
Bibir yang sudah menempel itu membuat Melody tidak bisa apa-apa yang awalnya mencoba untuk mendorong Ardian. Namun tiba-tiba Melody yang menghadap pintu melihat Raisa yang tiba-tiba lewat. Melody melunturkan tangannya dan tidak jadi mendorong Ardian dan malah memejamkan matanya.
Seolah mendapat persetujuan dari Melody. Tangan Ardian memegang tengkuk Melody untuk memajukan wajah Melody lebih dekat kepadanya agar dia bisa mencium lebih dalam lagi.
Raisa yang memang akhirnya berhenti di depan pintu kamar yang terbuka sedikit itu melihat kedalam dan betapa terkejutnya Raisa yang melihat Ardian dan Melody yang berciuman. Bola mata Raisa sampai ingin keluar dengan apa yang telah di lihatnya.
" Ardian!" lirihnya dengan napasnya yang begitu sesak dengan apa yang di lihatnya di mana Pria yang di cintainya mencium wanita lain.
Tangan itu mengepal bukti kemarahannya pada Ardian. Raisa yang ingin melangkah masuk yang mungkin ingin menghentikan ciuman itu. Tetapi tiba-tiba tangannya di pegang yang membuat kakinya tidak jadi melangkah dan melihat siapa yang telah memegangnya yang ternyata adalah Lea.
" Kamu mau ngapain. Mau ikut melihat dengan jelas apa yang akan di lakukan suami istri," ucap Lea dengan sinis yang memegang kuat pergelangan tangan itu.
" Lepaskan!" Raisa langsung melepaskan tangannya dari Lea.
" Jangan ikut campur dengan urusanku. Aku mau ngapain itu bukan urusanmu," tegas Raisa yang bertambah marah dengan kehadiran Lea.
" Baiklah kalau begitu. Ya sudah sana kamu masuk dan setelah itu aku akan panggil Eyang dan akan bilang kamu sengaja mengganggu pasangan suami istri," ucap Lea dengan penuh ancaman yang menyunggingkan senyumnya melihat Raisa yang di penuhi kemarahan.
" Kurang ajar kamu!" desis Raisa yang tidak bisa berbuat apa-apa dan langsung pergi. Dari pada Lea akan melakukan apa yang sudah di katakannya. Karena Raisa juga tau Lea pasti akan melakukan hal itu. Beberapa haru yang terjadi juga karena perbuatan Lea.
" Dasar Mak lampir nggak pernah kapok," ucap Lea geleng-geleng. Lea pun menutup pintu itu dengan perlahan dan langsung pergi. Lea memang paling the best yang sangat mengerti situasi.
Sementara Ardian dan Melody masih tetap berciuman dan bahkan Melody sudah terbawa suasana yang seakan melupakan jika dia menerima ciuman itu karena hanya ingin memanas-manasi Raisa. Raisa sudah pergi dan Melody tidak menyadari hal itu karena sudah terbuai dengan sensasi dalam ciuman yang telah di berikan Ardian.
Lama berciuman dengan Melody akhirnya Ardian melepasnya dengan perlahan. Melody dan Ardian sama-sama membuka mata perlahan dengan napas mereka yang tidak stabil. Naik turun dan seperti lelah.
__ADS_1
Ke-2 pasang mata itu saling menatap yang pasti sama-sama tidak percaya jika mereka bisa berciuman seakan menggali kembali perasaan yang sudah terkubur. Bahkan terlihat butir air mata di pipi Melody.
Melody yang akhirnya tersadar dengan apa yang barusan terjadi langsung mendorong Ardian dan langsung pergi dari hadapan Ardian keluar dari kamar tersebut.
" Melody!" panggil Ardian dengan pelan. Ardian menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
Apa yang di lakukannya untuk membuat Melody mengerti dengan perasaannya dan dia tau apa yang di lakukannya tadi membuat Melody marah dan pasti apa yang di lakukannya memang memang tidak siap untuk Melody.
***********
Melody duduk di taman belakang rumah di salah satu bangku dengan kedua tangannya di lipatnya di dadanya. Pandangannya terlihat kosong dan bahkan sangat murung.
" Kita akan buktikan bagaimana perasaanmu," Apa yang di katakan Ardian teringat kembali di pikirannya.
Melody harus menyadari ciuman yang di lakukan Ardian itu membuatnya memang menggali perasaannya dan bukan karena melihat Rais tadi. Awalnya memang iya. Tetapi perasaannya yang ikut terbawa suasana membuat ciuman itu lama dan dia sekarang harus murung karena memikirkan hal itu.
Hujan turun yang begitu deras membuat Melody dan Ardian harus lari-lari dengan kencang agar tidak terlalu basah dan saat itu Melody masih memakainya seragam sekolahnya, mereka mencari tempat untuk berteduh dan akhirnya menemukan pondok kecil.
" Kakak sih. Sudah di bilang akan turun hujan tidak percaya ngotot mau jalan," sahut Melody yang memeluk tubuhnya yang kedinginan yang sekarang menyalahkan Ardian.
" Maaf Melody aku tidak tau. Kalau memang akan turun hujan dengan tiba-tiba," sahut Ardian. Melody hanya manyun dengan rambutnya dan pakaiannya yang sudah basah. Ardian yang melihat hal itu langsung memeluk Melody dari belakang untuk menghangatkan tubuh Melody.
" Kamu kedinginan?" tanya Ardian Melody mengangguk.
" Apa ini sudah cukup untuk menghangatkan kamu?" tanya Ardian yang memeluk dengan erat. Melody mengangguk dengan tersenyum.
__ADS_1
" Maaf ya sudah membuat kamu basah," ucap Ardian.
" Tidak apa-apa yang penting kakak juga tidak membuat Melody kedinginan," sahut Melody yang menengok kearah Ardian. Ardian tersenyum dan memeluknya dengan erat lagi untuk memberi kehangatan pada Melody.
" Aku tidak akan membiarkanmu kedinginan, aku mencintai mu Melody," ucap Ardian. Melody tersenyum dan membalikkan tubuhnya memeluk Ardian dari depan.
" Aku juga," sahut Melody yang mengangkat kepalanya dengan mendongak untuk bisa melihat Ardian. Ardian tersenyum dengan mencium lembut kening Melody dan Melody kembali memeluk erat Ardian.
Flash on.
Kenangan indah itu teringat di dalam benak Melody sehingga mampu membuat air matanya menetes. Selama ini semenjak Melody berpisah dari Ardian.
Tidak satupun kenangan indah yang bisa Melody ingat. Hanya kenangan buruk saja.
Mungkin karena sakit hati Melody yang begitu besar sehingga menutup segala hal untuk tidak mengingat hal manis bersama Ardian.
Tetapi kali ini dia mengingatnya dan mampu membuat air matanya menetes. Apa mungkin karena tadi dia dan Ardian berciuman dan semua itu teringat begitu saja.
" Apa yang kamu katakan dulu hanyalah omong kosong. Kamu lebih menyakitkan sekarang dari pada dulu," batin Melody yang merasa terluka jika apa yang terjadi harus kembali di ingatnya. Seharusnya masa-masa manis itu tidak melintas di pikirannya.
Ternyata di atas sana di jendela kamarnya Ardian berdiri dan melihat Melody yang duduk dengan murung. Tidak tau juga sudah beberapa lama dia di sana yang memperhatikan istrinya.
" Melody aku tau kesalahanku begitu banyak kepadamu. Kau bisa membenciku dengan sesukamu. Karena memang itu yang pantas yang aku dapatkan," batin Ardian yang menatap sendu kebawah sana yang melihat Melody terus di bawah sana.
Melody menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Melindungiku menyeka air matanya lalu berdiri yang mungkin ingin pergi.
__ADS_1
Saat ingin pergi Melody tiba-tiba melihat ke arah kamarnya dan melihat Ardian ada di sana yang membuat Melody kaget dan akhirnya mereka malah saling melihat dalam diam dengan jarak yang lumayan jauh.
Bersambung