
Mendengar perkataan Dokter membuat mereka semakin panik yang mana Dokter mengatakan jika Chaca masih kritis.
" Bagaimana ini mas?" tanya Gadis.
" Tenang sayang, Chaca pasti tidak apa-apa. Percaya padaku," sahut Marsel yang terus menenangkan Chaca.
" Semoga cucuku baik-baik saja. Chaca kamu anak yang kuat. Oma yakin kamu bisa menghadapi semua ini. Kamu sangat kuat sayang," batin Dania dengan penuh doa dan harapannya.
" Ya Allah Chaca harus mengalami hal ini. Hanya karena dia ingin membelaku dari kejahatan Raisa. Anak sekecil dia harus menanggung semuanya. Ini semua gara-gara Raisa dia yang membuat Chaca seperti ini. Chaca terluka karena perbuatannya. Aku tidak akan mengampuni mu Raisa," batin Melody yang penuh dengan amarahnya.
Ardian dan Febby yang sudah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruang UGD.
" Melody!" ucap Ardian yang begitu melihat istrinya dan Melody langsung melepas dari mamanya dan memeluk suaminya.
" Chaca, Chaca kritis," ucap Melody menangis senggugukan di dalam pelukan suaminya itu yang mengadukan apa yang terjadi pada Chaca.
" Kamu tenang ya," sahut Ardian yang mengusap-usap rambut belakang Melody memberikannya ketenangan.
Dia sangat tau istrinya itu begitu menyayangi Chaca. Dia dapat merasakan tubuh Melody yang begitu bergetar karena takut Chaca sampai kenapa-kenapa. Dan Ardian sendiri juga merasakan hal yang sama tiba-tiba menjadi takut.
Mungkin karena masalah pembahasan yang barusan dengan Febby juga membuat Ardian tiba-tiba mempunyai rasa yang seperti itu. Dokter yang tadi memberikan informasi datang kembali.
" Maaf, stok darah kami telah habis," ucap Dokter itu yang bicara pada intinya yang membuat yang lainnya semakin panik.
" Apa. Lalu bagaimana Dokter, anak saya bisa semakin parah," sahut Gadis dengan paniknya.
" Jalan satu-satunya harus mendapatkan donor dari salah satu kalian. Mungkin ibu dan bapaknya bisa memberikan darahnya.
" Apa golongan darah cucu saya?" tanya Dania.
" Golongan darah putri kalian adalah golongan darah yang langkah, golongan darah AB positif," jawab Dokter. Yang membuat semuanya kaget yang sepertinya tidak ada satupun yang memiliki golongan darah tersebut.
__ADS_1
" Ya Allah Dok lalu bagaimana ini, mas bagaimana Chaca. Darah aku tidak sama dengan Chaca dan kamu juga," sahut Gadis dengan panik.
" Seperti yang saya katakan, golongan darah itu memang langka orang tua si anak pun jarang ada yang memiliki kesamaan," sahut Dokter.
" Lalu bagaimana Dokter, apa benar-benar tidak ada stok darah di rumah sakit ini," sahut Melody yang semakin panik. Dari kepanikannya pasti darahnya tidak sama dengan Chaca dan tidak bisa membantu Chaca.
" Tidak ada Bu Melody," jawab Dokter.
" Ya Allah lalu bagaimana ini," sahut Wawan.
" Darah saya AB positif, jadi saya akan mendonorkannya," sahut Ardian yang membuat mata langsung melihat ke arah Ardian.
" Benar, Ardian memiliki darah Ab positif sama dengan almarhum papanya. Jadi jika memang tidak ada donor darah. Biarkan Ardian yang memberikan darahnya pada Chaca," sahut Widia menambahi.
" Kak Ardian akan melakukan itu?" tanya Melody melepas pelukannya dan melihat suaminya yang ingin memastikan. Ardian mengangguk dengan memegang pipi Melody.
" Kamu jangan khawatir. Chaca akan baik-baik saja. Jika aku masih bisa menolongnya. Maka akan aku lakukan. Mau sebanyak apapun darahku untuknya. Maka tidak akan masalah yang penting Chaca sembuh," ucap Ardian. Melody semakin menagis dan memeluk Ardian dengan erat.
" Makasih, makasih sudah membantu Chaca, makasih!" ucap Melody yang tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.
" Darah Ardian Ab positif," batin Marsel yang kepikiran sesuatu.
" Ya ampun teka-teki apa lagi ini. Chaca sakit parah dan mengigau-ngigau kak Melody. Begitu kak Melody datang dia langsung bangun dan sembuh total. Lalu kemarin percakapan kak Gadis dan kak Marsel seakan tidak mempunyai anak dan tadi kak Ardian menanyai masalah kak Melody, masalah masa lalunya dan kehamilannya dan sekarang bisa-bisa kak Marsel dan kak Gadis tidak memiliki darah yang sama dengan Chaca dan hanya kak Ardian yang memilikinya. Apa mungkin jika Chaca itu....." batin Febby dengan pikirannya yang kesana kemari.
" Tapi kamu tidak punya bukti Febby untuk menebak-nebak masalah itu," batin Febby yang tiba-tiba mengubah pikirannya. Walau sebenarnya dia sudah bisa menyimpulkan semuanya. Tetapi Febby masih belum ada keberanian sama sekali.
**********
Ardian sekarang sedang melakukan transfusi darah di mana dia langsung satu ruangan dengan Chaca. Cuaca yang berbaring kritis dengan kepalanya di lilit perban.
Sementara Ardian berada di sampingan dengan tangan yang di beri infus untuk mengambil darah Ardian. Ardian terus melihat ke arah Chaca. Melihat gadis kecil itu dengan sendu dan tanpa di sadarinya tiba-tiba saja air matanya menetes yang tidak tau apa itu artinya.
__ADS_1
Perasaannya yang tiba-tiba bergejolak membuat ada sesuatu di hatinya dan seolah merasa sakit melihat anak kecil itu harus kritis seperti itu.
***********
Sementara Raisa dan Novi benar-benar langsung bertindak. Otak mereka langsung encer dan mengarah pada Cctv. Di mana keponakan dan Tante itu langsung mengecek Cctv apakah dia tertangkap atau tidak saat itu dan ternyata benar apa adanya sangat jelas Raisa yang menepis tangan Chaca sampai membuat Chaca jatuh.
" Kamu sih Raisa," ucap Novi yang kembali menyalahkan Raisa.
" Tante sudah ya, jangan menyalahkan Raisa lagi. Sekarang mending kita hapus Cctv sebelum si Melody bertindak. Aku yakin dia akan semakin menjadi-jadi kalau sudah punya buktinya," ucap Raisa menyarankan.
" Hmmm, ya sudah sekarang kita hapus," sahut Novi.
" Mau ngapain kalian!" tiba-tiba terdengar suara di mana mereka yang kaget dan sama-sama melihat kearah suara tersebut yang tak lain adalah Evan yang berdiri di depan pintu. Raisa dan Novi langsung kaget ketika melihat Evan.
" Apa yang kalian lakukan. Mau menghilangkan barang bukti," sahut Evan yang langsung mendekati Raisa dan Novi.
" Apa maksud kamu. Tante Novi hanya ingin memastikan jika apa yang terjadi murni kecelakaan," sahut Raisa mencari alasan.
" Jangan alasan kamu. Kalau begitu awas aku ingin melihatnya," sahut Evan yang langsung bergeser dan Novi dengan cepat menekan salah satu tombol.
" Apa yang Tante lakukan!" sahut Evan melihat tindakan Novi.
" Tidak ada apa-apa di dalam Cctv itu. Jadi kamu jangan ikut campur," tegas Novi. Evan langsung mengecek Cctv itu dengan menggeser Novi.
" Tante sudah menghapusnya?" tanya Evan dengan kesal.
" Kan sudah di katakan tidak ada apa-apa," sahut Novi dengan santai.
" Kalian benar-benar keterlaluan. Kalian pikir hanya Cctv saja yang menjadikan bukti," ucap Evan dengan kesal.
" Terserah kamu deh. Ayo Rais kita pergi," sahut Novi masa bodo.
__ADS_1
" Sial, mereka ber-2 benar-benar," desis Evan dengan penuh kemarahan.
Bersambung