahut Gadis menenangkan Ardian.
" Kak Marsel sampai saat ini tidak bisa menerimaku. Dia masih marah kepadaku. Lalu bagaimana jika dia tau jika aku yang membuat Melody hamil. Mungkin dia akan membunuhku," batin Ardian.
Bersambung
__ADS_1