
Mereka masih tetap saling menatap.
" Kamu ada masalah?" tanya Alvin yang melihat wajah Lea tampak berpikiran sesuatu.
" Tidak apa-apa," jawab Lea.
" Aku melihat kamu juga memikirkan sesuatu," ucap Alvin yang sangat bisa membaca pikiran Lea.
Lea pun menjauh sedikit, melepas tautan dahi mereka dan menyandarkan kepalanya di kepala sofa dengan helaian napasnya yang panjang.
" Ada apa Lea?" tanya Alvin yang semakin merasa jika Lea memang ada sesuatu.
" Aku hanya bingung menghadapi Rasti," jawab Lea.
" Rasti. Rasti pacarnya Evan?" tanya Alvin memastikan.
" Hmmm," Lea menjawab hanya dengan deheman.
" Memang ada apa dengannya?" tanya Alvin menautkan ke-2 alisnya.
" Dia ingin tau sekali hubungan kita. Dari kemarin dia itu berusaha memperhatikan kita ber-2 dan berusaha bertanya ini itu tentang kita. Ya dia itu begitu kepo tentang hubungan kita," jawab Lea.
" Lalu masalahnya di mana. Jika ingin tau ya beritahu. Kalau memang kita ada hubungan special," ucap Alvin santai.
" Tidak semudah itu Alvin. Aku tidak bisa memepublis hubungan kita ber-2," jawab Lea.
Alvin menautkan ke-2 alisnya mendengar pernyataan Lea, " kenapa?" tanya Alvin heran.
" Alvin kamu kan tau sendiri. Mama ada di Jakarta bahkan ada di rumah dan aku tidak tau bagaimana nanti jika misalnya keluargaku tau kita berhubungan dan mama juga mengetahuinya. Masalahnya akan semakin banyak. Karena pertemuan kamu dan mama pertama kali di hotel dan berkesan buruk. Aku yakin mama pasti mengatakan hal-hal yang tidak baik nantinya dan mungkin akan bicara yang tidak-tidak mengenai hubungan kita," jelas Lea mengungkap apa yang menggangu pikirannya.
__ADS_1
" Lea. Kita memang berada di hotel. Tapi tidak melakukan apa-apa," ucap Alvin.
" Alvin kamu tidak kenal mama ku. Baginya aku itu bukan anaknya. Tetapi musuhnya. Dia akan membesar-besarkan masalah dan akan menyalahkanku dalam hal apapun. Aku akan terlihat salah di mata keluarga dan Eyang pasti akan bertindak juga, jadi itu alasanku belum bisa mmepublis hubungan kita," jelas Lea lagi.
" Baiklah aku mengerti dengan apa yang kamu pikirkan. Semua itu hak kamu. Mau memberitahu keluarga mu atau tidak. Tapi apa kamu tidak capek. Jika di intimidasi terus dengan orang-orang yang ingin tau hubungan kita," ucap Alvin yang tidak melarang apapun yang di lakukan Lea. Namun dua justru khawatir pada Lea uang banyak beban pikiran.
" Mungkin itu resiko. Aku akan memikirkan cara menghadapinya. Dan semoga Rasti tidak kepo-kepo lagi," ucap Lea.
" Lea, meski menyembunyikan. Bukannya Ardian dan Melody juga tau?" tanya Alvin.
" Jika mereka tau itu bukan hal yang perlu di khawatirkan. Karena Ardian dan Melody tau cerita awalnya," jawab Lea.
" Baiklah kalau begitu. Terserah kamu saja mau bertindak seperti apa. Aku hanya mengingatkan kamu jangan banyak terus-menerus berpikir dan iya perbaiki hubungan kamu dengan mama kamu," ucap Alvin memberi saran.
" Aku ingin melakukannya dan bahkan sudah sering melakukannya. Tetapi tetap gagal. Karena apa yang pikir dan mama pikir tidak sejalan yang akhirnya harus membuat ku capek dan sudah tidak ingin melakukannya lagi," ucap Lea yang putus asa.
Alvin menghela napasnya melihat Lea yang terlihat lelah. Alvin meraih tangan Lea, sembari mengusap-usap punggung jari-jari itu dengan lembut.
Lea yang masih tetap bersandar melihat ke arah Alvin dan tersenyum pada Alvin yang selalu ada untuknya, " makasih ya," ucap Lea.
Alvin menganggukkan kepalanya dan langsung mencium punggung tangan itu dengan lembut.
" Ya sudah Alvin aku pergi dulu ya," ucap Lea menegakkan posisi duduknya dan melepas tangannya dari Alvin. Lea pun berdiri dari tempat duduknya. Namun Alvin menariknya kembali sampai Lea jatuh ke pangkuannya.
" Alvin!" ucap Lea sedikit terkejut.
" Kenapa buru-buru sekali?" tanya Alvin.
" Aku harus kerumah sakit. Melody masih ada di sana. Dia pasti butuh seseorang untuk memberinya semangat," jawab Lea dengan tantangannya mengakui di leher Alvin.
__ADS_1
" Tetapi aku masih ingin kamu di sini," ucap Alvin.
" Untuk apa?" tanya Lea.
" Untuk ada di sisiku. Aku membutuhkanmu karena perasaanku dan pikiranku juga tidak tenang," jawab Alvin menatap dalam-dalam Lea.
Tangan Alvin membelai rambut Lea dengan wajahnya yang semakin dekat pada Lea dan mengecup bibir Lea sekilas " aku ingin bersamamu Lea tetap ada di sisiku," ucap Alvin dengan suara seraknya yang membuat jantung Lea berdetak kencang.
Lea hanya mengeluarkan senyum tipis untuk menjawab pertanyaan itu. Mata Alvin kembali turun ke bibir Lea dan kembali menciumnya dengan lembut. Lea membiarkan hal itu terjadi dan membuka mulutnya agar Alvin bisa menciumnya lebih dalam lagi.
Pasangan itu berciuman dengan mesra dan saling menuntun dengan posisi yang tetap Lea di pangkuan Alvin. Ciuman itu saling membalas yang sama-sama menumpahkan rasa rindu mereka ber-2 yang sudah beberapa hari tidak bertemu dan saling bicara. Dan bahkan ke-2 nya punya masalah masing-masing dan sudah sama-sama di sampaikan dan sekarang sama-sama mencari kenikmatan untuk ke-2 nya
Alvin merebahkan diri Lea di atas sofa tanpa melepas ciuman itu yang mana Alvin sekarang menindih tubuhnya dan menciumnya terus menerus. Ciuman Alvin berpindah pada leher Lea yang memberikan tanda-tanda kepemilikan di sana. Terdengar suara-suara indah yang keluar dari mulut Lea membuat Alvin semakin bergairah untuk menyentuh tubuhnya.
Ya soal membuat wanita menggila di bawahnya pasti bukan hal yang tabu bagi Alvin. Karena dia Pria yang di inginkan banyak wanita berada di atas tubuh mereka. Dan sama dengan apa yang terjadi. Lea tidak menolak dengan apa yang di lakukan Alvin kepadanya.
Sekarang dress yang di kenalkan Lea bahkan sudah turun dan Alvin memainkan 2 aset Lea dengan tangannya dan juga memberi tanda kemerahan di sana dan hal itu membuat Lea semakin menggila dengan apa yang di lakukan Alvin kepadanya.
Ke-2nya sama-sama memberi kenikmatan dan kepuasan sementara dan pasti ada batasnya. Sama dengan sekarang ini yang sudah tidak tau berapa jam mereka melakukan hal itu tanpa penyatuan.
Bathrobe yang di pakai Alvin sudah terbuka dan Lea sendiri dress yang di kenakkannya sudah berantakan yang tidak pada tempatnya. Merasa cukup dengan apa yang mereka lakukan. Alvin mengecup bibir Lea sekilas dan mencium lembut kening itu dengan napas ke-2nya yang sama-sama naik turun.
Mata Lea yang menatap sayu Alvin yang mana barusan memberikannya kenikmatan tanpa Pria itu mengambil kehormatannya.
Alvin bangkit dari tubuh yang menjadi candu nya itu dan menghampiri ranjang, mengambil selimut dan kembali menghampiri Lea dan menyelimuti Lea yang tubuhnya penuh dengan tanda-tanda merah akibat karya-karya nya.
" Aku mencintaimu!" ucap Alvin membelai rambut itu.
" Aku juga mencintaimu," jawab Lea dengan suara seraknya. Alvin tersenyum dan membaringkan dirinya di sofa di samping Lea membawa Lea kedalam pelukannya dan beberapa kali mencium kening Lea.
__ADS_1
Hanya sebatas saling menyentuh untuk mendapat kenikmatan. Walau sama-sama menginginkan hal yang lebih. Tetapi ke-2nya sama-sama tau batasannya dan tidak melakukan hal yang jauh lebih intim lagi.
Bersambung.