Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma

Terpaksa Menikah Dengan Mantanku Saat Koma
Bab 245 Kejadian itu.


__ADS_3

Sarapan di penginapan tanpa adanya Rasti. Di mana di meja makan yang hanya di isi Melody, Ardian, Alvin, Lea dan juga Evan. Makannya terlihat hening dan tanpa ada yang bicara sama sekali.


Malahan Ardian, Melody, Alvi dan Lea saling melihat ke arah Evan yang tampak begitu murung. Di mana Evan hanya menunduk yang mengaduk-aduk makanannya tanpa memasukkan kemulutnya sama sekali. Pasti semua itu berkaitan dengan Rasti.


" Ya Allah kasihan sekali Evan. Aku tau dia begitu mencintai Rasti dan pasti terpukul dengan keputusan Rasti yang bukan hanya menolak lamarannya. Tetapi juga mengakhiri hubungan mereka. Kasihan Evan," batin Melody yang menatap sendu Evan yang begitu prihatin dengan Evan.


" Aku tidak tau apa yang terjadi sebenarnya kenapa semuanya seperti ini. Rasti tidak biasanya seperti ini dan Melody juga Lea bahkan sudah bicara dengannya. Tetapi Rasti tetap tidak ada respon sama sekali. Hal ini sungguh aneh," batin Ardian yang merasa ada sesuatu yang tidak di ketahuinya sama sekali.


" Aku sudah menduga. Jika Rasti menyembuyikan sesuatu dari kami. Seperti apa yang aku bicarakan dengan Melody. Jika Rasti terlihat ada sesuatu. Tapi apa. Dia pasti punya alasan besar untuk menolak lamaran Evan dan mengakhiri hubungannya dengan Evan," batin Lea yang juga ikut kepikiran.


" Rencana bulan madu berubah menjadi penuh misteri. Hhhhhhh benar-benar aneh," batin Alvin hanya geleng-geleng saya yang sudah terlanjur berada di dalam situasi itu.


" Ehmmmm," Ardian tiba-tiba berdehem membuat heningnya agak berkurang sedikit dan melihat ke arah Ardian.


" Kita sebaiknya sarapan, setelah itu kita jalan-jalan," ucap Ardian yang mencoba mencairkan suasana.


" Aku setuju. Kebetulan aku dan Alvin ada tempat yang sangat bagus untuk di kunjungi," sahut Lea dengan semangatnya.


" Iya sebaiknya kita jalan-jalan saja. Tujuan kita ke Jepang untuk senang-senang bukan, untuk reflesing. Jadi sebaiknya kita nikmati masa liburan kita," sahut Melody menambahi.


" Itu benar, kita buru-buru aja sarapan. Lalu langsung gerak," sahut Alvin.


" Aku akan kembali ke Indonesia," sahut Evan tiba-tiba dengan suara beratnya membuat semua orang melihat ke arahnya dengan mereka juga yang saling melihat dan terkejut mendengar pernyataan Evan.


" Maksud kamu Evan?" tanya Melody.


Evan mengangkat kepalanya dan melihat satu persatu teman-temannya itu yang sejak tadi dia tau mereka semua hanya berusaha untuk menghibur dirinya.


" Aku akan kembali ke Indonesia. Kalian saja yang melanjutkan liburan kalian. Aku tidak akan ikut," jawab Evan menegaskan.


" Evan, kita pergi sama-sama dan harus pulang sama-sama dan masalah ini belum selesai. Kamu tidak bisa pulang begitu saja tanpa adanya penyelesaian masalah," sahut Melody memberikan Evan nasehat.


" Aku mengerti Melody, Ardian, Lea dan Alvin. Kalian hanya mengkhawatirkan ku saja. Tidak apa-apa sama sekali. Kalian melanjutkan kegiatan kalian. Ini hanya masalahku dengan Rasti dan aku tidak ingin rencana liburan kalian terganggu dengan adanya aku. Jadi aku akan memutuskan untuk pulang saja," tegas Evan.


" Tapi masalah kamu belum selesai dengan Rasti," sahut Lea.


" Masalahku dengan Rasti sudah selesai. Saat malam itu. Di sana jelas hubungan kami sudah berakhir," jawab Evan dengan tersenyum yang berusaha untuk tegar.


" Evan jangan seperti semuanya masih bisa di selesaikan. Dari pada kamu sama Rasti yang sama-sama egois. Ada sebaiknya kita mencari tau alasan terbesar Rasti untuk menolak kamu dan mengakhiri hubungan kalian," ucap Ardian mengingatkan temannya itu.


" Ardian. Tidak ada alasan untuk Rasti. Alasannya sudah kelas malam itu. Dan aku berterima kasih untuk kalian semua yang sudah membantuku. Banyak memberiku semangat. Tapi aku rasa cukup sampai di sini. Aku dan Rasti mungkin tidak berjodoh dan sebaiknya ini memang yang terbaik untuk hubungan kami yang harus berakhir dan aku tidak apa-apa sama sekali," ucap Evan menegaskan dengan wajahnya yang terlihat pura-pura tegas.


" Evan!" lirih Melody.


" Aku tidak apa-apa Melody. Kalian jangan melakukan apa-apa lagi. Hal ini bisa membuat Rasti tidak nyaman. Jadi sudahlah biarkan semuanya seperti ini. Kalian cukup membantu ku sampai di sini. Sekali lagi aku mengucapkan terimakasih," ucap Evan lagi.


" Jika kamu pulang. Kita juga akan pulang," sahut Alvin.


" Alvin!" sahut Evan.


" Kita datang sama-sama dan pulang harus sama-sama. Mana mungkin kamu bisa liburan sementara kamu seperti ini. Jadi kita akan pulang bersama-sama," tegas Alvin.

__ADS_1


" Ya memang sebaiknya seperti ini. Liburan juga tidak ada gunanya lagi. Kalau sudah seperti ini," sahut Lea setuju.


" Maafkan aku jika sudah mengacaukan semuanya," sahut Evan.


" Sudahlah Evan jangan di bahas lagi. Kita siap-siap aja untuk pulang," sahut Melody.


Ardian juga setuju. Karena liburan berantakan dengan masalah Rasti dan Evan ya mau tidak mau mereka harus kembali ke pulang ke Indonesia.


***********


Sama dengan Rasti yang juga akan kembali ke Indonesia. Dengan tidak bersemangatnya Rasti memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Dengan wajahnya yang sendu dan terlihat air matanya yang menetes.


" Kita ke Jepang?" tanya Rasti pura-pura tidak tau.


" Hmmm. Kita akan merencanakan misi kita untuk Ardian dan Melody di sana," jawab Evan.


" Yakin berhasil?" tanya Rasti.


" Pasti Rasti," sahut Evan mengusap-usap pucuk kepala Rasti.


" Ya sudah kalau begitu. Semoga rencana kita berhasil. Dan iya aku harus ke rumah sakit dulu," ucap Rasti membuat Evan heran.


" Untuk apa?" tanya Evan.


" Aku mau tes lab. Kemarin aku periksa ada keram di perutku. Sepertinya siklus menstruasi ku ada masalah. Jadi Dokter saran kan hari ini untuk tes lab dulu," jelas Rasti.


" Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Evan khawatir.


" Ya sudah aku temani," ucap Evan yang begitu khawatir.


" Tidak perlu Evan. Aku hanya sebentar. Sudahlah kamu jangan lebay, panik amat wajahnya aku juga tidak apa-apa kali," ucap Rasti dengan santainya. Namun Evan terlihat mengkhawatirkan Rasti.


" Apa yang terjadi dengan saya Dokter?" tanya Rasti setelah berhadapan dengan Dokter.


" Ada tumor di rahim Bu Rasti," jawab Dokter membuat Rasti terkejut.


" Apah tumor?" tanya Rasti dengan terkejutnya.


" Benar Bu," jawab Dokter.


" Hal ini sangat membahayakan untuk kesembuhan Bu Rasti. Jadi kita harus melakukan tindakan secepatnya," jelas Dokter.


" Tindakan apa Dokter?" tanya Rasti.


" Hanya operasi pengangkatan rahim jalan satu-satunya untuk kita lakukan," jawab Dokter.


" Resikonya setelah itu apa?" tanya Rasti.


" Jika rahim sudah tidak ada Bu Rasti tidak akan bisa memiliki anak," jawab Dokter.


Apa yang di katakan Dokter begitu mengejutkan Rasti. Tidak percaya di usianya semuda itu sudah mendapatkan penyakit ganas yang bisa mengakhiri masa depannya.

__ADS_1


Mengingat hal itu membuat Rasti menyeka air matanya dengan membuang kasar napasnya dan kembali memasukkan barang-barangnya ke dalam kopernya.


Rasti kembali teringat terbayang saat makan


bersama Evan di Jepang. Di mana Rasti mendapatkan notif pesan.


" Bu Rasti saya hanya berharap. Ibu Segeran memutuskan semuanya. Karena akan berpengaruh pada kesehatan ibu. Jadi untuk mencegah organ lainnya yang akan terjangkit, ibu harus melakukan pengangkatan rahim," tulis Dokter pribadi Rasti memberi informasi itu.


Rasti terduduk lemas di ranjang yang sekarang menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang menangis terisak-isak dengan apa yang telah terjadi.


" Kenapa harus aku yang mengalami semua ini? apa aku tidak bisa bahagia? apa semua ini adalah takdirku. Kenapa ya Allah harus aku yang mengalaminya," ucap Rasti yang kembali terisak-isak dalam tangisnya.


Dia tidak sempurna dan tidak pantas untuk Evan yang mencintainya yang menginginkan Rasti istrinya dan ibu dari anak-anaknya. Namun semuanya tidak sesuai dengan harapan. Cobaan menghampiri Rasti yang harus mengubur mimpinya dalam-dalam untuk bahagia bersama kekasihnya dan terlebih lagi dia juga sudah menghancurkan perasaan Evan. Melukainya dan membuat Evan begitu frustasi


***********


Akhirnya mereka semua pulang. Baik Melody dan rombongan begitu juga dengan Rasti. Mereka ada di pesawat yang berbeda dengan Rasti.


Melody, Ardian, Lea, Alvi dan Evan sudah menaiki pesawat dan sudah menduduki tempat masing-masing. Wajah mereka tidak seperti kemarin saat mereka berangkat. Wajah mereka terlihat murung dan apa lagi Evan yang duduk hanya melihat ke jendela pesawat.


Kemarin saat berangkat dia bersama Rasti. Namun pulang sendirian tanpa Rasti.


" Memang kamu mau menikah?" tanya Evan menggoda Rasti saat di hari pernikahan Lea dan Alvin.


" Pertanyaan aneh. Memang ada wanita yang tidak mau menikah. Kamu lihat itu Lea. Wajahnya berseri-seri. Kamu harus tau Evan kebahagiaan wanita itu hanya saat menjadi ratu di hari pernikahannya," ucap Rasti.


" Ohhhhh," sahut Evan dengan santainya membuat Rasti mengkerutkan dahinya.


" Hanya oh saja. Tanggapan kamu hanya seperti itu," sahut Rasti kesal.


" Lalu apa lagi," sahut Evan.


" Isssss," geram Rasti membuat Evan tersenyum yang membuat kekasihnya itu berhasil ngambek.


Ingatan beberapa Minggu lalu yang tampak manis dan baik-baik saja membuat Evan tersenyum menahan kesedihannya. Senyum yang berhasil membuat air matanya yang akhirnya jatuh.


" Ada apa denganmu Rasti. Kenapa berubah secepat itu. Aku memang bukan yang terbaik untukmu. Aku belum sempurna. Tapi aku ingin belajar banyak. Lalu kenapa Rasti tidak memberiku kesempatan," batin Evan yang kembali terluka jika mengingat-ingat Rasti.


Melody yang duduk bersama Ardian di depan Evan menoleh ke belakang dan mendapati Evan menyeka air matanya membuat Melody merasa simpatik, begitu kasihan dengan temannya itu.


" Sayang kasihan Evan," ucap Melody dengan memeluk lengan Ardian.


" Sudah Melody kamu jangan terlalu memikirkannya. Dia itu pria. Pasti tau apa yang akan terbaik untuknya," ucap Ardian yang tidak ingin istrinya banyak pikiran.


" Iya sih kamu benar. Tetapi tetap aja. Aku kasihan padanya," sahut Melody dengan wajah senduhnya.


" Dia butuh waktu. Jadi biarkan saja. Kita berdoa saka biar semuanya baik-baik saja. Mau dia dan Rasti sudah putus. Tetapi harus tetap silaturahmi mereka terjalan dengan baik," ucap Ardian.


" Iya, aku juga berharap seperti itu," sahut Melody mengangguk-angguk saja dengan menghela napasnya perlahan kedepan, walau dia begitu mengkhawatirkan sahabatnya Evan. Karena bagaimanapun Evan sangat banyak membantu nya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2