
Mata Raisa melihat terus buku nikah yang mana tangannya ingin mengambilnya dari Melody dan ingin merusak-rusak buku nikah itu membakar dan lain sebagainya.
" Lihatlah Raisa siapa yang tidak jelas. Kau bisa melihatkan. Aku istrinya di aini. Kau lihat ada Ardian di sampingku yang kau tau apa maksudnya. Sebagai istri aku punya hak untuk menolak apapun yang menurutku tidak perlu. Atau aku harus mendiskusikannya dulu untuk mengambil jalan terbaik dalam mengenai tradisi dan apapun itu," ucap Melody menekankan.
" Dan iya kau memang tidak jelas. Kau bukan istri atau siapapun. Tapi aku akan memperjelas jika kau wanita tidak tau diri. Aku pikir wanita yang tidak punya harga diri itu tidak ada. Ternyata aku salah itu ada di depanku, berdiri di depanku," tegas Melody dengan sinis menatap tajam Raisa yang membuat Raisa semakin mengepal tangannya dengan matanya yang melotot ingin keluar.
" Melody sudah!" sahut Widia.
" Aku hanya ingin memperjelas kepadanya. Dia mengatakan aku tidak jelas dan aku hanya menjawab pertanyaannya dan apa yang aku katakan benar. Di mana harga dirimu. Apa iya selamanya kamu ingin menjadi pengganti Melody," ucap Melody pagi dengan tajam.
" Melody tutup mulutmu!" geram Raisa dengan menekan suaranya. Melody menyunggingkan senyumnya.
" Ada apa. Tadi kau dengan mudahnya ingin menggantikan ku. Hanya karena aku tidak bisa melakukannya. Di mana harga dirimu yang selalu ingin menjadi cadangan dari seorang Melody," ucap Melody dengan sinis.
" Melody cukup hentikan kata-kata kamu. Jangan keterlaluan kamu bicara dengan Raisa," sahut Shandra menegur perkataan Melody yang begitu kelewatan.
" Begini saja kalian mengatakan aku keterlaluan. Aku hanya menjawab apa yang di tanyakannya. Aku hanya menyadarkannya siapa dirinya sebenarnya. Dan aku hanya mengatakan kebenarannya. Apa yang salah dengan kata-kata ku," sahut Melody dengan santai.
" Lihatlah, bukannya dia ingin menggantikan ku dengan cepat. Aku hanya mengingatkan masalah harga diri kepadanya. Dan dia tidak tidak punya itu. Dia tidak punya rasa malu. Harga diri. Yang mau-mau saja menggantikan istri orang untuk melakukan hal.yang tidak seharusnya di lakukannya. Di mana harga dirinya apa sudah hilang. Atau memang sama sekali dia tidak memliki itu," lanjut Melody yang tidak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata pedasnya untuk Raisa yang menahan emosi yang tidak bisa membalas kata-kata Melody.
" Tapi kamu tidak perlu seperti itu Melody. Kamu harus menjaga perasaan Raisa," sahut Shandra.
" Perasaan apa yang harus aku jaga. Siapa dia yang harus aku jaga dan siapa aku di rumah ini dan aku yang bertanya kepada kalian semuanya siapa aku dan siapa dia. Kenapa diam? kalian semua tidak punya jawabannya," ucap Melody.
Ardian membuang napasnya perlahan kedepan yang melihat suasana semakin tegang. Apa lagi Melody bukan hanya ribut dengan Raisa tapi sudah dengan Shandra.
__ADS_1
Ardian berdiri dan menurunkan tangan Melody.dari wajah Raisa yang masih menunjukkan buku nikah itu pada Raisa.
" Jangan mencari keributan. Ayo ikut denganku," sahut Ardian memegang tangan Melody.
" Lepaskan aku!" sahut Melody yang melepaskan tangannya.
" Melody cukup!" ucap Ardin dengan suara rendahnya.
" Ini bukan urusanmu. Jika kau ingin membelanya berdiri di sampingnya. Biar sekalian aku memberikan kalian berdua masukan dan saran. Atau paling tidak menyadarkan kalian berdua. Agar kalian berdua sadar," ucap Melody dengan tajam menatap Ardian.
" Jangan mencari keributan di sini. Tolong Melody," ucap Ardian.
" Siapa yang mencari keributan. Bukan aku dia," sahut Melody menunjuk Raisa.
" Aku tidak mau lepaskan aku! lepaskan aku Ardian! sahut Melody yang langsung memberontak.
Namun Ardian tetap menariknya paksa. Sebelum terjadi peperangan lagi antara Melody dan Raisa. Dia tidak ingin suasana semakin kacau dan yang ada mamanya akan stress dengan Melody yang suka-sukanya bicara.
Sementara Raisa yang di tinggalkan sendirian langsung meneteskan air matanya dan berlutut di lantai dengan menangis menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya.
" Seandainya orang tuaku masih ada. Dia tidak akan membiarkan putrinya di perlakukan seperti ini. Apa salahku. Kenapa nasibku seperti ini kenapa dia begitu jahat. Kenapa semua orang-orang memperlakukan ku sangat tidak adil," ucap Raisa menangis sengugukan yang seolah menjadi wanita yang tertindas.
Eyang besar, Widia dan Shandra saling melihat. Yang melihat Raisa mengais terisak-isak.
Shandra langsung berdiri dan berjongkok di depan Raisa. Dia seakan sangat empati dengan Raisa.
__ADS_1
" Raisa, kamu jangan bicara seperti itu. Melody hanya emosi dan percayalah. Kata-kata itu tidak sengaja. Dia hanya marah kamu jangan masukkan kedalam hati kamu," sahut Shandra yang seolah menenangkan Raisa yang terus menangis.
" Tidak sengaja. Tidak sengaja apanya. Dia jelas mempermalukan ku, menghinaku. Aku memag sangay bodoh. Aku yatim piatu yang tidak bisa melakukan apa-apa. Ini hanya yang kalian dengar dan aku tidak tau apa lagi yang akan di katakannya kepadaku dengan melukai hatiku. Tapi semua ini memang salahku. Aku yang bodoh. Aku benar-benar sangat bodoh," sahut Raisa yang terus menangis seolah benar-benar tertindas habis dan begitu terhinanya.
" Tidak Raisa kamu tidak bodoh. Kamu merasa seperti itu. Jangan menyalahkan diri kamu," sahut Shandra yang menenangkannya.
" Aku yang salah, memang aku yang salah," sahut Raisa.
" Masalah ini akan terus seperti ini. Ini tidak akan selesainya. Jika Ardian tidak memutuskan apa-apa. Melody dan Raisa akan terus seperti ini dan tidak mungkin akan selamanya seperti ini. Kalau Ardian sendiri tidak bertindak," batin Widia yang memijat kepalanya yang terasa berat.
" Sudahlah Raisa kamu jangan terus menangis. Kamu bisa pelajaran dari semua ini," sahut Eyang besar.
" Iya pelajaran, pelajaran dan pelajaran yang terus aku dapatkan. Sampai kapan sampai yang seperti Eyang bilang mundur atau bertahan," sahut Raisa. Eyang besar diam dan tidak bicara lagi.
" Raisa sudah jangan di bahas lagi. Kamu tenangkan diri kamu, kamu harus tenang dulu," ucap Shandra memeluk Raisa yang memberikan Raisa ketenangan.
" Jangan menagis ya, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah Melody akan meminta maaf dengan kata-katanya. Kamu jangan di ambil hati," ucap Shandra.
" Bagus Raisa. Kamu terus saja cari simpatik dari orang-orang ini. Agar kamu bisa meluluhkan hati orang-orang ini dan benar-benar Melody yang di hempaskan bukan kamu," batin Raisa yang sekarang merasa menang.
" Apa yang dikatakan Tante Novi menjadi lemah jalan mempercepat untuk menang," batin Raisa tersenyum dalam pelukan Shandra.
" Ya Allah aku hanya meminta jalan untuk keluarga ku yang sudah kacau ini," batin Widia yang kembali pasrah.
Bersambung
__ADS_1